NovelToon NovelToon
Stranger From Nowhere

Stranger From Nowhere

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Petualangan / Roh Supernatural / Horor / Dokter Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: juskelapa

(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)

*****

Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.

Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.

Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.

Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.

Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?


Originally Story by juskelapa
Insta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Tepian Sungai

Mereka tiba di tempat kelompok itu dengan napas terengah dan tubuh basah oleh keringat. Suasana yang tadinya rapuh langsung berubah tegang saat melihat ekspresi mereka.

Adly tak menunggu. Ia langsung bicara. Cepat, terputus-putus, seolah kata-kata itu berebut keluar dari kepalanya.

“Freddie sudah meninggal,” ucapnya, suaranya serak. “Tubuhnya … tidak utuh. Wajahnya hancur. Tangan dan kakinya hilang sebelah.” Ia menelan ludah, matanya liar. “Mereka yang melakukannya. Mereka memotongnya… dan membawa sebagian tubuhnya.”

Beberapa orang langsung menutup mulut, yang lain membeku di tempat.

“Mereka pasti akan kembali,” lanjut Adly, napasnya masih tersengal. “Untuk mengambil sisanya. Kita tidak bisa tetap di sini. Terlalu berbahaya. Aku dan Firza sepakat kalau kita harus sering berpindah tempat.”

Ia berlutut saat menurunkan Mike ke tanah.

Mike masih dalam kondisi histeris. Tangannya mencakar kepalanya sendiri, tangisnya pecah tanpa henti, kata-katanya tak lagi jelas.

Firza berjongkok sebentar, memastikan Mike tidak melukai dirinya sendiri, lalu bangkit. Tanpa banyak bicara, ia dan Adly mulai memasukkan barang-barang milik Mike ke dalam tasnya dengan asal, cepat, tanpa kerapian.

Waktu terasa seperti sesuatu yang bisa habis kapan saja.

Adly berdiri lebih dulu, menoleh ke arah Hilmi dan Chris.

“Kita harus siap sekarang.”

Tanpa perlu diperintah dua kali, Hilmi dan Chris langsung bergerak. Barang-barang yang tadi sempat mereka keluarkan segera dibereskan kembali. Tak ada lagi ruang untuk santai, tak ada lagi jeda.

Di antara gerakan tergesa itu, Firza mencari satu sosok.

Shena.

Matanya menemukannya dan untuk sesaat, segala suara di sekitarnya seperti meredam.

“Kita harus pergi,” katanya begitu sampai di dekatnya. Suaranya rendah, tapi tegas. “Sekarang.”

Saida hanya berdiri diam, kebingungan. Tak ada yang bisa ia bereskan. Ia memang tak membawa apa pun sejak keluar dari pesawat. Tangannya menggantung di sisi tubuhnya, matanya bergerak mengikuti orang-orang yang sibuk, seolah mencari sesuatu untuk dipegang… atau sekadar arah.

Di sisi lain, Firza menunduk di depan Mike. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang sengaja dijaga agar tidak memicu kepanikan baru.

“Kita harus pergi dari sini,” ucapnya pelan. “Semakin cepat, semakin baik. Kita cari air, kita cari tempat yang lebih aman. Dengar aku, ya ... kamu harus tetap jalan.”

Mike masih gemetar, tapi napasnya mulai lebih teratur. Kata-kata Firza perlahan masuk, menahan pikirannya yang tadi nyaris runtuh.

Firza berdiri, lalu berbalik mencari Shena.

Perempuan itu sedang berjongkok, merapikan barang-barang mereka. Firza langsung ikut membantu, melipat selimut yang tadi dijadikan alas.

Ia mendekat sedikit, suaranya diturunkan.

“Kaki yang kita lihat tadi…” gumamnya, “itu kaki Freddie. Dia sudah dibunuh sebelum kita ketemu mereka.”

Shena berhenti sejenak. Tangannya menegang di atas lipatan kain.

“Kita kira mereka takut api,” lanjut Firza pelan, “tapi sepertinya nggak. Kita nggak tahu apa yang mereka takutin atau mungkin mereka memang nggak takut apa-apa.”

