NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:70.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

...Cinta Terlarang...

"Hai, Getta, makan di kantin yuk. . .," cewek itu lagi.

"Nggak lapar," jawab Getta singkat dan tetap duduk di tempatnya.

Yuna cemberut, menatap Getta penuh harap, ia belum menyerah. "Kok gitu sih. . .," tanya dia manja. "Ini kan udah istirahat siang"

"Eh, cebol, lu nggak denger Getta ngomong apa?" entah dari mana Jonas muncul. Dia mengacau lagi dengan menarik kuncir rambut Yuna.

"Aduh!" pekiknya terdengar sampai ke sudut kelas.

Molly yang lagi asyik menggambar di kursinya sampai kaget. Melihat Yuna memukul Jonas membabi buta untuk membalas tingkah jahilnya. Sejak Getta ada di sini, Yuna dan Jonas mirip kucing sama anjing. Ribut terus. Molly cuma ketawa, sejak ada Getta entah kenapa suasananya jadi beda.

Jadi ingat jaman SMP, di mana ada Getta dan Jonas pasti bakal heboh. Sayang, sekarang, Chika nggak ada di sini untuk melihat semua ini. Rasanya ingin mengulang masa-masa itu lagi. Tapi, Chika sedang apa ya sekarang?

Tiba-tiba suasana jadi hening, saat lagi memperhatikan Jonas dan Yuna lagi ribut berlarian ke penjuru kelas, ada seseorang yang masuk. Memancing semua perhatian yang sekarang bertumpu pada sosok tinggi yang melangkah dengan santai dan membawa hawa yang berbeda.

Seorang cowok, yang mungkin nggak asing lagi bagi Molly yang melongo, menunggu cowok itu sampai di hadapannya.

"Hai," sapa dia -cowok di ruang kesenian kemarin.

Molly mendadak gugup -seperti biasa bingung lagi, ditambah salah tingkah. Dengan takut-takut, ia membalas cowok itu dengan senyuman grogi.

"Aku kira kamu bakal balik ke ruang kesenian lagi," kata dia, seolah nggak peduli sama sekitarnya. "Soalnya. . ."

Molly menatapnya bertanya-tanya, kenapa dia nyamperin sampai ke kelas segala?

Cowok itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lalu menaruhnya di atas meja Molly. "Kemarin kececer di ruang kesenian," jelasnya soal krayon biru.

"Hah?" Molly memandangi benda itu, mencoba mempercayai bahwa ternyata krayon yang dicari-cari dari kemarin nggak beneran hilang. Ia mengambil benda itu, dengan bodohnya, mengamati krayonnya untuk memastikan bahwa yang dibawa cowok itu benar-benar miliknya, padahal memang. "Hm. . . makasih. . .," ucapnya ragu-ragu.

Cowok itu melihat ke sekelilingnya, tapi ia seolah nggak melihat orang- orang yang ada di sana. Ini kelasnya Molly, kata dia lewat tatapannya yang tenang sebelum mengulurukan tangannya. "Aku Richard," ia berkata dengan ramah. "Aku anakkelas tiga"

Bingo! Benar kan, cowok itu memang anak kelas tiga? Pantas tampilannya agak. . . dewasa.

Molly terdiam sejenak, menatap Richard, sebelum ia membalas uluran tangan cowok itu. "Mo. . . Molly Andreata. . .," jawabnya -gemetaran.

"Namanya manis. . .," cowok itu tersenyum, melepas uluran tangannya, dia tampak ingin segera pergi karena menyadari sesuatu. "Oke, aku pergi dulu ya. . . sampai ketemu lagi, Molly"

Molly masih tegang, memandangi langkah Richard yang berakhir di ambang pintu. Begitu Richard nggak terlihat lagi, Molly baru sadar di kelas ini bukan dia sendiri. Ada Getta yang duduk di kursinya, Jonas dan Yuna yang jadi berhenti main-main, juga beberapa cewek yang entah kenapa gigit jari.

****

"Cowok playboy," Jonas mendengus.

Getta melirik ke arahnya, masih terbayang, gimana Molly membalas uluran tangan anak kelas tiga itu. Di depan wajahnya dan Molly benar- benar nggak menoleh padanya sedikitpun -seolah-olah Getta nggak ada di depannya, seolah-olah Getta nggak melihat gimana Molly membalas uluran tangan cowok itu dengan malu-malu.

Tiba-tiba jadi ingin menggerutu sendiri, terus kenapa?. Toh, itu bukan urusannya. Tapi, kenapa ya Getta kesal banget sama cowok itu? Mentang-mentang kelas tiga, dia kelihatan seenaknya masuk ke kelas orang dengan gaya belagu.

"Nggak nyangka deh, cewek kayak Molly digodain sama Richard juga. . .," di belakang Getta, Yuna ikut berkomentar saat mereka akhirnya menuju ke kantin sama-sama -sedangkan Molly tetap tinggal di kelas (habis nggak diajak).

Dua orang ini jadi kompak banget ngomongin kakak kelas mereka itu -di mana kata-kata playboy selalu di ulang-ulang. Jonas dan Yuna lebih tahu karena ini tahun kedua mereka sekolah di sini.

Tapi, apa mau dikata? Mau marah? Nggak mungkinlah! Lagian mau marah sama siapa?

"Kalian pergi aja sana," kata Getta tiba-tiba, sambil menghentikan langkahnya.

"Lho?, Yuna heran. "Kok gitu sih, Get?"

Jonas nggak komentar, kayaknya mengerti kalau Getta merasa sangat terganggu dari tadi. Menarik kuncir rambut Yuna. "Yuk!" ajaknya sambil menyeret Yuna yang menjerit lagi.

"Jonas, sakit!" teriaknya berusaha melepaskan diri. Tapi, tetap aja mengekor walaupun kesal setengah mati -Jonas benar-benar memaksanya untuk nggak bikin Getta tambah mumet.

Sebenarnya Yuna heran, mood Getta berubah drastis gara-gara Richard. Ada apa ya?, dia bertanya sambil menoleh ke belakang sebentar, memandangi punggung Getta yang semakin jauh di pandangan matanya.

****

GUE BOSAN NIH, PELAJARANNYA LAMA BANGET, kata Chika dalam SMS-nya yang dikirim setengah jam yang lalu.

KENAPA NGGAK BOLOS AJA?, balas Getta lalu menyimpan hp-nya di dalam saku setelah memastikan pesannya terkirim.

Belakangan ini Chika jadi pengeluh. Sedikit-sedikit mengadu soal yang nggak terlalu penting. Dari semalam mungkin udah ada seratus SMS yang masuk dari Chika.

Getta menghela nafas, sambil menyandarkan punggungnya ke anak tangga. Angin sepoi-sepoi bertiup dan bikin ngantuk, kayaknya Getta bakal bolos lagi seperti kemarin. Ia mulai memejamkan mata -ingin tidur. Ingin melupakan beban itu untuk sejenak karena ia mulai berpendapat bahwa tidur melindungi kita dari sesuatu yang nggak ingin kita rasakan. Itu memang benar.

Tapi, ada suara-suara yang mengganggunya. Suara-suara orang yang sedang berbicara dengan nada meninggi -seperti bertengkar.

Getta mengintip hati-hati ke dalam -lorong lantai 2 yang sepi yang jarang didatangi karena di sini nggak ada ruang kelas, hanya gudang dan laboratorium yang jarang dipakai.

Terperanjat, Getta membeku beberapa saat. Menemukan dua orang sedang berdebat dan ia bisa dengan jelas mendengarnya.

"Apa sih salahku sampai kamu jadi kayak gini?" seorang siswa perempuan, yang Getta kenal sebagai teman sekelasnya yang jutek - Lara yang dikejar-kejar Jonas setengah mati itu!

