NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat

Status: tamat
Genre:Berondong / Duniahiburan / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Seri Kisah Cinta Kaum Metropolitan

Wana sebal dengan rivalnya, karena ia diejek dikatai Eiger, sesuai merk tas favoritnya yang sudah ia pakai sejak SMA. Si Rival menggunakan Birkin berharga miliaran ke kampus.
Jadi, untuk mendapatkan tas yang sama dan membuat si Rival mengakuinya, Wana bermaksud mencari uang dengan mencari sugar daddy.
tapi dia ingin tetap perawan.
di saat itu ia bertemu Artha, pria indo Canada yang alih-alih dilirik Wana sebagai Sugar Daddy potensial, Wana malah minta dikenalkan ke relasi Artha untuk berburu Daddy.
Sementara Artha sebenarnya memendam perasaan pada gadis yang usianya lebih muda 33 tahun darinya ini.

simak juga tips nyeleneh dari Wana mengenai banyak hal.
Ingat, ini NOVEL KOMEDI, jadi serius tak wajib disini, ketawalah saat tak ada orang di sekitarmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Begitulah...

"Eh, Kak Mala masih di sini?" Wana mengangkat alisnya mendapati Nirmala masih berada di dalam kamar kosannya.

Wanita itu kini duduk di meja belajar Wana sambil mengenakan kacamata dan sedang mengetik di Laptopnya.

Nirmala hanya tersenyum masam. "Iya Dek, kakak numpang beberapa hari ya?"

"Aku sih malah seneng ada temannya. Masih nggak dibukain pintu sama Mas Jaka? Kalau yang begituan, aku dengar istri Sah bisa menuntut lewat meja hijau loh kak,"

Nirmala mengernyit dan menghentikan ketikannya. Lalu menatap Adiknya.

"Istri Sah? Maksud kamu?"

Wana seketika menyadari kalau ia salah ucap. "Eh, hehe, lupakan saja kak, aku cuma salah ucap,"

Gadis itu bergegas ke arah kamar mandi.

"Tunggu," Nirmala menghentikan langkah Wana dengan menyambar pergelangan tangannya.

Duh! Me and My big Mouth, keluh Wana dalam hatinya.

"Wana, kamu sudah tahu sejauh apa dan dari mana?"

Dan Wana pun menghela napas panjang.

*

*

Pagi ini cerah, tapi rasanya Wana merasa sangat capek. Sepertinya ia mau bolos kuliah saja.

Kakaknya sudah berangkat kerja.

Semalaman Nirmala menangis setelah melihat foto-foto yang ada di ponsel Wana.

Tapi Wana tak berani mengganggu, jadi Wana diam saja. Setelah selesai pun Nirmala tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya meringkuk di balik selimut sambil sesekali isakannya terdengar.

Wana sangat sedih kakaknya harus melalui kejadian ini. Namun ia sudah memprediksinya saat ia memergoki kakak iparnya dengan wanita lain. Ia juga tahu perangai Nirmala yang tegar dan sabar. Jadi Nirmala pasti bisa melalui hal ini.

Mungkin, Wana akan mengembalikan uang Nirmala saja. Ia merasa sudah cukup bermain-main.

Sudah tak ada keinginan lagi untuk memiliki si Birkin. Kakaknya lebih butuh uang daripada dirinya.

Masa bodo dengan Stela, ia juga tak peduli dengan para daddy.

Sampai...

Ponselnya berdering. Nama 'Om Judes' tertera di layar ponselnya. Wana mengernyit.

Untuk apa Om Artha menelponku di pagi-pagi begini?! Apa ada urusan mendesak?

"Ya Om?" Wana mengangkatnya.

"Saya di depan kosan kamu," sebuah suara tegas dan dalam dari seberang telepon.

"Sebentar Om, saya keluar," sahut Wana.

Gadis itu menutup sambungan teleponnya dan menatap dirinya di cermin.

Ia sedang menimbang beberapa hal. Apakah harus mandi dulu? Cuci muka gosok gigi dulu?

Dandan dulu? Ganti baju dulu? Dia masih memakai kaos gombrong dan hotpants tidurnya.

"Gosok gigi aja lah," gumam Wana malas.

*

*

"Ya Om?" tanya Wana saat masuk ke dalam mobil Artha. Saat itu Artha memakai mobil perusahaan, jeep mewah namun tidak terlalu mencolok. Jadi Wana kalem saja masuk ke dalam mobil yang terparkir.

Artha tampak tertegun menatap Wana. Ia melihat Wana dari atas kepala, turun lagi sampai mata kaki, naik lagi ke kepala, begitu terus selama beberapa detik.

"Om?" tanya Wana menyadarkan Artha.

Artha tampak terhenyak sedikit lalu menarik napas panjang.

"Kamu nggak kuliah?"

"Lagi malas Om, rasanya capek,"

"Sudah sarapan?"

"Belum,"

"Mau makan apa?"

"Hm? Apa ya? Bubur aja kali ya?"

"Kita ke Pasar Baru aja ya, ada bubur enak disana,"

"Buat apa jauh-jauh ke Pasar Baru? Itu jarak 5 meter ada bubur abang-abang. Enak juga kok Om, Saya beliin dulu ya," Wana akan beranjak keluar mobil untuk membeli bubur, tapi Artha mencegahnya.

"Tunggu," tegas Artha, "Kamu mau beli bubur pakai baju seperti itu?!"

"Apa yang salah dengan baju ini?"

"Celana kamu terlalu pendek,"

Wana menatap antrian bubur di depan mereka, "Banyak kok mbak-mbak yang bajunya kayak saya,"

"Saya nggak peduli yang lain, kamu tunggu di dalam," desis Artha sambil beranjak keluar mobil dan menghampiri tukang bubur, disertai dengan tatapan bengong Wana.

Antriannya lumayan panjang, karena masih pagi dan di area ini memang banyak tempat kos mahasiswa.

Banyak orang menatap Artha yang mulai berdiri di antrian paling belakang. Beberapa cewek mencuri-curi pandang dan tersenyum menggoda.

Mungkin memang wajahnya yang bersahaja, atau outfitnya yang mahal tidak cocok mengantri bubur pinggir jalan. Apalagi banyak mahasiswi yang memang berprofesi sebagai 'Itu' jadi sosok Artha mudah jadi incaran.

Dan Artha pun risih.

Jadi pria itu pun berteriak ke tukang bubur, "Hoy Bang! Saya hargai satu mangkok seratus ribu, tapi saya diduluin," seru Artha.

Si abang tukang bubur langsung menoleh dengan pandangan mata berbinar. "Kasih jalan buat bapaknya! Kasih jalan!" Seru si tukang bubur kesenengan.

Buburnya semangkuk normalnya hanya 12ribu...

*

*

"Kok cepat, Om?!" Seru Wana takjud saat Artha menenteng dua mangkok bubur ke dalam mobil. "... dan tanpa sterofoam?" Sambung Wana.

Karena tukang bubur yang itu beneran femes di komplek ini, telat dikit udah bakal kehabisan. Tapi Artha bisa mendapatkannya dalam waktu lima menit saja.

"Katanya mangkoknya nggak usah dikembaliin," desis Artha.

"Buat saya aja kalo gitu, lumayan nambah gerabah dapur," desis Wana sambil mulai mengaduk buburnya.

Dan selanjutnya mereka hanya berdiam diri di dalam mobil sambil menikmati semangkuk bubur hangat khas komplek kosan.

Sebenarnya kalau dinilai bahannya satu persatu, rasanya ngga akan seenak buatan chef. Tapi kenapa terasa menenangkan begini ya?

Apa karena makannya bareng si bawel ini? Pikir Artha heran.

Ia melirik Wana yang sedang bersemangat makan sambil mengamati suasana sekitar mereka.

Dia begitu senang makan buburnya, apa kuberikan saja modal kerja untuk si tukang bubur biar bisa buka toko bubur di dekat sini dan memiliki karyawan?! Pikir Artha lagi.

"Ohiya, Om nggak kerja? Kok pagi-pagi ke sini? Nggak mungkin cuma mau ajak saya sarapan kan?" tanya Wana.

Artha menyerahkan botol air mineral yang masih tersegel ke Wana, gadis itu menerimanya sambil mencibir.

