Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Maaf Tuan Hendra, saya tidak bisa menerimanya," kata Ghaizka dengan tegas menolaknya tapi tetap sopan.
Ia tidak mau berhutang budi pada siapa pun, apalagi menerima bantuan modal yang besar. Ia ingin membangun dan menjalankan kliniknya dengan kemampuannya sendiri.
Pak Hendra menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk pelan menghargai keputusan Ghaizka.
"Baiklah... jika itu memang keinginan Nona Ghaizka, saya tidak bisa memaksanya," ujarnya lembut.
"Tapi izinkan saya melakukan satu hal. Saya akan mempromosikan klinik Anda kepada khalayak ramai, kepada rekan-rekan bisnis saya, dan seluruh kenalan saya. Agar nama klinik Nona cepat dikenal dan banyak orang yang tahu kehebatan Anda," ucap Pak Hendra .
Mendengar tawaran itu, wajah Ghaizka mengangguk.
"Terima kasih banyak, Tuan Hendra. Itu sudah sangat membantu," jawabnya tulus.
"Dan... satu hal lagi. Mohon Anda tetap menerima tanda terima kasih ini. Hanya sekadar kenang-kenangan kecil karena sudah menolong nyawa saya," kata Pak Hendra melihat hadiah yang tadi ia berikan.
Ghaizka terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah.
"Baik, terima kasih banyak," katanya dengan nada datar.
"Jika tidak ada hal lain, saya permisi dulu," kata Pak Hendra sambil tersenyum hangat.
Ia membungkuk sedikit ke arah Ghaizka, lalu menoleh dan memberi hormat juga kepada Arga yang masih duduk di sana.
Ghaizka hanya mengangguk singkat sebagai balasan.
Tak lama kemudian, Pak Hendra beserta rombongannya, para asisten dan pengawal pribadinya pun berpamitan dan meninggalkan halaman rumah Ghaizka.
Suasana di ruang tamu kembali menjadi tenang sedikit. Hanya tersisa Ghaizka, Gelsya dan Arga.
Ghaizka lalu menoleh, menatap lurus ke arah pria tampan yang masih duduk santai bersandar di sofa seolah tidak punya urusan lain.
"Tuan Arga. Apakah Anda masih ada keperluan hal lain di sini?" tanya Ghaizka menatap Arga dengan tatapan sayup.
Arga tersadar bahwa ia sebenarnya sudah tidak punya alasan untuk berlama-lama.
Dan Ia sadar, ucapan itu adalah tanda halus kalau ia sedang diusir.
"Eh... ya anu... sebenarnya saya juga sudah tidak ada urusan kok. Kalau begitu saya permisi dulu, Nona Ghaizka. Nanti saya datang lagi," jawab Arga berdiri dan merapikan bajunya.
Ghaizka hanya menatapnya datar, lalu berkata dengan wajah dingin.
"Datanglah... jika Anda merasa sakit."
"Wah, galak tapi manis..." batin Arga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh... he he he, iya siap! Kalau sakit pasti langsung lari ke sini!" jawab Arga sambil tertawa kecil.
Ia pun segera pamit undur diri, meninggalkan Ghaizka yang masih duduk di sofa.
Setelah pintu depan tertutup rapat, Arga berjalan keluar menuju mobilnya.
"Tuan Arga, kenapa senyum-senyum sendiri kayak orang gila begitu?" tanya sopirnya bingung melihat bosnya yang tampak begitu bahagia.
"Heh! Jangan ngomong sembarangan! Aku lagi merasakan ucapan yang lucu. Kalimat dia tadi... 'Datanglah jika Anda merasa sakit'... itu bukan sekadar ajakan lho, itu itu... itu semacam janji!" kata Arga tapi masih tetap tersenyum.
"Gadis itu memang unik. Dingin, cuek, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya ngena banget di hati," gumam Arga kembali tersenyum.
Sementara itu di dalam rumah...
Suasana kembali hening. Ghaizka matanya menatap kotak yang di berikan oleh Para Hendra tadi.
"Apa isinya ya Ma?" tanya Gelsya penasaran.
"Tidak tahu, ayo buka bersama," kata Ghaizka.
Dengan rasa penasaran, mereka pun membuka penutup kotak hadiah itu.
Di dalamnya terdapat uang dan perhiasan. Buah-buahan dan banyak hadiah lainnya.
"Gelsya, ayo simpan barang-barangnya," kata Ghaizka.
"Baik Ma." angguk Gelsya.
Ia pun menyimpan barang itu ke dapur, dan sebagain lain di dalam kamar.
"Sekarang urusan selesai. Waktunya aku bersiap-siap untuk membuka klinik besok!" seru Ghaizka penuh semangat.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...