Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaki Panjang
Happy reading......😉
Malam yang dingin mulai menyelimuti seisi rumah itu, Karin yang baru saja merebahkah tubuhnya di kasur karena seharian sibuk nonton drama korea kesukaannya, harus segera turun untuk menyambut Marcel yang baru pulang bekerja.
Marcel turun dari mobil dengan wajah lelahnya, disambut Karin dan pak Li yang selalu berada di garda terdepan untuk menyambut kedatangan Marcel setiap harinya.
" Han, tunggulah di ruang kerjaku... " Ucap Marcel sembari melenggang keluar dari mobilnya.
" Baik tuan "
Reihan pun menyanggupinya tanpa membantah. Karena harus menyelesaikan berkas kerja sama dengan perusahaan di Jepang, terpaksa ia harus lembur dan menyelesaikan pekerjaannya malam itu juga.
Marcel dengan di buntuti Reihan mulai melangkahkan kakinya memasuki mansion, meninggalkan Karin dan pak Li yang berjalan melambat di belakangnya.
Tiba-tiba Marcel menghentikan langkahnya saat pintu lift tinggal beberapa langkah dari jangkauannya, membuat Karin dan pak Li sontak menghentikan langkahnya bersamaan.
Marcel membalikkan badannya, disusul Reihan yang setia menirukan gerak-geriknya meski tak mengerti tujuannya. Marcel menatap wajah Karin yang tampak bingung, tanpa melikir ke arah pak Li sedikitpun, membuat pak Li hanya terdiam dalam posisinya dengan perasaan canggung karena dikacangin.
" Ikut aku... " Ucap Marcel menatap tajam Karin. Tanpa penjelasan, langsung melanjutkan langkahnya menuju lift yang sudah berada tak jauh.
Karin tak bergeming, ia masih setia mematung di tempatnya dengan lamunan panjang yang hanya berisi makian dalam benaknya.
" Apa yang dilakukan anjing gila ini? Akankah aku menunggunya mandi lagi, merepotkan sekali " Gumam Karin mengerucutkan bibirnya.
Marcel yang sudah berada di dalam lift mulai merasa kesal melihat Karin yang masih mematung di tempatnya. Ingin sekali ia menyeret gadis itu dengan tangannya, tapi ia mengurungkannya untuk mempertahankan kewibawaannya.
" Hei, cepat atau mau ku seret kesini... " Ancam Marcel.
Karin yang mulai tersadar dari lamunannya, segera berjalan dengan langkah cepat untuk bergabung dengan Marcel dan Reihan di lift kecil itu.
Ting
Lift itu pun mendarat di lantai 3, mereka bertiga segera meloloskan dari lift sempit itu bergantian, Marcel sang pemilik mansion pun mendahuluinya, disusul Reihan, dan Karin mendapat jatah paling akhir. Reihan menuju ke ruang kerja milik Marcel, sedang Marcel menuju kamar pribadinya dibuntuti Karin yang setia mengekorinya .
Marcel melangkah menuju kamarnya dengan langkah lebar, membuat Karin yang dibelakangnya tertinggal jauh meski sebisa mungkin Karin mempercepat langkahnya. Namun apa daya, kakinya yang mungil itu membuatnya hanya bisa melangkah dengan langkah kecil, bahkan satu langkahan kaki Marcel baginya adalah 3 langkah yang lebar.
'' Kenapa lambat sekali... " Gerutu Marcel saat berhasil mendarat di kamarnya, membuat ia kesal karena lagi-lagi harus menunggu Karin yang selalu tertinggal jauh di belakang.
" Bukan aku yang lambat, kakimu yang terlalu lebar saat melangkah. Harusnya kamu pangkas sedikit kaki panjangmu itu... " Jawab Karin mulai kesal dengan Marcel yang telah menghina kaki mungilnya, tak peduli panggilan apa yang telah ia lontarkan, tanpa panggilan tuan atau bahkan panggilan sopan lainnya.
Marcel membungkukkan badannya, membuat wajahnya beradu dengan wajah Karin yang tampak kesal, sedang tangannya menepuk-nepuk atas kepala Karin ringan. " Kamu yang kerdil "
Deg...
Tiba-tiba jantung Karin mulai berdesir saat nafas mereka saling beradu, jantungnya serasa ingin melarikan diri dari tempatnya dan melompat keluar, membuatnya langsung memalingkan muka dari wajah Marcel yang hanya berjarak beberapa centi.
Marcel menegakkan tubuhnya, membuka jas yang menempel di tubuhnya dan membuangnya ke muka Karin dengan kasar.
" Siapkan air untukku... "
'' Tidak bisa kah, memberikannya dengan pelan, wajahku sampai sakit tau... " Gerutu Karin membuat kekesalannya mulai memuncak.
Marcel memelototkan matanya tajam mengarah tepat di mata Karin. Tatapan itu bagai petir yang berhasil menyambar tubuh Karin, membuatnya refleks berlari menuju kamar mandi dengan langkah cepat.
Karin mulai menyiapkan air hangat, sedang Marcel duduk dengan santainya di sofa sambil memainkan handphone ditangannya.
Tak butuh waktu lama, Karin sudah berhasil mengisi penuh bathtub itu dengan air hangat dan beberapa tetes aroma terapi. Segera ia melenggang keluar dari kamar mandi dan melaporkan hasil tugasnya pada Marcel.
" Sudah siap... " Ucap Karin sembari berlalu menuju keranjang baju kotor untuk meletakkan jas yang tadi dilemparkan Marcel ke wajahnya.
____________
Hi readers tersayangku....😄
Akhirnya bisa update lagi
Dukung author terus yeee....
Love you💞💞
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