NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Pagi di lereng Merapi seharusnya membawa kesegaran, namun bagi Nirmala, sinar matahari kini terasa seperti nutrisi yang terlalu pekat. Ia terbangun dengan rasa haus yang tidak bisa dipuaskan oleh air putih bergelas-gelas. Kerongkongannya terasa kering, berserat, dan kasar. Saat ia bercermin di kaca lemari tua yang retak, ia nyaris menjerit.

Jahitan kayu itu tidak lagi berhenti di bahunya. Guratan cokelat keemasan yang cantik namun mengerikan itu kini telah merambat naik, melewati tulang selangkanya, dan membentuk garis-garis halus di sepanjang lehernya hingga nyaris menyentuh garis rahang.

Nirmala menyentuh lehernya. Kulitnya terasa keras, seperti permukaan kayu jati yang baru diampelas.

"Jangan ditutupi dengan bedak, Nir. Itu tidak akan mempan."

Nirmala menoleh. Arka berdiri di ambang pintu tanpa kain penutup mata. Mata hijau zamrudnya bercahaya redup di dalam remang kamar. Arka tidak lagi menatap wajah Nirmala sebagaimana manusia menatap ia menatap "aliran" di dalam tubuh Nirmala.

"Apa yang kau lihat, Arka?" bisik Nirmala, menarik kerah bajunya ke atas.

"Aku melihat akar putih Biji Purba itu sedang berpesta." jawab Arka pelan. Suaranya terdengar lebih dalam. "Setiap kali kau menyembuhkan seseorang, kemarin Aki, lalu mataku, biji itu menuntut ruang lebih luas di tubuhmu. Kau sedang 'ditukar' Nir. Dagingmu menjadi kayu agar mukjizat itu bisa keluar."

Nirmala terdiam. Rasa bangga karena bisa menyembuhkan mata Arka seketika memudar, berganti dengan bayangan dirinya yang perlahan menjadi patung kayu yang bernapas.

[Tamu di Ambang Pintu]

Siang itu, sebuah motor butut berhenti di depan pagar rumah Aki. Seorang lelaki paruh baya, Pak Kromo, turun dengan wajah hancur oleh kesedihan. Di dekapannya, ada seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang tampak sangat pucat.

"Aki... tolong... dokter di kota bilang anak saya terkena virus langka, tapi badannya... badannya seperti ditumbuhi sisik hitam." isak Pak Kromo.

Aki keluar dari teras, diikuti oleh Nirmala, Arka, dan Ibu Lastri. Saat anak itu dibaringkan di amben, Nirmala merasa jantung kayunya berdenyut kencang.

Tok... tok... tok... Bunyi itu seolah memanggilnya untuk mendekat.

Anak itu menderita pemandangan yang mengerikan. Di sepanjang punggung dan lengannya, tumbuh benjolan-benjolan keras berwarna hitam pekat yang menyerupai jamur kayu, namun berbau seperti daging busuk. Setiap kali anak itu bernapas, benjolan itu berdenyut, seolah-olah menghisap sari pati kehidupan si anak.

"Ini bukan virus, Pak Kromo." bisik Arka. Mata zamrudnya berkilat tajam. "Ini adalah 'parasit tanah'. Dia tidak sengaja menginjak tanah yang pernah terkena kutukan lama saat bermain di hutan."

Ibu Lastri menutup mulutnya, ngeri melihat kondisi anak itu. "Nirmala, bisakah kau..."

Nirmala menatap Arka. Arka menggeleng pelan, seolah memberi peringatan. Namun, saat melihat air mata Pak Kromo, Nirmala tidak bisa tinggal diam. Ia melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas punggung anak itu.

Begitu telapak tangan Nirmala menyentuh benjolan hitam itu, suasana di teras berubah. Langit yang tadinya cerah mendadak redup, tertutup awan mendung yang datang entah dari mana. Angin dingin berhembus, membawa bau tanah basah yang sangat menyengat.

Nirmala memejamkan mata. Ia memanggil "napas hijau" dari dadanya.

JREEET!

Nirmala tersentak. Kali ini rasanya tidak selembut saat ia menyembuhkan mata Arka. Ia merasakan perlawanan. Jamur hitam di punggung anak itu seolah memiliki nyawa, mereka mengeluarkan duri-duri halus yang mencoba menusuk telapak tangan Nirmala.

"Nir, berhenti! Dia melawan!" teriak Arka.

Namun Nirmala sudah terkunci. Cahaya putih kehijauan meledak dari lengannya. Penonton di teras menyaksikan sebuah pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka. Akar-akar putih kecil mencuat keluar dari pori-pori tangan Nirmala, merambat masuk ke dalam benjolan hitam di tubuh si anak, dan mulai mencabut jamur-jamur itu dari akarnya.

Suara jeritan yang tidak berasal dari mulut si anak terdengar dari balik benjolan hitam itu. Suara itu melengking, seperti suara kayu yang dibakar hidup-hidup.

Nirmala menggertakkan gigi, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasakan sensasi luar biasa gatal di lehernya. Di depan mata Ibu Lastri dan Aki, guratan kayu di leher Nirmala merambat naik hingga menutupi pipi kanannya, membentuk pola bunga Randu yang mekar dari bawah telinganya.