Ia memasukkan selimut ke dalam tas, gerakannya cepat, efisien.

“Dan satu hal yang pasti ... mereka tahu kita ada di sini.”

Shena menatapnya, napasnya terasa lebih berat.

“Terus kita ke mana?” suaranya melemah. “Rasanya hutan ini kayak milik mereka semua. Kita nggak tau ada berapa banyak dari mereka.”

Firza diam sejenak, lalu menunjuk ke arah tertentu, seolah membayangkan peta di kepalanya.

“Kita cari jalur yang menurun,” katanya. “Terus turun sampai nemu sungai, atau apa pun yang ada airnya. Kita nggak boleh jauh dari sumber air.”

Shena masih menatapnya.

“Dulu ... para samurai bertarung di dekat sungai,” lanjut Firza, nada suaranya sedikit lebih ringan, mencoba meredakan tegang. “Kalau kalah, mereka punya jalan buat kabur.”

Shena mengerjap, lalu memiringkan kepala.

“Tapi kita kan bukan samurai.”

Firza menatapnya sebentar, lalu terkekeh pelan.

“Emang bukan. Siapa juga yang bilang kita samurai?”

Untuk sesaat di tengah ketakutan yang menggantung tipis di udara. Senyum kecil itu terasa seperti napas yang sempat hilang ... lalu kembali.

Shena masih memainkan tali tasnya. Gerakan kecil yang entah kenapa selalu jadi pelarian saat ia tak tahu harus berkata apa. Jemarinya bergerak tanpa tujuan, sementara pikirannya berusaha mengejar ketenangan yang tak kunjung datang.

Tak lama, mereka selesai berkemas.

Firza berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.

“Ayo,” katanya pelan.

Shena mengangguk. Kali ini, ia sudah bisa berdiri lebih stabil. Ia hanya perlu memeluk lengan kiri Firza; menjadikannya penopang saat berjalan.

Di belakang mereka, pasangan suami-istri itu juga sudah siap. Mei masih bertumpu pada Chen, posisinya persis seperti Shena sebelumnya. Rapuh tapi memaksa diri tetap bergerak.

Tiga pemuda itu sudah memanggul barang masing-masing. Saida berdiri di antara mereka, diam, mengikuti tanpa banyak tanya. Adly menghampiri Mike, membantu pria itu berdiri. Mike tampak jauh lebih lemah sekarang. Seolah sebagian jiwanya tertinggal di tempat mereka menemukan Freddie.

Firza melangkah lebih dulu, membawa Shena.

“Pelan aja ... ikutin langkah aku,” bisiknya.

Shena mengangguk, menyesuaikan ritme.

Akar-akar pohon yang mencuat dari tanah memaksa Firza ekstra hati-hati. Setiap langkah harus diperhitungkan, karena satu kesalahan kecil bisa membuat Shena terjatuh.

Mereka bergerak menuruni hutan.

Di belakang mereka, Chen dan Mei mengikuti. Lalu Mike bersama Adly. Disusul Hilmi, Chris, dan Saida di barisan paling belakang.

Matahari mulai condong ke barat. Cahaya yang tersisa menipis, perlahan ditelan bayangan pepohonan.

Tak ada yang bicara.

Hanya suara langkah kaki, napas yang mulai berat, dan dedaunan yang sesekali terinjak.

Tak ada yang mengusulkan berhenti.

Firza tahu ... mereka belum cukup jauh.

Mereka harus terus menjauh.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hampir dua jam mereka menuruni jalur yang sama, tapi tenaga mereka mulai habis. Langkah-langkah itu tak lagi secepat sebelumnya. Tubuh mereka lelah. Perut kosong. Air hampir habis.

Dan sungai ... belum juga ditemukan.

Gelap mulai turun.

Hutan berubah.

Lebih sunyi. Lebih menekan.

Lalu ....

Suara itu muncul.

Langkah kaki yang sangat cepat.

Tergesa.

Dari kejauhan.

