Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.
Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.
Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.
Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : IMPOSSIBLE IS NOTHING
“Mom!” rengek Xavier beranjak duduk dengan cepat.
“Apa? Mommy sudah tahu semua sikap kamu selama ini. Jangan kamu pikir bisa berbuat seenaknya saja!” ketus Khansa memicingkan mata. Kemudian beralih pada ART yang berdiri di belakangnya. “Bi, tolong minta Paman Zed siapin mobil,” lanjut wanita itu segera dilaksanakan oleh sang ART.
Xavier menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa membantah keputusan wanita itu. “Biar Xavier yang bawa Frisha, Mom,” ucap lelaki itu bersiap turun dari ranjang.
Khansa mundur, memberikan jalan. Xavier merengkuh tubuh Frisha, memasukkan lengan pada leher dan kaki Frisha lalu menggendongnya keluar dari kamar yang segera diikuti Khansa dan Leon.
Setelah meletakkannya perlahan, Xavier hampir ikut masuk. Akan tetapi gerakannya tertahan karena cekalan tangan Khansa. Pria itu menoleh, kembali menjajakkan kakinya di tanah.
"Kamu tidak usah ikut!” larang Khansa menarik kaos Xavier, melenggang masuk dan menggeser pintu mobil hingga tertutup rapat.
Leon menepuk bahu Xavier, mengguncangnya perlahan, “Kamu melukai dua hati wanita sekaligus. Mommy kamu pernah diabaikan keluarganya sewaktu muda, dia tidak akan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama. Kamu telah membuka luka lama mommy kamu,” tutur Leon dengan suara pelan, mengerti kekalutan putranya.
“Aku harus gimana, Dad?” tanya lelaki itu semakin dihantui rasa bersalah.
“Rebut hatinya, yakinkan mereka jika kamu bisa berubah lebih baik lagi,” saran Leon.
Kaca jendela terbuka menampakkan wajah Khansa yang masih memendarkan amarah, “Leon, kamu ikut pulang nggak?” seru Khansa tanpa menoleh.
“Iya, Sayang!” sahut Leon dengan cepat segera menyusul sang istri, meninggalkan Xavier mematung seorang diri di halaman rumahnya.
Xavier kembali masuk setelah mobil keluarganya menghilang dari pandangan. Dengan langkah gontai, lelaki itu berbalik dan masuk ke rumah.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Sudah satu minggu, Xavier berdiam diri di rumah. Ia masih bergelut dengan rasa bersalahnya. Namun ada pula kesepian yang mulai mendera. Setiap pulang ke Villa Anggrek, Khansa mencegahnya untuk bertemu Frisha sampai psikisnya membaik. Ia bahkan absen ke kantor dan hanya menyelesaikan pekerjaan di rumah.
Napasnya mendadak berat ketika melihat setiap sudut rumah tampak kosong, biasanya senyum dan keceriaan Frisha menghiasi rumah tersebut. Apalagi bunga-bunga yang menghias di setiap sudut rumah kini mulai layu. Karena hanya Frisha yang telaten menggantinya.
Xavier berjalan ke meja makan, terdiam sejenak ketika bayangan Frisha yang selalu mengambilkannya menu makanan, banyak bicara, terus menari di kepalanya. “Ck!” decaknya kesal menghempaskan garpu dan sendoknya, memijit pelipisnya dan bergegas ke ruang kerja.
Jemarinya langsung bergemeletuk ketika duduk di kursi kebesarannya. Xavier mencoba untuk berkonsentrasi, lengannya menjulur mencari-cari cangkir yang berisi minuman favoritnya. Tetapi tidak menemukan apa pun. Xavier menoleh, tidak ada apa-apa di sana. Mejanya kosong selain berkas yang menumpuk dan seperangkat alat kerjanya.
“Bibi! Mana kopiku?!” teriak Xavier menggelegar dari lantai dua.
Yang mendengarnya pun terkejut, segera membawakan permintaan sang boss. Dengan langkah terburu-buru, Bibi mengetuk pintu.
“Ini Tuan, kopinya. Maaf,” ujar Bibi meletakkan kopi di meja.
“Hmm!” sahut Xavier tanpa menoleh.
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?” tanya asisten rumah tangganya.
“Tidak!” sahutnya singkat.
Setelah pintu tertutup, Xavier meraih cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan. Akan tetapi baru tersentuh lidahnya sedikit saja, Xavier kembali meletakkannya begitu saja. Mencengkeram kuat cangkir tersebut sembari menarik napas dalam-dalam.
“Haaarghh!” geramnya beranjak dari duduk dan membanting gelas keramik itu hingga pecah.
Tak tahan lagi, Xavier bergegas mengambil mantel tebalnya. Mengenakannya sembari berjalan dengan cepat menuruni anak tangga.
Tanpa berpesan apa pun, Xavier melesat pergi dengan mobil mewahnya. Tujuannya jelas, ke Villa Anggrek. Apa yang terjadi seminggu terakhir ini, cukup menyiksanya. Ia sendiri tidak mengerti apa yang dirasakannya. Entah rasa bersalah atau memang merindukan cuwitan sang istri yang selalu berkicau ketika mereka bersama.
