NovelToon NovelToon
Really? We Got Married?

Really? We Got Married?

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:297.3k
Nilai: 5
Nama Author: Axelle Axa

Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.

Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14. Ghost

Lou terbangun dari tidurnya dan merasa sesuatu yang berat dan hangat menimpanya. Saat dia membuka mata, dia bisa melihat tangan yang kuat memeluk erat dirinya, kakinya dililit dengan kaki panjang orang lain. Tanpa harus berpikir terlalu lama, Lou tahu siapa orang yang tengah memeluknya seperti gurita ini—Sean.

Lou mencoba melepas tangan Sean dan mendorong kakinya pelan, namun gerakan ini sia-sia karena Sean malah mengeratkan pelukannya. “Sean, lepaskan.” Lou berbisik pelan, suaranya serak, tapi penuh dengan kekesalan.

Sean tak menggubrisnya, dia masih bersikap tuli dan terus memeluk Lou. “Sean!” Nada Lou semakin kesal. Sean tertawa pelan dari belakang Lou, suara tawanya lembut dan menggelitik telinga Lou, membuatnya sedikit merinding.

“Menyingkirlah.” Lou mencoba mendorong Sean lagi dan kali ini Sean sedikit melonggarkan pelukannya. Lou berbalik untuk mendorong Sean lebih jauh dengan tendangannya, tapi tak pernah menyangka bahwa Sean akan menariknya kepelukannya lagi, kali ini hidung Lou membentur dada Sean yang keras.

“Uhh.” Lou meringis sambil mengusap hidungnya pelan. Matanya sedikit berair karena kesakitan. Lou menatap Sean tajam seolah ingin menggilasnya dengan batu, tapi tatapan itu malah terlihat berbeda dari sudut pandang Sean. Air mata Lou membuat matanya lebih cerah dan pipinya memerah karena marah, di mata Sean, Lou sangat cantik saat ini.

Lou ingin mengumpat dan mengutuk Sean, tapi kemudian menahan diri saat dia mengingat kejadian kemarin.

Sean menatap Lou yang tiba-tiba menjadi patuh dan sedikit bingung. “Ada apa?” tanyanya lembut.

Lou menggeleng pelan dan ekspresinya kembali tak peduli.

“Sayang, apa kamu terluka kemarin?” tanya Sean saat tangannya memeriksa tubuh Lou.

“Kau ingin memeriksa atau mengambil keuntungan!” Lou meneriaki dan memukul tangan nakal Sean yang menyentuh tubuhnya secara acak.

“Aku hanya ingin memeriksa kondisimu.” Sean tersenyum sambil terus menatap Lou. Tatapan ini terasa sangat panas dan mengganggu untuk Lou, jujur saja, Sean memang terlihat sangat tampan, apalagi saat tersenyum.

Lou mendengus untuk mengalihkan kegugupannya dan berniat pergi, bahkan sepuluh mulut pun tak akan cukup untuk menghadapi Sean yang tak tahu malu. Sean menarik tangan Lou pelan, namun Lou menyentaknya saat itu juga. Mengambil keuntungan, Lou berlari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Meninggalkan Sean yang tertawa geli di tempat tidur.

Lou bersandar di pintu dan mengatur napasnya. Tangannya ada di dadanya dan dia bisa merasakan debaran jantungnya. Lou menunduk bingung, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku berdebar? Lou memikirkan beberapa hal dan wajahnya memerah saat dia mengingat senyum Sean. Lou menggelengkan kepalanya cepat dan menepuk pipinya pelan. “Tidak! Tidak mungkin!” Lou berujar ngeri.

Lou menarik napas dalam berulang kali sebelum membasuh wajahnya dengan air hangat, tapi dia tetap merasa tak puas, panas di pipinya malah semakin menjadi. Alhasil dia membasuh wajahnya sampai tubuhnya mulai sedikit basah. Lou menghela napas dan keluar dari kamar mandi, namun dia tak menemukan Sean dimanapun, ini membuatnya merasa sedikit aneh, namun langsung mengabaikannya.

