Beberapa orang mendadak merasakan keanehan dengan dirinya. Semacam memiliki kekuatan sihir yang entah dari mana. Itu karena kekuatan para penyihir yang tersegel ribuan tahun terlepas. Membuat mereka yang dipercaya sebagai darah keturunan para penyihir dari masa lampau kini menjadi memilikinya.
Gadis cantik berusia 17 tahun bernama "Barbara Hailey" adalah salah satunya.
Diyakini memiliki darah keturunan penyihir legendaris yang hebat bernama "Anastasha Edith" oleh keluarganya, dia yang dipanggil Hailey akhirnya diundang ke suatu tempat di dunia penuh dengan sihir.
Mereka menyebutnya, Akademi Para Penyihir. "The Sorcerers Academy!"
Tempat berkumpulnya remaja-remaja yang ternyata mewarisi kekuatan para penyihir dari masa lampau.
Akan tetapi karena Hailey kesulitan dalam mengendalikan sihir, dirinyapun menjadi diremehkan oleh sebagian yang lain.
Jadi bagaimanakah cara Hailey agar dapat memenuhi takdirnya sebagai salah satu darah keturunan dari para penyihir terhebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: First Tournament, "Show Your Skills!"
Ketika Nyonya Horus atau si Kepala Sekolah Master Horus kembali, dirinya mengatakan kepada para calon penyihir bahwa mereka diizinkan kembali ke tempat penginapan setelah sesi penanda atau "Marked" usai. Dan si penanda juga langsung segera pergi dari akademi Virgo setelah sesi penanda di sana, untuk menandai para calon penyihir yang berada di satu akademi lainnya.
Akademi Taurus.
Mereka yang berada di satu akademi lainnya itu pasti sedang menunggunya. Jadi si penanda segera bergegas.
Dengan kereta kudanya, Ghidor si penanda pergi membawa kembali peralatannya menuju akademi kedua yang tempatnya jauh itu. Tapi sebuah buku miliknya yang mencatat kisah latar belakang kehidupan dari setiap calon penyihir atau peserta akademi di sana diserahkan kepada Kepala Sekolah Horus atau pihak Akademi Virgo sebelum dirinya pergi.
"Hey Hail.. Mau temenin aku nggak? Aku mau jalan keluar."
"Apa?! Thalia, ini sudah larut malam!" Hailey enggan. "Kepala Sekolah Horus menyuruh kita untuk langsung beristirahat malam ini!"
"Disamping itu... Ingat yang dikatakan Abe soal para saudari itu?! Mereka lebih sering menjalankan tugas kotornya saat malam hari," Lanjut si Hailey mengingatkan apa yang pernah dikatakan oleh satu orang kenalan pertama ketika mereka berdua baru tiba di Kota Peridot, atau dunia Mystical Ordon.
"Hah..., " Melepas nafas berat. Thalia berpikir sesaat dan memutuskan untuk tidak jadi keluar jalan-jalan. "Baiklah... ."
"Maaf. Hanya saja... Aku sudah terbiasa selalu berkeliling di sekitar perumahan tempat tinggalku sebelum waktu tidur," Tambah Thalia menjelaskan ajakannya. Menaiki tangga ranjang dan berbaring di ranjang kasur atas sana.
"Tung... Gu dulu! Kamu berjalan di tengah gelap larut malam?! Sendirian?! Apa kamu gila! Kamu sadar kalau kamu itu perempuan ya kan?! Itu terlalu berbahaya sendirian keluar rumah di larut malam hari!" Herannya mengerutkan dahi dan alisnya. Hailey sedikit membangkitkan kepalanya terpancing dari kedua tangan yang menopang santai di bawah kepala dan di atas bantal.
"Aku tidak sendiri kok! Pegasus selalu bersamaku, " Ucapnya sambil melirik dan mengelus kucingnya yang ditaruh di atas badannya yang berbaring.
"Thalia! Dengar! Ini bukan saran! Jangan kamu lakukan itu lagi mengerti?! Dan Pegasus mu itu, hanyalah seekor kucing! Dia bukan manusia! Dia tidak akan bisa menolongmu seperti layaknya manusia jika ada sesuatu yang buruk terjadi padamu!"
