Disebuah café pinggir kota, sepasang kekasih tengah membicarakan hal yang cukup serius. Terlihat dari raut wajah keduanya yang tegang. Suasana café yang sepi sangat mendekung dengan topik yang sepasang kekasih itu tengah dibahas.
“Kita sudah pacaran selama tujuh tahun lebih Gilang! Apa gak ada sedikitpun niat untuk menikahi aku?” Tanya wanita bernama Allethea tersebut kepada kekasihnya yang bernama Gilang itu.
“Iya aku tahu Lett. Bahkan aku juga masih ingat dua bulan yang lalu kita baru saja merayakan Aniv kita yang ke-7 tahun.” Gilang menghela napasnya berat sebelum melanjutkan kembali ucapanya. “Aku pasti akan menikahi kamu. Tapi tidak untuk sekarang. Tolong kamu bersabar sebentar lagi Lett.” pinta Gilang memohon.
“Setiap aku Tanya juga jawaban kamu selalu seperti itu, Lang! Bahkan sejak tiga tahun yang lalu, hingga sekarang jawaban kamu masih sama. Menyuruh aku untuk bersabar.” Ujar Allethea bosan.
“Aku harus sabar sampai kapan lagi Lang? Umur ku sudah dua puluh tujuh. Sudah waktunya aku untuk menikah. Aku juga capek di teror terus menerus oleh keluargaku menanyakan kapan aku menikah, bahkan sepupu aku yang baru berusia dua puluh tahun saja sudah menikah. Sedangkan aku? Boro-boro menikah, dilamar saja aku belum sama kamu.” lirih Allethea.
“Aku janji akan melamar kamu secepatnya, Lett dan kita akan segera menikah. Kamu percayakan sama aku?” Allethea akhirnya menggangguk lalu tersenyum singkat pada kekasihnya itu. Gilang membalas tersenyum pula lalu mengelus lembut punggung tangan kekasihnya itu yang berada diatas meja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Ayah dan Bunda
Setelah diantar pulang oleh Bima, Allethea tak juga keluar dari kamarnya hingga siang hari ini. Beruntung ini adalah hari minggu dan kedua orang tuanya tidak sedang berada dirumah, karena sudah mulai mengurusi persiapan pernikahan untuk dirinya dan Bima nanti. Jadi mereka tidak akan menyadari bahwa sedang ada masalah diantara ia dan Bima.
Seharusnya Bima dan Allethea pergi hari ini untuk membeli cincin pernikahan dan sekaligus untuk mencetak undangan, tapi hingga sekarang pun Bima tidak juga menjemputnya, bahkan menghubinginya saja tidak. Allethea jadi teringat dengan perkataannya sendiri tadi malam untuk membatalkan pernikahan ini. Ia berpikir apakah Bima akan menyetujui ucapannya itu?
Allethea terus menimang-nimang antara menghubungi Bima atau tidak, hingga beberapa menit kemudian akhirnya ia memutuskan untuk tidak menghubungi calon suaminya itu. Bukan karena tidak peduli, hanya saja Allethea mengerti dengan keadaan Bima saat ini. Dan Allethea hanya ingin memberikan waktu kepada Bima untuk sendiri dan memikiran semuanya. Memikirkan tentang perasaannya kepada Allethea dan juga memikirkan tentang pernikahan ini. Allethea hanya akan menunggu dan menerima apapun keputusan dari Bima.
Berjalan menuju dapur, kemudian Allethea meneguk air segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, sekaligus juga mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk mengisi perutnya yang kosong dari semalam. Allethea memutuskan untuk menyudahi kegalauannya, karena ternyata perutnya tidak kenyang hanya dengan merenung.
“Loh, De, kok ada dirumah?” tanya Allan saat mendapati kehadiran adiknya di dapur.
“Emang aku gak boleh ada dirumah?” tanya balik Allethea, mendelik ke arah sang kakak.
“Ya, bukan gitu juga. Tapi, bukannya kamu mau nyari cincin nikah kalian?” .
“Gak jadi.”
“Kenapa?”
“Bima lagi sibuk,” jawab Allethea berbohong.
“Bima kerjanya apa sih, De?” tanya Allan.
“Manager Bank.” Jawab Allethea seadanya.
Allan menganggukan kepalanya lalu mengacungkan ibu jarinya sambil mengucapkan kata keren dengan raut wajah kagum.
Allethea memang sudah pernah menanyaan tentang pekerjaan calon suaminya, karena bagaimana pun ia sebagai calon istri harus tahu terlebih dulu soal pekerjaan yang digeluti laki-laki yang akan hidup bersamanya. Tidak mungkin bukan, jika nanti setelah menikah ada orang yang bertanya tentang pekerjaan suaminya dan ia malah menjawab tidak tahu. Apa kata orang nanti? Meskipun Allethea tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Bima, tapi setidaknya ia peduli degan apa yang dilakukan calon suaminya itu.
“Milla mana, A’?”
“Dibelakang sama mamanya.”
Allethea langsung berjalan menuju belakang rumah, dimana Milla dan juga sang kakak ipar berada.
