Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dygta
*
*
Suara ponsel nyaring memekakkan telinga. Membangunkan Sofia yang masih bergelung di bawah selimutnya. Nama papi baru yang tertera dilayar, membuatnya mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadarannya.
"Halo?" dengan suara seraknya khas bangun tidur. Beberapa kali Sofia berdeham.
"Kamu masih tidur?" suara dari seberang terdengar diikuti kekehan.
"Udah bangun pih." jawabnya, padahal masih meringkuk di bawah selimutnya.
"Hari ini kamu libur, kan?" pertanyaan dari seberang sana membuat Sofia mengernyitkan dahi.
"Kok papi tahu?" jawabnya, seraya memaksa tubuh nya untuk bangkit.
"Lihat status WhatsApp kamu semalam." jawabnya, membuat Sofia mengingat dengan keras.
"Oohh ..." jawabnya ketika dia ingat menulis status libur di whatsappnya sesaat sebelum tidur.
"Dygta sudah sembuh?" tanya Satria kemudian yang lagi-lagi membuat Sofia mengernyitkan dahi.
"Udah." sambil mengangguk, seolah pria itu mampu melihatnya dari kejauhan.
"Hari ini saya ada meeting di Bandung, habis itu kita keluar ya." Satria dengan suara bersemangat.
"Oh ya? kemana?" Sofia agak terhenyak.
"Mm ... terserah Dygta mau kemana." jawab Satria, lagi-lagi membuat Sofia terkejut.
"Maksud papi?"
"Bawa Dygta, saya mau ketemu dia." jawabnya.
"Bawa Dygta?" Sofia mengulang perkataan pria di seberang.
"Iya." jawabnya, pendek.
"Papi serius?" tiba-tiba kesadaran Sofia terkumpul dengan cepat.
"Hmm ..."
"Kenapa?"
"Bawa saja Dygta, jangan banyak tanya Sofia!!" Satria kali ini dengan suara tegas setengah memerintah.
"Ii-iya, pih."
"Yasudah, nanti siang saya telfon lagi."
"Iya, pih."
"Jaga diri kamu ya." seperti biasa, kalimat penutupnya membuat Sofia tersipu. Kemudian telfon ditutup.
Perempuan itu merenung. Sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Pria itu, meminta bertemu dengan putrinya? untuk apa?
Pria yang satu ini benar-benar aneh. Selain perhatian dengan hal-hal kecil, dia juga perhatian dengan kehidupan lain dirinya yang biasanya tersembunyi dari pria-pria yang menggunakan jasanya. Memperhatikan apa yang dia makan, yang dia pakai, bahkan kini pria itu perhatian dengan keluarganya.
Apa yang diinginkan pria itu? Mengapa dia peduli dengan anaknya?
*
*
Sofia telah sampai di depan sebuah mall setelah sebelumnya mampir ke sekolah Dygta terlebih dahulu untuk menjemput putri semata wayangnya tersebut.
Dengan riang, Sofia berjalan memasuki gedung mall sambil menggandeng Dygta, putrinya yang sama riangnya. Karena jarang sekali mereka bisa bersama seperti hari itu. Karena kesibukan Sofia dengan pekerjaannya yang sering membuatnya harus melupakan keinginan untuk berjalan bersama putrinya walau hanya satu hari saja.
Mereka tiba dilantai dua, yang sebagian besar merupakan food court dan arena Playground.
Ponsel Sofia berdering, panggilan dari papi barunya.
Ish, ... menggelikan, kenapa aku memberi pria itu nama ini. Habisnya aku bingung harus memberi nama apa, aku bahkan tak tahu dia siapa. Padahal ini sudah enam bulan kontrak!!
"Iya pih?"
"Kalian sudah sampai?"
"Udah di lantai dua, pih."
"Saya di Sushi Tey ( sebuah restoran jepang-red)" Satria memberi tahu tempat dia menunggu.
"Oke pih." kemudian menutup telfon.
Sofia melihat satu demi satu nama restoran yang berjejer di sisi kirinya, dan beberapa saat kemudian dia menemukannya, restoran dengan nuansa Jepang yang kental.
Perempuan itu bergegas menarik putri kecilnya untuk masuk kedalam.
Dan disanalah pria itu, tengah duduk menatap layar ponselnya seperti biasa. Mengenakan atasan kemeja berwarna navy, yang bagian lengannya digulung sampai sikut, dan bawahan Jeans dark blue.
Oohh ... sungguh menawan pria satu ini!! Sofia mengerjap berkali-kali.
Mereka berdua mendekat. Seketika membuat perhatian Satria teralihkan.
Senyum ceria pria itu merekah, seakan telah menemukan hal yang sangat diharapkannya.
Sedetik kemudian pandangannya beralih ke sosok mungil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya, Dygta.
Gadis itu tampak merapatkan tubuh kecilnya dibalik kaki jenjang Sofia. Menatap Satria dengan malu-malu.
"Hai ..." Satria bangkit menghampiri mereka, kemudian berjongkok, berusaha mensejajarkan tubuh tingginya dengan gadis kecil yang sedang bersembunyi itu.
Sofia menarik lengan putrinya agar mau keluar dari persembunyiannya.
"Ayo sayang, ..." bujuknya dengan lembut.
Satria tersenyum. "Apa saya terlihat menakutkan?" tanyanya, kepalanya yang mendongak ke arah Sofia yang masih berdiri di depannya.
Perempuan itu tersenyum.
"Ayo Dygta, ketemu sama pap..." tenggorokan nya terasa tercekat. Hampir saja dia keceplosan.
"Mmm ... ayo sayang, ..." kembali menarik lengan Dygta yang masih betah bersembunyi di belakangnya.