"Dia tidak bisa melindungimu!" Lanjut Hailey memperingatkan. Sedikit terbawa emosi karena ucapan Thalia yang mengungkap salah satu aktifitas di setiap malam harinya itu. Yang menurut Hailey itu terlalu bodoh untuk dilakukan.
"...Kamu tidak bisa melakukan rutinitas bodoh seperti itu terus menerus Thalia! Heean sepertinya tidak akan berumur panjang. Mau bersama siapa lagi kamu akan ditemani?! Dengan mencari yang lain di tempat penampungan hewan?! Aku yakin kamu tidak akan bisa melupakannya, walaupun kamu sudah mendapatkan yang baru sama seperti aku yang tidak bisa melupakan Melkior ketika dia... ."
Hailey tiba-tiba berhenti tidak melanjutkan kalimatnya yang sedikit terbawa emosi. Sadar kalau perkataannya itu semakin kemana-mana dan terlalu berlebihan. Juga mungkin memukul perasaan Thalia.
"...Maaf Thalia. Aku... Aku agak terbawa," Ucap Hailey menghela nafas lebih menenangkan diri.
"...Tidak apa," Balasnya dari balik ranjang kasur atas sana. "Yeah. Tapi kamu benar. Mungkin seharusnya aku begitu."
"Hail..., "
"Melkior yang kamu sebut itu... Siapa dia?! Apa dia kucing peliharaanmu?!" Lanjut Thalia matanya melirik ke samping_ bermaksud melirik kepada Hailey yang berada di ranjang kasur bawah.
"Melkior adalah anjing peliharaanku," Jawab Hailey membenarkan.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya si Thalia penasaran apa yang terjadi.
Menarik nafas berat, "Dia sudah tidak ada"
"Sudah tidak ada?! Ouh... Maksudmu...," Kalimat Thalia menggantung.
"Ya. Dia sudah mati. Dan hari itu adalah hari pertama kali waktu aku mendapatkan kekuatan sihirku," Hailey memandang tangan kanannya sendiri.
"Mendapatkan kekuatan ini... Tapi kerena kekuatan inilah tanpa aku sadari aku telah melukainya," Lanjut Hailey. Thalia di atas sana hanya diam mendengarkan.
"Maaf Hail. Aku turut berduka atas kehilangannya. Aku mem... ," Terputus.
Menggeleng, "Ah Sudahlah! Bisa kita jangan bahas ini lagi?!" Potong Hailey tidak mau melanjutkan. Langsung mengalihkan pembahasan.
"Seharusnya kita sudah tidur dan bukannya malah membahas ini!"
Ujar Hailey kemudian langsung memalingkan posisi baring tubuhnya ke arah dalam ranjang. Berusaha tidur dan tidak mau terumpan lagi untuk membahas sesuatu yang seharusnya tidak mau ia ceritakan.
...----------------...
Keesokan harinya Hailey, Thalia dan yang lainnya kembali berkumpul di Akademi. Tapi ada sedikit perubahan rencana untuk mereka. Salah satu rekan Master Horus ingin menguji sedikit beberapa dari mereka_ para calon penyihir muda.
Dia ingin diadakan sesi turnamen.
Tapi bukan turnamen yang sebenarnya. Turnamen yang sebentar lagi akan dimulai pagi itu bertujuan hanya hanya untuk mengetahui dan mengetes seberapa hebat kemampuan sihir pada masing-masing ke-32 peserta akademi. Juga menilai setiap kemampuan mereka.
Jadi mereka tidak perlu khawatir soal menang atau kalah. Mereka diminta untuk melakukan yang terbaik.
Turnamen diadakan di satu-satunya ruangan paling luas di Akademi. Ruangan yang di bangun khusus berduel atau bertarung. Ruangan itu tidak akan jadi tempat yang sama, yang akan digunakan pada sesi turnamen yang sebenarnya nanti. Sesi Final. Sesi turnamen yang sesungguhnya, dan menentukan siapa yang terbaik diantara mereka.