Semua orang langsung berhenti.

Mata mereka saling bertemu ... terbelalak, penuh satu pemahaman yang sama.

Tak ada orang lain di sini.

Selain mereka.

Dan ada sesuatu yang sedang mendekat.

Tak ada aba-aba.

Tidak perlu aba-aba.

Mereka langsung berlari.

Firza menarik Shena.

“Lari, Shen!” suaranya rendah tapi tegas.

Shena berusaha mengikuti, kakinya dipaksa bergerak lebih cepat dari batas nyerinya.

Di belakang, Chen setengah menggendong Mei, memaksakan langkah agar tetap sejajar.

Suara langkah itu ...

masih ada.

Dan semakin dekat.

“Cepat! Jangan sampai terpisah!” teriak Firza ke belakang, suaranya menembus napas yang tersengal.

Mike dan Adly melesat lebih dulu, menuruni jalur yang semakin curam. Tanah yang licin membuat langkah mereka seperti terseret ke bawah, tak sepenuhnya terkendali.

Di belakang Firza dan Shena, Chen masih setengah menggendong Mei, memaksa tubuh istrinya tetap bergerak.

Lalu ... teriakan.

Jauh di belakang.

Teriakan tajam dan panik.

Firza langsung mengenalinya.

Saida.

Disusul suara lain ... geraman rendah, berat, tidak manusiawi.

Shena mencengkeram lengan Firza sekuat tenaga. Tubuhnya gemetar. Napasnya tercekat.

Firza berhenti.

Sejenak.

Waktu seperti menggantung.

Chen dan Mei terus berlari, melewati mereka tanpa menoleh.

Firza menoleh ke belakang. Gelap. Kosong. Tapi suara itu masih terngiang dan terlalu jelas untuk diabaikan.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berbalik.

Menolong.

Tapi ada sesuatu yang lain, yang lebih kuat.

Shena.

Tangan perempuan itu masih mencengkeramnya, seolah hidupnya benar-benar bergantung di sana.

Firza menutup mata sesaat.

Lalu menggenggam tangan Shena lebih erat.

“Ayo,” bisiknya. “Kita jalan.”

Ia menarik Shena, bergerak cepat menjauh. Memilih arah. Memilih hidup.

Satu kali saja ... nggak apa-apa kalau aku harus egois, bisik pikirannya dingin.

Mereka terus bergerak.

Tanpa sadar, suara langkah lain menghilang.

Tak ada lagi Chen. Tak ada lagi Mei. Tak ada lagi siapa pun.

Hanya mereka berdua.

Dan hutan.

Gelap mulai menelan segalanya.

Firza memperlambat langkah, berhenti sejenak. Ia menoleh ke segala arah, memaksa matanya menyesuaikan diri dengan minimnya cahaya. Ia tak berani menyalakan senter. Bahkan untuk berbisik pun, ia menahan diri.

Napas mereka masih berat.

Lalu ... ada suara.

Air.

Samar, tapi jelas.

Firza mendekatkan bibirnya ke telinga Shena.

“Ada suara air ... di depan,” bisiknya sangat pelan. “Kayaknya sungai kecil. Nggak deras.”

Shena mengangguk, matanya langsung mencari arah.

Mereka melangkah lagi. Pelan, hati-hati, hampir tanpa suara.

Semakin dekat.

Dan benar.

Kilau air mulai terlihat di kejauhan, memantulkan sisa cahaya langit yang nyaris padam.

Beberapa meter sebelum mencapai tepian lalu tiba-tiba ....

Seseorang mencengkeram tangan Firza.

Refleks. Tubuhnya menegang. Hampir saja tinjunya terayun ....

“Aku Chen! Aku Chen… maaf!”

Firza menahan diri di detik terakhir.

Chen segera menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat diam. Ia lalu menunjuk ke arah lereng kecil di sisi sungai. Ada sebuah cekungan alami, terlindung oleh batu besar di depannya.

Mei bersembunyi di sana.

Firza menyipitkan mata, menilai cepat.

“Tempat itu aman?” bisiknya.

