NovelToon NovelToon
Pernikahan Hangat

Pernikahan Hangat

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Sept

Selamat datang di novel pertamaku.
IG Sept_September2020

Gagal menikah sekali, membuatnya patah hati berkepanjangan. Abbas yang sudah mengunci hatinya rapat-rapat, perlahan terbuka dengan sendirinya setelah bertemu dengan wanita yang tepat.
Bagaimana jika mantan pacar Abbas kembali dan mengusik pernikahan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Katakan cinta

Mely berjalan mendahului Abas, Bela dan Fadir. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan sang Papa dan Mamanya. Selepas berpelukan untuk melepas rindunya. Mely memperkenalkan Abas dan Fadir pada kedua orang tuanya. Sedangkan Bela sudah menyusul untuk memeluk dan mencium tangan Mama Papa Mely.

Bela sudah sangat akrab dengan keluarga ini, sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan rumah Mely sudah seperti rumah kedua baginya. Hal itu karena, waktu masa masa kuliah dulu Bela sering menginap di rumah Mely. Keluarganya sering melakukan bisnis ke luar negeri. Dia bosan kalau harus tinggal sendirian. Ia memilih menginap dirumah Mely. Mama dan Papa Mely sendiri sudah menggangap Bela sebagai anak, bukan sekedar teman putri mereka.

Setelah itu Abas pun maju, ia memberanikan diri berkenalan dengan calon mertua.

"Selamat siang Om, kenalkan.. saya Abas," ucap Abas seraya mengulurkan tangannya pada Papanya mely.

Papa pun menyambut uluran tangan Abas, dalam hatinya.

"Pasti yang ini pacar Mely."

Abas pun berganti mengulurkan tangannya kepada Mama Mely.

"Saya Abas Tante, salam kenal."

Dengan senyum yang teduh dan pandangan yang lembut, Mama menyambut uluran tangan Abas. Setelah itu, giliran Bela beraksi.

" Om, Tante kenalin ini pacar Bela."

Bela menyodorkan tubuh Fadir. Fadir yang terkejut karena dikenalkan sebagai pacar Bela otomatis kaget. Ia memang menyukai Bela, tapi sepanjang sepengetahuannya. Ia belum resmi berpacaran dengan gadis di sampingnya kini.

Aduh Bela, gerakanmu cepat juga. Fadir sampai tak berkutik dibuatnya. Sementara itu, Mely hanya geleng-geleng melihat tingkah pola Bela. Kini mereka semua sudah berada di sebuah ruang tamu.

Pandangan Abas tertuju pada hiasan di sekeliling ruangan. Banyak piagam dan piala di lemari kaca sudut ruangan. Sebagian adalah punya Mely dan adiknya.

Abas mencoba mencari jejak masala lalu Mely lewat pigura yang berjejer di dinding rumah tersebut. Sesekali ia tersenyum, melihat potret masa kecil Mely yang amat sangat mengemaskan. Mely kecil dengan mata sipitnya. Mely sendiri merupakan orang Indonesia asli. Tapi entah mengapa diantara tiga bersaudara hanya matanya yang nampak sipit. Dua saudaranya memiliki pergai orang jawa kebanyakan.

Mungkin karena gen dari Papanya. Jadi Papa Mely sebenarnya bukan asli orang Jawa. Papa asli orang Sumatra. Posturnya tinggi besar dan bermata sipit berkulit putih. Sedang sang Mama, orang Surabaya asli. Bertubuh mungil dan bermata bulat.

Dilihat secara fisik, Mely sangat mirip dengan sang Papa. Ia seperti miniature papanya. Hanya saja dia versi perempuan. Maka dari itu Papanya kelihatan sekali sangat memanjakannya.

Beberapa saat pun berlalu, puas menjelajahi gambaran Mely lewat pigura Abas berjalan mendekati Mely yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.

"Mel, kamu lucu ya waktu kecil," kata Abas, matanya memandang kearah foto di dekat sana.

" Masak, semua anak juga pasti lucu waktu kecil." Mely tetap melanjutkan aktifitas nya sambil bercakap dengan Abas.

"Anak kita nanti pasti lucu juga ya Mel, kamu imut dan aku ganteng!"

Ucapan kepedean Abas mampu membuat Mely tertawa cekikikan. Mereka berdua tidak sadar. Bahwa banyak mata yang sedang mengawasi mereka berdua. Papa yang pura pura memegang koran sesekali mengintip keduanya.

Mama yang berada tak jauh dari sana bersama Bela juga mencuri pandang kepada keduanya. Fadir sendiri seperti dikacangi. Ia hanya benggong seorang diri.

" Memang kamu ganteng? siapa yang bilang?" canda Mely.

" Gak usah nunggu siapa yang bilang, udah ganteng dari lahir kok." Abas gak mau kalah dengan Mely.

