"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Dertox!" panggil Fallen, beberapa saat kemudian Dertox datang.
"Ke mana Istriku pergi?" tanya Fallen.
"Dia bersama Nana, Tuan. Mereka tengah berbincang di halaman rumah," jawab Dertox.
Fallen mengangguk kemudian menatap tajam Dertox, "Kapan Kau mengurus bocah tengik itu?" tanya Fallen.
Bocah tengik yang dimaksud Fallen adalah Fahrul, yang selalu mengganggu Istrinya.
"Segera Saya laksanakan, Saya undur diri," jawab Dertox sekaligus pamit, Fallen hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sesuatu mengganjal dipikiran Fallen, ia merasa ada orang yang selalu mengawasinya, ia selalu berpikir apa yang penguntit itu inginkan? Lepas dari jabatan Mafia-nya bukan berarti ia aman, karena musuh bisa menyerang kapan saja.
"Apa yang Kakak pikirkan?" tanya Fio yang mengagetkan Fallen.
"Kau ini, mengagetkanku saja," balas Fallen sambil mengusap dadanya.
Fio menyengir sedangkan Nana yang berada di belakang Fio merasa jengah dengan pandangan di depannya.
"Satu hal yang Kakak pikirkan," ucap Fallen.
"Apa itu?" bukan Fio yang bertanya, tapi Nana.
Fallen memicingkan matanya, kenapa gadis di depannya ini begitu kepo dengan urusannya? "Kalian tidak perlu tahu, ini pikiran dewasa," jawab Fallen.
Nana memutar bola matanya malas, "Hanya hal dewasa, Kak. Tidak perlu sungkan memberitahu kami," ucap Nana dan Fio mengangguk.
Fallen tersenyum miring kemudian bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku memikirkan kapan waktu yang tepat untuk melakukan hubungan suami istri, agar rumah ini dipenuhi oleh suara mereka," kata Fallen dan Fio melotot.
Nana yang mendengarnya langsung berbinar, "Kenapa tidak sekarang? Aku gak sabar nih, punya ponakan yang banyak, hihihi."
"Nana!"
~~
Di lain tempat, Dertox menjalankan rencananya, ia akan memberi pelajaran ke Fahrul yang hampir melecehkan istri tuannya.
Fahrul mengendarai motor sedangkan mobil hitam terus mengikutinya, lama kelamaan Fahrul merasa ada yang ganjal dari mobil di belakangnya, sedari tadi mobil tersebut mengikutinya, ataukah hanya perasaannya saja? Fahrul mencoba kembali untuk belok kanan.
Dan ternyata mobil tersebut melakukan hal yang sama, sekarang Fahrul yakin jika mobil tersebut menginginkan dirinya.
Perlahan laju motor Fahrul memelan, semakin pelan hingga berhenti. Di lain sisi, Dertox tersenyum miring, ia sangat senang jika Fahrul menyadarinya.
"Target bodoh, bisanya dia berhenti di tempat sunyi seperti ini? Membuat pekerjaanku mudah saja, padahal Aku menyukai sebuah tantangan," ucap Dertox.
Fahrul turun dari jok motornya kemudian menghampiri mobil tersebut, "Lo mau apa hah?" tanya Fahrul.
Dertox keluar dari mobilnya, dengan angkuh, ia menghampiri Fahrul, "Bocah tengik, ikutlah, agar pekerjaanku semakin mudah, sebenarnya Aku ingin bermain-main dengan-mu, tapi, sayang. Aku tidak punya waktu yang banyak," jawab Dertox.
Fahrul mengepalkan tangannya, "Lo pikir gue bodoh? Gue gak bakalan ikut dengan lo!" balas Fahrul.
Tanpa basa basi, Dertox membuat Fahrul pingsan dengan sekali hentakan di leher Fahrul.
"Sombong sekali Anak ini, cih," ucap Dertox kemudian membawa Fahrul masuk ke dalam mobilnya, sebelum itu, Dertox menelfon temannya untuk membawa motor Fahrul.
30 menit kemudian, Fahrul berada di ruangan serba putih dengan tangan yang terikat di samping kiri kanannya.
Perlahan Fahrul mulai sadar, matanya mengerjap hingga ia memandang dua orang di depannya, yakni Pria yang menyuliknya dan satu Pria yang ia tidak kenali.
"Sadar hm? Aku yakin, setelah ini Kau tidak akan berani menyentuh Istriku lagi," ucap Fallen.
"Siapa? Dan Istri? Menyentuh Istrimu? Gue gak pernah nyentuh Istri Lo sedikitpun!" teriak Fahrul.
"Lepasin gue!" lanjut Fahrul lagi.
Fallen memberi bogeman mentah di pipi kiri Fahrul, "Tidak pernah menyentuh Istriku sedikitpun? Beraninya Kau berbohong!" balas Fallen kemudian menendang perut Fahrul.
"Kali ini Saya beri kesempatan, Kalau Kau kembali mengganggunya atau menyentuhnya sedikitpun, bukan hanya Kau yang akan kubunuh, bahkan ibu-mu akan ikut serta," lanjut Fallen.
Fahrul meneguk ludahnya kasar, jika ia pernah mengganggu maupun menyentuh Istri orang yang tengah menyiksanya, sungguh ia menyesal.
"Dertox! Katakan," perintah Fallen.
"Perempuan yang selalu Kau ganggu, adalah nyonya Fio, Istri dari Fallen Hiltero," ucap Dertox.
Terkejut, itulah yang dirasakan oleh Fahrul sekarang, dalam benaknya ia tidak percaya jika Fio telah menikah, ini artinya pupuslah sudah usahanya.
Satu hal lagi, ia mendengan nama Hiltero di belakang nama Pria di depannya, entah tiba-tiba pandangannya menggelap.
Ia kembali mengingat kepingan-kepingan masa lalu, yang di mana keluarga Hiltero menghabisi Ayah-nya yang mengakibatkan ia kehilangan sang pahlawannya.
Fahrul hanya diam, dan memejamkan matanya sejenak, ia berusaha mengontrol emosinya. Dendam sudah mendarah daging di hatinya, balas dendam? Yah iya akan melakukan itu, tapi tidak sekarang.
Bagaimanapun caranya, ia akan membunuh Fallen Hiltero, tidak peduli bahwa dia adalah siapa, yang jelas dendam tertebus.
~~
Terimakasih, jangan lupa like dan komentar.
kalau pribadi yimak .membawa like