NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi
Popularitas:172.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sandrina menatapnya curiga. “Kenapa kamu lihat-lihat aku?”

“Aku tidak melihatmu,” balas Alecio gugup karena ketahuan.

“Jelas kamu lihat ke arahku.”

“Aku hanya memastikan kau tidak menyembunyikan roti di baju.”

Sandrina tersedak. “Ngapain aku sembunyiin roti?!”

“Siapa tahu kau mau kabur dan butuh bekal.”

Sandrina langsung menegakkan punggung. “Aku tidak pernah kabur.”

Patrick batuk pelan. “Subuh kemarin?”

Sandrina pura-pura tidak dengar. Dia melanjutkan makannya

***

Siang itu Alecio harus kembali ke ruang medis untuk mengganti perban. Francisco membuka kemeja Alecio dengan ekspresi profesional.

Sandrina yang melihat luka-luka itu lagi langsung meringis. “Ih, masih merah.”

Alecio menoleh ke arahnya. “Kau takut?”

“Tidak. Hanya saja aku jijik,” jawab Sandrina jujur.

Francisco tersenyum tipis.

Sandrina lalu mengangkat tangan kecil. “Aku izin jalan-jalan di halaman ya? Pusing lihat darah.”

Alecio menatapnya beberapa detik. Ia tahu wanita itu punya riwayat kabur. Namun, di sisi lain ia ingin melihat apa yang akan ia lakukan.

“Pergilah,” kata Alecio akhirnya. “Tapi jangan jauh-jauh. Nanti kamu tersesat lagi.”

Sandrina mengangguk cepat. “Siap, Pak Bos!” balasnya sambil memberi hormat ala pasukan prajurit.

Halaman kastil luas sekali. Rumput hijau terbentang. Benteng tinggi menjulang. Pos penjaga terlihat di beberapa titik.

Sandrina berjalan santai pura-pura santai. Padahal otaknya berputar cepat.

“Ayo mikir, Sandrina. Masa hidupmu berakhir jadi penghuni kastil mafia?”

Tiba-tiba beberapa mobil boks masuk melalui gerbang. Sandrina berhenti, memperhatikannya. Tiba-tiba matanya berbinar.

Mobil itu adalah pengantar bahan makanan yang di stok untuk kebutuhan orang-orang di kastil, selama tiga sampai lima hari.

Beberapa pekerja turun, membuka pintu belakang, menurunkan peti-peti sayur dan bahan dapur. Ide itu muncul seperti kilat.

“Kalau aku masuk ke dalam sebelum mereka pergi.”

Sandrina pura-pura berjalan memutari taman, lalu mendekat ke area bongkar muat.

Seorang pekerja sedang mengangkat peti kentang.

Sandrina pura-pura tersenyum ramah. “Hello! Italia bagus! Kentang bagus!”

Pria itu hanya mengangguk bingung. Karena tidak paham.

Saat perhatian mereka teralih, Sandrina menyelinap ke sisi mobil boks yang pintunya masih terbuka. Ia melompat masuk.

Di dalamnya penuh kardus dan karung tepung.

“Aman,” bisik Sandrina ngirang.

Sandrina menyusup di antara karung gandum dan menutup tubuhnya dengan terpal tipis. Beberapa menit kemudian, pintu mobil ditutup. Suasana di sana berubah gelap

Sandrina menahan napas. Mobil mulai bergerak. Ia hampir tertawa bahagia dalam hati.

“Selamat tinggal kastil aneh! Aku pulang!”

Mobil berjalan, tak berapa lama, lalu berhenti.

Sandrina mengernyit. “Kok cepat banget?”

Tiba-tiba pintu belakang terbuka. Cahaya menyilaukan masuk. Sandrina menyipitkan mata.

Di sana ada Alecio berdiri dengan tangan bersedekap. Dengan satu alis terangkat. Di belakangnya, Patrick sudah tidak bisa menahan tawa.

“Kau bahkan tidak melewati gerbang,” kata Alecio tenang. “Mobil ini masih di dalam halaman.”

Tubuh Sandrina membeku. Ia perlahan duduk di atas karung gandum. “A-aku cuma cek kualitas tepung.”

Patrick spontan tertawa terbahak-bahak.

Alecio menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan, “Kau benar-benar tidak menyerah, ya?”

Sandrina mendongak, dagunya terangkat. “Aku bukan tahananmu.”

Alecio melangkah mendekat sedikit. “Benar. Kau bukan tahanan.”

“Lalu apa?”

Alecio terdiam sejenak. Tatapannya berubah lembut, hampir tak terlihat.

“Kau, budak yang sangat merepotkan.”

Sandrina mendengus kesal. Ingin marah, tapi takut kena tembak anak buah Alecio yang sedang berjaga tidak jauh dari mereka.

Alecio mengulurkan tangan. “Turun!”

Sandrina menatap tangannya. Ada rasa ragu, lalu ia meraih tangan itu.

Begitu telapak mereka bersentuhan Alecio merasakan sensasi hangat menjalar lagi di tubuhnya. Ia cepat-cepat menarik tangannya.

Patrick menyeringai lebar. “Bos, luka tembaknya sembuh cepat ya. Tapi, ada bagian yang lain kayaknya yang perlu diobati.”