Chen mengangguk.

“Aman. Aku sudah periksa. Tidak ada hewan.”

Ia menunjuk ke sisi lain sungai.

“Adly dan Mike di sana. Mereka sampai lebih dulu.”

Firza mengikuti arah itu dengan pandangannya. Samar-samar, bayangan dua sosok terlihat di seberang.

“Adly masih syok,” lanjut Chen pelan. “Dia diam saja. Sepertinya masih memikirkan temannya.”

Firza mengangguk pelan. Ia menepuk bahu Chen. Singkat, tapi cukup.

Aneh.

Tanpa diminta, semua orang seperti menunggu arah darinya. Seolah ia harus tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Padahal ....

di dalam kepalanya sendiri, Firza juga sedang berusaha keras ... untuk tidak ikut runtuh.

Baru tiga hari Firza berada jauh dari rutinitasnya. Dari ruang operasi yang steril, dari lampu terang dan suara monitor yang teratur, namun rasanya seperti sudah berabad-abad ia meninggalkan semua itu. Padahal, sehari sebelum berangkat, ia masih berdiri selama lima jam di meja operasi, bertarung dengan waktu dan nyawa seseorang.

Sekarang … ia bertarung dengan sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Firza menoleh pada Chen, suaranya diturunkan.

“Aku mau lihat Adly dulu. Kamu sama istrimu istirahat aja. Jangan nyalain api ... jangan bikin suara.”

Ia melirik Shena yang duduk di atas batu, memijat kakinya pelan, berusaha menahan nyeri tanpa mengeluh.

“Shena bisa di sini dulu, ya?” lanjutnya, seakan mempercayai Chen untuk menjaga dua orang wanita sekaligus.

Chen langsung mengangguk.

“Tentu. Di sini lebih aman. Kami saling jaga.”

Ia menoleh pada Shena, memberi isyarat lembut.

“Masuk saja. Istirahat di dalam.”

Firza menangkap tatapan Shena dan mengangguk singkat, sebuah izin sekaligus perintah halus.

Shena menurut. Ia terlalu lelah untuk membantah.

Di dalam cekungan itu, Mei sudah bersandar, memeluk botol minum yang kini kembali penuh oleh air sungai. Ia hanya tersenyum tipis pada Shena, lalu memejamkan mata lagi.

Tak ada basa-basi.

Dan itu terasa … tepat.

Chen menyusul masuk, lalu menyerahkan satu botol air lagi pada Shena.

“Ini dari ... pria yang menjagamu tadi,” katanya pelan, dengan senyum tipis yang penuh arti. “Dia sangat memperhatikanmu.”

Shena menunduk, menerima botol itu.

“Makasih,” gumamnya pelan.

Ia meneguk air itu lama. Lebih lama dari yang seharusnya. Seolah mencoba mengisi kembali seluruh tenaganya yang terkuras.

Di luar, suara langkah kaki Firza terdengar menjauh.

Ia pasti mendengar ucapan Chen tadi.

Shena memejamkan mata sejenak.

Lalu menepis apa pun yang mulai tumbuh di dalam dadanya.

Firza menemukan Adly duduk di tepi sungai, dekat Mike yang kini tertidur dalam kelelahan dan ketakutan. Barang-barang mereka berserakan, tak terurus.

Adly mendongak saat Firza datang. Matanya kosong, lelah.

“Jangan ajak aku cari mereka lagi…” suaranya serak. “Aku udah nggak sanggup. Capek, semuanya capek." Adly menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Firza tak memaksa. “Ya udah,” katanya pelan. “Istirahat aja.” Ia menepuk lengan Adly, singkat, tapi cukup untuk mengatakan aku ngerti.

Sunyi kembali turun di antara mereka.

Sampai ... suara langkah.

Cepat.

Mendekat.

Firza dan Adly langsung menegang. Tubuh mereka refleks siaga, napas ditahan, telinga menangkap setiap detail suara itu.

Langkah itu berhenti … tepat di atas mereka.

Lalu suara berbisik terdengar.

