NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

"Ayah itu ibu, istrimu. Kenapa kau melakukan hal-hal seperti itu ?" Tanya Nyonya Sonia kepada sang Ayah.

Sedangkan Sang ayah diam membisu ketika ditanya hal ini oleh sang Anak.

"Dia sudah meninggal, untuk apa kalian meributkan hal ini ? Kalian semua pulanglah. Biarkan dia meninggal dengan tenang, dan lewati hidup ini dengan sangat baik." Ucap Biarawan Luki.

"Yang ingin kau katakan adalah, seharusnya kita pulang dan tunggu mati begitu." Kata Adrian kepada sang Kakek, sedangkan sang ibu terkejut mendengar penuturan sang anak.

"Nenek, dia itu sangat membencimu. Kau takut padanya kan? Kau juga takut dia akan terus menerus mengganggumu setelah dia mati. Demi bertahan hidup, kau pun harus meminta bantuan kepada orang lain untuk melakukan ritual, agar ibu dan Paman bisa memakai darahnya, menggunakan nyawa anak-anakmu untuk menukar kelangsungan hidupmu. Benar nggak ?" Ujar Adrian santai.

"Nggak disangka, aku pun masih ada keturunan yang begitu pintar. Kau pantas jadi keturunanku." Jawab Biarawan Luki sambil mengelus janggutnya yang panjang.

"Kau benar-benar terlihat memuakkan. Bagaimana dulu kau bisa berpura-pura begitu penyayang ?"Murka Adrian.

"Ayah, nggak. Kau pasti membohongiku, 'Kan ? Dulu kau begitu penyayang, mana mungkin kau tega mencelakai kami, anakmu sendiri ?" Kata Tuan Gavin.

"Kenapa ? Mengapa kau tega menyakiti darah dagingmu sendiri ?" Tanya Adrian.

"Humph. Aku memberi mereka kehidupan, kasih mereka kekayaan. Jadi apa salahnya aku hanya mengambil sedikit imbalan ? kalian sebagai anak juga nggak boleh terlalu egois. Selalu ingin mendapatkan segalanya, tanpa mau memberi apapun." Jawab Biarawan Luki sambil menunjuk ke arah mereka bertiga.

Sedangkan mereka hanya bisa terdiam mendengar perkataan biarawan Luki, sedangkan Adrian, meskipun dia terlihat diam tapi dalam hati sudah menahan amarah.

"Hahahaha..... Hey. Kalian pulanglah sana. Dia sudah meninggal. Kalian mau bilang apapun, sudah nggak ada gunanya." Usir biarawan Luki.

"Hey...." Saat Adrian ingin menyentuh Biarawan Luki, dia sudah pindah tempat hingga Adrian hanya menggapai angin saja.

"Nggak bisa. Nggak boleh membiarkannya pergi." Kata Adrian.

Saat biarawan Luki ingin pergi, Nadira pun muncul di depannya dengan payung khasnya itu, ditemani sepasang sepatu yang ingin keadilan tersebut.

Mereka semua kaget, karena Nadira sudah ada di depannya begitu juga dengan Biarawan Luki dia begitu syok saat tahu siapa yang ada didepannya itu.

Sehingga, ia tidak bisa berkata-kata dan terjatuh ia akhirnya menjadi duduk. "Nggak mungkin." Sambil gemetar

Ia pun berusaha bangkit kembali, karena apa yang dia lihat, ia tidak pernah percaya dengan semua itu. "Bohong, pasti bohong. Ini adalah Biara. Dia nggak mungkin bisa masuk. Pasti aku salah lihat" Kata Biarawan Luki berbicara sambil menyamping.

Namun, saat sang Kakek jatuh justru Adrian tidak menghampiri Kakeknya, tapi justru menghampiri Nadira dan berdiri di sampingnya. Sementara yang lain hanya bisa saling menoleh satu sama lain.

"Apa kakek yang penindas, lemah, dan penakut ini benar-benar kepala keluarga Wibowo sebelumnya ?" Ucap Adrian dalam hati.

Setelah itu, Adrian mengambil payung Nadira. Ia tetap membiarkan payung terbuka, sedangkan Nadira kasihkan payung itu pada Adrian, dan tanpa orang lain tahu, bahwa disamping payung itu ada sepasang sepatu yang dililit dengan benang merah.

"Arvin, angkat kepalamu." Suruh Nadira, hingga pada akhirnya, Biarawan Luki atau yang dikenal dengan nama Arvin menoleh ke arah Nadira dengan takut-takut.

Pada saat yang sama, sepasang sepatu itu terbang ke arah bahu biarawan Luki, hingga menekannya ke tanah dan membuatnya menjadi berlutut.

"Kenapa kau mencari ku ? Bukankah aku sudah suruh orang untuk melakukan ritual ? Jika kau ingin mereka, celakailah mereka." Kata Biarawan Luki sambil menunjuk ke arah anak-anaknya.

Setelah dia berdiri, diapun langsung lanjut memaki.

"Wanita jalang, ini itu adalah Biara. Aku akan membuatmu nggak pernah bisa kembali."