Hampir mirip seperti pada arena bertarung di dalam Colosseum. Hanya saja tidak semegah Colosseum. Ada beberapa baris bangku penonton di atas setiap tingkatan podium arena. Tapi tidak sebanyak seperti tingkatan podium yang ada di Colosseum. Dan tentunya tidak seperti Colosseum yang bagian atas arena bertarungnya terbuka_ tempat turnamen di Akademi mereka hampir sepenuhnya tertutup. Karena memang di dalam ruangan.
"Turnamen ini akan segera dimulai!!!" Suara Kepala Sekolah Horus benar-benar bergema menggelegar di ruang turnamen.
"Tuan Yeremion Cyllos ingin melihat seberapa jauh kalian mahir dengan kemampuan kalian sebelum tiba disini. Dia akan memperhatikan dan menilai setiap gerakan, dan sihir yang kalian gunakan," Lanjutnya. Kepala Sekolah Horus memperkenalkan salah satu rekan Master Akademi itu kepada mereka para calon penyihir.
Tubuhnya terlihat ramping atau kurus tapi mungkin itu karena tinggi badannya. Tubuhnya lebih tinggi dari tubuh kebanyakan pria atau pria tua pada umumnya. Bahkan tingginya mengalahkan Master Horus.
Master yang bernama Yeremion Cyllos di sana memandang lurus para peserta akademi dengan mata yang hijau menyala. Berdiri tegap dengan kedua tangan yang disantaikan di belakang punggungnya... Dia mengenakan pakaian jubah hampir menutupi kaki dengan selempang atau stola yang digantung di kanan dan kiri bahunya_ terlihat mirip seperti pakaian yang biasa dikenakan para Pastur.
Hanya saja banyak nampak simbol-simbol aneh pada kedua selempangnya. Simbol-simbol sihir.
Sebelum benar-benar memulai turnamennya, Kepala Sekolah Horus ingin menjelaskan sesuatu, dan juga memberi tahu beberapa peraturan dasar dalam turnamen pertama itu.
"Hailey...," Selip Thalia berbicara pelan kepada Hailey di saat Kepala Sekolah Horus sedang berbicara kepada mereka semua. "Maafkan aku soal malam tadi."
Terpancing, "Untuk apa?" Hailey sedikit melirik kearah sampingnya. Kepada Thalia yang berdiri tepat di sampingnya.
"Membuatmu menangis malam tadi," Lagi ucap Thalia pelan. Tapi pandangannya terus terpaku lurus arah depannya. Arah Kepala Sekolah Horus sedang terus melontarkan rantaian kalimat.
"Aku tidak menangis malam tadi!" Hailey menatap ke arah Thalia sambil memasang ekspresi wajah bingung. "Apa yang kamu bicarakan?!"
Mendengar jawaban dari Hailey... Thalia sontak menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung pula.
"Apa?? Hailey... Aku sungguh mendengarnya dengan jelas!" Ucap lagi Thalia benar-benar serius. Samar-samar terdengar tapi cukup jelas ditelinganya yang memiliki pendengaran tajam.
"Tidak. Itu bukan aku. Aku tertidur!" Hailey mengatakannya dengan jujur kalau itu bukanlah dirinya yang menangis. Dan sama sekali tidak tahu menahu tangisan apa yang dimaksud Thalia.
Hailey dan Thalia sejenak saling menatap dengan tatapan kebingungan.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu kalian berdua?!" Kepala Sekolah Horus memperhatikan mereka berdua. Hailey dan Thalia sontak tersadar dan kembali menghadapkan pandangannya ke arah depan. Yang lain menoleh kepada mereka berdua.
"Tidak...,"
"Tidak ada Kepala Sekolah Horus! Maaf," Ucap Hailey meminta maaf. Walaupun padahal Thalia yang memulai obrolan ilegal ditengah-tengah salah satu sesi terpenting.
"Akh! Mereka ini," Kumiko samar membuang nafas kesal.
