-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 14 - Misteri Keluarga Akbar
Faiz, Ilham dan Akbarpun sempai di depan rumah Akbar. Mereka benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Ini kali pertama mereka berkelahi dengan preman bertiga. Meski Akbar sudah sering berkelahi namun tetap saja satu tubuh Akbar melawan 6 preman ganas itu tetaplah kalah. Kalah jumlah dan kalah kekuatan.
Sesampainya di depan gerbang, Akbar memencet bel. Dia tak membawa kunci gerbang, dan kali ini dia dalam keadaan tidak bisa melompati pagar. Tidak ada tanda-tanda orang rumah akan membukakan pintu. Akbarpun menelepon orang tuanya yang ada di dalam.
Tak lama kemudian Ibu Akbar keluar rumah menuju gerbang. Ibu Akbar bernama Yuni. Dia tergolong ibu-ibu cantik diusianya. Bahkan terlihat lebih cocok menjadi kakak Akbar dibanding jadi ibunya.
“Assalamualaikum, Tante.” salam Gus Faiz pada Ibu Yuni.
“Waalaikumsalam.” jawab Yeni.
“Waalaikumsalam.” jawab Akbar dan Ilham.
Yeni hanya mengamati putra dan kedua teman putranya sekilas lalu masuk ke dalam. Mengabaikan tangan Ilham yang meminta salim.
“Udah. Masuk ayo.” kata Akbar.
Dalam hati Akbar sakit sekali. Akbar sangat mengenal ibu dan ayahnya yang sangat tidak peduli padanya. Namun, saat ibunya melakukan hal yang sama pada kedua sahabatnya, Akbar merasa malu dan kesal.
Ilham dan Gus Faiz mengekori Akbar dari belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dalam hati, mereka tahu apa yang dirasakan Akbar.
“Aduh, Bar. Sumpah, ini apaan yang ngelilit kaki gue!” seru Ilham panik.
Seekor ular peliharaan Akbar melilit kakinya. Ilham yang takut pada reptil pucat pasi. Dia memohon pada Akbar dengan wajahnya. Jantung Ilham berdegup dengan kecang. Gus Faiz mengarahkan pandangannya ke kaki Ilham. Gus Faiz melotot melihat ular yang semakin kencang melilit Ilham.
Kaki Ilham semakin gemetar.
Akbar buru-buru melepaskan ular itu dengan segera. Lalu memasukkannya ke dalam akuarium yang dijadikan kandang ular oleh Akbar. “Cemen lo, gini aja takut.” kata Akbar mencibir Ilham.
“Bagaimana dia tidak takut, kalau ularnya sebesar itu.” kata Gus Faiz. Kali ini dia membela Ilham.
“Eh, kaki gue! Kaki gue gak bisa gerak!” seru Ilham.
“Lebay banget lo. Yuk, ah, Is, tinggalin aja dia.” kata Akbar.
Gus Faiz mengekori Akbar. Ilham buru-buru lari mengejar Akbar dan Gus Faiz. Baginya ular peliharaan Akbar lebih menakutkan dibanding preman yang tadi mengepung mereka. Ilham menengok ke kanan dan ke kiri. Dia melihat Buaya, Iguana, Tokek, dan Ular.
Bulu kuduk Ilham merinding. Ini adalah alasan mengapa Ilham selalu ragu untuk ke rumah Akbar. Dia selalu mendapatkan hal-hal mengejutkan.
Melihat bagaimana Ilham yang lari terbirit-birit, Gus Faiz dan Akbar tertawa. Mereka pun masuk ke dalam kamar Akbar yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar mereka mendengar Azan Subuh berkumandang. Karena rumah Akbar jauh dari masjid dan keadaan mereka yang tidak memungkinkan untuk ke Masjid membuat mereka memilih salat berjamaah di kamar Akbar, dengan Gus Faiz yang menjadi Imam.
***
“Nyokap lo masih begitu, Bar?” tanya Ilham.
“Iya, bokap gue juga sama. Sedih banget gue ya.” kata Akbar.
“Apa mungkin karena kamu sering berontak, Bar?” tanya Gus Faiz.
“Gue berontak cuma cari perhatian mereka, Is. Tapi ya, bisa lo liat sendiri, mau gue baik, mau gue berontak, gak ada perbedaan, sampai akhirnya gue lebih nyaman buat berontak.” kata Akbar, sambil tertawa miris.
“Pernah kamu tanyakan langsung?” tanya Gus Faiz.
“Pernah. Nggak ada respon. Mereka sibuk sendiri. Jadi, gue malas buat tanya lagi.” kata Akbar.
