NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 14

TERUSIK

Kamar itu terlalu sunyi. Jam terus bergerak tanpa henti.

Aria duduk di tepi ranjang, kedua tangannya bertaut di pangkuan, sementara pandangannya kosong menatap ke arah jendela. Cahaya sore perlahan meredup, berganti bayangan malam yang mulai merayap masuk ke dalam ruangan.

Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak ada yang bisa ia kendalikan.

Dan itu… membuatnya gelisah.

Ia menghela napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya sesaat, menatap langit-langit dengan tatapan datar. Pikirannya berputar tanpa arah. Tentang rumah ini. Tentang orang-orang di dalamnya. Tentang pria yang kini menyandang status sebagai suaminya.

Lorenzo de Santis.

Namanya saja sudah cukup untuk membuat rahangnya mengeras. “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku si penjual roti…” gumamnya pelan.

“Ponselku juga dibuang, dasar pria menyebalkan.” Aria menyentuh perutnya dan berkata pelan. “Jangan menjadi seperti nya ya... Jadilah dirimu sendiri saat sudah lahir.”

Waktu berlalu tanpa terasa.

Langit telah benar-benar gelap ketika Aria akhirnya bangkit. Ia tidak bisa terus diam di kamar seperti ini. Perutnya mulai terasa kosong, dan rasa tidak nyaman itu kembali datang, menuntut perhatian.

Dengan pakaian sederhana—dress rumah berwarna lembut yang jatuh ringan di tubuhnya—Aria melangkah keluar dari kamar menuju dapur.

Berbeda dengan mansion utama, dapur di mansion ini jauh lebih sepi. Hanya beberapa pelayan yang bekerja dalam diam, pergerakan mereka rapi dan teratur.

Begitu melihat Aria, pelayan bernama Teresa langsung mendekatinya.

“Nyonya Aria,” sapanya sopan, sedikit menunduk dan tersenyum ramah. “Apa yang Anda butuhkan untuk makan malam? Anda butuh sesuatu?”

Aria menatapnya sekilas, lalu mengangkat bahu ringan. “Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa di tempat ini. Setiap aku makan, tidak lama aku akan muntah.”

Nada suaranya tidak kasar, hanya… jujur.

Teresa terdiam sejenak, mencoba memahami.

Aria melangkah lebih dekat ke meja dapur, ujung jarinya menyentuh permukaan marmer dingin. “Biasanya… Tuan kalian pulang jam berapa?”

Pertanyaan itu terdengar ringan. Namun cukup untuk membuat Teresa sedikit menegang.

“Tuan Lorenzo… tidak memiliki waktu yang pasti,” jawabnya hati-hati. “Terkadang malam, terkadang lebih larut.”

Aria mengangguk pelan, lalu menoleh menatapnya dengan lebih dalam. “Dia bekerja sebagai apa sebenarnya?”

Sunyi.

Teresa tidak langsung menjawab. Tatapannya sedikit turun, jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya.

Aria memperhatikan itu. “Kau tahu, bukan?” lanjutnya santai. “Setidaknya kau punya gambaran.”

Teresa membuka mulut… namun tidak ada kata yang keluar.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia menarik napas pelan dan tersenyum kecil, berusaha mengalihkan. “Em.. Mungkin Anda ingin mencoba sesuatu yang ringan,” katanya cepat. “Ada roti dan kue yang baru saja dibuat. Semoga saja cocok untuk Anda dan bayinya!”

Aria terdiam sejenak. Lalu—senyum kecil terangkat di bibirnya. “Sungguh? Baiklah,” ujarnya santai. “Aku akan mencicipinya… meski aku tahu kau sengaja mengalihkan pertanyaanku tadi. Ayo!” kata Aria hanya mengangkat dagunya ringan.

Ia berjalan lebih dulu masuk ke area dapur, meninggalkan Teresa yang sempat terpaku sebelum akhirnya mengikuti dengan langkah sedikit canggung.

Beberapa menit kemudian, Teresa membawa sepiring berisi berbagai roti dan kue, menatanya dengan rapi di depan Aria yang kini duduk di kursi tinggi.

Ia menatap senang melihat hidangan yang nampak enak dengan aroma gula dan tepung yang berpadu. “Aku boleh memakannya?”

“Tentu saja, ambil semuanya, Nyonya!” kata Teresa dengan senang hati. Sehingga Aria mengambil satu, menggigitnya perlahan.

Hening sejenak.

Lalu matanya sedikit melembut. “Ini enak,” katanya jujur. “Manisnya tidak berlebihan.”

Teresa tersenyum kecil, terlihat sedikit lega.

Aria mengambil potongan lain, menikmati tanpa tergesa. Dan untuk beberapa saat… semuanya terasa normal.

Hingga—

Suara langkah kaki terdengar. Berat, tegas dan teratur.

Aria tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Karena orang-orang itu berjalan tepat di depannya.

Lorenzo berjalan melewati dapur tanpa memperlambat langkahnya. Kemeja hitamnya masih rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Di belakangnya, Fabio mengikuti dengan ekspresi serius, bersama dua pria lain berpakaian jas yang tampak asing.

Aura mereka… berbeda. Lebih berat dan lebih berbahaya.