“Kita harus cari sungai ... katanya nggak jauh dari posisi tadi.”

Itu Hilmi!

Adly langsung bangkit, nyaris tanpa berpikir. Ia melompat keluar dari balik cekungan, lalu berlari ke arah suara itu.

“Hilmi! Chris!”

Ia memeluk keduanya erat, hampir menjatuhkan mereka.

“Aku kira kalian hilang ...." Suara Adly mirip ratapan.

Hilmi dan Chris langsung menutup mulut Adly, panik.

“Ssst! Pelan!” bisik Hilmi.

Mereka juga sama-sama gemetar, entah karena lega, atau karena sisa ketakutan yang belum hilang.

“Kami selamat,” bisik Hilmi cepat. “Tapi…” Ia berhenti.

Chris melanjutkan, suaranya berat.

“Kami kehilangan Saida.”

Itu adalah kata-kata yang menakutkan buat mereka.

“Waktu dikejar, kami terpencar,” lanjut Chris. “Makhluk itu ... dekat sekali. Hampir menyentuhku. Kami lari tanpa arah. Nggak sempat lihat kiri kanan.” Ia menunduk, napasnya tidak stabil.

“Aku bahkan nggak ingat terakhir lihat Saida di mana. Aku ketemu Hilmi lagi ... cuma beberapa saat sebelum ke sini.” Wajah Chris jelas menggambarkan kengerian.

Hening.

Hanya suara air sungai yang mengalir pelan. Chris mengusap wajahnya kasar. “Hari ini ... gila,” gumamnya. “Benar-benar gila.”

Dan tak satu pun dari mereka ... bisa menyangkalnya.

Firza dan Adly terdiam. Kehilangan itu datang lagi. Sunyi, tapi menghantam keras.

Saida.

Tak ada yang berani mengucapkan apa yang sama-sama mereka pikirkan.

Hilmi mendekat ke Firza, suaranya diturunkan.

“Tapi ... waktu kami ke sini tadi,” bisiknya, “kami lihat sesuatu. Menarik, tapi juga mengerikan.”

Firza mengangkat pandang.

“Ada pondok. Besar. Dari kayu yang ditumpuk. Kami curiga ... itu tempat tinggal mereka.”

Ia berhenti sejenak, menatap Firza dalam-dalam.

“Kamu nggak penasaran?”

Firza tertegun.

Sebelum sempat menjawab, Chris lebih dulu menggeleng keras, wajahnya pucat.

“Aku nggak mau ke sana…” suaranya lemah. “Hilmi tadi ngajak. Katanya mau cari Saida. Tapi aku nggak kuat. Aku cuma mau istirahat.” Ia menunduk, suaranya pecah. “Kalau aku mati ... aku kepengin mati pas tidur.”

Chris merangkul bahu Adly seperti anak kecil yang mencari pegangan. Adly tak berkata apa-apa, hanya menepuk punggungnya pelan, lalu mengajaknya turun ke cekungan untuk beristirahat di dekat Mike.

Sunyi kembali jatuh.

Ide Hilmi memang gila, tapi Firza merasa perlu melihat rumah itu. Jika rumah itu kosong, setidaknya mereka bisa menyelinap dan mengambil beberapa senjata untuk bertahan hidup di hutan.

Firza juga memahami perasaan bersalahnya kehilangan seorang perempuan yang sedang berada di dekatnya untuk memperoleh perlindungan. Firza berniat mengikuti ajakan Hilmi.

Kalau Firza mengatakan rencananya pada Shena, pastilah perempuan itu tidak akan mengizinkannya pergi. Lagi pula sekarang Shena mungkin saja sudah tertidur karena kelelahan.

Firza menarik napas pelan, lalu menatap Hilmi. “Kamu masih ingat jalannya?” tanyanya lirih.

Hilmi langsung mengangguk. Seolah memang menunggu pertanyaan itu. “Bro..." suaranya nyaris tak terdengar, “aku merasa bersalah soal Saida. Aku masih berharap … dia hidup.”

Firza tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk singkat.

