"Kalau dia sudah tidak ingin hidup maka biarkan saja dia mati!"
Samar-samar aku mendengar suara bariton dari sampingku. "Brengsek, dokter macam apa yang menginginkan pasien nya mati" gumamku sambil meringis menahan sakit.
Cerita ini berkisah tentang seorang gadis muda berusia 19 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah cukup berumur. Dia, Kirana Nindya Prasetyo memilih bunuh diri daripada menikah dengan pria yang tak dikenalnya.
Lalu, sosok seperti apakah yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia begitu keras kepala menolak perjodohan ini?
Akankah pria misterius itu memaksa untuk menikahi nya atau malah bekerjasama dengan nya untuk membatalkan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Surya Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15
Hari sudah sore. Kiran bersiap-siap untuk pulang. Dia celingukan dikoridor rumah sakit mencari Ibu Heni. Saat itu pula, lengannya ditarik seseorang.
"Kau mencariku gadis bodoh?"
Astaga si narsis ini. Kenapa selalu saja aku bertemu dengan nya.
"Dokter maaf saya harus segera pulang."
"Ya aku tahu, kau ikutlah denganku pulang ke rumahmu"
"Kerumahku? Maksud dokter?"
"Diamlah dan ikut denganku."
Elang berjalan sambil menggandeng tangan Kiran. Ada banyak mata yang memperhatikan. Kiran menunduk malu dan takut. Ia takut akan menjadi sasaran dari fans gila dokter dingin ini. Kiran berusaha melepaskan tangannya, tapi Elang mencengkeram nya dengan kuat.
Mereka sampai diparkiran, Elang membukakan pintu dan menyuruh Kiran masuk. Tapi Kiran masih berusaha menolak.
"Saya harus pulang dengan ibu Heni dokter"
"Aku sudah menyuruh Bu Heni pulang duluan tadi. Aku juga sudah ijin pada beliau kalau kau tidak akan pulang malam ini."
"Apa? Tidak pulang? Dokter apakah anda sudah gila?"
"Kau masih berani mengumpat direktur mu gadis bodoh? Naiklah cepat, atau kau ingin aku menggendong mu masuk?!"
Kiran pun akhirnya menurut, ia pun masuk ke dalam mobil Elang. Selama diperjalanan mereka hanya diam saja. Elang begitu konsentrasi menyetir. Kiran memperhatikan wajah Elang dari samping terlihat sangat tampan.
Hidungnya yang mancung sangat serasi dengan bentuk wajahnya yang sedikit oval, alis matanya hitam dan tebal, bola matanya yang hitam dengan bulu mata yang lentik untuk seorang pria. Rahangnya yang persegi berpadu dengan jakunnya yang terlihat sangat maskulin.
Bagaimana bisa ada ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna seperti ini. Dia sangat tampan, kaya raya dan populer. Pantas saja banyak wanita yang menggilai nya.
"Apa kau sudah puas memandangi wajah calon suamimu yang tampan ini?"
"Ah...."
Kiran terkejut. Dia langsung menunduk malu karena ketahuan sedang mengamati wajah pria disebelah nya. Kiran memalingkan wajahnya ke luar jendela, dan dia baru sadar kalau jalan ini menuju rumah nya sendiri.
"Dokter kemana kau akan membawaku?"
"Pulang"
"Aku gak mau pulang dokter!" teriak Kiran.
"Tenanglah, hanya untuk malam ini kau pulang ke rumah itu. Selanjutnya kau akan tinggal di rumahku."
Kiran semakin bingung dengan jawaban Elang.
Apa-apaan ini? Dia bahkan tau alamat rumah ku? Daritadi dia berbicara hal yang tidak kumengerti. Calon suami? Pulang ke rumahnya? Dasar dokter gila.
Elang memasuki gang menuju rumah Kiran. Dia memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Kiran. Kiran melihat ibunya yang berpakaian sangat rapi berdiri didepan rumah menyambut kedatangan mereka. Ayah Kiran yang tubuhnya penuh luka memar juga terlihat rapi dan tersenyum takut saat melihat Elang datang.
"Kiran..."
"Ibu..."
Kiran berlari memeluk ibunya. Ibu Ana pun menangis menyambut pelukan Kiran. Sementara Hardi, ayah tiri Kiran mencoba bersikap ramah pada Elang.
"Ayo mari silahkan masuk Tuan"
Elang diam tak menjawab. Ia melepaskan pelukan Kiran dan ibunya lalu membawa mereka masuk.
Kiran semakin bingung saat melihat dua orang lainnya yang tidak dikenal duduk diruang keluarga. Ada banyak bingkisan dan makanan yang tersaji di sana. Ibu Ana yang memahami kebingungan putrinya membawa Kiran ke kamarnya.
"Ibu ada apa ini?" tanya Kiran penasaran.
"Kiran kamu jangan marah ya nak. Hari ini Dokter tampan itu melamarmu."
"Apa?!" Kiran membelalakkan matanya tak percaya.