Lou duduk di samping tempat tidur dan melihat ponsel pintarnya di nakas sebelah tempat tidur, entah siapa yang meletakkannya di sana. Dia lalu mengambil ponsel itu dan mencoba menghidupkannya, tapi ponselnya tak mau menyala. Lou ingat betul baterai ponselnya penuh kemarin dan seharusnya tidak akan mati sekarang. Dia meraih charger di dalam laci dan mengisi ulang daya ponsel. Setelah pengisi daya terhubung, dia mengaktifkan ponselnya dan kemudian menemukan sesuatu yang aneh.

Ponsel itu terus mengalami glitch dan terasa sangat panas. Lou mengerutkan keningnya saat dia menekan sebuah aplikasi di menu ponsel pintarnya. Lou adalah seorang hacker dan dia membutuhkan perangkat yang aman sehingga kerahasiaan identitasnya bisa terjamin, jadi dia telah menginstal aplikasi yang dia buat khusus untuk mendeteksi segala macam aplikasi mata-mata. Lou terdiam saat melihat beberapa aplikasi hantu terpasang di ponsel pintarnya.

Lou menekan aplikasi hantu itu dan mulai memeriksa dengan hati-hati, jangan sampai dia membuat si pemasang sadar kalau dia sudah mengetahui keberadaan aplikasi hantu ini. Lou terus sibuk dengan ponselnya selama beberapa waktu sampai dia akhirnya menemukan akar dari aplikasi hantu itu.

Lou mengerutkan keningnya dan kemudian berujar, “Musuh memang selalu bertemu di jalan sempit.”

Lou tahu aplikasi ini dan siapa penciptanya. Aplikasi ini disebut Ghost dan sangat terkenal di dunia bawah, diciptakan oleh seorang hacker asal China dan dia juga seorang wanita. Berbeda dengan Lou yang selalu merahasiakan identitasnya, pencipta ghost sangat terkenal baik di dunia bawah maupun atas. Perbedaan kepribadian inilah yang akhirnya membuat mereka tak pernah akur dan selalu mencoba saling menyerang.

Dunia bawah adalah istilah yang digunakan untuk merujuk dunia khusus yang diciptakan para mafia. Mereka memiliki sistem dan aturan yang tidak terikat pada negara manapun, namun kekuatannya cukup untuk mengendalikan negara manapun. Singkatnya mereka sebenarnya penguasa dunia dari balik layar.

Lou pernah mengenal dunia ini dulu sekali, namun dia kemudian meninggalkannya dan tak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi sekarang sedikit demi sedikit dia ditarik sekali lagi ke dunia dan kehidupan yang sangat dia benci itu.

Bahkan seseorang sebenarnya berani memasang Ghost di ponsel pintarnya. Lou menunduk dan menatap layar ponsel dengan tatapan dingin. Siapa yang melakukannya? Kapan dia melakukannya?

Ghost dapat digunakan untuk menyadap sebuah ponsel, juga dapat berfungsi sebagai pelacak, dan yang paling menyebalkan aplikasi ini sangat sulit untuk dideteksi. Kalau bukan karena Lou memiliki aplikasi pertahanan khusus di ponselnya yang menyebabkan glitch saat saling serang dengan aplikasi hantu itu, dia tak akan pernah menyadari ada hal seperti itu yang terpasang di ponsel pintarnya.

Lou mematikan ponselnya dan dengan tak acuh meletakkannya kembali ke nakas. Bila memang mereka ingin melacaknya, silahkan saja. Lihat apa mereka punya kemampuan!

Hanya saja yang jadi masalah sekarang adalah siapa yang memasang aplikasi ini di ponsel pintarnya. Lou berpikir keras dan masih tak bisa memikirkan orang lain selain Sean. Kecurigaan Lou semakin besar.

Lou terus diam dan berpikir, dia bahkan tak menyadari Sean yang baru saja masuk kalau bukan karena pria itu menghampiri dan mengusap rambutnya. Lou mengangkat kepala dan melihat Sean berdiri di depannya dengan senyum lembut.