Setelah suasana terinterupsi oleh pembicaraan Hailey dan Thalia yang tidak diketahui yang lain... Kepala Sekolah Horus kembali melanjutkan apa yang perlu dikatakannya, sebelum memulai turnamen yang diadakan dengan tanpa penonton dan penilaian dari para Dewan di sana.
Sedikit mengulang... Kepala Sekolah Horus menjelaskan kembali beberapa peraturan dalam turnamen itu. Tiga peraturan sederhana tapi cukup menuntut.
…
-Peraturan pertama: Tidak boleh menggunakan mantra atau sihir tipe gelap. Dark Magic. Karena sihir tipe itu terlalu berbahaya dan berisiko dapat membunuh lawan bertarung. Itu kerena tipe sihir Dark Magic juga tidak mudah untuk dikendalikan. Jika siapapun penggunanya gagal mengendalikan sihirnya, kekuatan sihir tipe Dark Magic itu sendiri yang malah akan mengendalikan diri penggunanya. Itu berarti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
-Peraturan kedua: Peserta yang berada dalam pertarungan atau duel sihir tidak boleh keluar dari arena turnamen yang telah disediakan bagi para petarung. Juga pertarungan tidak akan dinyatakan selesai sampai salah satu diantara kedua peserta akademi tumbang.
-Peraturan ketiga: Yang terkena serangan dan tumbang sekali saja akan dinyatakan kalah dalam turnamen.
…
"Turnamen dimulai!!" Suara menggelegar dari Kepala Sekolah Horus lagi. Di dalam kepalanya sudah menyusun lawan pertarungan untuk mereka. 32 calon penyihir muda.
Satu lawan satu.
"Pamela Ruimitry!!" Disebut nama yang pertama turun ke arena pertarungan.
"Melawan Elienor Humajest!! Satu lagi nama yang kedua disebut. Menjadi lawannya. Dan mereka berdua berdiri di sisi yang berlawanan di bawah sana.
Mereka yang belum ataupun yang sudah gilirannya nanti berada di atas podium terdepan_ berdiri menyaksikan mereka yang sedang berduel di bawah sana. Begitu pula dengan Kepala Sekolah Horus dan Yeremion Cyllos yang memperhatikan dari atas sana. Hanya saja tidak berkumpul bersama peserta akademi, yang beberapa dari mereka menyaksikan sambil bersender siku pada pembatas besi podium.
Hailey lebih mendekat ke besi pembatas, dan fokus memperhatikan mereka yang telah ditunjuk oleh Kepala Sekolah Horus di bawah sana. Memperhatikan mereka yang siap untuk berduel.
"Bertarung!!!" Tanda mulai dari Kepala Sekolah Horus. Lagi-lagi membuat ruangan bergema dengan suaranya yang menggelegar.
Saat itu juga Pamela Ruimitri mengetuk bentur sepatu kiri yang dipakainya dengan kaki sebelah kanannya. Sepasang sayap lalu muncul pada setiap sepatu yang dikenakannya. Dan dia perlahan mulai terangkat melayang dengan sepatu bersayap yang tidak sembarangan orang bisa menggunakannya. Itu semacam pusaka. Sepatu bersayap itu bukan benda mati. Seakan memiliki nyawa dan kepribadian. Karena sepatu bersayap itulah yang memilih sendiri seseorang yang akan menjadi pemiliknya.
Setelah Pamela yang sepertinya sudah benar-benar siap... Kini giliran Elienor Humajest.
Tangan kanannya menjulur lurus kedepan dan bergerak membuat suatu simbol di udara. Samar garis cahaya setipis benang mengikut dari tangan dan jari-jemarinya.
"Diode Dylanth!" Dirinya merapalkan kalimat mantra sihir.
Setelah dirinya merapalkan mantra, sebuah lingkar-lingkar cahaya saling bergerak berputar berlawanan muncul tepat di hadapannya.
Tangannya lalu lurus mengepal di tengah pola lingkaran-lingkaran sihir itu. Dan ketika semua lingkaran itu lenyap... Sebuah tongkat sihir besar sudah berada di genggaman tangannya.
Pertarungan diantara keduanya pun dimulai. Yang lain dari atas podium fokus menyaksikan.
