"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celana Mambo
Usai taraweh kami akan berkumpul di ruang tengah menikmati kebersamaan sembari menonton acara televisi kegemaran kami semua.
Ada kolak singkong yang disuguhkan mak. Kelapa dan singkong abah petik sendiri dari kebun belakang rumah.
"Nur, mau?" tanya mak membawa semangkuk kolak untuk abah.
Aku menggeleng sebagai jawaban. Aku tidak terlalu suka jajanan manis. Aku lebih suka makanan yang memiliki cita rasa asin dan gurih juga asam dari pada manis.
"Abah besok mau berangkat, ya?" tanyaku mengalihkan pandangan dari televisi pada abah yang sedang menikmati kolak.
Abah menghabiskan dulu makanannya baru setelah itu ia menjawab, "Iya, nanti setor hafalannya pas abah pulang aja. Sedikit lagi, 'kan?"
Aku mengangguk mengerti kembali fokus pada acara televisi. Hanya benda kotak tanpa warna ini saja satu-satunya hiburan bagiku dan Aceng.
"Bah, Aceng ga petol lho puasa ... kapan ke pameran?" tanya Aceng menagih janji Abah. Baru satu Minggu puasa sudah menagih janji saja.
Abah terkekeh saja. "Nanti, Abah cari uang dulu. Doakan Abah semoga dapat rezeki banyak supaya bisa beli baju baru buat Aceng sama Teteh," ucap abah.
Aku menoleh dengan cepat mendengar baju baru. Binar di mataku dan Aceng tak dapat menyembunyikan betapa kami senang akan mendapat baju baru. Baru mendengarnya saja sudah membuat hati kami berbunga.
"Aamiin!" ucapku keras-keras bersama Aceng. Lalu kami tergelak bersama.
"Aceng mau beli baju satria Baja Hitam, Bah," celetuk Aceng tiba-tiba. Abang manggut-manggut mengerti.
"Iya, insya Allah nanti kita beli. Kalau Nur mau baju apa?" tanya abah.
Aku menimbang keinginanku, antara baju kodok levis atau yang lainnya. Kupikir dengan matang, tak mungkin aku meminta sesuatu diluar kemampuan abah. Jadi,
"Nur mau celana mambo, Bah. Tadi temen-temen Nur pada ngomongin tentang celana mambo, mereka udah pada punya. Nur mau itu aja," jawabku.
Kuulas senyum manis untuk meyakinkan abah. Sebenarnya meyakinkan hatiku atas keputusan yang baru saja kubuat.
"Celana mambo? Kaya apa?" tanya abah dengan kedua ujung alis yang saling bertaut. Kulirik mak pun sama bingungnya.
"Kaya gitu ...!"
Kujelaskan sesuai penjelasan taman-taman di sekolah tadi. Abah kembali manggut-manggut mengerti.
"Oh, jadi itu namanya celana mambo? Di tempat kerja abah pun banyak temen abah yang pakai celana kaya gitu," jawab abah.
Aku tersenyum kecut, ternyata abah sudah lebih dulu tahu bagaimana rupa celana mambo itu.
"Iya, Bah!" sahutku.
"Ya udah, nanti sepulang abah dari Jakarta kita beli baju ke pasar," janji abah. Aku dan Aceng bersorak senang. Baru janji ya, apa lagi benar-benar pergi.
"Bah, beli daging juga, gak?" celetuk Aceng lagi. Mak terdiam seketika, wajahnya berubah sendu.
Mak seorang wanita yang tidak banyak menuntut. Ia selalu menerima apa pun yang disediakan abah. Seberapa banyak pun uang yang diberikan abah, sedikit banyaknya selalu mak terima dengan ikhlas.
"Insya Allah," jawab abah tersenyum.
"Memangnya segenceng sekarang berapa, Bah?" tanya mak khawatir harga daging kerbau naik.
"Masih seratus lima puluh ribu," jawab abah. Mak menghela napas lega. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Insya Allah bisa terbeli.
Segenceng atau satu genceng adalah seluruh bagian kerbau kecuali kepala. Mulai dari daging, jeroan, kulit, sampai tulang ada dalam timbangan itu. Dibagi rata siapa saja yang ikut patungan dengan harga yang sudah ditentukan.
Jika ditimbang mungkin lebih dari lima kilo.