Namun Aria tidak terlalu peduli. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.

Suaminya.

Yang bahkan tidak meliriknya sedikit pun saat melewati ruangan itu dan langsung menuju ruang pribadinya.

Aria berdiri. “Aku akan kembali,” ujarnya santai sambil mengunyah habis roti dalam mulutnya.

Namun sebelum ia melangkah jauh, Teresa tangan menahan lengannya. “Maaf, Nyonya…” suaranya pelan, penuh ragu. “Tapi sebaiknya Anda tidak mengganggu tuan Lorenzo saat seperti ini.”

Aria menoleh, menatap tangan yang menahannya, lalu ke wajah Teresa.

“Kenapa?”

“Karena…” Teresa menelan ludah kecil. “Jika dia sedang bekerja… dan terganggu… biasanya tuan Lorenzo akan marah.”

Aria mengangkat alis tipis. “Marah?” ulangnya ringan.

Teresa mengangguk kecil.

Beberapa detik hening. Lalu Aria menarik lengannya perlahan, melepaskan diri tanpa kasar.

“Tenang saja,” katanya santai. “Aku tidak akan mengganggunya.”

Namun di dalam hatinya— senyum kecil mulai terbentuk. Ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk melihat seberapa jauh pria itu bisa menahan dirinya.

Dan… seberapa jauh ia bisa mendorongnya.

Tanpa menunggu lagi, Aria melangkah keluar dari dapur menuju ruang pribadi Lorenzo.

“Semoga Tuhan melindungi mu, Nyonya Aria.” kata Teresa polos.

.

.

.

Pintu terbuka tanpa ketukan. Ruangan itu langsung dipenuhi keheningan.

Lorenzo duduk di kursi tunggal, tubuhnya sedikit bersandar, satu kaki menyilang santai. Di depannya, dua pria duduk tegap di sofa panjang, berhadapan langsung dengannya.

Di meja di antara mereka, beberapa dokumen terbuka.

“Kerjasama ini akan berjalan melalui perusahaan utama,” ujar salah satu pria, nadanya serius. “Tanpa jalur resmi.”

Fabio berdiri di samping Lorenzo, memeriksa berkas dengan teliti.

“Tidak boleh ada celah,” tambah pria lainnya. “Polisi sudah mulai mencium pergerakan di wilayah utara.”

Lorenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam menelusuri dokumen, dingin dan fokus.

Hingga—

pintu terbuka mendadak sehingga sontak semua mata beralih ke arah Aria berdiri di sana.

Tenang. Seolah tidak ada yang salah, dan tersenyum ramah.

Tatapan Lorenzo langsung berubah menjadi lebih dingin serta tajam.

“Fabio,” ucapnya rendah. Satu kata cukup sebagai perintah darinya untuk asistennya itu.

Namun sebelum Fabio bergerak—

Suara Aria memotong “Aku tidak mau keluar.”

Ruangan kembali hening.

Ia melangkah masuk dengan santai, membawa piring kecil di tangannya. “Aku menunggumu dari tadi,” lanjutnya ringan sembari berjalan masuk dan melewati para pria yang duduk di sofa panjang.

Dua pria di sofa saling melirik sekilas, jelas terkejut, namun tidak berani berkomentar.

Aria menatap mereka sekilas, lalu tersenyum tipis. “Aku boleh duduk di sini?”

Tanpa menunggu jawaban—

ia sudah duduk. Tepat di tengah-tengah mereka. Kedua pria itu langsung menegakkan posisi, kaku, tidak bergerak.

Sementara Lorenzo— hanya diam. Namun terlihat jelas rahangnya mengeras, tangan di sandaran kursi mengepal pelan.

Aria seolah tidak melihat itu.

Ia meletakkan piring di meja, lalu mendorongnya sedikit ke arah tamu-tamu itu.

“Silakan,” katanya santai. “Roti dari dapur. Lumayan enak.”

Kedua pria itu saling berpandangan… lalu salah satunya mengangguk kecil, sekadar menghargai.

Fabio menahan napas saat berharap bosnya tidak lepas kendali. Karena suasananya berubah cukup tegang dan berat.

Lorenzo akhirnya mengangkat pandangannya sepenuhnya ke arah Aria. Dingin serta tajam.

“Pergi dan tunggu aku di kamar.” Nada suaranya rendah, tenang, namun penuh tekanan. Serta sorot mata tajam.

Aria menoleh, menatapnya beberapa detik.

Dan di sana— ia melihatnya. Kemarahan Lorenzo de Santis, tipis, tertahan.

Dan itu… sudah cukup untuk dilihat.

Aria tersenyum kecil. Ia berdiri perlahan, merapikan gaunnya. “Baiklah,” ujarnya ringan. “Aku akan menunggumu di kamar. Aku harap kau tidak marah dengan sikap ku ini, sayang...” ucapnya menatap melas ke suaminya dengan sengaja.

Lorenzo hanya diam menatap balik penuh emosi.

Tanpa menambah apa pun, Aria berbalik dan berjalan keluar.

Pintu tertutup. Sunyi kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini— keadaanya sudah berbeda.

Lorenzo tidak langsung berbicara. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup. Rahangnya mengeras.

Dan untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu— emosinya… benar-benar terusik.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!