"Sepatu bersayap itu...Mirip dengan yang dipakai Abe," Ucap Thalia kepada Hailey tanpa menoleh. Memperhatikan salah satu dari kedua yang baru mulai bertarung. Kembali mengingat seorang anak laki-laki waktu awal dirinya dan Hailey tiba di Peridot.
Sedangkan Hailey hanya terpaku memperhatikan kemampuan mereka berdua dengan senyum samar di bibirnya. Kemampuan mereka bedua membuat dirinya terpukau.
"Bagaimana mereka bisa sudah sebegitu mahir itu?!" Hailey kagum.
Dengan sepatu bersayapnya, Pamela gesit menghindari tembakan demi tembakan sihir yang terus dilontarkan dari tongkat sihir yang diayuni Elienor.
Terus bergerak melayang di udara Pamela juga sesekali sempat melancarkan serangannya.
Serangan fisik.
Pamela tidak bisa menembakan sihir. Hanya serangan jarak dekat lewat pukulan tangan atau aura sihir yang menyelimuti kedua pergelangan tangannya. Jadi dirinya butuh momen yang tepat untuk dapat mendekati lawannya. Itu tidaklah mudah.
Setiap pukulannya yang berhasil ditangkis oleh Elienor mengeluarkan percikan cahaya. Tapi jika serangannya berhasil mengenai_ satu tinjuannya saja cukup kuat untuk dapat menumbangkan siapapun lawannya.
Elienor saja beberapa kali sedikit demi sedikit terdorong karena serangan fisik yang dilancarkan Pamela. Kakinya yang terus berusaha tak tumbang terlihat bergesek mundur di atas lantai keramik kasar turnamen yang anti hancur.
Karena keduanya semakin terhanyut untuk saling mengalahkan...salah satu dari mereka yaitu Elienor, tidak memperhatikan kemana serangannya melesat.
Satu serangan sihir dari tongkatnya melesat ke arah atas podium. Arah di mana peserta akademi yang lainnya sedang menikmati duel dari kedua "teman" mereka.
"Awas!!" Seru Paul melihat lesatan sihir datang dengan cepat ke arah mereka. Tapi tak sempat menghindar.
Hailey sigap berpaling melindungi wajahnya di balik tangannya yang meperisai. Sedikit merundukan tubuhnya. Begitu juga beberapa yang lainnya.
"BUUUNG!!" Serangan terhalang. Muncul samar-samar dinding perisai aegis keemasan di hadapan mereka. Itu menghalangi serangan tidak disengaja dari si Elienor.
Untung saja! Itu sihir Kepala Sekolah Horus melindungi.
Hailey bisa melihat Kepala Sekolah Horus di sebrang sisi podium sana mengangkat setengah tinggi satu tangannya ke arah mereka yang hampir saja terluka.
"Belum."
Mereka semuanya mungkin akan terluka dalam duel sihir nanti.
"Ah!!" Sakit si Pamela. Salah satu dari Dua Rambut panjang dikepangnya, diraih tarik oleh si Elienor. Dan Elienor melempar sekuat tenaga Pamela ke dinding pembatas arena turnamen. Dinding podium paling depan.
Dan setelah Elienor membuat Pamela menjadi kehilangan keseimbangan terbangnya...Elienor memanfaatkan keadaan dengan melancarkan kembali satu tembakan sihir dari tongkatnya.
Pamela hampir terpuruk di lantai, tapi berusaha sigap untuk kembali tegak berdiri.
Tapi belum sepenuhnya bangkit berdiri dan menyadari ada tembakan sihir yang dilancarkan Elienor tepat menuju arahnya... Pamela pun terkena serangan itu.
Tepat mengenai bahu kirinya. Dan membuat punggungnya kembali menghantam dinding tepat di belakangnya, lalu terjatuh terpuruk di lantai arena turnamen dengan cukup keras.
"Uh! Itu pasti menyakitkan" Ucap Thalia dari atas sana.
Perlahan kembali bangkit berdiri... "Hey!!! Itu curang!!" Protes Pamela sambil meringis memegang bahu kirinya. Tak Terima apa yang barusan dilakukan Elienor kepada dirinya.