“Bubun sini, ikut main sama Milla sama mama!” teriak bicah itu saat mendapati Allethea berdiri diambang pintu.
Allethea hanya tersenyum dan menganggukan kepala, duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Milla bermain, disusul Allan yang juga ikut duduk disampingnya dengan membawa secangkir kopi.
“Kamu udah tahu alasan Gilang ngelepas kamu?” tanya Allan. Allethea menggelengkan kepalanya.
“Terus Bima udah tahu tentang Gilang dan hubungan kalian?” tanya Allan lagi.
Allethea menghela napasnya pelan. “Udah kemarin. Sepulang dari sekolah aku ajak Bima kerumah Gilang. Ngenalin dia sama Ibu dan juga Ayah. Sekalian juga jelasin siapa Gilang ..."
Cerita Allethea mengalir dengan lancar mengenai kejadian kemarin, dan Allan mendengarkan dengan seksama tanpa memotong sedikit pun hingga adiknya itu selesai bercerita.
“Terus tanggapan Bima gimana?” tanya Allan yang sangat penasaran.
“Dia gak jawab apa-apa, dan langsung ngajak aku pulang. Sampai saat ini dia belum juga hubungin aku,” jawab Allethea lesu.
“Jadi maksud kamu Bima sibuk itu, ini? Dia sibuk galau gitu?” tanya Allan yang dianggguki oleh Allethea.
“Kamu udah coba hubungin dia?”
Allethea menggeleng. “Aku hanya ingin memberi dia waktu untuk memikirkan lagi semuanya. Aku hanya akan menunggu keputusan dia yang entah itu lanjut atau bahkan berhenti disini,” jawab Allethea.
“Lalu bagaimana perasaan kamu?” Allan kembali bertanya.
“Entahlah, aku juga gak tahu.” Allethea mengghela napasnya berat lalu bangkit dari duduknya, menghampiri keponakan dan kakak iparnya itu untuk bergabung.
Sore hari Allethea memutuskan memasak untuk makan malam bersama orang tuanya, sekaligus untuk mengalihkan pikirannya dari Bima dan juga Gilang yang membuat dirinya kembali dilanda kebingungan.
Tepat saat adzan mahgrib, kedua orang tuanya pulang dengan wajah kelelahan. Pernikahan antara Allethea dan Bima memang akan di laksanakan dua minggu, tepatnya sepuluh hari lagi. Namun orang tua Allethea sengaja menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari agar tidak terlalu mendesak dan terburu-buru dalam pengerjaanya.
Keluarga Allethea dan juga keluarga Bima hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Allethea menjadi tidak tega jika nanti pernikhaannya benar-benar batal karena keegoisannya. Menghela napasnya pelan, kemudian ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
“Ayah sama Bunda pasti cape banget ya?” tanya Allethea sambil menyodorkan teh hangat kepada kedua orang tuanya itu.
Allana selaku bunda Allethea tersenyum menenangkan sambil mengelus lembut rambut anak bungsunya itu. “Bunda sama Ayah memang cape, De, tapi kami bahagia bisa mengurusi pernikahan kamu,” ucap bunda lembut.
“Menikahkan seorang anak adalah kewajiban bagi orag tuanya, apa lagi menikahkan anak perempuan. Ayah tidak akan melewatkan momen itu, karena Ayah tidak ingin merugi di akhirat nanti.” Giliran Aidan, sang Ayah yang berkata dengan binar bahagia dimatanya.
Allethea tersenyum tipis melihat keantusiusan kedua orang tuannya. Namun tiba-tiba dadanya kembali terasa sesak mengingat bahwa saat ini Bima belum juga memutuskan kelanjutan hubungan mereka setelah pertengkarannya semalam.
Setelah melaksanakan shalat mahgrib, Allethea segera mengganti pakaian dan meraih tas juga kunci mobilnya, lalu bergegas keluar dari kamar, berpamitan pada semua orang yang kini berkumpul diruang tengah untuk pergi sebentar.
“Kamu mau kemana, Al?” tanya sang Ayah.
“Pergi bentar, Yah,” jawab Allethea tanpa menyebutkan tujuannya.
“Bubun mau pergi kemana? Milla ikut, boleh?” tanya sang keponakan dengan memohon.
“Ya udah, kamu ambil jaket kamu dulu gih, Bubun tungguin di luar, ya,” ucap Allethea lembut.
Milla langsung berlari menuju kamarnya setelah mendapat persetujuan dari tante nya itu.
“Kamu mau kemana sih dek?” tanya Allan.
“Aku mau menyelesaikan masalah. A’ Allan pasti tahu tujuanku.” Jawab Allethea lalu pergi keluar untuk memanaskan mobilnya terlebih dulu sambil menunggu keponakannya.
“Bubun let’s go!” teriak Milla saat baru saja sampai di depan pintu utama ruamhnya. Allethea tersenyum lalu menyuruh Milla untuk masuk ke dalam mobil dan Allethea memasangkan sabuk pengaman pada gadis kecil itu dan juga dirinya lalu segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Semoga kamu mau mendengar penjelasanku."