Ardian, seorang pengusaha muda yang tampan dan mapan. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Karina, kisah cinta mereka cukup rumit karena adanya orang ketiga. Belum lagi kehadiran orang ketiga yang memiliki tujuan untuk menghancurkan keluarga Ardian. Semuanya perlahan terungkap saat Vino datang, lelaki yang tak lain adalah kakak dari kekasihnya, Karina. Tidak hanya Ardian, Karina ternyata juga memiliki sebuah rahasia besar tentang keluarganya. Setelah hubungannya mengalami kerenggangan dengan Karina, Ardian pun mencoba memperbaiki hubungan itu. Mampukah Ardian merebut kembali hati Karina yang sudah terlanjur dibuat terluka oleh sikapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Belum Sirna
Karina memperhatikan dengan fokus setiap sudut kediamannya yang sekarang.
Bangunan sederhana milik keluarga Seno Hadiningrat yang tidak terlalu luas itu, tetap memperlihatkan kesan elegannya. Banyak perabotan mahal yang tertata di sana, sofa-sofa mahal berdiri tegak di ruang tengah.
Lantai marmer yang mengkilap membuat kaki sekan berjalan di atas kaca. Karina berdecak kagum melihat semua kemewahan itu, semuanya lengkap.
Bu Agatha mengajaknya untuk pergi melihat kamar yang akan dijadikan kamar tidurnya. Rumah pak Seno memiliki dua kamar tidur, Karina lebih memilih tidur di kamar utama.
Bu Agatha mendahuluinya membuka pintu kamar. "Gimana? Kamarnya bagus kan? Kamu suka?" tanya bu Agatha.
Senyum Karina semakin lebar. "Suka banget, Tante. Terima kasih." Karina reflek memeluk mamanya Ardian, wanita itu ikut bahagia melihat senyuman Karina.
Sudah lama tidak melihat Karina senyum sebahagia ini.
"Sama-sama, sayang." Wanita itu membelai lembut rambut Karina. "Ayo duduk dulu!" ajaknya kemudian.
Pak Seno tidak ikut duduk, setelah mengantarkan dua koper itu sampai ke rumah yang ditempati Karina, beliau langsung pulang lagi.
"Ada apa, Tan? Kayaknya mau bicarain hal penting." Karina duduk tegak menghadap ke arah bu Agatha.
"Benar kalau kamu sudah tidak ingin melanjutkan hubungan sama Ardian?"
"Tante, ini semua sudah menjadi keputusan Ardian. Karina akan bahagia kalau dia bahagia, kelihatannya Ardian juga lebih bahagia bersama Emilia. Karina mohon, jangan ungkit lagi hubungan yang sudah lalu itu," ucapnya di tengah rasa sesak yang menghimpit dada.
"Bukan apa-apa, Rin. Jujur aja, tante dan juga om lebih senang kalau kalian bisa bersama. Kami ingin kalian benar-benar bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi, tapi entah kenapa semuanya bisa berubah dalam sekejap." Bu Agatha dengan suara lemah dan mata berair menatap Karina.
Karina juga buntu, dia tidak punya cara apa-apa. Cinta Ardian tidak ada lagi untuknya, tapi benarkah? Karina masih tidak bisa percaya, mungkin orang lain tidak merasakan rasa ini, tapi dia peka dengan semuanya.
Karina seakan bisa membaca pikiran dan isi hati Ardian, cowok itu masih punya rasa terhadapnya, namun Ardian tidak sadar.
Keegoisannya lah yang membuat semuanya menjadi samar-samar, Ardian terlalu larut dalam hubungan barunya dengan perempuan lain.
Itu sebabnya dia tidak merasakan bahwa cintanya terhadap Karina juga masih ada, dia terkubur jauh di sana, di tempat paling bawah dalam hatinya.
"Tante, kalau Tante dan Om terus saja memaksa Ardian untuk melanjutkan hubungan sama aku, yang ada dia akan semakin menjauh." Karina mencoba menjelaskan dengan pelan, mungkin bu Agatha paham dengan maksudnya.
"Sepertinya kita memang butuh orang ketiga untuk membuat kalian bisa kembali bersama," ucap bu Agatha dengan senyuman penuh makna.
"Orang ketiga? Maksud Tante?"
"Iya, kamu harus lebih dekat dengan Vino. Kalau Ardian melihat kamu mulai dekat dengan lelaki lain, mungkin dia akan sadar dengan perasaannya sendiri. Bukankah saat kamu pergi makan malam dengan Vino dia juga marah? Dia enggak suka? Dia juga khawatir kalau kamu dekat dengan orang yang tidak baik, itu artinya dia masih peduli, Karina."
Karina menyimak dengan baik, dia mencoba mengingat kejadian malam itu, dan semuanya memang persis seperti yang bu Agatha katakan.
Ardian memang seperti orang cemburu, kalau memang benar, berarti peluang untuk dia kembali masih ada.
****
Malam kembali ke peraduannya, waktu pun berganti. Kini matahari telah terbit, Ardian juga sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor.
Sepertinya biasanya, setiap pagi dia pasti akan sarapan bersama keluarganya.
