INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam hari di Pondok Pesantren Darul Mahendra, dengan purnama yang menggantung di langit.
Malam pekat, langit bertabur bintang.
Angin berhembus pelan melewati area pesantren menuju pepohonan di halaman.
Sebagian besar santri sudah terlelap setelah seharian mengaji dan belajar.
Di salah satu kamar yang sederhana bangunan utama.
Gus Ali Mahendra belum tidur.
Kamar itu tidak besar, hanya ada rak dan buku berisi kitab kayu, meja kecil, sajadah yang terlipat.
Tempat tidur dengan sprei biru polos, sebuah lampu belajar menyala redup, memantulkan cahaya hangat ke dinding.
Gus Ali duduk bersila di atas sajadah, mengenakan baju lengan panjang warna putih dan sarung warna navy juga peci.
Di pangkuannya terbuka mushaf Al-Quran dengan pembatas hijau terselip di antara halaman.
Suasana hening.
Suara jangkrik dari luar dan detak pelan jam dinding.
Gus Ali menarik napas perlahan sebelum mengaji, lalu mulai melantunkan ayat dengan suara lembut dan tartil.
“Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim."
Lantunannya tidak keras, tapi jelas dan meresap. Setiap huruf keluar dengan kehati-hatian. Hafalannya sudah kuat sejak kecil, namun ia tetap membuka mushaf—bukan karena lupa, melainkan karena adab.
Di saat para santri terlelap, inilah waktunya menyepi bersama Kalamullah.
Beberapa kali suaranya berhenti, mengulang ayat tertentu.
Bukan karena keliru, tapi ingin lebih meresapi maknanya.
Tatapannya dalam seolah berbicara dengan bacaan yang dirinya baca.
Angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, tirai itu bergerak dengan tipis perlahan.
Udara terasa dingin malam ini, tapi terasa hangat dengan lantunan ayat yang di lafalkan Gus Ali.
Gus Ali menjadi teringat dengan pembicaraan ayahnya beberapa hari yang lalu tentang rencana perjodohan.
Perjodohan dengan putri Kiyai lain, bernama Ning Syifa Maulida.
Masa depan Pesantren Darul Mahendra.
Gus Ali menutup Al-Qurannya sejenak.
Dirinya tak bermaksud menolak, bukan pula menerima sepenuhnya, karena hanya ingin memastikan satu hal setiap langkah hidupnya berada di jalan ridho Allah.
"Ummi apa Ali harus nerima perjodohan ini, lalu bagaimana dengan hati dan pikiran Ali yang selalu memikirkan gadis Mafia itu."
Gus Ali mendekap Al-Quran di dadanya seolah ini adalah kenyamanan saat ini.
Dirinya juga tak berani bicara pada sang ayah soal isi hatinya, jika dirinya amat mencintai gadis Mafia.
Ali tahu betul, semakin besar tanggung jawabnya sebagai putra Kiyai, semakin banyak pula ujian yang datang padanya.
Undangan ceramah, orang-orang mulai mengenalnya, bahkan lawan jenis yang banyak menginginkan menjadi istrinya.
Gus Ali bangkit menaruh Al-Quran di rak, lalu meluruskan punggungnya, kemudian berdiri untuk sholat malam.
Takbirnya yang pelan di tengah kesunyian malam, menjadi lebih khusyuk.
“Allahu Akbar.”
Di sepertiga malam yang sunyi itu, pria ini bersujud lama dari biasanya.
“Ya Allah, jaga hatiku dari godaan setan. Jaga langkahku dari kesombongan. Jika Engkau takdirkan jodoh untukku, jadikan ia penyejuk mata dan penolong dalam dakwah.”
Doanya sederhana, tapi penuh harap karena hatinya amat bimbang.
Setelah selesai, Gus Ali duduk dan tak langsung tidur---tangannya meraih tasbih kecil di meja.
Bibirnya terus berzikir pelan.
Wajahnya tampak tenang, lebih tenang dari biasanya karena kebiasaannya mendekat pada sang pencipta.
Beberapa santri yang terbangun untuk tahajud mungkin mendengar samar lantunan suara tadi.
Malam semakin larut dengan purnama menggantung di atas langit.
Akhirnya Gus Ali, mematikan lampu untuk tidur.
Berbaring dengan damai, meski di luar sana dunia sedang tak baik-baik saja.
Pemerintah sedang mencari dan mengincar kawanan geng Mafia yang membuat banyak aparat, dan organisasi Masyarakat terbunuh.
Namun, di Pondok Pesantren Darul Mahendra, di kamar kecil itu, seorang pemuda memilih menjaga hatinya terlebih dahulu sebelum menata dunia.
Malam di Pondok Pesantren Darul Falah Sutmaja.
Di dalam kamar dengan pilar kayu Ning Syifa membaca Al-Quran sama seperti yang Gus Ali lakukan.
Lalu solat tahajud.
"Ya Allah hati hamba di buat olehmu, dan entah mengapa hati ini tertaut pada Gus Ali. Jika engkau menghadirkan Gus Ali untuk menjadi suami hamba, maka hamba akan sangat bahagia sekali."
"Tapi jika Gus Ali bukan jodoh hamba, maka tolong jangan biarkan hubungan kedua orangtua kami putus," lanjut Ning Syifa.
Matanya menatap bulan, dari kemarin gadis solehah itu selalu tersenyum membayangkan Gus Ali.
Dirinya akan bersikap biasa saja saat di luar bersama anak santri, tapi jika di dalam kamar dirinya akan tersenyum sambil membayangkan wajah Gus Ali.
Setelah menguping pembicaraan sang ayah dengan Kiyai Ridwan, Ning Syifa lebih ceria.
Hatinya sudah milik Gus Ali, dirinya menatap bulan purnama.
Ning Syifa Maulida mengingat saat dirinya bertemu pertama kali dengan Gus Ali, saat itu masih kecil dan belum tahu artinya cinta.
Hanya saja awalnya Ning Syifa amat kagum dengan kecerdasan Gus Ali, juga kebijaksanaan sebagai seorang kakak.
Namun, entah mengapa semakin tumbuh dewasa sepertinya Allah menakdirkan mereka bersama, Ning Syifa tiba-tiba memiliki perasaan pada pemuda itu.
Ning Syifa yang tak mau terus menerus memikirkan Gus Ali karena itu termasuk Zina pikiran, dirinya hanya memutuskan kembali membaca Al-Qurannya.
Sebenarnya Ning Syifa tahu jika Gus Ali adalah ulama terkenal, dengan banyak penggemar dari kalangan lawan jenis.
Ning Syifa tak bisa begitu saja cemburu, karena gadis ini tahu jika Gus Ali adalah milik seluruh umat.
Lantunan suara Al-Quran terdengar merdu menembus langit malam yang pekat dengan taburan bintang.
Bulan Purnama masih di atas langit malam bersinar dengan cerah.
Seolah bulan purnama menyinari sebuah hati yang gelap, gelap karena dendam, amarah, dan rasa sakit.
Ning Syifa terus membaca ayat demi ayat agar melupakan Gus Ali, namun tetap tak bisa.
Seolah pemuda itu, namanya---tetap ada di hatinya.
Hati yang sudah selama bertahun-tahun terpatri pada satu nama, hanya saja Ning Syifa tak tahu Allah sudah menentukan garis hidup manusia tanpa di rencanakan oleh manusia itu sendiri.
Sebenarnya apa garis takdir hidup mereka, dan apa rencana Allah selanjutnya.
*