Dengan sedikit bujuk rayu, akhirnya gadis cilik itu mau sedikit bergeser, menampakkan dirinya di hadapan Satria.
Pria itu tersenyum, mengulurkan tangannya ke arah Dygta. Anak itu mendongak ke arah ibunya, meminta penjelasan. Sofia mengangguk, kemudian melirik lengan yang terulur itu tanda menyuruh putrinya untuk menerima uluran tangan Satria.
Dengan ragu, Dygta meraih tangan Satria, kemudian menciumnya dengan takdzim.
Ada sesuatu yang berdesir hangat dihati Satria saat punggung tangannya menempel dengan kening gadis kecil itu.
Seketika potongan-potongan bayangan masa lalu menabrak ingatannya. Ketika saat pertama kali bertemu dengan Fia kecil di jalanan kampung waktu itu. Sewaktu gadis kecil itu memberikan sebotol air mineral kepadanya.
Wajah Dygta tak jauh berbeda dengan Fia waktu kecil. Hanya saja Dygta lebih terawat, jauh dengan Fia nya yang terlihat kuyu namun tetap dapat menarik perhatiannya hingga sekarang.
Satria kembali mendongak ke arah Sofia yang masih menatap interaksi gadis kecilnya dan pria dewasa di hadapannya. Senyum terukir dibibir keduanya.
"Kamu Dygta?" tanyanya dengan suara lembut. Gadis kecil itu mengangguk dengan malu-malu.
"Panggil papi, ya!" katanya lagi, tiba-tiba seraya matanya melirik ke arah Sofia yang terhenyak.
Dygta kembali menoleh ke arah ibunya, bingung. Dan dengan ragu, Sofia menganggukkan kepalanya.
"Papi?" ucap Dygta yang kemudian membuat senyum di bibir Satria tersungging lebih lebar. Pria itu mengangguk.
Kemudian Satria bangkit dan mempersilahkan keduanya untuk duduk. Mereka duduk berseberangan, dengan Dygta yang duduk disamping ibunya, masih dengan malu-malu.
Sementara Satria masih dengan senyumannya menatap dua orang di depannya dengan perasaan yang tak dapat dia sendiri jelaskan. Bahagia, senang? atau apa ini!! hatinya bermonolog.
Lamunannya terjeda ketika pelayan restoran membawakan makanan yang sudah terlebih dahulu dipesan oleh Satria sebelum Sofia dan Dygta tiba.
Sushiroll dan beberapa daging dan ikan yang terlihat menggiurkan.
"Dygta suka ikan?" Satria memulai percakapan.
Dygta menjawab dengan anggukan.
"Jawab, sayang!" perintah Sofia diucapkan sebut mungkin. Satria kembali tersenyum.
"Maaf, pih. Dia pemalu. Jarang ketemu orang selain kakek sama neneknya." Sofia menjelaskan.
"Its ok, Fia. Kamu pun dulu seperti itu." tanpa sadar Satria dengan ucapannya.
"Maksud papi?" Sofia mengerutkan dahinya.
"Mmmm ...semua orang begitu, kan waktu kecil.?? kamu juga sepertinya." Satria mengalihkan pembicaraan.
"Oohh ... iya. mungkin." Sofia mengangguk.
"Ayo dimakan." Satria mempersilahkan.
Mereka makan dalam diam dengan pikiran masing-masing. Sementara Satria terus menatap kedua orang di hadapannya dengan senyum yang terus merekah. Dia bahagia. Dia yakin ini perasaan bahagia.
*
*
Setelah acara makan sushi selesai, mereka bertiga keluar dari restoran itu. Berjalan beriringan menuju sebuah Playground dimana terdapat banyak arena permainan untuk anak-anak. Dari mulai game, carrousell, pasir buatan, bahkan hingga salju buatan pun ada.
Dygta menatap pemandangan didepannya dengan mata bulat yang berbinar. Sama seperti Sofia yang selalu menampakkan ekspresi menggemaskan itu kala dia melihat sesuatu yang luar biasa bagus menurutnya.
"Dede mau itu, ma!!" Dygta menunjuk ke arena bermain salju.
"Disana dingin, sayang, main itu aja ya." Sofia mengalihkan perhatian nya ke arah arena tembak boneka. Tapi gadis kecil itu menggeleng. Matanya terus tertuju ke arah arena salju buatan.
"Ayo kita main salju!!" Satria segera menarik tangan Dygta ke arah loket tiket permainan itu. Membayar untuk tiga orang. Segera mengenakan jaket tebal yang disewanya, kemudian masuk ke arena bermain salju, dengan menggandeng tangan kecil Dygta.
Sesaat Sofia melongo menatap pemandangan didepannya. Satria yang dengan riangnya menggandeng tangan putrinya. Membimbing gadis kecil itu berjalan melewati salju buatan sambil bercerita banyak hal. Dan Dygta mulai menanggapinya dengan sedikit tawa kecil yang masih malu-malu.
Ada yang berdesir dihati perempuan 28 tahun itu. Menatap interaksi putrinya bersama sang papi yang telah dikenalnya selama enam bulan ini.
Dirinya seperti mengingat sesuatu. Atau seseorang di masa lalu. Satria tampak seperti orang itu yang selalu ada dalam mimpi-mimpinya selama dua puluh tahun ini. Tapi kemudian dia menepis pikiran itu.
Mana mungkin dia!! Jelas mereka adalah dua orang yang berbeda. Kak Niko tak mungkin kembali. Dia sudah melupakannya. Dan pria ini bukanlah dia. Tidak mungkin dia!! Batinnya berbicara.
*
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