Bi Alfa sudah menyiapkan sarapan sejak selesai subuh tadi, dan sekarang semua sudah siap.
Semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali Ardian. Untuk hari ini sepertinya dia cukup malas untuk sarapan bersama, karena yang ada dalam pikirannya cuma ingin menjauh dari Karina.
Terlalu lama di dalam kamar nanti dia sendiri yang akan telat, jadi dia memutuskan untuk keluar dan ikut sarapan.
Di meja makan, pak Seno dan bu Agatha sudah berada di sana.
Ardian cukup heran saat melihat Karina tidak ikut sarapan bersama mereka, dia sudah berpikir terlalu jauh. Dia sempat berpikir kalau Karina juga akan sarapan bersama keluarganya, itu sebabnya dia enggan untuk turun ke bawah dan sarapan.
"Kenapa bengong di sana? Kamu enggak mau sarapan?" tanya pak Seno.
"Bingung ya? Kenapa Karina enggak sarapan sama kita? Dia pagi-pagi buta udah keluar buat nyari kerja," kata bu Agatha yang langsung menebak isi hati Ardian.
"Siapa yang mikirin dia?"
Ardian menarik salah satu kursi dan kemudian duduk, tas kerjanya diletakkan di samping kaki kursi.
Ardian duduk dengan tenang lalu menyendokkan nasi dan memasukkannya ke dalam piring, dia sempat melihat Alfa yang tengah bicara dengan seseorang.
Ardian menyipitkan matanya, mencoba melihat dengan jelas siapa lelaki itu.
Matanya terus saja mengarah ke ruang tengah, bu Agatha yang sadar akan tatapan penasaran anaknya, beliau langsung memberitahukan pada Ardian kalau itu adalah adiknya bi Alfa.
"Ngapain adiknya bi Alfa ke sini?" tanya Ardian.
"Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu," jawab pak Seno.
"Tinggal di sini?" Ardian kaget, ia tidak makan. Nafsu makannya hilang seketika, kebingungan mulai melanda.
"Ya, tinggal di sini!" jawab bu Agatha dengan sikap cuek.
"Berapa banyak lagi orang yang mau Mama sama Papa tampung di rumah ini?"
Ardian tidak setuju dengan keputusan orangtuanya.
Pertama Karina, sekarang adiknya Alfa. Entah siapa lagi yang akan dibawa orangtuanya ke rumah mereka, bisa-bisa nanti malah Vino yang akan diajak untuk tinggal di sana.
"Terserah kami mau bawa berapa banyak orang ke sini, kita juga enggak ngusik hubungan kamu dan Emilia kan?"
Bu Agatha sengaja ingin menyudutkan Ardian, selalu saja membawa-bawa nama Emilia dalam setiap pembicaraan.
"Ma, ini semua enggak ada hubungannya sama Emilia, Ma. Kenapa nama dia terus yang Mama bawa?" kesal Ardian, dia meminum air seteguk, lalu mengambil tas kerjanya dan segera pergi dari sana tanpa berpamitan.
Hari ini, pagi-pagi sekali moodnya sudah dibuat buruk sama mama papanya.
"Nah, liat kan, Pa. Tuh anak bisanya cuma ngambek, semenjak kenal sama Emilia, semua jadi beda," keluh sang istri.
"Sabar, Ma. Papa yakin kok, nanti dia juga kembali seperti Ardian yang dulu. Ini cuma masalah waktu aja, dan mungkin kita enggak perlu terus membanding-bandingkan Emilia dengan Karina."
Pak Seno dengan tatapan serius menoleh ke arah istrinya.
****
Di tengah perjalanan menuju kantor, Ardian bertemu dengan Karina yang hendak menyeberang jalan. Untuk sesaat dia menghentikan mobilnya, memperhatikan apa yang hendak dilakukan Karina saat itu.
Dua menit kemudian dia baru ingat, Karina sedang mencari lowongan pekerjaan.
Dadanya mendadak sesak, ada satu rasa yang sulit dijelaskan. Sesuatu menghimpit dadanya, nyeri dan terasa seakan menghujam jantungnya.
Melihat Karina dalam keadaan susah seperti ini, dia juga tidak tega sebenarnya.
Masih ada rasa peduli, tapi dia juga bingung dengan perasaannya.
Ardian terus memperhatikan Karina dalam mobil, saat itu Karina baru saja masuk ke dalam sebuah toko buku.
Tidak berapa lama setelah Karina masuk, ada lelaki lain yang juga masuk ke sana. Lelaki yang sangat dikenal Ardian, kedatangan lelaki itu membuat Ardian tiba-tiba tidak tenang.
Ardian keluar dari mobilnya, menyebrang jalan untuk menyusul Karina.
"Aku tidak akan ngebiarin dia mendekati Karina!" ucap Ardian pelan namun penuh penekanan.
Dia masih tidak sadar dengan perasaannya sendiri. Ia tidak sadar bahwa hatinya masih saja milik Karina, cinta pertamanya.
karina jadi bego gara" cinta
emilia jadi stress gara" cinta
ibu nya emil gangguan jiwa gara"?? sama aja kan, Cewek emang ya /Facepalm/