Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Erlan turun dari mobil sportnya tepat di depan kantor Reina. Setelah itu, dia menyuruh satpam kantor untuk memindahkannya ke tempat parkir.
Dia berjalan menuju ruangan Reina, kedatangannya di sambut hangat oleh para pegawai di sana.
Sampai di depan pintu, Erlan bertemu dengan Sisi yang baru saja keluar dari ruangan Reina. Gadis itu terkejut melihat kedatangan Erlan.
"Reina ada di dalam?" tanya Erlan.
Sisi meneguk salivanya, berhadapan dengan Erlan membuat tubuhnya lemas. Karena Erlan benar - benar tampan. Apalagi setelah menikah, auranya semakin terpancar.
"Haloo." Erlan melambaikan tangannya di depan wajah Sisi, membuat asisten Reina itu terkesiap.
"Eh iya. Maaf pak. Mata saya khilaf. Eh maksud saya... anu."
"Ck. Minggir." Erlan segera mendorong Sisi agar segera menyingkir dari pintu. Gadis itu mengkerut takut begitu Erlan membuka pintu.
Sampai di dalam, Erlan melihat Reina sedang memejamkan matanya di sofa. Dia tersenyum melihat wajah istrinya yang seperti anak kecil saat tertidur.
Mendadak ide iseng Erlan muncul, dia mendekati Reina perlahan, lalu meniup wajah cantik itu.
Akibat perbuatannya, Reina terbangun dan dengan refleks mendorong Erlan hingga membuat pria itu terjatuh, dengan posisi Reina berada di atasnya.
"Auhhh." Erlan mengerang, namun tidak melepaskan pegangannya pada Reina.
"Sabar baby, nanti di rumah aja kalau mau bermesraan."
Reina melotot kaget, dia ingin bangun tapi tidak bisa, karena Erlan menahan pinggangnya.
"Lepasin aku, Erlan!"
"Gak sebelum satu kecupan di sini." Erlan menyodorkan pipinya.
Reina berusaha berontak tapi percuma, tenaga Erlan terlalu besar. Dia takut kalau ada yang masuk ke ruangannya dan melihat posisinya seperti ini dengan Erlan.
Dan akhirnya Reina mengalah, dia mengecup singkat pipi Erlan. Membuat pria itu tersenyum senang.
Reina merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, begitu Erlan melepaskannya.
"Kamu tahu? sepertinya kamu harus menemui Raisa. Kadar mesum kamu sudah meningkat!" ketus Reina kesal.
"Oh ya? buat apa aku menemui Raisa. Kan sekarang aku sudah punya istri. Memangnya kamu mau Raisa tahu kontrak kita?"
Reina terdiam. Ada benarnya juga omongan Erlan barusan. Justru aneh kalau Erlan menemui Raisa, wanita itu pasti akan bertanya macam - macam.
"Jadi kamu mau apa ke sini?" tanya Reina, ia penasaran apa tujuan pria itu.
Erlan merogoh saku jas dalamnya, lalu mengeluarkan dua lembar tiket yang sudah ia siapkan.
"Tiket Bali, lusa kita berangkat."
"Jadi kamu serius mau mengajakku untuk ikut ke Bali?"
"Yess, baby." jawas Erlan. Dia berjalan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Matanya mengernyit heran melihat foto lama Reina dan Dimas di atas meja kerja.
Kenapa ada foto laki - laki itu di sana?
Melihat itu, membuat hatinya panas dan kesal. Erlan segera mengambil bingkai foto itu, lalu membuangnya begitu saja ke tong sampah. Perbuatannya itu berhasil memancing kemarahan Reina.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa membuang itu?" Reina marah, ia ingin mengambil kembali bingkai itu di tempat sampah, tapi tangan Erlan bergerak lebih cepat menahannya.
"Nanti sore aku suruh asistenku untuk bawa foto pernikahan kita yang ukuran besar, buat di pajang di sini."
Reina menganga tak percaya. "Kamu serius?"
"Iya dong. Dan di sebelah sini, nanti pajang foto aku juga." ucap Erlan lagi.
"Terserah kamu deh." sahut Reina asal. Berdebat dengan Erlan hanya akan membuat darah tinggi. Lebih baik dua mengalah agar tidak semakin panjang.
Seringai jahil kini muncul di wajah Erlan, membuat Reina curiga dia akan melakukan yang tidak-tidak. Dan ternyata dugaannya benar, Erlan dengan cepat menarik tangan Reina hingga jatuh ke pangkuannya.
"Erlan!"
"Sebentar aja. Aku butuh menyerap energi."
Apa? Dia pikir aku charger?
Erlan merengkuh Reina dalam pelukannya, dia merasa tenang setelah menghirup aroma tubuh manis istrinya itu.
