NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Menuju Puncak Utama

Puncak Pelana Kayu terasa berbeda sore itu.

Xiao Fan tiba dengan langkah cepat. Di atas batu karang, Liu Ruyan masih duduk bersila dengan mata terpejam. Tapi ada sesuatu yang berubah. Rambut hitamnya yang tadinya tergerai biasa, kini melayang pelan—bukan tertiup angin, melainkan dikelilingi oleh kabut tipis berwarna ungu gelap.

Qi Kematian.

Gadis itu berhasil menyerapnya. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuat kultivasinya menyentuh ambang Kondensasi Qi Lapis Pertama.

"Kau kembali," suara Liu Ruyan tanpa membuka mata. "Ada sesuatu yang berbeda dari langkahmu. Lebih berat. Lebih... marah."

Xiao Fan tidak menyangkal. Ia duduk di seberang gadis itu. "Latihanmu menunjukkan hasil. Bagus."

Liu Ruyan akhirnya membuka mata. Bola matanya masih hitam biasa, tapi ada kilatan ungu di kedalamannya. "Bisikan-bisikan itu... mereka semakin keras. Mereka memanggilku dengan nama yang sama. Putri Kegelapan."

"Aku tahu siapa kau sekarang," kata Xiao Fan pelan. "Atau setidaknya, aku tahu darah siapa yang mengalir di nadimu."

Gadis itu menunggu penjelasan.

"Raja Kegelapan Pertama. Penguasa Benua Bawah Tanah dari 25.000 tahun lalu. Kau adalah keturunannya."

Liu Ruyan terdiam. Ekspresinya sulit dibaca. "Jadi... aku bukan manusia?"

"Kau manusia. Hanya saja darahmu membawa warisan yang sangat kuat. Terlalu kuat untuk tubuhmu saat ini. Itu sebabnya segel itu ada. Untuk melindungimu dari kekuatanmu sendiri."

Gadis itu menunduk. "Apa yang harus kulakukan?"

"Untuk sekarang? Tetap hidup." Xiao Fan berdiri. "Aku akan pergi ke Puncak Utama malam ini. Jika aku tidak kembali sebelum fajar, pergilah dari tempat ini. Cari tempat aman. Latih dirimu sendiri. Warisan Kaisar Pedang sudah kuberikan padamu melalui teknik yang kuajarkan tadi. Itu cukup untuk membuatmu bertahan."

Liu Ruyan ikut berdiri. "Aku tidak mau pergi. Aku mau ikut denganmu."

"Tidak."

"Aku bukan anak kecil yang perlu dilindungi!"

Xiao Fan menatapnya tajam. "Kau benar. Kau bukan anak kecil. Tapi kau juga belum siap menghadapi apa yang ada di Puncak Utama malam ini. Di sana ada Tetua Tertinggi dan... seseorang dari masa laluku. Seseorang yang kultivasinya mungkin sudah mencapai Alam Transformasi Dewa."

Transformasi Dewa. Empat tingkat di atas Inti Emas. Bagi kultivator biasa, itu adalah kekuatan yang hanya bisa dimimpikan.

Liu Ruyan menggigit bibir. "Lalu kenapa kau pergi? Jika dia sekuat itu, kenapa tidak menunggu sampai kau lebih kuat?"

Xiao Fan menatap langit barat yang mulai memerah. "Karena aku sudah menunggu sepuluh ribu tahun. Dan karena... dia ada di sana sekarang. Jika aku tidak menghadapinya malam ini, dia akan pergi dan aku mungkin tidak akan menemukannya lagi untuk waktu yang lama."

Ia berbalik dan melangkah turun dari batu karang. "Jaga dirimu. Itu perintah dari gurumu."

Liu Ruyan ingin membantah, tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokan. Ia hanya bisa mengepalkan tangan dan menatap punggung Xiao Fan yang semakin menjauh.

---

Matahari tenggelam. Langit berubah dari jingga menjadi ungu tua, lalu hitam pekat.