"Kamu tidak boleh melakukan itu!!" sambung protesnya.
"Oh maafkan aku ya cengeng! Tapi dalam peraturan tidak ada larangan menarik rambut ya kan?!" Balas Elienor sambil tersenyum miring.
Mereka saling terus melempar kalimat ocehan.
Dari atas podium atas sana Kepala Sekolah Horus sejenak hanya terdiam menundukkan kepala sambil memijat usap dahinya. Samar menggeleng, "Remaja...," Gumamnya.
Tapi Kepala Sekolah Horus anggap itu pertarungan yang adil. Rekannya, Yeremion Cyllos, yang dari tadi tidak sedikitpun mengalihkan lirikan matanya ke arah lain dan terus memperhatikan pertarungan kedua peserta akademi itu juga tidak mendapati ada sesuatu yang salah. Tak ada yang salah! itu maksudnya kalau tidak ada aturan yang terlanggar dalam pertandingan tadi, dan juga dia tidak melihat atau sedikitpun merasakan energi sihir gelap. Karena itulah salah satu larangan utama dalam peraturan turnamen pertama yang diadakan.
Dan sesi turnamen pun berlanjut. Setelah Elienor berhasil mengalahkan Pamela dalam pertarungan satu lawan satu, dua yang lain menjadi giliran berikutnya. Seterusnya pun begitu.
"Constanzo Eldson!!!" Kepala Sekolah Horus menyebut calon penyihir lainnya. "Melawan, Paul Chamberking!!!"
"Permisi! Ini giliranku!"
"Doakan aku," Ucapnya pelan kepada Hailey sambil melalui arah punggungnya. Dan turun ke bawah sana.
"Kamu tidak butuh itu!!" Seru Hailey membalas. Satu tangannya memfokuskan keras suaranya di samping mulutnya.
"Bertarung!!!" Kepala Sekolah Horus kembali memulai pertarungan antar penyihir
Paul mengeluarkan sesuatu dari kedua kantung hoodie yang dikenakannya. Itu tongkat sihir yang sudah umum digunakan oleh kebanyakan pesulap atau penyihir. Mahir memutar-mutar kedua tongkat sihir dengan jari-jemarinya_ Paul siap. Sedangkan Constanzo yang paling tinggi diantara pria yang lain hanya berdiri menyantaikan kedua tangannya di belakang tubuhnya.
"Ayolah! Apa kamu akan terus berdiri diam di sana saja atau kamu akan membuat kopi susu hangat untukku hah!" Intimidasi dari si Paul. Kalimat yang mungkin sedikit menyinggung Itu cocok dengan pakaian dengan rompi hitam bartender yang dikenakan si Constanzo.
Tersenyum miring, "Apa kamu tidak mau bertanya, bagaimana aku bisa tiba jauh lebih dulu sebelum kalian di sini!" Ucapnya sambil menarik rapat kera rompi bartender yang dikenakannya. Lalu asap portal kemudian muncul tepat dibelakangnya, dan Constanzo melangkah mundur masuk kedalam portal itu dengan postur tubuh tegapnya.
"Wrouuumssh!!" Asap portal itu lenyap dari pandangan. Paul menoleh-noleh mencari. Begitu juga dengan mereka yang sedang menonton dari atas podium penonton.
"Di mana dia?!" Ucap Daniei di atas sana bersama yang lain. Matanya melirik-lirik mencari keberadaan si orang Itali itu.
"Oh astaga...," Hailey terpaku.
Sambil samar tersenyum_ Kepala Sekolah Horus mengangguk atas kebolehan Constanzo. Tapi Kepala Sekolah Horus tidak langsung yakin atau menilai kalau yang satu itu dapat memenangkan pertarungan jika terlalu percaya diri seperti itu. Dan menurut Kepala Sekolah Horus di dalam pikirannya_ Paul masih mempunyai empat puluh persen peluang untuk mengalahkan si Constanzo. Itu seharusnya cukup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
-one Step Closer-
yang Expert the Net Blue