Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 14
Pagi ini aku sudah siap untuk berangkat kerja. kakak pergi lagi. Mungkin dia tidak tega meninggalkan pacarnya sendirian di kos.
"Ibu, aku berangkat ya." Aku berbicara di depan pintu kamar ibu.
"Manda sebentar!" Ibu keluar dari kamar sebelum aku melangkah keluar rumah.
"Kenapa bu?"
"Kamu coba chat Toni. Bilang nanti jangan kesiangan ke sininya."
Aku mengangguk. "Iya bu. Nanti aku chat kak Toni." Aku menyalimi ibu. "Aku berangkat bu."
Jalanan yang kulewati lengang. Pagi ini udaranya masih dingin. Biasanya jika aku berangkat kerja matahari juga ikutan muncul.
Keadaan warung masih sepi. Mba Nia belum pulang dari pasar. Kupilih untuk duduk di salah satu bangku sambil menunggu bosku.
15 menit berlalu, mba Nia sudah muncul di depan warung. Kanan kiri motornya berisi belanjaan. Ngomong-ngomong soal mba Nia, dia bukan janda. Dia masih punya suami dan seorang anak yang mungkin usianya tidak jauh dariku. Suaminya merantau ke luar negeri. Menjadi TKI.
Mungkin bisa dikatakan mba Nia itu gabut jika harus berdiam diri di rumah sendirian ketika anaknya sekolah. Jadi, dia membuka usaha ini. Dan tidak menyangka gabutnya itu malah menjadi ladang rezeki untukku.
Aku sedang membantu mba Nia menurunkan barang-barang. Membawanya ke dalam untuk ku bongkar dan bersihkan.
Membantu mba Nia meracik dagangan. Membersihkan warung dan merapikannya.
"Kamu tau Manda. Kemarin pas kamu tidak berangkat itu ada yang nanyain kamu tau."
Aku penasaran. "Siapa mba?" Tanyaku sembari memotong sayuran.
"Aku juga ga kenal, man. Tapi sepertinya salah satu anak buahnya pemilik toko baru itu deh."
Aku ber-oh ria. "Kenapa ya mba kira-kira nyariin aku."
"Nah itu!" Mba Nia menaruh pisaunya. "Kamu itu disuruh ngelamar jadi penjaga kasir di toko itu. Soalnya kan kamu masih muda. Katanya sih kalau muda tuh diajarin cepet bisanya." Kata Mba Nia.
Aku diam sejenak. "Tapi kan aku masih kerja disini mba."
Mba Nia mengibaskan tangannya. "Halah! Kalau kamu mau masuk ke toko itu ya ga papa, Man. Mba Nia ga papa jaga sendiri."
Aku mencemberutkan bibirku. "Kasian mba Nia jaga sendirian."
Mba Nia menepuk lenganku pelan. "Ga papa. Buktinya pas kamu tinggal mba Nia masih bisa jaga sendirian kan?" Mba Nia kembali memotong sayurnya. "Siapa tau rezeki kamu disana lebih bagus ketimbang disini kan?"
Aku menatap mba Nia. "Ga papa memang kalau aku begitu?"
Mba Nia menggeleng. "Ga papa manda." Mba Nia tersenyum. "Nanti mba Nia bantu kamu buat daftar kesana ya."
Aku mengangguk saja. Mau menolak pun rasanya percuma kalau mba Nia sudah bersikeras begitu.
Aku kembali membantu mba Nia, tapi pikiranku tertuju pada toko itu. Semoga apa yang dikatakan mba Nia benar. Semoga pekerjaan baruku nanti menjadi sumber rezeki ku.
---
Aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Semua peralatan kotor sudah selesai aku cuci.
"Ini gaji kamu hari ini man." Mba Nia menyerahkan beberapa lembar uang.
Aku menerimanya. "Terimakasih mba."
"Besok coba mba tanyakan ke orang yang kemarin ya, kalau ketemu."
Aku hanya mengangguk. Dan berpamitan pulang pada mba Nia.
Aku selesai membeli makan malam. Hanya dua bungkus. Kak Toni tak mengabari jika akan pulang ke rumah.
Pintu rumah terbuka sedikit. Pasti ada tamu kupikir. Ternyata benar. Tak hanya ibu yang di ruang tamu tapi juga kak Toni.