Alecio melotot.

Sandrina menatap mereka curiga. “Kalian ngomong apa sih?”

“Nothing,” jawab Alecio cepat.

Sandrina turun dari mobil dengan kesal. “Lain kali aku pasti berhasil.”

Alecio tersenyum tipis. “Aku menunggu.”

Dan entah kenapa permainan kucing dan tikus ini mulai terasa menyenangkan bagi mereka berdua.

***

Sudah tiga hari Sandrina tidak kabur. Bukan karena tobat, tetapi karena bosan. Kastil itu terlalu besar. Terlalu rumit bangunannya. Terlalu sunyi suasananya, mirip rumah hantu. Bahkan langkah kakinya sendiri terasa seperti gema di museum.

Sandrina berjalan menyusuri lorong, melihat para pelayan sedang membersihkan jendela. Ada yang mengelap lantai. Ada yang menata peti bahan makanan dari mobil boks tadi pagi.

“Semua sibuk, cuma aku yang jadi pajangan hidup,” gumam Sandrina.

Saat melewati dapur aroma bawang tumis dari masakan Italia menyeruak. Sandrina berhenti, hidungnya mengembang, tetapi itu bukan aroma yang ia rindukan.

Sandrina memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan kampungnya muncul. Warung pinggir jalan. Suara wajan dipukul.

Perut Sandrina langsung berbunyi keras.

Ia membuka mata.b“Aku mau nasi goreng.”

Sandrina menelan ludah. “Ya Allah, aku kangen nasi goreng.”

Dan dalam waktu kurang dari lima detik, keputusan dibuat. Sandrina pun pergi mencari Alecio.

Sang Ketua Mafia sedang duduk di ujung meja panjang. Beberapa anak buahnya berdiri mengelilingi meja, membahas laporan bisnis. Wajah mereka serius. Suasana tegang.

“Distribusi minggu ini harus—”

BRAK!

Pintu terbuka. Semua kepala menoleh.

Sandrina berdiri di ambang pintu. Tanpa permisi.

Tanpa takut.

Alecio mengangkat alis.

Semua orang langsung diam total.

Sandrina berjalan masuk seperti tidak ada aura kriminal sama sekali. “Aku mau masak.”

Salah satu anak buah hampir menjatuhkan mapnya.

Alecio berkedip sekali. “Masak apa?”

“Nasi goreng.”

Beberapa pria Italia itu saling berpandangan.

Patrick berbisik pelan, “Apa itu senjata baru?”

Sandrina melotot. “Itu makanan!”

Alecio menatapnya beberapa detik. “Kenapa?”

“Aku kangen rumah.”

Jawaban itu membuat suasana sedikit berubah.

Alecio menyandarkan punggungnya.

“Kau bisa memasak?”

Sandrina mendengus. “Ya bisa lah. Aku kan perempuan Indonesia.”

Patrick berbisik lagi, “Apa itu bisa jaminan?”

Sandrina menoleh cepat. “Kamu mau coba debat?”

Patrick langsung diam.

Alecio mengangguk pelan. “Baik. Masaklah.”

Sandrina tersenyum lebar.

“Tapi,” lanjut Alecio santai, “buat banyak.”

Sandrina menyipitkan mata. “Kenapa?”

“Agar semua orang bisa mencicipi.”

Beberapa anak buahnya terlihat panik.

Alecio terlihat tenang. Padahal dalam hatinya, ”Aku ingin mencoba masakannya.” Tentu saja ia tidak akan mengaku.

***

Bagaimana Sandrina masak nasi goreng? Dan Bagaimana hasilnya?

1
Aditya hp/ bunda Lia
waduh, ... masuk kemana lagi itu si bumil semoga gak kenapa2
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
Nar Sih
alhamdulilah sandrina bisa lolos smoga sgra bertemu dgn alecio atau org,,nya☺️
Lilis Yuanita
Terus gimana ..???
vania larasati
lanjut
ken darsihk
Alecio masih belum sadar kalau bumil istri tercinta sudah berhasil keluar
Mardiana
eehhhhh Bu bos keluar tuh .... alecio istrimu udah diluarrr🤭🤭
ken darsihk
Ya ampyun takut tuh peluru nyasar , semoga Sandrina dan baby nya selamat begitu juga dengan dady nya si triplets
SasSya
lagiiii kak shaaannnttt
😃😃😃😆👍👍👍🙏🙏🙏
SasSya
jangan lahiran di Mari sandraaaaaa😬🤕😆🙆‍♀️
Nar Sih
pasti kali ini jack habis oleh alecio ,dan ngk ada ampun
Wiwi Sukaesih
hdeuhh Thor ketar ketir ...tkut triplet knapa knapa... huft trik napas dlu .....
Ita rahmawati
bacanya sambil bayangin kejadian itu
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
tegang,takut debay nya kenapa kenapa..
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪
Aditya hp/ bunda Lia
disana yang perang disini aku yang tegaaangngng ...
Mardiana
duh tegang.....hati hati alecio 🤭
vania larasati
lanjut
Soraya
lanjut thor
SasSya
💪💪💪💪💪💪
ratakan!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!