Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin menikah lagi
Hasan duduk di sofa sambil memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit yang Ia rasakan. Sesekali Pria itu memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Berulang kali Ia menghela nafas, sembari melirik kearah pintu namun yang di tunggu tak kunjung datang juga.
" Assalamualaikum. " Sya mengucapkan salam ketika masuk kedalam rumah
Bukannya menjawab salam Hasan justru menyambutnya dengan muka masam.
" Kamu dari mana saja, jam segini baru pulang. Apa begini tabiat baik seorang Istri, pergi tanpa ijin atau sekedar memberi kabar pada suaminya. "
Sya menatap heran pada suaminya, Ia tidak menyangka kalau suaminya akan semarah itu kalau dirinya telat pulang.
" Mas saja yang kenapa, sejak pagi ponsel nggak aktif. Coba periksa ponsel Mas, ada apa nggak kalau aku pamit. "
Sya meninggalkan Hasan seorang diri di ruang tengah, Ia masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Bagaimana pun juga Ia baru dari rumah sakit, Ia tidak ingin membawa kuman dari luar untuk suaminya.
Hasan mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya, Ia heran karena ponselnya mati.
" Eh, kok mati sih. " Gumam Hasan.
Ia pikir karena lupa ngisi daya, namun setelah di sambungkan ke pengisi daya ternyata masih banyak.
" Nggak habis kok, tapi kenapa mati. "
Hasan memeriksa panggilan masuk, ternyata ada dua puluh panggilan masuk dari nama Istriku. Hasan kembali memeriksa pesan via aplikasi hijau, ternyata begitu banyak pesan dikirim Sya, bahkan hampir setiap jam.
" Mas, ingat Satrio. Aku ijin keluar, bertemu dengannya sebentar. "
Rahang Hasan tanpa Ia sadari mulai mengeras
" Mas, aku makan bersama Mas Satrio, boleh ya. "
" Mas, aku kerumah sakit. Mau jenguk adik Mas Satrio, sekalian jenguk Ayah. "
" Mas, Mas sudah pulang ya. Tunggu sebentar ya, aku masih singgah di supermarket. "
" Mas, aku mau beli jajanan kesukaan ku di pinggir jalan. "
Hasan menghela nafas, Ia melihat jarak waktu pesan yang Ia terima. Ternyata Sya selalu menghubunginya terlebih dahulu, namun karena ponselnya tidak aktif jadi Sya mengirim pesan.
Hasan naik kelantai dua, Ia melihat Sya yang sedang menunaikan kewajibannya. Hasan memperhatikan gerak-gerik Istrinya hingga selesai.
" Mas, Mas nggak sholat. " Tanya Asma yang sedikit terkejut melihat keberadaan suaminya.
Hasan bingung dan gugup, Ia jadi serba salah menghadapi Sya.
" Kenapa Mas, apa Mas lapar. Aku siapkan dulu ya. "
Sya meninggalkan Hasan di kamar mereka, Ia menuju dapur untuk menghangatkan masakan yang sudah Ia masak sebelum pergi.
Sementara Hasan di kamar masih di landa kebingungan.
" Dia itu kenapa sih, aku pikir dia marah tadi. Tapi kenapa dia masih mau mengurus semua keperluan ku. "
Hasan gusar, Ia langsung keluar menemui Sya di dapur.
" Sini Mas, biar aku ambilkan. Mas cukup duduk saja. "
Hasan akhirnya memilih diam sambil mengawasi gerak-gerik Sya.
" Silahkan Mas, dimakan. Mumpung masih hangat. "
Sya duduk tepat di depan Hasan, hanya sekedar menemaninya agar tidak sendirian menikmati makan malamnya.
Setelah makan malam mereka kembali ke kamar, Sya menunggu suaminya siapa tau Pria itu memerlukan bantuan nya.
" Kenapa diam Mas, sejak tadi Mas diam saja, apa Mas masih marah padaku. " Tanya Sya.
Hasan memandangi ponselnya, sebenarnya ada yang ingin Ia katakan tapi gengsinya melebihi segalanya.
" Apa Pria itu mantan kekasihmu dulu. " Tanya Hasan.
Sya mendongak, menatap wajah suaminya.
" Kekasih, maksud Mas. Mas Satrio, gitu. "
Hasan mengangguk pelan
" Kenapa Mas bertanya begitu, apa ada masalah. "
Hasan menggeleng pelan
" Apa dia cinta pertama mu, sebelum menikah dengan ku. "
Sya menatap suaminya heran, kenapa malah membahas mantan dan juga cinta pertama.
" Gini Mas, bagiku masa lalu adalah masa lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang tidak harus di ingat. Karena saat ini aku sudah menikah, dan aku sudah melupakan semuanya. Baik itu mantan ataupun cinta pertama, aku hanya ingin mengabdi pada Pria yang sudah menjadi suamiku. "
Entah mengapa Hasan merasa tidak percaya kalau Sya berkata jujur.
" Munafik, apa begitu mudah bagimu melupakan cinta pertama mu hanya karena kamu sudah menikah dengan orang lain. "
Lagi-lagi Sya terkejut dengan ucapan Hasan yang mengatakan dirinya munafik.
" Sudahlah Mas, sebaiknya kita tidur. Kalau kita terus membahas ini, aku takut akan membawa masalah untuk kita berdua. "
Sya ingin merebahkan tubuhnya namun belum juga rebah sempurna, Ia di kejutkan dengan pernyataan Hasan.
" Sya, aku..... aku ingin menikahi cinta pertama ku, aku.... aku ingin menikahi Lusi secepatnya, bagaimana menurutmu. "
Sya menatap mata Hasan, mencoba mencari kebenaran atas ucapan suaminya itu.
" Seharusnya kamu tidak menolak apalagi menghalangi kami, aku akan tetap bertanggung jawab padamu. Aku hanya minta ijin menikahi dia, itu karena kami sudah lama menjalin hubungan dan aku kasihan padanya. "
Sya mencoba mengatur emosinya, Ia merasa sesak. Rasanya Ia merasa kesulitan walau hanya untuk sekedar bernafas.
" Lakukan apapun yang Mas ingin lakukan, tapi sebelum itu ceraikan aku dulu. Setelah itu kamu bebas menikah dengan siapapun. "
Sya menarik selimut nya dan menutup tubuhnya sampai pundak, Hasan menatap Istrinya yang hanya terlihat kepalanya saja.
Sya mencoba memejamkan mata, buliran bening berhasil lolos dan jatuh membasahi pipinya.
Hasan ikut rebahan membelakangi Sya, Ia mengingat permintaan Lusi siang tadi, Ia ingin Hasan menikahinya.. Tidak masalah walau di jadikan yang kedua.
" Sya. " Panggil Hasan pelan namun tidak ada jawaban.
" Maafkan aku soal tadi ya. "
Merasa tidak ada jawaban dari Sya, Hasan pun akhirnya ikut memejamkan mata dan ikut larut dalam mimpinya.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan