Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 The Grifindor
Salah satu dari mereka, yang tampak paling berani, melangkah maju setengah langkah. Rahangnya mengeras, mencoba mempertahankan harga diri yang mulai runtuh. “Jangan kira kami takut!”
ucapnya, meski suaranya tidak sekuat sebelumnya.
Nova tidak menjawab.
Tatapannya tetap tenang, memperhatikan setiap gerakan kecil dari ketiganya. Ia bisa melihat ketegangan di bahu mereka, cara kaki mereka berpijak yang tidak stabil, dan napas yang belum sepenuhnya pulih. Mereka belum siap, tapi dipaksa untuk tetap berdiri.
Aura dari tubuh mereka Nova dapat mengenalinya, meskipun ketiganya memakai penutup kepala.
“Begitu ya?” ujar Nova dengan tenang.
Ketiga pemuda di hadapannya itu langsung menyerang tanpa aba-aba. Namun Nova tak bereaksi apapun, ketika salah satunya mengayunkan tongkat baseball ke arah kepalanya.
“Mati Kau!”
Tap!
Hanya dengan satu tangan Nova menangkap tongkat itu, membuat pemuda yang mengayunkan tongkat itu seketika terdiam, terlihat dari sorot matanya mulai ragu dan ketakutan.
Nova mengayunkan kakinya ke arah perut si pemuda itu hingga...
Bugh!
“Hoeeghh!”
Dua lainnya menyerang bersamaan sambil mengayunkan tongkat yang sama, namun berakhir seperti pemuda sebelumnya, terbaring di atas aspal sambil menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Sial! Awas kau! Akan ku balas!” Ucap salah satu pemuda itu sambil berusaha berdiri untuk melarikan diri.
Yang lainnya mengikuti dan lari masuk ke dalam mobil, meninggalkan Nova yang tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
***
Nova kembali berlatih di dalam ruang dimensi, ia berlari sekuat tenaga walaupun tekanannya sedikit berkurang tapi tetap saja ia merasakan udara di sekitarnya masih terasa berat saat ia berlari cepat.
Zira mengawasi dari atas batu, ia semakin kagum dengan sosok Nova yang jauh di luar ekspektasinya sendiri. Ia datang bukan tanpa alasan, ia datang karena memang sengaja di kirim untuk menemani anak itu.
Semakin lama, Nova terlihat semakin beradaptasi dengan gravitasi di ruang dimensi itu. Nova memompa energi dari dantiannya dan memfokuskan seluruh energinya ke kakinya sehingga langkahnya semakin cepat.
“Wuuuuhuuu!”
Nova berteriak senang saat merasakan tubuhnya semakin ringan dan merasakan otot-ototnya semakin berkembang.
Melihat itu Zira hanya bisa tersenyum tipis tanpa banyak berkomentar lagi.
Merasakan energinya terkuras banyak, Nova berhenti setelah melakukan latihan selama enam jam tanpa henti. Ia membaringkan tubuhnya di atas rumput dengan napas yang tetap stabil, meskipun ia merasakan sedikit lelah.
“Zira, apakah hanya seperti ini saja kau melatihku?” tanya Nova sambil menatap ke arah langit.
Zira yang sedang berdiri tak jauh darinya menoleh.
“Yaa, hari ini itu saja. Selanjutnya kau akan belajar untuk mengendalikan element dasar yang kau miliki.”
“Element?”
Zira mengangguk.
“Yaa, di tubuhmu memiliki element dasar yang belum sepenuhnya bangkit, dan itu memerlukan sesuatu untuk membangkitkannya.”
Nova mengerutkan keningnya lalu bangkit dan menoleh ke arah Zira. “Memangnya element apa yang aku miliki?”
“Nanti kau akan tahu, sebaiknya kau cepat kembali. Ada seseorang yang mencarimu.”
Nova tak mengerti apa yang di maksud Zira, siapa yang mencarinya. Tapi ia kembali ke dunianya untuk memastikan ucapan Zira itu benar atau tidak.
Dan benar saja ketika Nova sampai di kamarnya, pintu kamar terbuka. Dan muncul lah sosok ibunya.
“Kamu sedang apa nak? Ibu mengetuk pintu kamar dari tadi kamu tidak membukanya,” ucap bu Ratih. “Ayo keluar, ada teman mu sedang menunggu.”