" Masa ada orang ganteng sampai umur segini belum nikah? biasanya orang ganteng cepet lakunya?" Mely menangapi candaan yang dilontarkan Abas.

"Aku belum nikah bukan gara gara gak laku Mel, Aku belum nikah karena belum ada yang cocok... Masih belum ada yang pas di hati aku!" tutur Abas panjang lebar.

"Terus sekarang ada yang cocok gitu?"

Mely mencoba memancing emosi Abas.

"Kayaknya sih begitu!" Abas membuat jawaban yang ambigu.

Mely dibuat sebel. langsung manyun bibir Mely lima senti. Abas merasa puas, dalam hati ia girang seperti habis dapat lotre. Malas menangapi Abas, Mely mempercepat aktifitasnya.

Sampai ia hampir terpeleset, untungnya sedari tadi Abas mengekori Mely. Hingga ia tidak sampai jatuh, karena pangeran berkuda putih siap siaga menjaga dirinya. Ia menahan tubuh Mely yang hampir oleng.

Suasana seperti ini membuat kedua nya canggung. Belum lagi beberapa pasang mata telah mengintai mereka sejak tadi. Setelah kejadian hampir jatuh, Mely jadi enggan menatap ke dalam mata Abas. Ia malu malu, seperti abg yang baru pacaran. Abas pun demikian.. ia rasa puber keduanya sedang dimulai.

Fadir yang duduk sendirian dari tadi hanya bisa jadi penonton bayaran untuk drama cinta atasan nya. Mama Mely memangil semuanya ke meja makan untuk makan bersama.

" Enak sekali tante masakan nya,"

Puji Abas, Abas sendiri sedang mencuri perhatian dari calon mertua. Agar ia dapat nilai plus sabagai calon mantu.

"Kamu bener nak abas, Mama Mely memang jago masak, masakan nya tidak kalah jauh dari restoran.. masakan Mama selalu mantul, Mantap betul," sahut Papa sambil bergurau.

Semuanya di ruang makan dibuat tertawa oleh candaan Papa Mely.

"Nanti tante bakal masakin makanan kesukaan kamu, sering sering main kesini aja," timpal Mama.

Mely mencuri pandang ke Abas, dan sayangnya Abas juga sedang memandang dirinya. Jadilah mata Mely bertemu dengan mata Abas. Selanjutnya biarlah hati yang bicara. Dan lagu kasmaran pun berkumandang.

Setelah acara makan makan selesai, Mely dan Bela membantu Mama membereskan semua. Sedangkan para laki laki kini asik mengobrol. Papa Mely kelihatan menyukai sosok Abas, hingga sampailah pada perbincangan yang agak serius.

Abas memberanikan diri mulai mengutarakan maksud dan tujuaanya datang berkunjung ke rumah mereka. Dari ruangan lain, Mely dan Bela mencoba mengintip. Namun sapaan sang Mama membuat keduanya gelagapan.

"Lagi ngintip apa nak?" tanya Mama penasaran dan malah ikutan ngintip pula.

Suasana jadi tegang saja, Mely dan Bela bukannya menjawab hanya bisa tersenyum pada Mamanya. Terpaksa Mama ikutan ngintip.

" Om, saya mohon maaf sebelumnya. Mungkin ini kedengerannya agak mendadak."

Abas memberi jeda pada kata katanya. Ia sedikit merasa tegang berbicara depan Papa Mely. Padahal biasanya ia sangat lancar dan begitu percaya diri untuk berhadapan dengan rekan bisnisnya.

Tapi lali ini, sepertinya ia sedikit hati hati, ia takut kalau sampai salah kata bisa bisa niatnya akan terhalang oleh restu orang tua. Begitulah pikiran Abas.

Abas pun melanjutkan kata katanya.

"Saya menyukai Mely Om."

Setelah menyatakan bahwa ia menyukai Mely, Abas pun sejenak diam. Ia sedang menunggu tanggapan dari Papanya Mely. Terlihat sekilas, Papa mengerutkan kening. Ia memandang Abas lekat-lekat. Abas sampai salah tingkah dibuatnya.

"Selama Mely suka, Om tidak akan melarang. Yang jelas jalani saja dulu. Sepertinya kalian baru mengenal."

Jawaban Papa Mely, seketika membuat Abas menciut. Secara tidak langsung ia keberatan jikalau hubungan keduanya dibawah kejenjang yang lebih serius. Bukannya tidak suka, hanya saja menurut Papa, segala yang buru buru itu tidak bagus.

Mely dari jauh bisa menangkap ekspresi kecewa di wajah Abas. Setelah perbincangan tersebut, terlihat jelas sekali Abas lebih murung. Dan hari sudah malam, Abas berpamitan. Ia akan segera balik ke ibu kota. Karena banyak pekerjaan yang menunggunya.