"Doakan saja semoga rezeki tahun ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya," ucap abah lagi.
"Aamiin!" Kami menyahut bersamaan bersama mak juga. Tertawa bahagia dengan hanya membicarakannya saja. Apa lagi nanti saat sudah ada di hadapan kami.
Malam hangat di rumah ini, meski tak ada sajian mewah hanya sekedarnya saja. Apa saja yang bisa kami petik di kebun kami akan menjadikannya makanan. Asal tidak beracun dan tidak haram. Semua nikmat untuk dimakan.
Abah selalu melarang kami mengambil sesuatu yang belum jelas hukumnya. Katanya syubhat kurang bagus jika kita menikmatinya. Salah-salah menjadi haram hukumnya saat pemilik sebenarnya tidak ridlo.
________*
"Nur!" Suara Puji memanggilku dari kelas. Aku baru saja sampai di sekolah.
"Kenapa?" tanyaku saat kami sudah berhadapan. Puji mengikutiku hingga ke kelas. Duduk di bangku dengan tenang. Meski dia dari kelas A, tapi dia tidak seperti yang lainnya.
"Main ke kubu, yuk!" ajaknya. Aku menoleh. Benar juga, sudah lama sekali tidak main ke kubu.
Aku terkekeh lalu mengangguk. "Hayu!" sahutku antusias. Kebetulan sekolah agama libur. Kami bisa bermain hingga sore. Hitung-hitung ngabuburit.
"Nur, sepatu kamu bolong!" teriak salah satu teman saat melintas di depan mejaku.
Mengundang gelak tawa dari teman lainnya. Terutama mereka kelas A yang kebetulan melintas di depan kelasku.
Kulirik sepatuku, lubang di bagian ibu jari membesar dan hampir memperlihatkan ibu jari kakiku.
Aku malu? Tentu saja, tapi sebisa mungkin aku menahan perasaanku. Aku tetap tenang tak terbawa emosi.
Kulirik teman yang lain, di antara mereka pun ada yang sama kondisinya sepertiku. Aku tidak sendiri.
Mereka menunduk malu, tak berkata apa pun hanya menjatuhkan kepala mereka di atas meja. Kutahu mereka sedih. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan mereka. Mungkin saja ada di antara mereka yang menangis.
"Dasar miskin! Beli sepatu aja gak bisa!" Ejek mereka yang di luar kelas diringi gelak tawa dari beberapa temannya.
Kuhela napas mendinginkan perasaanku. "Gak apa-apa, masih bisa dipake, kok. Dari pada harus maksa orang tua buat nurutin mau kita, mending bersyukur aja masih ada yang bisa dipake," ucapku santuy.
Mereka semakin menjadi, jelas kulihat senyum-senyum ejekan mereka perlihatkan. Temanku yang tadi berteriak seketika bungkam. Tidak ada lagi tawa darinya.
"Bilang aja gak mampu beli!" timpal salah satu dari mereka lagi. His ... aku benci, tapi apalah daya memang keadaanku yang seperti ini.
Aku hanya menatap mereka tidak suka, sampai mereka berlalu aku tetap diam tak mengucapkan apa pun.
Puji menatapku sedih, kondisinya tak jauh berbeda denganku.
"Aku mau pindah kelas aja ke sini, boleh gak, ya?" ucapnya menatap kosong pada papan tulis.
"Bilang saja sama pak guru, kalau kamu mau pindah kelas," sahutku. Puji menoleh lalu mengangguk.
"Iya, nanti mau coba ngomong sama pak guru," katanya seraya beranjak berdiri karena bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Lagi-lagi kuhela napas sangat dalam, kuedarkan pandangan menatap sekeliling. Teman-temanku masih menunduk belum berani mengangkat wajah.
Kenapa mereka harus menunjukkan kelemahan mereka? Tidak bisakah mereka berpura-pura tak acuh sepertiku. Meski dalam hati aku pun merasa malu.
Aki tidak tega melihat mereka. Mereka sama sepertiku. Hanya segelintir orang saja di kelasku yang mampu membeli peralatan sekolah baru setiap tahunnya. Sisanya, sama sepertiku.
Terkadang kami mengandalkan pemberian orang lain. Jika ada yang masih layak digunakan, maka kami tidak akan malu mengenakannya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