Xiao Fan berjalan menyusuri jalan setapak menuju Puncak Utama. Setiap langkahnya terukur. Tenang. Tapi di dalam dirinya, badai sedang berkecamuk.

Ning Yao.

Wajah wanita itu muncul dalam ingatannya. Rambut hitam panjang yang selalu tergerai. Senyum lembut yang dulu ia kira tulus. Mata yang menatapnya dengan cinta—atau begitulah yang ia pikirkan.

Lalu malam itu. Malam pengkhianatan.

Ia ingat rasa dingin pedang yang menembus punggungnya. Ia ingat berbalik dan melihat Ning Yao berdiri di sana, memegang gagang pedang yang sama yang dulu ia berikan sebagai hadiah. Di belakangnya, berdiri saudara seperguruannya sendiri. Mereka berdua tersenyum.

"Maafkan aku, Kakak Senior. Tapi takhta Kaisar Pedang terlalu berharga untuk kau miliki sendirian."

Itu kata-kata terakhir yang ia dengar sebelum semuanya menjadi gelap.

Sekarang, sepuluh ribu tahun kemudian, wanita itu ada di sini. Di sekte kecil yang sama tempat ia bereinkarnasi. Kebetulan? Tidak mungkin.

[Sistem, analisis kemungkinan pertemuan ini.]

[Analisis: 87% kemungkinan Ning Yao mengetahui lokasi reinkarnasi inang. 62% kemungkinan ia datang untuk memastikan inang belum pulih sepenuhnya. 41% kemungkinan ia datang untuk membunuh inang sebelum inang mencapai kekuatan penuh.]

Angka-angka itu tidak mengejutkan Xiao Fan. Ning Yao selalu pragmatis. Jika ia tahu Kaisar Pedang telah bereinkarnasi, ia akan memastikan ancaman itu lenyap sebelum sempat tumbuh.

Tapi ada satu hal yang mungkin tidak ia ketahui.

Pedang Penelan Surga.

Pedang itu adalah sesuatu yang bahkan Ning Yao tidak pernah benar-benar pahami. Ia mengira pedang itu hanya senjata pusaka biasa. Ia tidak tahu bahwa pedang itu hidup. Bahwa pedang itu menyimpan kesadaran Kaisar Pedang dan membantunya bereinkarnasi.

Dan sekarang, pedang itu telah terbangun.

Xiao Fan menyentuh dadanya. Di lautan kesadarannya, Pedang Penelan Surga bergetar pelan. Tidak sabar. Lapar.

Aku juga, bisik Xiao Fan dalam hati. Aku juga sudah tidak sabar.

---

Puncak Utama terlihat dari kejauhan. Berbeda dari biasanya, malam ini puncak itu terang benderang. Obor-obor menyala di sepanjang jalan menuju Aula Pusaka. Rupanya Tetua Tertinggi sedang mengadakan jamuan untuk tamunya.

Xiao Fan berhenti di gerbang batu yang menjadi pintu masuk Puncak Utama. Dua penjaga berdiri di sana, masing-masing memegang tombak.

"Berhenti! Siapa kau?" salah satu penjaga membentak.

Xiao Fan mengangkat wajahnya. Cahaya obor menyinari matanya—sebelah emas, sebelah hitam.

"Aku adalah orang yang akan menghancurkan tempat ini malam ini."

Kedua penjaga itu bahkan tidak sempat berteriak.

Pedang Bintang Jatuh melesat dari pinggang Xiao Fan. Satu tebasan horizontal. Dua tubuh ambruk bersamaan. Darah mengucur di atas batu, hitam di bawah cahaya obor.

Xiao Fan melangkahi mayat-mayat itu dan masuk ke Puncak Utama.

Di kejauhan, suara musik dan tawa terdengar dari Aula Pusaka. Mereka sedang berpesta. Merayakan sesuatu.

Bagus, pikir Xiao Fan. Kumpulkan semua di satu tempat. Itu akan menghemat waktuku.

Ia melangkah maju, Pedang Bintang Jatuh di tangan kanannya, bayangan Pedang Penelan Surga bergetar di jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!