"Kak Toni pulang?"
Kak Toni hanya menjawab dengan deheman saja.
"Berarti besok harus ngurus ke kantor lagi, bu?"
Ibu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan kak Toni. "Iya lah."
Kak Toni membaca lembaran kertas dihadapannya. "Ini ga bisa langsung cair?"
"Ya.. kamu kira segampang itu mereka nyairin duit segitu banyaknya."
Aku diam. Mungkin mereka sedang mengobrol soal pinjaman itu.
Aku masuk ke kamar. Hendak bersih-bersih badan. Setelahnya aku makan di dapur. Tak ingin mengganggu ibu dan kak Toni diluar.
"Cuma beli dua bungkus?" Kak Toni tiba-tiba datang ke dapur. Membuka plastik bungkusan nasi.
Aku mengangguk sambil menyuap nasi kemulut. "Aku kira kak Toni ga kesini makanya cuma beli dua."
Kak Toni berdecak. "Minta duitnya lah buat beli nasi. Seharian aku ga kerja jadi ga punya duit."
Aku mengerutkan kening. "Loh? Emang kak Toni udah ga ada uang simpenan lagi?"
"Duit itu kan buat nanti nikah, manda." Kak Toni mengarahkan tangannya padaku. "Mana sini cepetan. Aku mau ke kosan lagi."
Aku mendengus pasrah. Lalu menyerahkan uang dua puluh ribuan ke tangan nya.
Kak Toni memandang uang itu. "Apaan segini ya ga cukup."
"Emang kakak mau beli makan apa kok segitu ga cukup?" Aku bertanya. Untuk membeli satu bungkus nasi saja itu masih ada sisa.
"Kan beli dua manda." Kak Toni berbicara dengan nada geram. "Lupa kalau ada satu manusia lagi yang butuh makan?"
Maksudnya kak Lita? Aku kembali merogoh saku ku. Menyerahkan uang sepuluh ribuan padanya lagi.
"Ck.. pelit banget jadi orang." Kak Toni bangkit berdiri meninggalkan ku sendirian di dapur.
Bahkan ucapan terimakasih saja sepertinya enggan diucapkan oleh kak Toni.
Aku kembali memakan makanan ku. Walaupun hatiku menjadi tidak bagus tapi aku harus tetap makan. Perutku kelaparan.
"Ibu ga makan?" Ibu masih membaca kertas-kertas di meja saat kuhampiri setelah makan.
"Nanti. Sebentar lagi." Kata ibu tanpa memalingkan wajahnya dari kertas.
Setelah aku duduk di hadapan ibu, ibu tiba-tiba menatapku. Meletakkan kertas itu di meja kembali.
"Itu Toni kenapa wajahnya masam tadi."
"Ohh.. tadi ya bu. Kak Toni minta uang buat beli makan dia sama pacarnya tapi aku cuma bisa ngasih tiga puluh ribu. Makanya kaya gitu mukanya."
Ibu mendengus. "Ya pantes kakakmu begitu orang cuma dikasih segitu. Kenapa ga dikasih lebih?"
"Kalau uangnya aku tambahin nanti habis uangku bu. Ini kan juga aku baru kerja lagi."
"La kakakmu tadi ga kerja. Ya wajar lah minta ke kamu buat makan." Kata ibu sarkas. "Lain kali kasih aja lebih ga papa. Kasian itu kakakmu harus nyukupin buat pacarnya juga. Pacarnya kan lagi hamil."
Aku diam saja. Wajahku menunduk takut melihat muka ibu.
"Denger kan manda!"
Aku mengangguk pelan.
"Itu kan nanti juga jadi kakakmu juga. Kamu juga harus baik sama dia nanti. Jangan perhitungan sama keluarga." Ibu menunjukan kertas itu padaku. "Nih! Kita lagi usaha buat minjem uang ke bank. Ga sehari dua hari kelarnya."
"Sudah! Ibu mau makan dulu." Ibu meletakkan kertas itu di meja kembali. Lalu dirinya pergi ke dapur meninggalkan ku sendirian.
Iya benar kan kata ibu, mereka sudah lelah mengurus ini itu untuk pernikahan mendadak kak Toni. Harusnya tidak apa-apa kalau aku memberikan lebih. Lagipula besok kan aku kerja lagi.