Pikiran Reina melayang teringat tentang penjelasan Raisa tentang Nymphomaniac. Dimana penyakit Erlan itu akan kambuh jika dirinya stress. Apa sekarang Erlan sedang kambuh?
Setelah beberapa menit, barulah Erlan melepaskannya. Dia tersenyum lebar sekarang, menangkupkan kedua tangannya pada wajah Reina yang terlihat waspada.
"Tenang saja. Aku nggak akan menyentuh kamu lebih, sebelum kamu yang menginginkannya."
Reina melengos. Apa - apaan! Dia pikir aku akan seperti itu?
"Aku pergi dulu, mungkin nanti akan pulang malam karena banyak pekerjaan. Kamu tidur duluan aja nanti." ucap Erlan.
Reina tidak menyahut, hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Setelah mengecup kening istrinya, Erlan beranjak pergi dari ruangan itu, meninggalkan Reina yang terduduk lemas di kursi kerjanya.
Entah sudah berapa kali Erlan menyentuhnya sembarangan. Dasar menyebalkan!
Reina merasakan wajahnya memanas, ia segera pergi ke toilet yang ada di ruangannya, dan membasuh wajah agar terasa lebih segar.
Ia akui perbuatan Erlan tadi benar - benar membuat pikirannya tidak karuan.
Sementara itu,
Aditya mulai mengadakan rapat penting mengenai sahamnya yang menurun. Itu karena sebagian investor kembali berbalik mendukung Atmaja, setelah mendengar pemimpinnya menikah dengan Erlan. Nama besar Erlan sebagai pengusaha muda benar - benar tidak di ragukan lagi. Dia sangat terkenal di kalangan executive.
Aditya bersandar di kursi kebesarannya, setelah menjalani meeting yang menguras tenaga dan pikirannya tadi.
Tidak berapa lama, asisten pribadi Aditya masuk ke dalam ruangan itu. Untuk memberikan laporan.
"Pak Adit, saya dapat laporan kalau Erlan akan pergi ke Bali besok lusa."
Aditya menaikkan sebelah alisnya. Pria itu tersenyum kecut menyadari kakak tirinya sudah mulai melancarkan serangan. Bukan waktunya lagi bersantai sekarang. Dia akan mengerahkan tenaga untuk melawan Erlan.
Dia kembali teringat liputan pernikahan Erlan yang di tonton oleh ibunya sambil berurai air mata kemarin. Bagaimana ibunya begitu sedih karena tidak bisa menghadiri pernikahan itu.
Reina Atmaja. Sepertinya itu satu-satunya kelemahan Erlan.
Aditya tahu, bagaimana perasaan Erlan pada Reina, sangat terlihat jelas dari cara kakaknya itu menatap Reina. Tatapan yang penuh cinta.
Aditya tersenyum kecil.
Cinta dan wanita memang sangat berbahaya. Itulah yang menyebabkan kehancuran dalam suatu kerajaan kokoh seperti Romawi. Aditya menyayangkan kakaknya yang bisa jatuh cinta dengan seorang wanita.
Ya.. dia akan menyerang titik kelemahan Erlan, sampai pria angkuh dan sombong itu tidak bisa kembali bangkit.
"Selidiki tentang Reina Atmaja. Jangan ada kegagalan." perintah Aditya.
Pria di hadapannya mengangguk. Dan menundukkan kepala, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
🌸🌸
Dimas sedang mengawasi cafenya saat Zoya datang dengan tersenyum manis padanya.
"Halo, Kak." sapa Zoya.
Dimas menoleh, dan membalas senyum Zoya. Pria itu memang sangat ramah pada siapa saja. Tidak heran kalau cafenya selalu ramai hanya untuk melihat langsung owner dari cafe itu. Dan Dimas sama sekali tidak sadar dengan pesonanya sendiri, dia terlalu sibuk dengan Reina selama ini.
"Hai, duduk. Ada perlu apa?"
Zoya tersenyum kikuk. Ini pertama kalinya ia mampir ke cafe Dimas. Selama ini dia selalu melihat dari kejauhan, tidak berani untuk masuk.
"Aku mau es krim. Menu yang paling laris di sini."
"Jadi kamu juga suka es krim ? hemm. Kamu bisa coba wafle chocolate. Itu menu favorit Reina." sahut Dimas dengan mata yang berbinar.
Zoya menghela napas berat, mendengar Dimas masih saja menyebut nama Reina.
Sepertinya akan sulit menggantikan posisi Reina di hati Dimas.
Dia terlalu bucin dengan Reina!
Dengan sedikit kesal, Zoya duduk di salah satu meja yang kosong. Dia menatap Dimas dengan penuh minat.
*****