Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
"Sejak kapan ibu dekat dengan om tadi? Kenapa ibu bisa pulang bersamanya?" tanya Isa saat keduanya tengah berbaring di ranjang, malam ini Isa ingin tidur di kamar sang ibu.
Indira tergagap mendengar pertanyaan putranya, dia ragu bagaimana cara menjelaskannya. Salah sedikit, bisa-bisa Isa mengintrogasi nya dengan pertanyaan beruntun yang belum tentu mampu dia jawab.
Kemudian Indira mencoba mengalihkan perhatian Isa, dokter itu memeluk sang putra seraya mengusap pucuk kepalanya dengan sayang. "Sudah waktunya tidur, besok Isa harus ke sekolah kan?"
"Iya Bu, Isa tau. Tapi jawab dulu dong pertanyaan Isa tadi!" desak bocah ingusan itu, dia tidak akan bisa tidur sebelum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan.
Indira mengerutkan keningnya, kemudian menghela nafas panjang dan mencoba menceritakan awal mula pertemuannya dengan Nala. Indira berharap Isa dapat mengerti, yang jelas tidak ada hubungan apa-apa diantara dia dan Nala.
Namun jawaban Indira barusan justru membuat Isa semakin penasaran. Bocah itu tau kalau sebenarnya Nala adalah pria yang baik, dia juga bisa merasakan ketulusan hati Nala saat berbincang dengannya di taman tadi. Bahkan sentuhannya membuat hati Isa terasa damai.
"Bu..." gumam Isa mendongakkan kepalanya dan mematut manik mata Indira dengan sendu.
"Hmm... Kenapa lagi?" sahut Indira.
"Sebenarnya ayah Isa dimana sih, Bu? Ibu pernah bilang kalau ayah sudah meninggal, tapi sampai detik ini Isa belum pernah melihat makamnya, bahkan fotonya pun tidak. Apa selama ini ibu berbohong?"
Deg...
Indira terkesiap dengan mata membulat sempurna, jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan putranya barusan.
Akhirnya yang Indira takutkan terjadi juga. Sekarang bagaimana cara menjelaskannya?
Indira tau Isa sudah semakin dewasa, lambat-laun bocah itu harus tau cerita yang sebenarnya. Akan tetapi, mana mungkin Indira berani mengatakan semuanya. Di mata dunia, Isa adalah anak yang tidak diakui, dia lahir tanpa ikatan pernikahan dan tidak tau siapa ayah biologisnya.
Mendadak manik mata Indira berbinar menahan cairan yang sudah menggenang. Selain tidak dapat berkata-kata, Indira juga kasihan pada anak malang itu. Tidak seharusnya Isa lahir dan tumbuh seperti saat ini, Indira benar-benar tidak tau siapa pria yang malam itu mengambil kesuciannya dan meninggalkan benih di rahimnya. Dia bahkan tidak pernah mencari tau tentang kejadian di malam itu.
Indira ingin melupakan semuanya, karena itu dia tidak pernah kembali ke kota kelahirannya dengan alasan agar kejadian itu tidak lagi mengganggu pikirannya.
Akan tetapi, kini luka lama itu harus tergores kembali. Rasanya sangat menyakitkan, apalagi ada Isa yang harus menanggungnya. Andai keajaiban itu ada, Indira hanya ingin bertemu pria itu sekali saja. Dia ingin tau apakah pria itu memang sengaja menjebak dirinya atau hanya merupakan kecelakaan semata.
Namun semua itu mustahil untuk dilakukan. Jangankan namanya, wajahnya saja Indira benar-benar tidak ingat. Bodohnya dia karena langsung melarikan diri pada saat itu, andai dia bisa sedikit tenang mungkin dia bisa mengenali wajah itu meski hanya sepintas saja.
"Ada waktunya Isa tau, tapi bukan sekarang. Ibu akan menceritakan semuanya saat Isa sudah siap." jawab Indira mencoba meyakinkan sang putra.