Ceile, air putih aja merknya Fiji? Apa kabar gue yang isi ulang galonan?! Pikir Wana.

Beneran botolnya harus gue simpen buat pamer hedon. Batinnya lagi.

"Pacar kamu nggak anterin ke kampus?" tanya Artha.

Wana mengangkat alisnya, "Pacar?"

"Itu yang semalem,"

"Kevin?"

Artha diam saja.

"Om kira dia pacar saya?"

"Jadi?"

"Yaaah, terserah Om saja kalau begitu," desis Wana sambil menaikkan bahunya. Lagi pula, Wana sedang berpikir walaupun Kevin pacarnya pun, hal itu tidak ada hubungannya dengan Artha. Keduanya bukan siapa-siapanya.

"Saya sudah selidiki, dia salah satu gig-olo milik Bu Dewi," kata Artha.

"Iya saya tahu profesinya. Tapi Bu Dewi? Dia bilang malah nggak kenal Bu Dewi loh Om, dia cuma bilang kesana karena disuruh Maminya,"

"Jadi kamu sudah tahu profesinya?!"

"Yaaa, tahu lah,"

"Dan kamu masih mendekatinya?!"

"Apa salahnya? Saya juga lagi cari Daddy,"

"Kamu suka sama dia?"

"Eh? Ya suka," desis Wana sambil mengernyit merasa aneh. Dia suka karena tidak benci.

"Walaupun dia berondong?"

"Dia baik sama saya, nolongin saya, kenapa saya harus benci?"

Artha menghela napas berat.

"Apa sih yang kamu cari dari dia, udah bocah, menang ganteng doang," gumam Artha.

"Om nggak boleh menghinanya, sok paling suci deh,"

"Kenapa kamu nggak cari pacar yang lain aja sih?"

"Lah, gimana mau cari pacar lain, orang saya aja belum punya pacar," gumam Wana.

Artha pun menoleh dengan cepat.

"Kamu bilang Kevin pacar kamu,"

"Nggak ada yang ngomong begitu," desis Wana. "Om yang ambil kesimpulan sendiri. Lagipula siapa pun pacar saya memang itu urusan Om?"

"Karena kemarin kamu lebih pilih diantar pulang dia dari pada saya,"

"Ya tampang Om serem begitu mana berani saya deket-deket?! Kevin itu nolongin saya dari amukan tante-tante nggak jelas yang cemburu gara-gara suaminya adalah target daddy saya! Makanya kita ke RS karena jidatnya luka dilempar Vas. Kalo ngga ada dia, yang bakalan robek malah jidat saya, kali!"

Artha pun tertegun, berusaha mencerna semuanya dan menghubungkan benang merah yang tadinya kusut.

"Terus kenapa kemarin Om masih di sana? Kan saya minta Om pulang saja," Omel Wana.

"Kamu mau jadi pacar saya?"

"Eh?"

1
LOVE U TOO¹
aku tihbkalo gak bemu novel enak pasti balik keaini.. aampe udah lebih 10 kali bCanya ini novel..
Mia Mustofa
mbuh lah, yg baca jd ikutan sableng ini mah
Maya Ratnasari
SBMPTN Thor, kebalik tu BM nya
Yuyun
au ahhh😄😄😄
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
ahjuma80
suka sm om silver satset
ahjuma80
aku ko senyum senyum ya
ahjuma80
nemu aja ni si madam ilmu per baby an, survei ya dam
ahjuma80
kelar lo kevin
ahjuma80
wana mahluk langka om
ahjuma80
wkwkwk betul wana masih panjang jalan menuju kaya
ahjuma80
wkwkw boleh lah madam aku catet tips dan triknya
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lu bilang pelakor tapi lu nya main api kalau gak sinting goblok juga ya lu yun
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
kan kan mulut nya sih kagak bisa ngerem dah tau kebenarannya nyaho kan gak dpet apa"
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
keren mbak mala gak menye" , buang laki yg gak tau terimakasih tuh mbak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wah 😮 , edyan
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lu cari masalah ama konglo si kev 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
loh ehh kog 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
kagak ada takutnya ya lu kevin
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
duh eilah dah posesif aje ini om silver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!