NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Expedition to a fallen kingdom (II)

Hutan

Hutan adalah tempat yang sering dianggap indah dan menenangkan. Pepohonan yang rindang, suara burung yang bersahutan, serta hembusan angin yang melewati dedaunan mampu membuat siapa saja merasa damai. Namun di balik keindahan itu, alam juga menyimpan banyak hal mengerikan yang tidak dapat dipahami manusia. Dan hari ini, Leoric beserta tim ekspedisinya sedang berhadapan langsung dengan salah satunya.

10 Februari

Di balik deretan pohon yang rapat, ada sepasang mata merah yang sedang mengawasi mereka. Sosok itu berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Kulitnya pucat namun gelap, tubuhnya tinggi menjulang, dan senyuman yang terukir di wajahnya terasa begitu tidak wajar. Leoric merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya saat melihat makhluk tersebut. Instingnya mengatakan bahwa monster itu berbeda dari yang pernah ia hadapi sebelumnya.

"Tuan..."

Suara Sarioth terdengar melalui telepati.

"Kelima monster yang kita lawan kemarin memang tidak lemah. Namun yang satu ini berbeda. Saya tidak yakin ia bisa dibunuh hanya dengan satu tebasan."

Peringatan itu membuat Leoric semakin waspada. Jika mereka memutuskan bertarung, kemungkinan besar akan ada korban. Namun jika mereka pergi begitu saja, apakah monster itu akan membiarkan mereka lolos? Leoric terus memandangi makhluk tersebut. Yang membuatnya gelisah bukanlah karena monster itu menyerang, melainkan karena monster itu sama sekali tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri dan tersenyum.

Seolah sedang menunggu sesuatu.

"Kakak"

Suara Cortinus membuyarkan pikirannya.

"Kenapa masih melihat ke sana? Bukankah syarat dari ayah sangat jelas? Jika perjalanan menjadi terlalu berbahaya, kita harus kembali."

Leoric tidak langsung menjawab. Ia kembali melirik monster itu sekali lagi. Posisinya masih sama. Tidak bergerak. Tidak mendekat.

Pada akhirnya, Leoric menarik napas panjang.

"Kita lanjutkan perjalanan."

Beberapa prajurit terlihat lega mendengar keputusan itu.

"Tapi kurangi kecepatan."

Kalimat berikutnya justru membuat seluruh pasukan bingung.

Bukankah mereka seharusnya menjauh secepat mungkin dari monster menyeramkan itu?

Meski begitu, tidak ada yang berani membantah. Rombongan kembali bergerak melewati jalur hutan yang sempit, sementara Leoric tetap memperhatikan sekitar dengan penuh kewaspadaan.

Perjalanan berlanjut tanpa gangguan selama beberapa waktu. Namun tidak lama kemudian, rombongan kembali berhenti.

Di depan mereka terdapat sebuah batu besar yang menutupi seluruh jalur perjalanan. Posisi mereka saat ini berada di antara dua bukit yang menjepit jalan hutan. Jika memutar, mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mencari jalur lain.

Leoric turun dari kudanya dan mengamati batu tersebut.

"Siapkan peralatan. Kita singkirkan batu ini."

Para prajurit segera bergerak menjalankan perintah.

Di tengah kesibukan itu, Leoric berjalan menghampiri Cortinus.

"Ngomong-ngomong," katanya santai, "aku penasaran. Kenapa kau begitu ingin ikut perjalanan ini?"

Cortinus menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.

"Hm? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Hanya penasaran."

Cortinus terkekeh kecil.

"Karena aku muak berada di kerajaan. Udara di sana penuh bau darah. Setiap sudut mengingatkanku pada kejadian malam itu. Jujur saja, aku ingin melihat suasana lain."

Leoric mengangguk pelan.

Alasan itu terdengar masuk akal.

Namun ia tetap mengingat laporan yang pernah diberikan Sarioth. Ada sesuatu yang disembunyikan Cortinus, dan Leoric belum mengetahui apa itu.

Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara Sarioth kembali terdengar.

Kali ini jauh lebih serius.

"Tuan..."

Leoric langsung menegang.

"Hawa buruknya semakin pekat. Ada sesuatu yang sangat kuat mendekat."

Tanpa ragu sedikit pun, Leoric langsung berteriak.

"SEMUA PASUKAN! WASPADA DENGAN SEKITAR KALIAN!"

Teriakan itu membuat seluruh orang tersentak. Anastasya dan Basten langsung merendahkan tubuh mereka secara refleks, hasil dari latihan panjang sebagai Elite Guard kerajaan.