"Apa itu artinya ayah masih hidup?" tanya Isa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ibu juga tidak tau." geleng Indira yang sudah kehabisan kata-kata. Meski sebenarnya ada rasa benci, tapi dari lubuk hati terdalam Indira berharap pria itu masih hidup dan suatu hari nanti bisa bertemu dengan putranya walaupun sekali.
"Sudah, sekarang waktunya tidur!" imbuh Indira seraya menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuk Isa.
"Baiklah, Isa tidak akan mendesak ibu untuk mengatakannya sekarang." Isa yang sejatinya merupakan anak penurut, kini memilih tidur sembari memeluk sang ibu. Dia mengerti bagaimana susahnya Indira membesarkannya tanpa seorang ayah, Isa hanya marah pada pria yang begitu tega menelantarkan mereka berdua.
Di rumah sakit, Nala tengah tertegun di atas sofa yang tengah dia tiduri dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Mendadak ingatannya kembali tertuju pada Isa, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Meski baru pertama kali bertemu, Nala langsung menyukai bocah itu, sama seperti pertama kali menemukan Nasya beberapa tahun yang lalu.
Sebenarnya Nala bukan tipe pria yang terlalu suka dengan anak-anak, tapi entah kenapa hatinya langsung luluh ketika melihat kedua bocah itu? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Apa ini ada hubungannya dengan Indira? Apa Nala menyukai wanita itu sehingga dengan begitu mudah menyukai Isa?
Entahlah, kepala Nala rasanya ingin pecah jika terus saja memikirkan semua itu. Sekarang dia hanya ingin istirahat, dia benar-benar lelah mengurus Nasya seharian. Apalagi setelah siuman tadi, Nasya begitu rewel hingga akhirnya kembali tertidur.
"Papa jahat, aku benci papa. Papa bukanlah orang yang baik, papa begitu tega meninggalkan kami, papa tidak layak..."
Deg...
Nala tiba-tiba tersentak dengan mata membulat sempurna, seketika keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya. Baru saja dia terlelap, tapi malah mendapat mimpi aneh yang dia sendiri tidak tau siapa yang tengah memakinya.
Nala segera duduk dan menumpukan kedua sikunya di atas dengkul, dia mengusap wajah dengan kasar seraya menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Ya, suara yang dia dengar barusan tidak seperti mimpi. Semuanya terasa sangat nyata, bahkan dia seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Nala kemudian mengerjap dan memutar leher ke arah Nasya yang sedang tertidur pulas di atas brankar. Nala menggelengkan kepalanya, jelas suara itu bukan berasal dari Nasya tapi dari seorang bocah laki-laki.
Siapa sebenarnya yang datang ke dalam mimpi Nala? Lalu kenapa bocah itu memanggilnya dengan sebutan papa?
Nala tidak mampu lagi untuk berpikir, kepalanya mendadak pusing yang membuat penglihatannya berkunang-kunang. Rasanya ruangan itu berguncang seperti diterpa badai berkekuatan besar.
"Bik Sumi, Bik.." panggil Nala dengan nafas terengah, bahkan suaranya sulit sekali untuk didengar.
"Bik..." panggil Nala lagi seraya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan sangat hati-hati meninggalkan ruangan itu karena Sumi sama sekali tidak mendengarnya.
Di luar, Nala menemui seorang suster di lobby. Dia meminta bantuan pada suster itu untuk memberinya obat pereda rasa sakit, akan tetapi suster itu tidak berani memberikan apa-apa dan malah meminta Nala masuk ke ruang pemeriksaan.
Dengan terpaksa Nala hanya mengangguk lemah, dia sendiri tidak tau entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Beberapa menit kemudian, Nala akhirnya diberi obat setelah selesai melakukan pemeriksaan. Menurut seorang dokter jaga, Nala hanya kecapean dan sedikit kekurangan darah. Mungkin karena selama ini Nala terlalu cuek pada kesehatannya, sekarang dia disuruh istirahat agar tubuhnya kembali fit.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