Begitulah pula dengan Fadir dan Bela. Mereka semua berpamitan. Berterima kasih atas sambutan hangat keluarga Mely.

Mely sendiri tidak ikut dengan mereka. Wajahnya ditekuk semenjak menguping perbincangan Papanya dan Abas tadi.

Mama tahu betul perasaan putri kecilnya itu.

Sedangkan berbeda dengan sang Papa.

Papa merasa usia Mely masih muda. Mely baru berumur awal 20an. Dan baru bekerja beberapa waktu lalu. Ia merasa putrinya itu gadis kecil.

Rasanya tidak tega harus melepaskan Mely untuk orang lain. Hidup berumah tangga tidaklah mudah seperti yang ia bayangkan.

Akan banyak badai kehidupan yang akan menghantam.

Jika tidak ada penyangah yang kokoh, rumah tangga bisa hancur berantakan.Papa tidak mau Mely menyia nyiakan masa mudanya. Ia berharap Mely bermain sepuasnya, menikmati masa masa Indah, masa mudanya. Itulah yang sejak tadi ada dalam pikiran sang Papa.

Hanya saja Mely masih tidak terima. Baginya imur bukan patokan kedewasaan seseorang ah... pokoknya Mely dibuat kecewa dengan sikap Papanya. Dan sejak tadi ia murung dalam kamar.

Setelah berpamitan kepada Mama Papa Mely, Abas mencari Mely. Ia mohon ijin untuk berpamitan langsung kepada Mely.

Mama pun mempersilahkan Abas Masuk kedalam kamar, Mama membiarkan pintunya terbuka lebar. Abas masuk kedalam kamar tanpa ketukan. Dilihatnya Mely duduk membelakangi dirinya.

" Mel, aku pulang dulu ya..!" pamitnya.

Mely diam, tidak menjawab Abas.

" Mel, Aku pulang nih.... " kata Abas lagi.

Mely masih tak bergeming. Abas pun berjalan mendekati Mely. Dibaliknya tubuh Mely. Abas sedikit terkejut dibuatnya. Kedua mata Mely sembab, entah sudah berapa liter air mata yang ia tumpahkan. Abas yang semula merasa kecewa dengan sikap Papanya. Berubah jadi sedih. Ia bisa merasakan apa yang Mely rasa. Karena ia juga merasakanya.

"Udah, gak usah nangis, Besok aku jemput sama Mama ya!" ucap Abas mantap.

Ia memeluk Mely dan memupuk pelan punggung Mely untuk menenangkan gadis pujaannya itu. Mely seperti menemukan oase setelah berkelana di padang pasir seharian.

Hatinya menjerit kegirangan. Meski ia tak yakin Papanya akan semudah itu mengubah pilihannya, setidaknya ia percaya Abas akan memperjuangkan dirinya. Abas mengusap air mata di pipi Mely, Ia mengecup pipi Mely dan bangkit berdiri. Tidak enak di kamar berduaan lama lama.

Abas mengandeng tangan Mely keluar. Sampai di luar gengaman tangannya ia lepaskan. Ia tidak enak sama Papa Mama Mely. Akhirnya mereka bertiga undur diri, meninggalkan Mely sendirian.

Bersambung

1
komalia komalia
kece badai semua visual nya
komalia komalia
udah lima tahun aja gimana kisa si evi nya dan itu siapa tuh yang menjebak si abas sama mely ko engga tau kabar kabar nya ya ntah masih hidup atau udah mati
komalia komalia
iya berarti si abas sama si evi sebelum nikah udah hubungan badan ya
komalia komalia
babu mungkin hahaha
komalia komalia
cinta buat kamu bodoh abas
komalia komalia
abas kamu jangan main api Kalau engga mau terbakar
komalia komalia
manggil nama Si sama suami
komalia komalia
ko cerita nya kaya gimana gitu karakter abas nya kaya gimana kaya kurang greget gitu
komalia komalia
ko engga ada di pingit kalau orang jawa kan harus ada pingitan kedua mempelai di larang ketemundan keluar rumah
komalia komalia
masih manis manis nya
komalia komalia
aduuh thot bisa aja kamu ya
Yelly _16
bagus
Bunda Aish
Luar biasa
Sutiah
ckckck 🤨 Evi" bener" nih kamu,ngasi warisan ke anak kok warisan dendam,gaje banget sih kamu tuh,mana sdh metong lg, tu lah kenapa kamu jd org jahat bgt,padahal kan dulu kamu yg ninggalin Abas kok jd kamu yg sakit hati sih 🙉
gk abis fikir aq
Sutiah
jiaah....aq kok baru moco judul seng iki yo 🙉
gek ono seng keri ternyata 😅
afa chai
pokok mantul karya nya kak 1 ini
Ayux Sri Ardani
mampir
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
yuli93
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!