Xavier turun dari mobil ketika sudah berhenti di pelataran bangunan mewah dan luas milik orang tuanya. Dia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya sebelumnya. Xavier mengendap-endap masuk ke rumah setelah dibukakan pintu salah satu pelayan di rumah tersebut.
“Mommy ada, Bi?” tanya Xavier. Sengaja menanyakan kehadiran sang ibu karena yakin pasti sedang bersama Frisha.
“Ada di kamar nona muda, Tuan,” sahut pelayan menunduk sopan.
“Hmm!” Xavier melangkah dengan sangat pelan agar benturan sepatunya tak terdengar. Ia mengintip dari balik pintu yang terbuka. Bibirnya ikut tersenyum ketika bisa melihat senyuman Frisha sudah kembali.
Selama satu minggu penuh, Khansa berusaha keras memulihkan psikisnya. Dua wanita itu sering menghabiskan waktu berdua. Khansa mengajaknya menonton, memberinya buku-buku novel, mengajaknya bertukar cerita hingga perlahan, sedikit demi sedikit Frisha bisa kembali bangkit.
“Sayang, hari ini aku akan mengajarimu berdandan,” ucap Khansa mendorong kursi roda Frisha dan menghentikannya di depan meja rias.
“Frisha jelek ya, Mom?” ucap perempuan itu merasa tidak percaya diri.
“Eh, siapa bilang? Kamu itu cantik alami, Sayang. Tapi, ini biar kamu nggak jenuh aja. Dan lagi, biar kamu semakin percaya diri. Ayolah, aku tuh kangen banget sama kembaran Xavier. Dengan hadirnya kamu, rasanya aku punya anak perempuan lagi,” papar Khansa tersenyum tulus.
Frisha tersenyum haru dengan ketulusan keluarga suaminya. “Makasih banyak, Mommy sudah baik sama Frisha, menerima Frisha apa adanya,” timpal perempuan itu merengkuh lengan ibu mertuanya.
“Aku selalu percaya hukum tebar tuai. Kalau kita selalu berbuat baik, aku yakin kebaikan itu akan kembali ke kita. Aku selalu berharap, Luna juga akan mendapat hal yang sama di luar sana.” Khansa membelai kepala Frisha kemudian memulai tutorial merias wajah.
“Kenapa nggak disuruh tinggal di sini aja, Mom. Biar mommy dan daddy nggak kesepian,” tutur Frisha mengikuti instruksi Khansa.
Khansa tersenyum, sedikit membungkuk hingga sejajar dengan bahu Frisha, tatapan mereka beradu di depan cermin. “Wanita, setelah menikah itu milik suaminya. Aku cuma berpesan pada suaminya, kalau memang sudah tidak menginginkan Luna, kembalikan kepada kami secara baik-baik. Sekali melakukan kekerasan baik verbal maupun fisik, aku orang yang paling tidak bisa menerimanya. Akan aku patahkan kedua lengannya. Tetapi, syukurlah, dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya, Sayang,” papar Khansa kembali melanjutkan memoles wajah Frisha.
“Nah, makin cantik dan seger ‘kan?!” seru Khansa setelah menyisir rambut Frisha dan mengikatnya sedikit.
Frisha tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, senyum merekah pun mengembang dengan sempurna di bibirnya.
Khansa meraih ponselnya ketika terasa getaran di sakunya. Ia segera meraih benda pipih itu dan membuka pesan. Tak berapa lama senyumnya melebar lalu berjongkok di depan Frisha.
“Sayang, jadwal fisioterapi kamu udah keluar,” seru Khansa menggenggam kedua tangan Frisha.
“A—apa Frisha bakal bisa jalan lagi, Mom?” tanya gadis itu ragu-ragu.
“Impossible is nothing. Enggak ada yang nggak mungkin, Nak. Selagi kita mau berusaha dan berdoa, kamu pasti bisa sembuh. Semangat ya!” ucapnya meremas kedua jemari lentik Frisha. Sepasang netra lembut gadis itu tampak berkaca-kaca, namun senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
Khansa berdiri dan hendak membawanya keluar. “Mulai sekarang, jangan pikirkan apa pun lagi. Fokus dengan kesembuhan kamu aja ya, maaf atas semua sikap Xavier selama ini,” ujarnya mulai mendorong kursi roda Frisha.
“Mommy sudah mengatakannya ratusan kali,” sahut perempuan itu terkekeh.
“Takutnya kamu lupa,” canda Khansa tertawa.
Dua perempuan itu mematung sesaat ketika melihat pria tampan nan gagah berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca.
“Xavier?” ucap Khansa mengernyitkan keningnya.
Sedangkan Frisha terdiam, merapatkan kembali bibirnya. Senyumnya memudar dan dadanya berdegup dengan kuat ketika matanya bertautan dengan netra Xavier.
Bersambung~
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