Mereka berdua bergerak. Diam, cepat, hati-hati. Setiap langkah dijaga agar tak menimbulkan suara. Tanah, daun, ranting, semuanya diperhatikan.

Aneh.

Dalam waktu sesingkat itu, Hilmi sudah hafal jalur yang mereka lewati. Ia memimpin tanpa ragu, seolah instingnya bekerja lebih tajam daripada pikirannya.

Sekitar tiga puluh menit mendaki, Hilmi tiba-tiba berhenti.

Tangannya terangkat, menahan Firza.

Ia menunjuk ke depan.

Cahaya.

Remang.

Kuning.

Di antara pepohonan, sebuah bangunan berdiri.

Rumah itu tampak seperti sesuatu dari masa yang jauh tertinggal. Batang-batang kayu besar disusun begitu saja menjadi dinding. Atapnya terbuat dari pelepah kering yang ditumpuk di atas rangka kasar.

Tak rapi.

Tapi kokoh.

Dan hidup.

Cahaya api berpendar dari dalamnya.

Firza menahan napas.

Hilmi memberi isyarat, lalu mengajak memutar ke sisi belakang. Dari sela-sela batang kayu yang tak sepenuhnya rapat, mereka bisa mengintip ke dalam tanpa terlihat.

Mereka bergerak melingkar, menjaga jarak.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Jantung Firza berdetak keras. Rasa takut dan penasaran bercampur, menekan dada hingga sesak.

Akhirnya, Hilmi berbisik, "Sepertinya ... kosong.”

Firza menyipitkan mata, mencoba memastikan.

Tak ada bayangan.

Tak ada suara.

Hanya cahaya api yang bergoyang pelan.

Dengan langkah cepat, mereka berpindah ke bagian depan.

Pintu rumah itu sederhana. Hanya susunan batang kecil yang diikat dengan akar.

Tak ada kunci.

Tentu saja.

Untuk apa mengunci ... jika tak ada siapa pun selain mereka yang berani mendekat?

Firza dan Hilmi saling pandang sejenak.

Lalu—

perlahan, mereka mendorong pintu itu.

Dengan langkah cepat kedua pria itu memutar ke bagian depan rumah dan membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. Ya, lagi pula untuk apa mengunci rumah ketika kau tahu hanya kau yang tinggal disitu.

Rumah itu cukup luas, bagian depannya terpisah dari asal cahaya yang bisa mereka lihat dari luar. Ruangan depan dan belakang hanya dipisahkan oleh lembaran-lembaran kulit yang digantung. Bagian depan rumah itu kosong tanpa kursi atau pun meja.

Pada dinding-dinding rumah bergelantungan bermacam-macam kepala hewan yang sudah kering. Di sudut kiri ada tumpukan lembaran kulit hewan dan mungkin juga termasuk kulit manusia jika mengingat perbuatan makhluk-makhluk itu.

Kemudian mereka berjalan lebih jauh ke dalam rumah itu. Dalam cahaya api yang menjilat-jilat sebuah panci besar yang isinya sudah mendidih di atas tungku, mereka menemukan pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka lihat di dalam hidup mereka.

Kepala manusia tersusun rapi diatas sebuah meja panjang, sebagian sudah tidak memiliki bola mata. Di sinilah para mayat penumpang pesawat itu berakhir. Di antara kepala-kepala manusia itu mereka melihat kepala yang mereka kenali, kepala Hana dan Freddie masih lengkap dengan bola matanya yang membelalak.

Bagian tubuh Freddie yang lain masih tergeletak meneteskan cairan ke sela-sela meja yang juga terbuat dari susunan kayu-kayu kecil seperti pintu rumah itu. Aroma di rumah itu terasa sangat menjijikkan. Berbau busuk dan anyir menjadi satu.

Lantai tanahnya dipenuhi oleh cairan menjijikkan yang mereka duga adalah darah para korban yang keluar saat mereka mencincang tubuh mereka. Rumah itu adalah tempat tinggal sekaligus rumah jagal mereka.

