NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Akal-akalannya

Pada kenyataannya Rayyan tak menuruti Nayra untuk tidak menemui Gatra karna saat ini ia sedang menunggu, pria yang di ketahui nya sedang keluar, di lobi sambil bicara dengan satpam dan resepsionis yang sudah mengenalnya.

Rayyan anak yang cepat akrab dengan orang baru jadi tak heran kalau sudah akrab bahkan bisa membuat mereka tertawa karna celetukan-celetukannya sambil menoleh pada setiap orang yang baru masuk ke dalam gedung.

"Eh, itu Mas Gatra." Kata Resepsionis menyadarinya lebih dulu karena posisinya tepat di samping lift dan menghadap pintu kaca. Rayyan sendiri duduk di sofa yang agak jauh, di dekat seorang satpam yang berdiri tak jauh darinya.

"Oh iya, benar. Makasih Kak Dira, Om Yuti, Rayyan mau keatas dulu." Pamit Rayyan lalu berdiri dari duduk dan sedikit berlari mendekati Gatra yang tidak menyadari keberadaannya.

"Iya, sama-sama."

"Jangan lari-larian, dek, nanti jatuh."

"Om Rara, tungguin, Rayyan!" Teriak Rayyan, tepat saat Gatra hendak menekan lift, tapi urung di lakukanya demi mencari asal suara.

"Kamu baru pulang les?" Tanya Gatra begitu Rayyan ada di dekatnya.

"Hari ini libur les, Om."

"Jadi baru pulang sekolah? Tapi ini udah sore bangat buat anak baru pulang sekolah." Gatra sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul enam sore.

"Udah dari tadi Rayyan pulang sekolahnya terus duduk di situ buat nunggu Mama soalnya Rayyan lupa password terus Hp Rayyan juga ngga ada baterei nya." Keluhnya.

"Berarti kamu nunggunya udah dari tadi?Kenapa ngga minta tolong sama petugas buat hubungi Mama kamu?" Tanya Gatra sambil mengalihkan pandangan pada resepsionis. "Mbak–"

"Kebetulan Mama juga lagi... ada syuting buat konten di luar kota jadi pasti sekarang lagi sibuk-sibuknya." Rayyan buru-buru mencari alasan karna tak ingin kebohongannya terbongkar. "Mama juga pasti ngga bisa di hubungi."

"Ngga bisa gitu, gimanapun kamu tetap harus menghubungi Mamamu!"

"Tapi aku ngga mau ganggu Mama kerja. Dari dulu aku kasihan sama Mama, harus kerja sampai pulang malam terus sampai di rumah Mama juga ngurus aku lagi. Sebenarnya Rayyan pengen Mama di rumah aja, Om, tapi... mau gimana lagi? Papa udah meninggal jadi terpaksa Mama yang mengerjakan semuanya."

"Saya minta maaf karna bikin kamu sedih," kata Gatra akhirnya mendadak merasa bersalah.

"Ngga papa, Om. Kata Mama Rayyan boleh sedih tapi harus kuat lagi." Rayyan tak sepenuhnya bohong karna dulu sang Mama selalu menyemangatinya dengan cara ini.

Tapi akhir-akhir ini ia jarang sedih karna hari-harinya jika tidak sedang sekolah tak lagi hanya di isi oleh bermain dengan teman atau membantu jualan Mama, tapi sudah penuh oleh les yang disukainya.

Rayyan diam-diam juga sedang memikirkan alasan lainnya agar pria yang sedang menatapnya iba mengajaknya numpang ke unitnya.

"Tadi sebenarnya mau nyapa aja," kata Rayyan untuk membunuh kediaman mereka. "Om mau keatas ya? Duluan aja, Om. Rayyan mau lanjut ngobrol sambil nunggu Mama." Rayyan memakai taktik yang biasanya berhasil membuat seseorang iba sama halnya dengan Gatra yang terdiam dengan tangan yang menggantung di depan tombol lift. "Loh kok Om malah bengong di sini? Udah sore bentar lagi malam, mendingan Om–"

"Kamu nunggu di unit saya saja, ngga baik anak-anak ada di sini lama-lama." Sela Gatra pada akhirnya.

"Serius? Om Rara ngga papa Rayyan numpang bentar di sana?" Rayyan memastikan dengan menahan senyumannya.

