Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Dan pagi ini Rara tidak seperti biasanya,karena Rendy sudah membantunya semalam maka pagi ini Rara akan menyiapkan kopi panas dan beberapa lembar roti berselaikan cokelat di atas meja makan. Walaupun tangan dan kakinya masih terasa sakit. Rara berusaha untuk membalas budi Rendy yang telah menyelamatkan nya. Sedangkan di hadapan Rara menu yang sama, hanya saja Rara lebih suka meminum susu cokelat hangat di pagi hari.
Matanya tidak berhenti menatap ke arah pintu kamar Rendy, ia ingin melihat reaksinya karena pagi ini Rara berusaha menjadi istri yang baik.
Beberapa menit Rara menunggu Rendy akhirnya ia keluar dari kamar, ketika dia berjalan ke arah Rara, Rara kembali tersenyum manis. Oh iya, Rendy dan Rara tidur terpisah. Itu keinginan yang di inginkan Rendy. Mungkin ia tidak ingin Rara tidur di sampingnya atau mungkin dia tidak nyaman jika harus tidur berdua dengan orang lain
Jujur saja Rara sedikit melongo melihat ketampanan Rendy sepagi ini, Rara tahu di luar sana memang banyak yang lebih menarik dari dia, tetapi baginya Rendy sedikit berbeda, ketika memandanginya Rara tidak pernah bosan.Di saat yang bersamaan Rendy terlihat menarik koper kecil dari dalam kamarnya. Tanpa berkata-kata dan tidak ingin mempedulikan Rara yang sedari tadi menunggunya, Rendy tetap berjalan lurus ke arah pintu keluar.
"Kemana?" Tanya Rara karena bagaimana pun juga Rara adalah istrinya walaupun ia tahu ketika itu Rendy mulai berubah egois lagi
"Rendy kau mau kemana?" Sambung Rara ketika ia tidak mendapatkan jawaban darinya
"Keluar kota!" jawabnya cukup jelas
"Lalu aku?" Ujar Rara mencoba berjalan mendekati suaminya itu, di posisi ini Rara serba bingung
"Kau tahukan, dari awal pernikahan kita ini hanya karena bisnis, jadi kau tidak perlu berharap banyak terhadap saya!" Balas Rendy dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Rara yang masih terdiam
"Rendy aku bertanya lalu aku bagaimana disini!" tanya Rara menahan tangan Rendy untuk tidak pergi, ia ingin tahu alasannya kenapa dia keluar kota secara mendadak
"Aku ikut?" Pinta Rara memohon kepadanya
"Ada apa denganmu?" tanyanya
"Kau yang ada apa? Aku takut sendirian di rumah ini, aku ikut ya" pintanya kembali
Rendy terdiam dan menatap wajah memelas Rara. Dan tiba-tiba saja, entah bagaimana bisa Clara menggoda Pak Budi untuk membukakan gerbang. Ia sudah berdiri di depan pintu yang terbuka sedari tadi. Clara melihat Rendy dan Rara saling menatap. Tidak ingin Rendy tergoda dengan istrinya. Clara sedikit berlari dan merangkul lengan Rendy.Melihat itu Rara hanya bisa tersenyum kecil kemudian Rara sadar ia ini siapa? wanita yang tidak penting baginya. Sadar Rara dengan posisi kamu
"Sayang aku datang untuk menjemput kamu,maaf ya aku telat" Seru Clara tersenyum manja. Mendengar itu kembali perlahan Rara melepaskan tangannya dari lengan Rendy.
"Sayang?" Tanya Rara menatap Rendy dan berharap dapat jawaban darinya
"Ya, kami sepasang kekasih!" Balas Clara tanpa perlu di tanya
"Clara!" Sahut Rendy seraya melotot ke arah wanita itu
"Oppst maaf sayang aku keceplosan!" Clara langsung menutup mulutnya dan tersenyum ejek ke arahnya yang terlihat kaget mendengar ucapannya
Rara kembali tersenyum simpul mendengar ucapan dari Clara. Entah Rara yang merebut Rendy dari Clara atau Clara yang mengganggu suaminya, Rara tidak tahu. ia tidak mengerti, ia berusaha untuk tidak terbawa emosi dan juga tidak ingin memperlihatkan kelemahan nya di depan mereka berdua.
Rara kembali bersikap seperti biasa, Rara membalikkan badan dan berjalan menuju kamarnya.
Setiba di kamar Rara menggeser roal gorden dan membuka jendela kamar. Rara melipat kedua tangannya di depan dada. Dan matanya memandang bebas menatap pepohonan yang masih rindang di sekitar rumah itu. Rara rasa lebih baik tidak peduli kepadanya
Persekian menit, setelah meletakkan kopernya ke dalam mobil. Rendy kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil obat yang terletak di atas meja makan.
Ia kembali menatap Rara yang tengah membelakanginya seperi semalam yang ia lakukan.
"Minum obat ini" Suruh Rendy dan meletakkannya di meja samping ranjang tidur
"Dan istirahat yang cukup!" Sambung Rendy sok baik kepada wanita yang akan di tinggalkan nya
"Nggak usah sok baik deh" jawab Rara
"Rara udah lah aku tidak ingin ribut"
"Aku tidak ingin mencari ribut tetapi jika kau begini terus, aku jadi bingung membedakan antara kasihan dan perhatian!" Sahut Rara merasa kesal kepadanya
Bagaimana bisa ia yang sudah menikah pergi berduaan dengan wanita lain keluar kota dan bermalaman disana. Rara tidak habis pikir dengan cara kerja otaknya Rendy.
Rendy terdiam dan menatap Rara yang masih membelakanginya itu.
Persekian menit Rara tidak juga berbalik badan. Rendy akhirnya meninggalkan kamar dan tetap pergi keluar kota untuk menjalankan bisnis mereka.
Empat jam kemudian, rumah besar Rendy benar-benar hening dan sepi. Pak Joko belum juga kembali. Sedangkan Rendy dan Clara sudah berada di pesawat yang sama. Clara tersenyum manis dan berencana ingin menjebak Rendy, setidaknya ia akan membuat Rendy segera menikahinya pikir Clara.