Di saat yang sama, seorang prajurit yang sedang memegang peta perjalanan tiba-tiba berteriak ketakutan dari arah belakang.

Semua orang menoleh.

Dan mereka langsung membeku.

Monster yang tadi mengawasi mereka dari kejauhan kini berdiri tepat di belakang rombongan.

Mata merahnya menatap mereka satu per satu.

Senyum mengerikan itu masih terukir di wajahnya.

Saat itulah Leoric akhirnya memahami semuanya.

Batu besar di depan.

Monster di belakang.

Dua bukit di sisi kanan dan kiri.

Mereka telah dijebak.

Monster itu sengaja membiarkan mereka berjalan hingga masuk ke posisi yang tidak memiliki jalan keluar.

Ia tidak sedang berburu.

Ia sedang bermain.

Dan mereka adalah mainannya.

Belum sempat siapa pun bergerak, monster itu tiba-tiba melesat.

Seorang prajurit yang tadi berteriak langsung tertangkap.

Jeritannya menggema di hutan sebelum tubuhnya dilahap hidup-hidup oleh monster tersebut.

Tawa mengerikan langsung memenuhi udara.

Suara tawanya begitu menyeramkan hingga beberapa prajurit tidak mampu menyembunyikan ketakutan mereka.

Leoric menggenggam erat Sarioth.

"Masih bisa dikalahkan?"

Sarioth terdiam beberapa saat.

"Mungkin."

Leoric menghela napas.

Mungkin.

Untuk saat ini, jawaban itu sudah cukup.

Leoric segera menghampiri Anastasya dan membisikkan sesuatu.

Mata wanita itu langsung membesar.

"Tuan... apakah Anda yakin?"

"Aku dan Basten bisa melakukannya. Tapi jika gagal..."

"Kita semua mati," potong Leoric sambil tersenyum tipis.

Anastasya mengerutkan alisnya.

"Rencana yang gegabah."

"Lebih baik gegabah daripada menunggu giliran dimakan satu persatu, kan?."

Anastasya menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.

"Ikut aku, Basten."

Tanpa menunggu jawaban, Anastasya langsung berlari menuju monster tersebut sambil menghunus pedangnya.

Basten yang berada tidak jauh darinya segera memahami bahwa rencana telah dimulai. Ia menaiki kudanya dan menarik kendali dengan kuat.

Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya sambil meringkik keras.

Sesaat kemudian, Basten memacu kudanya secepat angin menuju monster yang sedang tertawa itu.

Keberanian mereka berdua sedikit demi sedikit menghapus ketakutan para prajurit. Beberapa mulai mengangkat senjata mereka kembali.

Monster itu berhenti tertawa.

Mata merahnya menatap Anastasya yang berlari lurus ke arahnya.

Dengan geraman marah, monster tersebut mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu mengayunkannya ke arah wanita itu.

Namun tepat sebelum serangan mengenai tubuhnya, Anastasya menghentikan langkahnya secara mendadak.

BOOOM!

Tangan monster menghantam tanah kosong.

Debu dan tanah beterbangan ke segala arah.

Dari balik kepulan debu itulah muncul siluet seseorang yang sedang menunggang kuda dengan kecepatan tinggi.

Basten.

Pedangnya terhunus.

Matanya fokus pada satu titik.

Bukan kepala.

Bukan dada.

Melainkan pergelangan tangan monster yang baru saja menghantam tanah.

SRAKK!

Pedangnya berhasil menyayat pergelangan tangan monster itu.

Lukanya memang tidak dalam. Namun itu memang tujuan Basten sejak awal.

Ia sengaja mengincar area tempat aliran darah terkonsentrasi.

Darah hitam langsung mengucur deras dari luka tersebut.

Monster itu meraung kesakitan dan mulai bergerak tidak beraturan.

Melihat kesempatan itu, para prajurit segera menyerbu.

Anastasya memimpin dari depan sementara para prajurit menusukkan tombak mereka ke bagian kaki monster.

Tusukan demi tusukan menghantam tubuh raksasa itu.

Akhirnya monster tersebut kehilangan keseimbangan dan roboh ke tanah dengan suara yang menggetarkan seluruh area.

Namun kemenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Monster tersebut kembali bangkit.

Dan kali ini amarahnya jauh lebih besar.

Tangannya menyapu ke arah para prajurit.

Dua orang langsung terpukul dan tewas seketika.

Seorang prajurit lain terkena cakar di bagian perut hingga tubuhnya roboh bersimbah darah.

Anastasya yang melihat itu langsung dipenuhi kemarahan.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari menyerang monster tersebut.

