NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Cemburu

Pagi datang tanpa kehangatan, langit masih mendung, seolah hujan semalam belum benar-benar usai.

Udara di mansion Virello terasa lebih dingin, atau mungkin hanya Alya yang belum bisa melepaskan perasaan aneh, yang sejak tadi malam terus mengganggunya.

Ia duduk di meja makan, secangkir teh di depannya sudah hampir dingin. Nisa belum datang, dan sejak tinggal di tempat itu, Alya benar-benar merasa sendiri.

Sunyi.

Sepi.

Dan pikirannya terlalu berisik.

Bayangan tentang Arkan terus muncul tanpa diminta, tatapannya, suaranya, dan... sentuhan itu.

Alya menggeleng pelan, mencoba mengusir semua itu. "Fokus, Alya," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan sampai terbawa suasana."

Namun belum sempat datang ia menenangkan diri, langkah kaki terdengar mendekat. Alya tahu siapa itu, ia tidak perlu menoleh untuk memastikannya.

Pria itu duduk di kursi seberangnya tanpa banyak bicara, seperti biasa aura dinginnya langsung terasa di ruangan itu.

Seorang pelayan datang menyajikan kopi hitam untuknya, lalu pergi tanpa suara.

Alya menatap cangkirnya, pura-pura tidak peduli. Sementara Arkan diam, tapi bukan tidak memperhatikan Alya. Tatapannya sesekali mengarah pada Alya, seolah sedang menilai sesuatu.

"Apa kamu tidak punya kelas hari ini?" tanya Arkan tiba-tiba.

Alya sedikit terkejut, "A-ada."

"Lalu, kenapa kamu masih berada di sini?"

"Aku sedang tidak ingin pergi," jawabnya.

Arkan menyipitkan mata sedikit, "Atau kamu sedang menunggu seseorang?"

Pertanyaan itu terasa berbeda, terdengar lebih tajam.

Alya menoleh, "Tidak ada."

Arkan menyeruput kopinya pelan, "Lalu Raka, bagaimana?"

"Dia tidak akan pernah datang ke sini," balas Alya singkat.

"Bagus."

"Kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Alya akhirnya. "Sejak kapan kamu peduli dengan siapa yang ada di sekitarku?"

Arkan meletakkan cangkirnya dengan pelan, suara kecil itu justru terdengar jelas di tengah keheningan.

"Aku sudah bilang," ucapnya dingin. "Aku tidak suka, Alya."

Alya tersenyum pahit, "Alasan yang tidak masuk akal. Aku punya kehidupan sendiri, Arkan."

"Tapi kali ini tidak lagi, kamu sudah menjadi istriku."

Jawaban itu membuat Alya terdiam sesaat, "Apa maksudmu 'tidak lagi'? Tanya Alya pelan, namun tegas.

"Kamu sekarang bagian dati duniaku."

"Aku bukan milikmu," tegas Alya.

"Memang benar, tapi kamu tetap berada di bawah kendaliku."

Alya mengepalkan tangannya, ia benci dengan cara pria itu berbicara, seolah semua adalah hal yang wajar.

"Aku bukan salah satu dari orang-orangmu, yang bisa kamu atur sesuka hati."

Arkan sedikit memiringkan kepalanya, menatap Alya dengan tatapan tajam dan dingi.

"Tapi kamu tetap berada di sini, Alya."

Alya memang tahu, apa yang di katakan Arkan memang benar. Ia memang tidak punya pilihan, dan Arkan tahu itu.

***

Hari itu, Alya akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia butuh udara segar, butuh menjauh sejenak dari mansion, terutama dari Arkan, dan semua hal yang membuat pikirkan kacau.

Ia berjalan menyusuri trotoar di dekat kampusnya, mencoba menikmati suasana yang lebih 'normal'. Orang-orang berlalu-lalang, suara kendaraan, tawa mahasiswa, semua terasa begitu jauh dari dunia yang sekarang ia jalani.

"Alya!"

Deg.

Alya langsung berhenti, suara itu membuatnya menoleh.

Raka.

Raka berjalan mendekat dengan senyum hangat, "Kamu kenapa? Kenapa raut wajahmu seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Raka, yang seolah tahu bahwa Alya tidak baik-baik saja.

Alya mengalihkan pandangan, "Aku baik-baik saja, kok."

Meskipun Raka tidak percaya dengan apa yang di katakan Alya, tapi Raka tidak bertanya lebih lanjut lagi.

"Kalau kamu butuh atau mau cerita, kamu cerita aja sama aku. Aku masih orang yang sama," katanya pelan.

Alya menatapnya sebentar, dan ia bisa melihat ada ketulusan dalam sorot matanya. Berbeda dengan Arkan,

"Aku tahu," jawab Alya akhirnya.

Mereka berjalan bersama, berbincang ringan. Untuk sesaat, Alya merasa lebih tenang. Sampai sebuah mobil hitam, berhenti tidak jauh dari mereka.

Pintu terbuka, dan Arkan keluar dari mobil itu. Langkahnya tenang, tapi aura yang dibawanya langsung mengubah suasana.

Raka langsung berhenti bicara, dan Alya seketika membeku saat melihat Arkan keluar dari mobil hitam itu.

Tatapan Arkan tertuju pada mereka, lebih tepatnya pada Raka.

"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," ucap Arkan dingin.

 "Arkan, kenapa kamu ada di sini?" gumam Alya pelan.

"Masuk ke dalam mobil," perintah Arkan cepat.

Alya mengerutkan dahi, "Aku belum selesai..."

"Alya."

Suara Arkan kali ini lebih rendah, tapi itu cukup membuat Alya berhenti bicara.

Rala melangkah sedikit ke depan, "Hei, kamu tidak bisa memaksanya seperti itu."

Arkan menoleh dari perlahan, tatapannya dingin dan tajam.

"Minggir, jangan ikut campur dengan urusanku."

"Tidak, sebelum kamu berhenti memperlakukannya seperti..."

Arkan tidak melanjutkan kalimatnya, bukan karena Arkan menyentuhnya. Tapi karena cara Arkan menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam.

"Aku tidak suka mengulang kata yang sama," ucap Arkan.

Suasana menjadi tegang, Alya bisa merasakannya. Dan ia tahu, jika di biarkan, ini bisa menjadi hal yang lebih buruk lagi.

"Raka," panggilnya pelan. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."

Raka menatapnya, jelas ia tidak setuju dengan apa yang Alya katakan. Tapi akhirnya ia mengalah, dan Alya melangkah menuju mobil dengan langkah berat.

Tapi sebelum masuk, ia menoleh terlebih dahulu ke arah Arkan. "Ini belum selesai."

Arkan diam dan tidak menjawab, ia hanya membuka pintu mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang berbicara. Alya menatap keluar jendela, berusaha menahan emosi yang mulai naik.

Sementara Arkan, ia hanya duduk dan diam. Tapi sangat jelas, bahwa pikirannya tidak setenang yang terlihat.

Begitu mobil berhenti di mansion, Alya langsung keluar lebih dulu.

"Alya," panggil Arkan.

Alya berhenti dan berbalik, "Apa lagi?"

"Sejak awal, aku sudah memperingatkanmu, Alya," ucapnya sambil mendekat.

"Tapi aku juga tidak melakukan apa-apa," balas Alya. "Aku hanya bicara degan temanku!"

"Dia bukan hanya teman."

"Lalu, menurutmu siapa? Pacar?"

"Menurutku, dia..."

"Kamu bahkan tidak mengenalnya, Arkan," potong Alya cepat. "Jadi... kenapa kamu harus bersikap seolah dia ancaman bagimu?"

Arkan terdiam beberapa saat, ia hanya menatap Alya tanpa bicara sepatah kata pun.

"Karena aku tidak suka dengan cara dia melihatmu."

Kalimat itu membuat Alya diam, ia merasa ada sesuatu hal yang berbeda dalam nada suara Arkan. Dan itu membuat Alya merasa bingung.

"Apa itu yang menjadi alasanmu? tanya Alya pelan.

Tatapan Arkan tidak berpaling sedikit pun, dan kali ini Alya merasa pria itu berbeda dari yang sebelumnya.

Ada sesuatu yang lebih berbahaya, perasaan yang mulai muncul, dan mungkin rasa cemburu yang Arkan sendiri tidak ingin mengakuinya.

1
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
checangel_
Dan tak semudah itu juga untuk membalikkan kertas yang sudah bertinta /Hey/
checangel_
Yang penting bukan imannya ya Alya/Facepalm/
checangel_
Betul, apalagi kalau berpikirnya sudah sampai ke perasaan, bukan pilihan lagi yang menyapa, tapi antara keyakinan dan keraguan yang menggema 🤭
checangel_: Bisa yuk
total 2 replies
checangel_
Cieee🤭
checangel_: Kabur ah 🏃🏻‍♀️🤣
total 2 replies
Vie
kamu cemburu tau... cemburu berarti tanda cinta ada dihatimu, walaupun kamu menepis perasaan itu, tapi Kamu tidak bisa menyangkalnya. jujurlah pada hatimu sendiri arkan.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
ya.... kamu gak salah kok.... alaminya seorang manusia hal menyukai lawan jenis adalah manusiawi karena itu berarti kamu masih memiliki hati apalagi dia istri mu sendiri, sudah seharusnya kamu jaga dia dan kamu lindungi serta bahagiakan dia.... tapi jangan biarkan perasaan itu menjadi sebuah kelemahan mu juga, tapi harus Kamu jadikan kekuatanmu dalam melindungi apa yang menjadi milikmu......
Vie
nah loh ga bisa ngomong kan.. padahal kamu udah ada sedikit rasa sama alya.... ya mungkin karena sekarang dia adalah istri mu yang sudah seharusnya kamu bertanggung jawab dan juga sudah seharusnya kamu jaga dia dan perlakuan dia seperti layaknya seorang istri....
Lovelynzeaa🌷
SEMANGAT THORR🥰🙌
Lovelynzeaa🌷
coba bikin lanjut S2 thorr gantung soalny siapa yg mau balas dendam
Lovelynzeaa🌷: okee kak, yg novel baru kakak harus bnyk" up ya kak🙏☺️
total 6 replies
Lovelynzeaa🌷
Thor ini end nya kaya end sebelah nggak trauma banget soalny😭
Leo Draven: Rahasia dong/Shy/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!