Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keceplosan
Risti dan Vino menjaga Rama sedangkan Jesi menjaga Leon, sudah cukup lama mereka berada di rumah sakit, kurang lebih 3 jam dan 3 jam itu Risti tanpa makan dan minum. Pak Rian pergi ke ruangan ICU menemani Bu Dewi katanya Bu Dewi sudah sadar.
“Ris, kamu belum makan lho daritadi, kubelikan sesuatu untuk dimakan ya,” tawar Vino.
“Nanti aja, Risti mau tetap di sini, nanti kalau makanan kak Rama datang, siapa yang akan menyuapi kak Rama? aku tidak akan makan sebelum kak Rama makan,” jawab Risti.
Ternyata Risti masih seperti dulu, dia selalu mengkhawatirkanku, syukurlah sekarang dia juga sudah bahagia. (Batin Rama sambil tersenyum)
“Mending kakak ipar membelikan aku saja, bagaimana? agar niatnya tidak sia-sia,” sahut Jesi.
“Diam, saya nggak tanya sama kamu.” Vino melotot ke arah Jesi. Jesi langsung membalikkan badannya.
Ternyata galak ya. (Batin Jesi)
Sebenarnya Vino tidak galak, sebenarnya dia itu orangnya baik dan ramah, tapi tergantung dengan siapa dia berbicara, jika dengan Jesi, Leon, Windi dan Bu Dewi maka dia agak tegas, tapi jika dengan Pak Rian, Rama dan Risti dia akan terlihat ramah. Sikap Vino didasari dari bagaimana mereka memperlakukan Risti, jika mereka baik pada Risti, Vino juga akan ikut baik. Tapi jika mereka memperlakukan Risti dengan buruk, Vino bisa lebih buruk lagi.
Tidak lama kemudian makanan dan juga teh anget Leon dan Rama diantar oleh petugas makanan,
“Terima kasih bu,” ucap Risti.
“Iya sama-sama nak,” jawab ibu petugas, seketika Risti ingat dengan bi Marni, bi Marni adalah pembantu di keluarga Hermawan dia adalah orang yang telah membesarkan Risti. Risti tersadar dari lamunannya,
“Eh, iya kak ayo makan dulu.” Risti membuka penutup makanannya dan ternyata isinya hanya bubur dan tahu bacem. Vino menaikkan tuas tempat tidur Rama agar tidak tidur saat makan. Risti menyuapi Rama dengan pelan, buburnya masih panas sehingga Risti harus meniupnya, tidak seperti Jesi yang tidak sabaran, Leon sampai megap-megap kepanasan. Leon terlihat emosi. Andai tangannya bisa menggapai kepala Jesi pasti akan dia pukul sejak tadi.
Dasar bocah gemblung, panas tau nggak. (Batin Leon sambil melotot)
“Apasih kak, untung juga masih disuapin,” kata Jesi sambil mengaduk-aduk buburnya.
“Jes, buburnya panas, jadi harus ditiup dulu,” saran Risti.
“Iya juga ya, buburnya kan panas, maaf kak Leon.” Jesi tersenyum setelah itu Jesi mulai meniupnya, tahu bacemnya sengaja tidak Jesi suapkan, soalnya ingin dia makan.
Vino berasa seperti seekor nyamuk yang sedang berterbangan di depan 2 orang yang sedang sibuk makan dan 2 lainnya sibuk menyuapi.
Hemm, aku nggak pernah di suapin Risti, sampai rumah aku harus disuapin sampai kenyang titik. (Batin Vino cemberut)
“Nah udah habis, sekarang kakak minum dulu.” Risti mengambil satu sendok teh, dia meniupnya dan menyuapkan kepada Rama.
***
Sementara itu...
Di ruang ICU,
“Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Windi seperti itu.” Bu Dewi sedih melihat vidio yang telah Ia tonton tadi.
“Iya, aku juga tidak mengira dia akan seperti itu, aku sudah membelikannya tiket ke luar negri, memberinya uang, dan juga mencoretnya dari kartu keluarga,” kata Pak Rian keceplosan.
“Apa?!” tiba-tiba Bu Dewi sesak nafas, Pak Rian segera memencet bel untuk memanggil dokter. Saat dokter datang Pak Rian diinstruksikan agar keluar dari ruangan terlebih dahulu.
Aduh, keceplosan lagi, memang mulutku ini susah di rem kalau sudah emosi. (batin Pak Rian)
“Loh, kok keluar lagi? kenapa bos?” tanya kedua laki-laki yang menjaga sedari tadi.
“Istriku sesak lagi,” jawab Pak Rian.
“Yang sabar bos, semoga nyonya bisa sembuh,”
“Iya,” jawab pak Rian.
20 menit kemudian,
Dokter keluar dengan raut wajah yang terlihat khawatir, para suster juga masih di dalam,
“Ada apa dok dengan istri saya? kenapa dokter terlihat cemas?” tanya pak Rian.
“Kemungkinan besar istri bapak terkena stroke,” kata Dokter itu membuat pak Rian semakin menyesal karena keceplosan.
Pak Rian malah ikut-ikutan pingsan, dia kemudian ditidurkan di kursi besi panjang.
***
Di kamar Rama dan Leon,
Vino sudah bosan berada di rumah sakit, hari juga sudah semakin sore,
“Ris, ayo pulang, udah sore, biar Jesi aja yang jaga, besok kita kesini lagi, mas akan izin biar bisa nemenin kamu di sini besok,” bujuk Rama.
“Benarkah? kalau begitu kak Rama, Risti pulang dulu ya, dadah, besok Risti akan bawakan kak Rama buah,” kata Risti. Rama tersenyum dan mengangguk pelan.
Yah, udah mau pulang, sesi cuci mata sudah habis. (Batin Jesi)
Vino dan Risti keluar dan berjalan ke arah tangga, saat sampai di parkiran, Vino celingak-celinguk, lupa memarkir mobil di mana,
“Sini tuan.” teriak supirnya sambil melambaikan tangannya ke arah Risti dan Vino, seakan tau jika Vino sedang kebingungan mencari letak mobilnya.
“Kamu udah makan atau belum?” tanya Risti kepada supirnya.
“Emm...belum nyonya,” jawab supirnya.
“Kalau begitu ayo kita nanti makan sama-sama di rumah mumpung nasi dan lauknya masih banyak,” kata Risti.
“Ayo mas kita segera pulang aku sudah lapar nih.” Risti menyeret lengan Vino agar segera masuk.
Lahh, tadi ditawari untuk makan tidak mau, sekarang malah kaya gini, Risti memang beda. (Batin Vino)
Risti tampak senang, dia tidak khawatir lagi dengan Rama.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Vote karya Author:)
Hayo siapa yang seneng denger Bu Dewi terkena stroke? kalau menurut Author hampir semua orang pasti senang.
Author belum bisa kasih visual, tapi kalau ada yang mau berpartisipasi dalam novel ini kalian bisa memberikan gambar visual menurut kalian sendiri. Kalian bisa masuk ke Grup Chat Author yang pp nya Song Joong Ki (Artis korea) dan menyerahkan di grup.
Author mulai hari ini akan up pagi jam 9, oke? okelah.
Sampai jumpa di episode berikutnya
Tbc.