Saat ingin menyerang Nadira, Nadira pun lebih dahulu menyerang biarawan Luki, dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah Biarawan Luki, dan muncullah seutas tali berwarna emas dari telunjuk Nadira hingga kemudian di arahkan ke biarawan Luki sehingga Biarawan Luki merasakan tubuhnya seakan diikat kuat.

"Tolong ! Tolong ! Tolong !" Teriak Biarawan Luki, sehingga muncul beberapa orang dari dalam biara.

Setelah, beberapa orang keluar saat mendengar suara teriakannya, hingga pada akhirnya ia meraih tangan Biarawan Dio untuk meminta pertolongan.

"Biarawan Dio. Cepat. Cepat tolong aku. Wanita itu mau mencelakaiku." Tunjuk Biarawan Luki ke arah Nadira.

Hingga pada akhirnya, pandangan Biarawan Dio menoleh ke arah Nadira yang masih diam dan tenang itu.

"Nona bukan siluman. Lebih mirip....... Apa mungkinkah, Dia ?" Kata Biarawan Dio yang ingin melihat lebih jelas ke arah Nadira.

"Biarawan Dio, Kau...... kenapa masih diam saja ? Cepat kalahkan iblis."Potong Biarawan Luki dengan cepat karena dia sudah ketakutan, sehingga melupakan kalau dia masih berlutut di depan Biarawan Dio untuk meminta pertolongan.

"kehidupan fana ini tak terhingga. Biarawan Luki, Tempat putaran karma, karma akhirnya datang. Nona, silahkan." Kata Biarawan Dio kepada Biarawan Luki, dan dia menyuruh Nadira untuk melanjutkan kembali dengan membungkuk ke arah Nadira dan langsung pergi bersama orang-orang tadi.

"Biarawan ! Biarawan ! Biarawan !" Panggil Biarawan Luki tapi tidak digubris oleh Biarawan Dio.

"Aku nggak salah lihat 'kan ? Biarawan Dio yang paling ahli dalam ilmu gaib, ternyata begitu sopan terhadap Nona Nadira." Kata Adrian, yang mana Adrian masih tetap memegang payungnya Nadira.

"Sebenarnya siapa dia ?" Tanya Tuan Gavin sambil melihat ke arah Adrian.

"Bawa kemari. Bawa dia kesini." Kata Nadira.

"Nggak mau. Aku mau cari Tuan Bima. Kau cepat panggil Tuan Bima. Tuan Bima bisa menolongku. Bisa menaklukkan wanita siluman ini." Kata Biarawan Luki kepada Tuan Gavin.

Pada saat biarawan Luki berbicara, ia pun masih sama dalam keadaan berlutut.

"Kau nggak berhak menyebut Nenek." Kata Adrian.

Ia pun bangkit."Apa aku salah bicara ? Memangnya dia bukan wanita murahan ? Setelah bertahun-tahun, aku masih nggak bisa melupakan hal-hal kecil itu. Dia pikir, dengan nggak melepaskan semua obsesi itu, dia bisa membalas dendam padaku ? Mimpi ?"

"Jadi kau mengalihkan target balas dendamnya ?" Tanya Adrian.

"Humph.... Bukan hanya mengalihkan. Formasi sihir itu, jika membunuh seseorang, bisa membuatku hidup lebih lama. Jika, dia menyerang kalian, bahkan bisa membuatku awet muda dan mendapatkan kembali kendali atas keluarga Wibowo." Kata Biarawan Luki dengan santainya, seakan lupa kalau tadi dia begitu ketakutan.

"Kenapa kau bisa lakukan ini pada kami ?" Tanya Tuan Gavin.

"Humph..... Kalian adalah anakku, aku bisa saja melakukan apapun. Kau itu nggak berhak menanyaiku." Jawab Biarawan Luki.

"Kenapa kau begitu nggak tahu malu ? Apa semua cerita yang kau ceritakan pada kami sebelumnya itu adalah bohong ?" Teriak Tuan Gavin .

"Nggak disangka, kalian malah percaya. Hahahaha.." Kata Biarawan Luki sambil tersenyum.

"Arvin." Panggil Nadira

Sebelum lanjut berbicara dia mengeluarkan sebuah kursi dari tangannya sehingga ia bisa duduk.

"Wanita siluman. Kau sebenarnya pakai trik apa ? Kau ... Kau bagaimana bisa, kau membawa wanita tua jahat ini ke sini ?" Tanya Biarawan Luki kepada Nadira yang sudah duduk.

"Jangan bicara seperti itu pada Nona Nadira." Sentak Adrian.

Sedangkan, Biarawan Luki yang disentak pun menjadi diam begitupun juga dengan Adrian sendiri.

"Aku seperti pelayan yang membela majikannya." Kata Adrian pelan sambil melihat ke arah Nadira.

"Ceritakan padaku dari awal sampai akhir tentang kau dan Nyonya Erna. Ada orang yang mau dengar." Pinta Nadira kepada biarawan Luki.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!