“Ayo makan,” ujarnya sambil menyentuh pipi Lou. Lou menghindari tangan Sean dan berjalan ke arah sofa di kamar itu, tempat Sean meletakkan beberapa makanan yang baru saja dia bawa dari dapur.

Sean melihat mood Lou tidak terlalu baik, jadi dia tidak mencoba mengusilinya lebih jauh. Dia mengikuti Lou dan duduk di samping Lou.

Lou menatap semua makanan di atas meja dan sedikit terdiam. Semuanya adalah makanan kesukaannya. “Katakan padaku, apa kau stalker?” Lou mencibir ke arah Sean.

Sean tersenyum penuh arti kepada Lou dan ini membuat Lou gugup. Dia merasa seolah Sean tahu apa maksud sebenarnya dari pertanyannya. Tapi dia sama sekali tak meninggalkan jejak kemarin, mungkin dia hanya berpikir terlalu banyak.

Sean tersenyum dan mengambil sendok. Dia memotong makanan dan menyuapkannya ke mulut Lou. Lou ingin menolak, tapi siapa yang sangka perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat. Jadi dia kehilangan alasan dan hanya bisa membiarkan Sean menyuapinya dengan senyum puas terpampang di wajah tampannya.

“Kamu tidak takut?” Sean tiba-tiba bertanya.

Lou terdiam. “Hah?”

“Sayang, seseorang nyaris membunuhmu kemarin, tapi kamu terlihat sama sekali tidak takut.” Sean bertanya masih sambil tersenyum.

“A-aku takut.” Lou tergagap, dia merasa seolah Sean melihat langsung ke dalam hatinya. Dia mencoba menghindari tatapan Sean dan mengambil sendok sendiri untuk makan.

Sean tersenyum. “Sungguh?”

“Ya.” Lou mengangguk tanpa melihat ke arah Sean lagi.

“Kalau begitu aku harus menenangkan istriku.” Sean duduk lebih dekat dan memeluk Lou erat. Wajahnya tenggelam di lekukan leher Lou, membuat Lou nyaris berteriak karena kaget.

“Se-Sean!” Lou panik mencoba mendorong Sean, namun usahanya sia-sia, ‘gurita’ itu memeluknya sangat erat.

Setelah lelah berjuang, Lou akhirnya memilih diam. Sean tersenyum puas dan memeluk Lou lebih erat, namun sama sekali tak menyakiti Lou. Keduanya diam dalam posisi itu selama beberapa saat.

“Sean, sejak kapan kau menyukaiku?” Lou tiba-tiba bertanya. Setengah wajahnya bersandar di bahu Sean, hanya menunjukkan matanya yang ragu.

“Sudah sangat lama.” Lou tak menyangka Sean akan menjawab dengan serius, jadi dia sedikit kaget mendengar jawaban itu.

“Sangat lama itu seberapa lama?” Lou bertanya lagi.

Sean tersenyum dan berdeham pelan. “Mungkin lima tahun,” jawab Sean pelan.

Lou tertegun. Lima tahun? Lalu bukankah itu sejak … sejak dia masih bersama Laughing Coffin!

Keduanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing sampai terdengar suara ketukan di pintu. Sean hanya diam saja seolah tak ingin peduli, jadi Lou hanya bisa menggantikannya untuk menjawab. “Siapa?” tanya Lou sedikit tak acuh.

“Masha, Nyonya.” Suara dingin menjawab.

“Dia mencarimu.” Lou menusuk perut Sean dengan sengaja. Sean tertawa pelan.

“Ada apa?” tanya Sean kemudian.

“Seseorang ingin menemui Anda, Bos.” Jawaban Masha terdengar lagi.

Sean diam sejenak sebelum menjawab, “Suruh tunggu.”

“Tidak baik membiarkan orang menunggu.” Lou langusng menimpali dengan cepat, dia akan sangat senang bila gurita ini berhenti memeluknya, jadi dia akan dengan senang hati mendorongnya pergi.

Sean menghela napas. “Beri aku ciuman dan aku akan menemui orang itu.” Sean menatap Lou dengan senyum usil.