Nova hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya tersenyum, ia terkejut karena Zira bisa mengetahui ada yang sedang mencari dirinya. Ia lantas segera keluar kamar dan menuju ruang tamu, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Ethan, Calista, Eveline dan Darius ada di rumahnya.
Mereka berempat serempak menoleh begitu melihat kehadiran Nova sambil tersenyum penuh arti.
“Ibumu sudah mengizinkan kami untuk membawamu, jadi bagaimana? Kau masih akan tetap menolak untuk ikut dengan kami?” ujar Ethan.
Nova menatap ibunya, lalu kembali ke arah mereka.
Apa yang mereka bicarakan dengan ibu?
Ibu Ratih mengangguk, sebagai isyarat kepada Nova agar ia pergi bersama teman-temannya. Walau ia sedikit malas untuk pergi ia akhirnya memutuskan untuk ikut.
“Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengganti bajuku.”
Ethan dan yang lainnya langsung tersenyum, begitu mendengar jawaban Nova.
Tak perlu waktu lama, Nova kembali dengan penampilan yang sedikit berbeda. Hal itu membuat Calista dan Eveline terkesan, tapi mereka menyembunyikan ekspresinya di balik wajah mereka.
Di perjalanan, Nova diam dan memerhatikan pemandangan kota yang mulai berubah menjadi perbukitan dan hutan. Ia menjadi bertanya-tanya mau di bawa kemana dia sebenarnya.
“Kemana ini?” tanya Nova dengan tatapan yang menyelidik ke arah Eve.
Eve menoleh sekilas lalu menjawabnya dengan tenang.
“Nanti kau akan tahu.”
Mendengar itu Nova kembali memilih diam, dan hanya memperhatikan pemandangan yang sudah sepenuhnya menjadi hutan belantara. Ia memperhatikan setiap aura, ke empat orang yang sedang bersamanya memiliki aura yang berbeda, ia dapat melihatnya dengan mata telanjang.
Meskipun begitu, Nova belum sepenuhnya mengerti siapa mereka sebenarnya, apakah seorang kultivator yang sama sepertinya atau yang lainnya?
Dari kejauhan sebuah bangunan megah bergaya klasik berdiri megah di atas bukit. di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan kecil serta perkebunan anggur yang membentang luas.
Nova memang terkesan dengan tempat itu, tapi ia tetap waspada karena tak mengetahui sepenuhnya untuk apa dia datang kemari.
Saat mobil Jeep itu sampai, Nova dapat melihat beberapa orang yang memiliki aura yang tak biasa sudah berdiri di ambang pintu.
Begitu ia keluar, seorang wanita yang cukup dewasa tersenyum kepadanya. Sementara yang lainnya menatap Nova dengan penuh selidik.
“Selamat datang di manor The Grifindor,” sapa wanita dengan jubah putih penuh keagungan itu. Penampilannya cukup membuat Nova tertarik.
Rambutnya yang hitam bergelombang serta matanya yang berwana kecoklatan dan parasnya yang cantik membuat ia kagum dengan sosok wanita di hadapannya itu.
Nova mengangguk sopan, sambil tersenyum.
“Salam nona, terimakasih atas undangannya kemari.”
Ethan dan yang lainnya terus memperhatikan sikap Nova kepada sosok yang mereka hormati itu. Nova tetap terlihat tenang, namun dirinya tetap waspada penuh jika saja tiba-tiba sesuatu terjadi.
“Perkenalkan, namaku Zoya Elista. Dan kau pasti Nova Arvena,” ucapnya dengan suara yang terdengar sangat lembut.
Nova mengangguk.
“Benar Nona, jadi... kenapa kalian mencariku?”
Semua orang saling tatap, lalu Nona Zoya kembali menatap ke arah Nova.
“Sebaiknya kita bicara di dalam saja, ayo ikuti aku.”
Nova pun berjalan di samping Nona Zoya, sementara yang lainnya mengikuti dari belakang. Darius terlihat tak suka dengan sosok Nova, entah apa yang membuatnya tak menyukai Nova tapi ia tak bisa merasakan apapun dari anak itu, dan sulit mengukur seberapa kuat Nova sebenarnya.
.