Setelah putus dari Jevano Gautama Abraham, Alyssa Roseana Navier berusaha melupakan sang mantan dengan lari dari kota Bandung ke Surabaya.
Jevano memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin 4 tahun lamanya begitu saja karena bosan dan jujur tentang perselingkuhannya. Sampai akhirnya setelah 3 tahun berlalu mereka kembali bertemu.
Alyssa bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan besar milik ayah Jevano yang baru saja bertemu dengan anaknya setelah sekian lama, hingga saat itu perusahaannya di percayakan kepada Jevano dan membuat Alyssa menjadi sekretaris pribadinya.
Akankah cinta mereka bersemi kembali? Atau Alyssa akan mengundurkan diri? Bisa kah Alyssa bertahan dengan rasa sakit hatinya menghadapi Jevano?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cxafixe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifat Jahil Jevano
Mereka sampai di sebuah bangunan properti, Alyssa sampai kebingungan karena setaunya ini adalah agent properti terbesar di Surabaya. Bukannya apa-apa tapi, bangunan di sini bisa dibilang lumayan mahal. Serius Jevano membawanya ke sini?
"Selamat datang di kantor kami, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya seorang marketing menghampiri Jevano dan Alyssa.
"Ya, tolong sarankan rumah yang bagus untuk kami." Jevano bicara to the point dan tanpa basa-basi. Sementara Alyssa hanya mengekor di sampingnya.
"Kebetulan, kami mempunyai koleksi rumah untuk pengantin baru di sebelah sana ma—"
"Bu-bukan suami—"
"Iya untuk saya dan istri saya, cepat tunjukan." Alyssa yang tadi ingin memotong pembicaraan kini malah dipotong kembali oleh Jevano. Yang membuatnya lebih melongo, Jev mengatakan kalau Alyssa adalah istrinya.
"Mari, Pak, Bu." Marketing itu berjalan mendahului, sementara Jevano tersenyum jahil saat menatap wajah kesal Alyssa akibat ulahnya. Suka saja melihat ekspresinya begitu, lucu dan menggemaskan sekali.
"Ayok, Sayang," ajak Jevano sembari menggenggam tangan Alyssa.
Alyssa mengikuti Jevano sambil menggerutu kecil. "Apa-apaan sih, kita bukan suami istri. Kita bukan apa-apa!" Alyssa bicara dengan setengah berbisik.
"Belum dan akan," balas Jevano.
"Gakk, apa-apaan sih. Saya mau pulang!"
"Amanah tetap amanah, kamu tidak menghargai pemberian orang tua saya, Alyssa?" Tanya Jevano membuat Alyssa skakmat.
Kalau begini ya bagaimana Alyssa tidak skakmat, menolak juga tidak sopan. Tapi kalau begini caranya, yang ada dia kesal sendiri dengan Jevano menyebalkan itu!
Jadi mau tidak mau, Alyssa mengikuti Jevano walaupun memasang wajah kusutnya. Memang Jevano peduli? Tidak, dia akan tetap menjadi selalu pemaksa kalau bersama Alyssa.
Mereka berdua sampai di tempat pemajangan koleksi, ada beberapa rumah di sana yang bertipe mimimalis. Sebenarnya tadi saat melihat sebuah rumah mewah bernilai milyaran Jevano sudah mau memilih itu. Tapi Alyssa jelas melarang.
Ini rumah dinas loh, kenapa Jevano ingin membelikannya rumah mewah. Seperti yakin saja dia malah berkata kalau rumah itu untuk mereka tinggal bersama anak-anak mereka kelak. Membuat Alyssa mencebik dan memukuli pria itu.
"Rumah ini bertipe 3 kamar, kamar utama berada di atas bersama kamar anak dan di bawah ada kamar tamu. Nah untuk yang ini kamarnya hanya dua, di atas dan di bawah saja." Marketing itu menjelaskan detail rumah kepada Alyssa dan juga Jevano.
Sementara mereka berdua hanya mengangguk-angguk pelan sambil memperhatikan detailnya. "Saya ambil yang 3, kamar."
"2 aja ... " Bukannya apa-apa ya, ini kan rumah nantinya akan dijadikan rumah dinas. Kamar satu saja cukup sebenarnya tapi ya memang tidak ada di sini. Jadi seharusnya tidak perlu terlalu besar juga.
"3 Sayang, kamu kan sedang hamil. Nanti anak kita biar bisa punya kamar sendiri." Dengan senyum menyebalkan Jevano menarik pinggang Alyssa dan mengusap-usap perut gadis itu dengan lembut.
Alyssa menggigit bibir bawahnya sendiri dengan senyum terpaksanya dia menatap Jevano. Kebohongan apa lagi yang diciptakan Jevano hari ini? Napasnya memburu, rasanya Alyssa ingin memukuli pria yang ada di sampingnya ini.
"Romantis sekali pak Jevano dan istrinya. Tapi benar, Bu Alyssa. Jika sudah menikah dan akan mempunyai anak lebih baik mengambil yang tipe kamar 3, harganya juga tidak terlalu jauh," ucap marketing itu.
"Gimana, Sayang? Kita lihat dulu ya rumahnya, kalau kamu cocok kita ambil." Jevano mengusap puncak kepala Alyssa. Aduh sudah deh, jangan tanya keadaan Alyssa sekarang. Yang jelas pipinya sudah sangat panas akibat ulah Jevano.
.
.
.
Mereka sudah berada di rumah yang akan dibeli oleh Jevano. Untungnya memang full furnished jadi cukup membawa baju saja. Alyssa tidak banyak bicara sih. Tapi dalam diam dia mengagumi rumah ini.
Rumah impian yang walaupun tidak mewah tapi nyaman untuk hidup bersama suami dan anak-anaknya kelak. Belum lagi ada taman dan kolam renang minimalis juga di belakangnya. Sepertinya dia akan nyaman di sini.
Jevano yang sedang bicara dengan marketing itu sesekali menatap Alyssa yang nampak senang dengan ini semua. Dia tau Alyssa akan menyukainya. Kalau Alyssa lupa,. dulu mereka bahkan sudah merencanakan masa depan bersama.
Rumah seperti apa yang ingin mereka tempati, ingin punya anak berapa, kegiatan apa saja yang harus mereka lakukan setelah menikah, bahkan membagi tugas dalam rumah tangga. Ya anggap saja ini menyicil sambil berusaha untuk mendapatkan cinta Alyssa lagi.
"Saya ambil rumah ini, semua pembayaran akan diselesaikan oleh asisten saya." Jevano membuat keputusan tanpa bertanya lagi, Alyssa pikir Jevano tak benar-benar akan memilih rumah ini karena terlalu besar, tapi ternyata dia langsung deal bahkan tanpa menawar.
Beda sekali dia sekarang, sedikit senang. Karena Alyssa pernah tau bagaimana dia menemani Jevano dalam masa sulitnya dulu, bahkan mereka setiap bertemu ya tanpa modal banyak, hanya duduk di taman kampus sambil makan batagor itu sudah membuat mereka bahagia.
Alyssa menggelengkan kepalanya pelan. Aduh apaan sih, dia jadi flashback. Sudah jelas itu masa lalu. Ngaco nih memang Alyssa.
Selesai dengan urusan berkas-berkas, kini hanya ada mereka berdua di dalam rumah ini. Perlahan Jevano menghampiri Alyssa dan berdiri di hadapannya. "Suka rumahnya?"
Alyssa mengangguk. Meskipun jaga image ya dia tidak akan berbohong, dia sangat menyukai rumah ini. Jevano tersenyum lalu mengusap puncak kepala Alyssa. "Perlu pembantu?"
"Tidak usah, kantor kan tidak perlu bertanggung jawab untuk kebersihan rumah," jawab Alyssa. Kali ini dia bicara biasa saja, tidak ada nada sewot, tidak ada ngegas, tidak ada amarah.
Jevano terkekeh. "Tapi saya bisa memfasilitasi kamu itu kalau kamu mau."
Alyssa menggeleng. "Tidak usah."
"Baik kalau begitu, saya masih ada pekerjaan bersama daddy. Hati-hati di rumah, jangan lupa kunci pintu. Semua barang-barang kamu sudah ada di koper itu. Saya pulang."
Kali ini Alyssa mengangguk sembari mengantarkan Jevano keluar rumah. Ada sesuatu sebenarnya yang ingin dia sampaikan tapi tertahan di tenggorokan. Alyssa berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk mengatakan ini sampai akhirnya ...
"T-tuan ... "
Mendengar panggilan dari gadisnya itu Jevano berbalik dan tersenyum ke arah Alyssa.
"Terima kasi, t-terima kasih untuk semuanya," ucap Alyssa. Alyssa tidak mungkin tidak mengatakan itu walaupun dia gengsi sekali, tapi ini memang sangat-sangat membuat Alyssa senang.
Jevano melangkahkan kakinya ke arah Alyssa dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh Alyssa dan merasakan kehangatan yang selama ini Jevano rindukan. Alyssa mematung, namun untuk mencegah ini semua juga dia tidak mampu seolah tubuhnya menolak menjauh dari Jevano.
Dengan lembut Jevano mengecup puncak kepala Alyssa dan berbisik. "Sudah saya bilang, kalau sekarang apapun akan saya berikan untuk kamu. Bahkan dunia saya sendiri kalau perlu. Tidak usah berterima kasih. Cukup jaga diri kamu dengan baik."
Jevano melepaskan pelukan mereka dan tersenyum sekilas ke arah Alyssa, setelah itu dia benar-benar meninggalkan rumah itu dengan Alyssa yang masih membeku di tempatnya.
"Apa yang terjadi barusan ya?" Alyssa bergumam pelan memikirkan kejadian 1000 detik itu.