Lanjutan Penyesalan Terdalam CEO Arogan
Dia menciumku. Kumis tipisnya itu mengenai permukaan kulitku. Jantungku pun berdetak tak menentu. Aku terhanyut dalam setiap sentuhannya. Tapi pantaskah seorang penggoda sepertiku tergoda olehnya?
Perhatian!
Novel ini menggunakan sudut pandang campuran. Jika belum terbiasa, harap membacanya pelan-pelan agar tidak gagal paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Goda Aku
Jake, sudah. Aku ini manusia biasa yang bisa tergoda.
Jake seolah ingin mempermainkan hasrat ini. Dia seperti tahu bagaimana diriku yang sebenarnya. Jadi hal yang seperti ini pun serasa tidak perlu ditutup-tutupi. Dan aku hanya bisa melihat dada bidangnya saat semua kancing kemejanya itu terlepas. Kulihat dadanya itu begitu kekar untuk menjadi sandaran dan juga peganganku. Jake memesona di penglihatanku.
"Come on, Babe. Open your clothes," katanya yang membuatku menelan ludah.
"Jake, nanti ada yang menyadap video call ini." Aku menolaknya karena takut.
"Tak ada. Semuanya aman. Terkecuali jika kau ingin merekamnya sebagai kenang-kenangan." Dia juga mulai melepas sabuk celananya.
"Jake ...."
"Aku menunggumu, Babe." Dia benar-benar menginginkannya.
Tak tahu mengapa dia seperti ini. Apakah dia sedang mabuk? Aku pun tak mengerti. Jake mengajakku untuk terus bervideo call dan menuruti kemauannya. Aku jadi heran, kemarin dia ke mana saja? Kenapa saat jauh malah menginginkannya?
"Jake, kau akan menyesal. Kau akan kelelahan nanti." Aku memperingatkannya.
"Semua milikmu, Beb. Aku milikmu." Dia makin menjadi-jadi. Sesuatu itupun dia perlihatkan padaku.
"Jake?!!"
"Hisap, Lilia." Dia memintaku untuk menghisapnya dari jauh.
Bak sudah tak tertahankan, hasrat yang selama ini dipendam ternyata tak bisa menunggu lebih lama. Jake pun memintaku melakukan sesuatu untuknya lewat video call ini. Dan tentu saja hal itu membuatku menelan ludah berulang kali. Aku tak percaya jika Jake akan senekat ini. Dia semakin nakal menjadi-jadi.
Pada akhirnya aku pun mulai melakukan apa yang dia inginkan. Kulepas satu per satu kancing piyama tidurku. Dan kulihat dia memerhatikannya dengan saksama. Raut wajahnya menyiratkan keinginan yang begitu menggelora. Lalu jika sudah begini apakah aku harus menolaknya? Jake sudah menantikanku di sana.
Jake tidak bisa lagi menahan hasratnya. Hingga akhirnya sesuatu itupun terjadi di antara keduanya. Lewat video call mereka mulai melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam. Bak sudah benar-benar gila, cinta itu membutakan mereka.
Perpisahan membuat Jake menyadari jika hanya Lilia lah yang ia butuhkan. Perpisahan itu juga membuat Jake tersadar dari kesalahannya selama ini. Dan akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada Lilia. Ia memercayai Lilia sepenuhnya. Bahkan berani menanggung malu dari perbuatannya saat ini.
Cinta itu benar-benar gila. Membutakan insan yang sedang dimabuknya. Seperti apa yang Jake lakukan. Ia tidak peduli lagi dengan status dan kekuasaannya. Di hadapan Lilia, ia hanyalah seorang pria biasa. Sang pejantan itu telah luluh oleh betinanya.
Sementara itu...
Seorang wanita tengah mabuk di dalam bar tertutup yang ada di pinggir kota. Ia tampak frustrasi setelah mendengar keputusan hakim. Ia merasa dunia ini tak adil dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ialah Lea Kenandra yang tampak frustrasi dengan sidang perceraiannya.
Hakim ternyata hanya mengabulkan tuntutan cerainya kepada Jake, tidak dengan tuntutan pembagian setengah harta yang Jake miliki. Tentu saja hal itu membuat Lea geram bukan main. Ia telah habis banyak untuk memenangkan sidang perceraiannya. Tapi nyatanya, Jake tidak mudah untuk dijatuhkan. Pria berwajah muram itu telah berhasil memutar balik keadaan. Dan Lea hanya mendapat nafkah yang selama ini tidak Jake berikan.
"Apa artinya uang sebesar itu? Apa artinya?! Hah!!!" Lea frustrasi. Ia tak bisa menerima.
Meresahkan😐
semangat up up