"ANASTASYA!"

Basten berteriak.

Namun sudah terlambat.

Monster itu menangkap tubuh Anastasya dengan satu tangannya.

"TIDAKKK!"

Basten berteriak sekuat tenaga.

Monster itu membuka mulutnya lebar-lebar.

Siap menelan Anastasya hidup-hidup.

Namun tiba-tiba makhluk itu berhenti.

Ia merasakan sesuatu.

Bayangan besar muncul tepat di bawah tubuhnya.

Monster itu mendongak ke atas.

Dan di sana...

Tepat sejajar dengan cahaya matahari siang yang dingin...

Ada Leoric Nightvale yang sedang jatuh dari ketinggian sambil menggenggam pedang hitamnya.

SRAAAKKK!

Leoric menghujamkan Sarioth langsung ke bagian atas kepala monster.

Raungan kesakitan menggema ke seluruh hutan.

Monster itu menggeliat liar sambil mencoba menjatuhkan Leoric yang berdiri di atas kepalanya.

Namun semakin lama gerakannya semakin melemah.

Rencana Leoric akhirnya berhasil.

Saat semua perhatian tertuju pada Anastasya dan Basten, Sarioth diam-diam telah menerbangkan Leoric ke atas bukit curam di dekat mereka. Setelah itu Sarioth kembali berubah menjadi pedang, dan Leoric menunggu momen yang tepat untuk menjatuhkan serangan terakhir dari atas.

Di tengah perjuangan terakhir monster tersebut, Cortinus yang sejak tadi hanya mengamati dari atas kereta akhirnya tersenyum kecil.

"Wah..."

Ia mengambil sebuah tombak.

"Aku tidak boleh kehilangan momen keren ini."

Ia turun dari kereta, mengangkat tombak sejajar dengan pandangannya, lalu melemparkannya sekuat tenaga.

WHUSSS!

Tombak itu melesat lurus dan menancap tepat di salah satu mata monster.

Leoric, Basten, dan para prajurit langsung menoleh.

Bahkan Anastasya yang baru saja dilepaskan ikut memandang ke arah Cortinus.

Pemuda itu hanya berdiri santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Seakan pertarungan hidup dan mati yang baru saja berlangsung bukanlah urusannya.

Tidak lama kemudian, tubuh monster akhirnya roboh untuk terakhir kalinya.

Kali ini ia tidak bangkit lagi.

Di saat yang sama, kelompok prajurit yang bertugas menghancurkan batu besar juga berhasil meretakkan penghalang tersebut. Sorak kemenangan langsung memenuhi hutan.

Namun di balik kemenangan itu, tiga orang prajurit telah gugur.

Dan seluruh anggota ekspedisi memahami satu hal.

Jika monster yang mengintai mereka dari kejauhan saja sudah mampu memaksa mereka bertarung mati-matian...

Maka perjalanan menuju Peak Cavalry mungkin akan jauh lebih berbahaya daripada yang pernah mereka bayangkan.

1
𝐊𝐚𝐞𝐥
hm, lagi-lagi terlalu banyak perkenalan karakter. saranku, klo mau dikenalin di satu bab, mending pakai percakapan antar tokoh dan beri ciri khasnya.
DreamXimaginatioN😴
hmm. aku kurang setuju dengan sikap leoric, di suruh mundur eh beneran mundur ternyata, baru udah ada korban berjatuhan balik lagi ke medan perang. jadi kurang epic deh kemunculannya, maaf 😅 ini hanya dalam pikiran ku saja
DreamXimaginatioN😴
wuihh dapat senjata, kayak nya MC bakal OP nih karena si sarioth kalau di lihat mungkin saja termasuk para petinggi monster2 itu 😁
DreamXimaginatioN😴
wah ini ketambahan spasi ya, malah jadi paragraf baru. Segera di perbaiki author 👍😄
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
S3C
semangat author 👍👍👍👍👍👍
Clevareus: makasihh
total 1 replies
NonaMudaDesi
Kelihatannya menarik, nitip sendal kak, aku kesini lagi kalo bab nya udah banyak heheheheh, oh iya sedikit saran nih kak, kalau bikin kata perparagraf jangan terlalu banyak, jadinya kelihatan numpuk. saran aku sih jangan lebihin 10 baris kakk, btw semangatttt kakakkk
Clevareus: okee makasih ya kakk, diatas chapter 5 aku udah mulai perhatikan paragraftnya kok, makasih ya 🙏🔥
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
author, ini paragrafnya terlalu panjang dan numpuk😅
Manusia Ikan 🫪: oalaaah wkaowkaowkao
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!