"Iya, ayo." Mereka lalu masuk ke dalam benda yang tertutup secara otomatis menuju ke unit apartemen yang sama.

"Oh iya, jadi Mamamu konten kreator?" Tanya Gatra.

"Iya, emang Om ngga tahu? Atau sekali aja video Mama enggak ada lewat di beranda, Om?" Rayyan balik bertanya dengan tidak percaya karna hampir semua penghuni apartemen yang pernah bicara dengannya mengenali siapa Nayra Lovarisa. Bahkan ada beberapa orang menitipkan hadiah serta meminta fotonya yang tentu saja selalu di tolaknya.

"Saya jarang buka sosmed, kalaupun buka palingan tentang politik, keadaan laut, konten tentang orang-orang yang kerja di kapal dan konten-konten orang luar yang punya profesi yang sama kayak saya."

Rayyan menangguk percaya lalu mereka keluar dari lift. "Oh, bicara tentang profesinya Om... jadi Om jago berenang dong?"

"Bukan jago, tapi saya bisa berenang dan tahu mana kolam yang cocok buat anak kecil dan mana yang tidak." Gatra sengaja menyindir Rayyan yang terseyum penuh bersalah. "Tadi kamu bilang sering nunggu sampai mamamu pulang kerja."

"Hampir setiap hari Rayyan nunggu Mama di kontrakan, Om." Rayyan terpancing dengan topik yang Gatra buka. "Kadang juga main kontrakan tetangga, main ke rumah teman sampai di titipin di rumahnya Tante Hapisa juga sering. Tapi paling seneng itu di rumah Tante Hapisa soalnya di sana banyak makanan, ada teman juga kadang anak-anaknya Om Hakim....Oh ya, Rayyan pernah ngelihat sama Om Rara di sana."

"Kapan?" Tanya Gatra sambil mengali ingatannya.

"Ada itu waktu Om udah di luar kayaknya mau pulang, terus... kayaknya Rayyan masih di dalam mobil sih, Om cuma ketemu Tante Hapisa." Rayyan terseyum tanpa membuat Gatra menggeleng pelan lalu menekan kata sandi unitnya.

"Ayo masuk, tesnya di taruh aja di sofa." Kata Gatra sambil membuka pintu lebar, mempersilahkan anak tetangganya untuk masuk lalu ia kembali menutup pintu. "Kamu di sini aja, saya mau mandi."

"Makasih, Om." Rayyan duduk di sofa samping tasnya berada lalu menatap Gatra sampai menghilang di balik pintu kamar. "Aku ngapain ya? Bosan bangat, apa aku main Hp aja? Enggak-enggak nanti Om Gatra curiga lagi."

Akhirnya Rayyan memutuskan untuk mengamati unit tetangganya. Di ruang tengah, lebih tepatnya saat pertama kali membuka pintu, fokus semua orang pasti langsung pada balkon yang memanjakan mata, lalu saat tatapan mereka mundur maka baru melihat adanya meja, kursi, dan televisi.

Terkahir di posisi persis di depan pintu keluar masuk ada lemari tinggi tempat menyimpan alat-alat masak, kompor tanam, kulkas dua serta hanya berjarak dua langkah maka ada meja makan kecil dan dua kursinya.

Rayyan baru sadar kalau tempat tinggal tetangga baiknya ini lebih kecil dari unit yang di sewa sang Mama. Kamar dua dan dapur yang tersembunyi, tapi unit Gatra sangat rapi dan tidak membuat sesak karna barang-barang di sini tidak berlebihan.

Sampai terdengar dering telepon, setelah di lihat ternyata dari Haviza yang membuat Rayyan hendak mengangkatnya tapi diurungkannya mengingat kebohongannya pada Gatra beberapa saat yang lalu.

Rayyan lalu menoleh ke pintu kamar, yang masih tertutup rapat. "Bohong demi kebaikan kata Tante Haviza ngga salah, tapi kalau pun berdosa Tante Haviza yang akan menanggungnya." Gumam Rayyan sambil mengetik pesan sudah berhasil masuk ke dalam unit tetangganya sesuai rencana mereka. Anak itu juga bertanya tentang langkah selanjutnya agar semakin dekat dengan Gatra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!