Siapa yang berani membuat keputusan tanpa persetujuan ku? Dokter brengsek dan gila itu apa maksudnya sampai dia mendadak melamar ku, bukankah dia akan segera menikah dengan tunangannya. Bedebah, aku akan buat perhitungan.
Saat bersamaan Elang masuk ke kamarnya. Ia melihat Kiran yang marah. Dia pun meminta ibu Ana keluar.
"Dokter apa-apaan ini?!"
"Ini kerja sama yang aku tawarkan padamu siang tadi."
"Tapi aku belum menyetujui nya!"
"Aku gak butuh persetujuan mu sayang. Hari ini aku melamar mu secara resmi kepada kedua orang tuamu. Dua hari lagi aku akan menikahimu"
"Apakah kau sudah gila dokter? Aku tidak mau menikah denganmu, aku juga tidak menerima lamaranmu!"
Elang duduk dibibir ranjang dan menarik lengan Kiran hingga ia jatuh ke pelukan Elang.
"Ayahmu sudah menerima uangku untuk melunasi hutang-hutangnya, kau lihat luka-luka di tubuhnya? Dia hampir mati dipukuli oleh algojo yang disewa rentenir-rentenir itu. Lalu ibumu dia bahkan sampai menangis bahagia dan mencium tanganku saat aku melamarmu untuk menjadi istriku."
Kiran terdiam. Ia tak percaya dengan semua yang terjadi hari ini.
Ayah k*****t dia gagal menjualku pada pria tua itu dan dengan mudahnya dia juga menjualku pada dokter brengsek ini demi melunasi hutang-hutangnya. Oh Tuhan apakah aku tidak punya pilihan lain. Ah bukankah dia akan segera dinikahkan dengan tunangannya?
"Kenapa kau diam sayang? Apakah kau menjadi bodoh karena terlalu bahagia?"
"Bahagia kepalamu? Kau bukankah kau akan menikah dengan tunanganmu itu? Apakah kau sengaja mempermalukan keluarga ku?"
Elang tertawa senang melihat Kiran yang marah dipangkuan nya. Jarak mereka begitu dekat, dia bisa melihat wajah ranum Kiran yang merona. Dia terlihat sangat cantik.
"Kau cemburu sayang?" tanya nya narsis.
"Untuk apa aku cemburu dengan mu dokter brengsek! Aku membencimu! Aku tak kan menerima lamaranmu, kau menikahlah dengan wanita itu!"
"Hahahaha, orang tuamu sudah menerima aku sebagai menantunya sayang, dan aku hanya akan menikahimu. Kau akan menjadi satu-satunya istriku."
" Kau gila, aku membencimu bagaimana bisa aku menjadi istrimu! Aku tak menerimamu!"
"Bersiaplah sayang, apa kau masih mau berlama-lama di pelukan ku?"
"Ah... kau brengsek, lepaskan aku!"
Kiran mendorong Elang hingga jatuh diatas ranjang. Elang menarik tangan Kiran dan membuatnya terjatuh menimpa tubuhnya.
"Oh kau sudah tak sabar sayang? Tapi aku pria terhormat maafkan aku, aku takkan menyentuhmu sebelum kau resmi menjadi milikku."
"Kau gila, kau benar-benar sudah gila! Aku tak akan pernah menjadi istrimu! Teruslah kau bermimpi!"
Hahahhahahahah
Elang tertawa senang. Dia begitu puas melihat wajah Kiran yang marah. Dia terlihat sangat menggoda.
"Baiklah sayang, aku akan keluar dari sini. Aku takut aku tak tahan ingin segera memakanmu jika aku berlama-lama denganmu."
Kiran memonyongkan bibirnya, dan itu benar-benar menggoda Elang.
Aku sudah berusaha menahan diriku, tapi kau yang memintanya. Jangan salahkan aku gadis bodoh.
Dengan cepat Elang menarik wajah Kiran. Dia mencium bibir Kiran yang sangat menggodanya. Terus m*****t dan menghisapnya. Mata Kiran terbelalak, dia tak menyangka Elang akan menciumnya lagi.
Jari-jari Elang mulai bergerilya. Dia meraba dan meremas. Kiran melenguh pelan. Elang masih terus menciumnya, kali ini lidahnya ikut bermain di rongga mulut Kiran, membuat Kiran kehabisan nafas.
Elang melepaskan ciumannya.
"Gadis bodoh, bernafaslah. Apakah kau tidak tau caranya berciuman?"
Kiran mendorong Elang keluar dari kamarnya.
"Pergilah kau brengsek!"
Elang keluar sambil tertawa.
"Sepertinya akulah pria pertama yang menciummu gadis bodoh"
"Kau brengsek, menjauhlah dariku."
"Baiklah sayang, aku pergi dulu. Dua hari lagi aku akan melanjutkan apa yang belum kita selesaikan tadi."
"Kau gila!"
Kiran membanting pintu kamarnya dengan keras. Diluar sana dia mendengar suara Elang yang tertawa keras.
Huh sialan, aku selalu saja tak berdaya saat dia menciumku. Bodohnya aku. Bisa-bisanya aku terjerumus dalam perangkap nya. Pria brengsek, aku ingin membunuhmu!