“Sabar ya, Bar. Doain aja biar mereka cepet berubah.” kata Ilham.
Gus Faiz mengangguk, dia membenarkan kata-kata Ilham.
“Kayak cewek, ****. Melow begini.” kekeh Akbar.
Tapi kali ini Gus Faiz dan Ilham tidak ikut tertawa. Mereka diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Gus Faiz yang menyadari kecanggungan ini, langsung melontarkan pertanyaan pada Gus Faiz.
“Kamu kenapa bisa dikejar seperti itu?” tanya Gus Faiz.
“Oiya bener, sumpah, lo abis ngapain sih sampe di kejar-kejar begitu?” kata Ilham.
“Tapi seru kan?” gelak Akbar. Tawa Akbar tidak seperti sebelumnya,
Gus Faiz bersyukur bisa memancing kebahagiaan Akbar lagi. Ilham yang menyadari langsung kembali menimpali kata-kata Akbar seperti biasa.
“Mata lo soak, seru! Hampir mati begini dibilang seru. Stres lo!” seru Ilham.
“Astaghfirullah kamu berdosa banget.” kata Akbar sambil menirukan gaya berbicara perempuan. Ini kata-kata yang sangat ngetren saat ini. Ilham tahu, dan Ilham jijik melihatnya.
Ilham mengambil bantal lalu melemparkan bantal itu pada Akbar. Gus Faiz tertawa.
“Aduh, sakit pele!” ringis Akbar.
“Eh, maaf, maaf, gue lupa.” kata Ilham. “Abis, muka lo, bonyok gak bonyok sama sih. Hahaha.” Ilham tertawa.
“Awas lo kalo gue sembuh.” kata Akbar mengancam Ilham. Ancaman main-main. Tidak sungguh-sungguh sampai hati.
“Kamu belum menjawab pertanyaan kami, Bar.” kata Gus Faiz.
“Oh, dulu gue sering main sama mereka.” kata Akbar.
“Lha, itu temen-temen lo?” tanya Ilham.
“Jangan dipotong dulu, ngapa?” seru Akbar.
Ilham hanya cengar-cengir.
“Gue nyamperin mereka semalem buat bilang kalau gue mau berenti. Tapi mereka gak terima. Jadi, ya akhirnya begitu.” kata Akbar.
“Lo ngobat?” tanya Ilham serius.
“Hampir, tapi gue keinget dia nih.” kata Akbar.
“Saya?” tanya Gus Faiz.
“Iya, gue inget banget lo pernah bilang kalau hidup itu cuma sekali, meski gue ngerasa kalau gue cuma kameo di kehidupan orang tua gue, tapi gue pemeran utama dia kehidupan gue sendiri. Jadi, gue gak mau semakin jadi sampah. Akhirnya gue lebih milih sibuk pelihara reptil.” kata Akbar panjang lebar.
Gus Faiz ingat betul bagaimana Akbar dulu saat awal-awal bertemu dengannya. Akbar yang urakan, suka berkelahi, seperti tidak terurus, dan sulit tersentuh. Gus Faiz bersyukur semakin ke sini, Akbar jauh semakin menjadi pribadi yang lebih baik.
“Mantul juga lo, Is.” kata Ilham.
“Syukurlah kamu tidak sampai sana.” kata Gus Faiz. Kata ‘sana’ yang dimaksud Gus Faiz adalah mengonsumsi obat-obatan terlarang.
“Iya, Is. Makasih ya.” kata Akbar.
“Eh, main PS, yuk!” seru Ilham.
“Tangan gue begini ngajakin main PS.” kata Akbar.
“Emang gue ngajak elo. Orang gue ngajak Faiz.” seru Ilham.
“Saya tidak mau main.” kata Gus Faiz.
Ilham pun mendecak sebal. Sementara Akbar yang melihat penolakan Gus Faiz pada Ilham langsung tertawa terbahak-bahak.
“Emang enak lo! Nonton film aja, kuy!” seru Akbar.
“Film apa?” tanya Gus Faiz.
Kali ini Gus Faiz tertarik. Di pondok dia tidak pernah ada waktu untuk menonton.
“Film bo…k..” belum sempat Akbar menyelesaikan kalimatnya. Ilham buru-buru melemparkan bantal lagi pada Akbar.
“Gue racunin lo, Bar.” seru Ilham.
“Apaan si, orang gue mau ngomong crows zero!” kata Akbar mengeles.
“Film tentang apa itu?” tanya Gus Faiz.
“Berantem, Is.” kata Akbar.