"Lepaskan... atau kau akan layu bersamanya!" sebuah bisikan parau terdengar di telinga Nirmala.

Nirmala tidak peduli. Dengan satu sentakan terakhir, ia menarik seluruh energi hitam itu ke dalam tubuhnya sendiri. Benjolan-benjolan di punggung anak itu seketika pecah, berubah menjadi debu hitam yang beterbangan, menyisakan kulit mulus seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Anak itu terbangun, menarik napas panjang, dan warna merah kembali ke pipinya. Pak Kromo menangis dan bersujud di kaki Nirmala.

Namun, Nirmala ambruk.

Nirmala terbangun saat malam sudah sangat larut. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah-olah tulang-tulangnya telah diganti dengan balok kayu jati. Ia mencoba duduk, namun sendi-sendinya mengeluarkan suara krek yang nyata.

Ia melihat Arka duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Arka tidak mengenakan baju, hanya sarung, dan matanya yang hijau zamrud sedang menatap ke arah jendela yang terbuka.

"Kau melakukannya lagi." kata Arka tanpa menoleh. "Kau memberikan hidupmu untuk orang asing."

Nirmala meraba pipinya. Ia merasakan tekstur kayu yang kini menetap di sana. "Dia masih anak-anak, Arka. Aku tidak bisa membiarkannya mati."

"Kau menyembuhkannya, tapi kau menarik 'kotoran' itu ke dalam dirimu Nir, Lihat tanganmu."

Nirmala mengangkat tangannya. Di bawah cahaya bulan, ia melihat urat-urat hitam kini bercampur dengan serat kayu keemasan di lengannya. Biji Purba itu sedang mencoba menetralkan racun yang ia ambil dari anak tadi, tapi proses itu membuatnya semakin terlihat seperti pohon.

"Ada yang lain, kan?" tanya Nirmala, menyadari ketegangan di tubuh Arka.

Arka berdiri dan berjalan ke jendela. "Sejak kau menyembuhkan anak itu tadi sore, 'mereka' datang. Mata hijauku tidak bisa berhenti melihat mereka. Mereka berbaris di bawah pohon pinus di luar sana."

Nirmala merangkak ke jendela dan mengintip ke luar. Awalnya ia tidak melihat apa-apa, namun Arka meletakkan tangannya di atas mata Nirmala, memberikan sedikit "penglihatannya".

Nirmala terkesiap. Di bawah kegelapan hutan Merapi, berdiri puluhan, mungkin ratusan, sosok bayangan kelabu. Mereka tidak memiliki wajah yang jelas, hanya lubang-lubang di mana seharusnya mata dan mulut berada. Mereka semua berdiri diam, menghadap ke arah rumah Aki.

"Mereka mencium bau 'napas kehidupan' darimu Nir." bisik Arka. "Bagi mereka, kau adalah satu-satunya sumber cahaya di hutan yang mati ini. Mereka ingin kau menyentuh mereka. Mereka ingin kau 'menyembuhkan' kematian mereka."

Salah satu sosok itu maju selangkah. Ia tampak seperti seorang wanita tua yang tubuhnya sudah hancur setengah, namun ia membawa sebuah mawar hitam yang layu. Ia mengangkat tangannya ke arah jendela, mengeluarkan suara desis yang menyayat hati.

"Aki sedang memasang pagar gaib di sekeliling rumah, tapi aku tidak tahu berapa lama pagar itu bisa menahan mereka." lanjut Arka. "Kau telah menjadi mercusuar bagi segala hal yang menderita di dunia gaib ini."

Ibu Lastri masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi ramuan herbal yang berbau tajam. Wajahnya pucat pasi. "Aki bilang, besok kita harus pergi. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Keberadaan Nirmala sudah memancing 'penjaga-penjaga' lama Merapi."

Nirmala menatap tangannya yang terjahit kayu, lalu menatap Arka yang bermata zamrud. Mereka bukan lagi pelarian yang mencari perlindungan. Mereka telah menjadi bagian dari ekosistem yang lebih gelap dan lebih besar.

"Ke mana kita akan pergi Bu?" tanya Nirmala.

"Ke Pantai Selatan." jawab Aki yang tiba-tiba muncul di belakang Ibu Lastri. "Hanya air laut kidul yang bisa 'membilas' residu hitam di tubuhmu sebelum kau benar-benar berakar di tanah ini dan menjadi bagian dari hutan selamanya."

Malam itu, saat mereka mulai berkemas dalam diam, suara garukan kuku-kuku kayu di dinding luar rumah mulai terdengar.

Sreeet...

Sreeet...

Sreeet...

Mereka tahu, perjalanan ini tidak akan pernah berakhir dengan tenang. Karena sekarang, ke mana pun mereka pergi, "pasien-pasien" dari kegelapan akan selalu mengikuti aroma mukjizat yang berbau getah dan darah di tubuh Nirmala.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk semua cast dan para kru di balik cerita Nirmala, Mohon maap lahir dan Batin...

Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!