"Sudah, Lara!" lelaki yang berdiri di depannya nggak lain dan nggak bukan adalah gurunya sendiri, Pak Heru -wali kelas mereka. "Saya terlalu dewasa untuk kamu dan saya nggak ingin kamu mendapat masalah"

Ada apa di antara mereka?

Lara menangis, ia menarik tangan Pak Heru, memaksanya untuk nggak pergi dan mendengarkan permintaannya. "Aku mohon, jangan begini. . . kamu tahu aku nggak punya siapa-siapa lagi. . ."

"Saya mengerti, Lara. . .," Pak Heru berujar dengan tenang. "Justru karena itu kamu harus bangkit, berusaha untuk jadi lebih baik. . ."

"Aku nggak bisa, Heru. . ."

Apa? Lara memanggil guru dengan namanya saja?

Getta lebih syok lagi!

"Aku mohon. . . aku nggak mau berakhir seperti ini. . .," pinta Lara lagi.

"Tolong saya, Lara. . .," balas Pak Heru, dengan tatapan yang sama seperti yang diperlihatkan Lara padanya. "Jika ini dilanjutin, sama-sama nggak baik untuk kita"

Lara masih merengek, tapi ia nggak lagi menghentikan Pak Heru yang hendak pergi. Kasihan melihatnya begitu, menyeka air matanya berulang- ulang yang nggak juga berhenti menetes.

Getta jadi bingung, heran, campur aduk pokoknya. Ternyata di sekolah, ada pula yang begini. Nggak nyangka!

Lara masih berdiri di situ, kelihatan terluka dan belum berhenti nangis. Sampai dia dengar sesuatu dari tangga darurat.

Hp Getta bunyi! Pasti SMS dari Chika! Ketahuan deh kalau ia barusan menguping!

Lara berlari ke arah tangga darurat dengan perasaan cemas. Terlambat, Getta nggak sempat kabur. Lara menemukannya terduduk di tangga karena tergelincir.

****

"Ada yang lihat Adhia Getta dan Lara Sophia?" Bu Sandra kelihatan marah.

Nggak ada seorang pun yang berani menjawab. Mereka sama-sama tahu, kalau tadi Getta dan Lara masih ada di jam pelajaran pertama dan kedua.

Bu Sandra tersenyum penuh arti -Getta mungkin nggak tahu kalau Bu Sandra sangat berbakat dalam menghukum siswa yang suka bolos mata pelajarannya, Bahasa Inggris. Sampai-sampai nggak pernah ada lagi yang bolos di kelasnya. "Oke," dia berkata dengan tenang. "Kita mulai pelajarannya"

Pelajarannya dimulai, tapi Molly gelisah memandangi kursi kosong di depannya. Besok Bu Sandra pasti menghukum Getta. Apa ya hukumannya?

Selama Bu Sandra berdiri di depan sana, Molly terus-terusan khawatir. Memang sih, ini bukan pertama kalinya Getta bolos. Dan Molly juga kaget, dulu Getta kan anaknya baik banget -nggak ketus dan cuek kayak sekarang. Tapi, lebih nggak nyangka lagi kalau ternyata sekarang Getta suka bolos -memang di sekolahnya yang lama Getta juga suka bolos? Parahnya, kayaknya nggak ada yang kasih tahu ke dia supaya jangan bolos di kelasnya Bu Sandra.

Begitu kelasnya usai dan Bu Sandra pergi meninggalkan banyak PR, semua mengeluh. Guru cantik sih titelnya tapi pemarahnya minta ampun.

"Gue jadi curiga. . .," komentar Jonas yang duduk di kursinya Getta. "Bolos berdua, aneh nggak sih?"

"Getta sama Lara?" balas Yuna, dengan ekspresi sangsi. "Nggak mungkin!"

Jonas tiba-tiba berdiri. "Gue harus cari tahu deh," katanya, lalu pergi.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!