“Ciuman apa? Kenapa itu jadi urusanku, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan ini!” Lou memukul Sean yang mencoba menciumnya.

“Kalau begitu aku akan duduk di sini sampai kamu menciumku.” Sean mengangkat bahunya dan tersenyum untuk menggoda Lou.

Nadi di dahi Lou berkedut pelan dan dia ingin berbalik pergi, tapi mengingat kepribadian kuat Sean, Lou hanya bisa menghela napas. Bila dia mengatakan tak akan pergi, maka dia tak akan pergi, dan akan mengusik Lou seharian ini dan dia tak akan bisa menghitung seberapa besar kerugiannya.. Memikirkan harinya yang tenang akan hilang Lou hanya bisa menggertakkan gigi dan menerima kekalahan. Tidak seperti dia akan mati setelah mencium seseorang!

Lou menghela napas dan mendekati Sean, Sean tersenyum puas. Lou memperpendek jarak di antara mereka dan melihat pipi kanan Sean sacara diam-diam. Ciuman di pipi juga sebuah ciuman kan? Hahaha.

Lou maju dan mendekatkan wajahnya ke pipi Sean, namun sama sekali tak menyangka bahwa Sean akan menoleh ke kanan, sehingga ciuman itu mendarat tepat di bibirnya.

“Ah.” Lou berteriak pelan saat Sean menangkapnya dan memperdalam ciuman mereka. Dia baru melepaskannya setelah membuat bibir Lou sedikit bengkak.

Lou terengah-engah karena kesulitan bernapas, namun dia masih melemparkan tatapan kematian untuk Sean. Sean tertawa sambil mengusap kedua pipi Lou dengan tangannya. “Aku akan kembali dengan cepat dan kita akan melanjutkannya lagi,” bisiknya pelan setelah mencium hidung Lou.

“Tidak! Jangan kembali!” Lou memukul Sean pelan. Sean melihat pipi Lou yang memerah antara malu dan marah, membuatnya semakin manis.

“Istriku sangat cantik,” pujinya dengan sepenuh hati, membuat jantung Lou jadi semakin kacau.

“Pergi! Pergi!” Lou mendorong Sean pelan dengan kakinya, namun Sean menangkap kaki ramping itu dan menggelitik telapaknya.

“Ah!” Lou menarik kakinya karena geli, Lalu menatap Sean dengan tatapan segarang mungkin.

Sean tertawa dan ingin memeluk Lou lagi, namun dia menahan diri. Bila dia terus menggoda istrinya itu, dia mungkin tak akan pernah meninggalkan kamar ini.

“Baiklah aku pergi. Selesaikan makananmu.” Sean mengusap kepala Lou lembut. Mengabaikan tatapan kesal Lou. Setelah itu dia berbalik dan pergi dengan wajah riang.

“Dasar tak tahu,” umpat Lou penuh keluhan. Dia menyentuh dadanya dan merasakan jantungnya berdebar menggila.

1
elfrine hingis
hai kakk! balik baca lagi nih aku di 2025 hihi karna emang sesuka itu 😍

anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
Anonim
thor ayo up lagi dong after story nyaaa
Anonim
bagus bangetttt ceritanyaaa! ayo kaaak dilanjut lagi pweasee udah nunggu dari 2021😭😭
Adinda
kakk extra partnya donggg😁😁😁
sakura
...
justFlio
biar bintang berbicara
justFlio
gemessssss bangett..

ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐
Modali Maluku
🤩
Partiah Yake
uhhhh, merasa ikut dicintai🫠
Ayu Lestari
Suka banget ceritanya dari dulu ❤
Faradiba Firdaus
kak extra partnya dongg
sakura
...
Tri Widayanti
Bar bar😁
Amelie. review
aku udah baca ini belasan kali dan ga pernah bosan. sukses terus kak Axa
Izzy
rebirth of the wildest poison empress kok gk sekalian di up di sini kak?
Giana Nanini
😁
gracia_ratih
kerennn
gracia_ratih
wahhhh daebak
gracia_ratih
goooooooooooddddddd
floo
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!