Firza melihat sebuah parang yang sangat tajam tergeletak di bawah meja jagal itu, ia kemudian mengambilnya. Di sebelah parang tadi terletak sebuah cawan kayu besar berisi rambut yang sangat banyak.

Hilmi menutup mulutnya dan memberi kode mengajak Firza keluar. Sepertinya Hilmi tidak tahan berlama-lama di ruangan itu.

Sedangkan Firza merasa tak asing dengan darah dengan segala macam aromanya. Firza masih mencari apakah ada senjata lain yang bisa mereka ambil, tetapi ternyata nihil.

Rupanya makhluk-makhluk itu selalu membawa senjatanya jika pergi keluar rumah. Kedua pria itu bergegas meninggalkan rumah itu dengan keadaan seperti sebelumnya. Mereka kembali memutar ke arah bagian belakang rumah. Sesaat setelah mereka berada di belakang rumah itu, dari kejauhan mereka mendengar langkah kaki dan orang yang berbicara dengan bahasa yang sama sekali asing.

Firza dan Hilmi mengintip dari balik pohon, bahkan hampir menahan nafas mereka karena rasa takut yang luar biasa.

Dari balik pohon mereka mengamati makhluk-makhluk yang sedang berjalan mendekati rumah. Seorang wanita yang mengenakan pakaian Hana, menyusul dua orang lelaki di belakangnya.

Dan ketika Firza mengira jumlah mereka hanya tiga orang, tak berapa lama kemudian muncul dua orang makhluk laki-laki lainnya yang sedang membawa sesuatu.

Firza dan Hilmi tercekat karena melihat dua orang makhluk yang berjalan paling belakang ternyata sedang memanggul Saida yang sepertinya masih bernyawa tapi tak berdaya.

Mereka mendengar suara rintihan Saida.

To Be Continued

Terimakasih karena sudah mengapreasiasi karya ini dengan like dan komentar

1
Tami Andriani
belum kerasa kehilangan tu bang pirja
Tami Andriani
hh... rindu emang gelap
Tami Andriani
risa terlalu seloww
Tami Andriani
sedihhhh
Tami Andriani
sabar mb shen
Tami Andriani
part sedih menurut q
Tami Andriani
selalu luar biasa karya kak njus... debest pokoknya
baca ini sudah ke 3 kalinya 😍😍
Tami Andriani
💪
kusgrisela
baru selesai baca yg kedua kalinya ,tapi kangen mereka dan pingin baca tambahan part nya
kusgrisela
aku baca ulang sudah yg ke 3 ini ,,,,gara" liat story' IG nya Njus jadi terlope lope sama kang pirja dan teh Shena lagi 😍😄
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
bagus banget cerita nya,,bikin degdegan🤭
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
tegang banget baca nya🤭
Alesha Binara
ini baca yang kesekian kian kian kali .. kakkk .. novel kakak ini . walaupun serem , komedi , romantis tetap aja bikin pembaca "kebawa"
sri wahyuni
sangat menarik
kejora
aku tuh dah baca Shena&Firza berkali-kali, tapi pas baca part ini mesti tetep nangis😭😭😭
kusgrisela
setelah sekian lama akhirnya baca lagi novel ini kangen sama seina dan mas farzah 😍
Chrisentia Irene
baca ke2xnya..njusss
Puti Suparni
Bagussss sekaliiii, Syukaaaa dg Karakter Abang Firza dan Shenaaa..k
ceritanya kerennn💜💜
Puti Suparni
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜 Abang Firza
M.W wulan
wah keren pake banget ,,cerita2 dr author kak juskelapa emang gak ada lawan ...
feel nyaa dapet ,,disegala adegan suasana dan kondisi tuh ngena ,,komedi nya juga wih bikin ngakak .padahal cuman celetukan tapi gong banget ,,romance nyaa dapet meski gak segamblang novel 21+ lain tp manis nya tuh kebangetan .alurnya gak bertele2,,konfliknya berdamage gak menye2
udah pokok nya TOP BGT ,,kalo d jabarin kepanjangan 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!