NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Rahasia di Balik Kedai Kopi

​​.. Setelah kejadian Genta sakit dan dirawat oleh Clarissa, suasana di antara mereka menjadi sedikit canggung tapi manis. Pagi ini, Genta sudah merasa segar bugar, bahkan otot-ototnya terasa lebih kuat dari sebelumnya. Dia sudah siap kembali menjadi bodyguard yang sigap sekaligus penghibur bagi bos cantiknya itu.

​.. "Mbak Bos, hari ini kita ke mana? Jangan bilang mau rapat sama investor Korea lagi, saya belum sempat belajar bahasa Korea tambahan lewat drama," seloroh Genta sambil membukakan pintu mobil dengan gaya hormat komando.

​.. Clarissa tertawa kecil, tas mahalnya disampirkan di bahu dengan anggun. "Hari ini jadwalnya agak santai, Genta. Saya mau meninjau lokasi kedai kopi baru yang ingin saya beli sahamnya di daerah Jakarta Selatan. Tapi saya mau menyamar jadi orang biasa, saya tidak mau pemiliknya tahu siapa saya."

​.. "Wah, misi rahasia ya? Siap! Kalau begitu, Mbak Bos harus pakai kacamata hitam dan topi. Saya juga akan ganti baju yang lebih... merakyat," jawab Genta semangat. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah kedai kopi kecil yang tampak asri namun sepi pengunjung.

​.. Saat memasuki kedai, Genta mencium aroma kopi yang sangat pekat, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia melihat pemilik kedai, seorang pria paruh baya, tampak sedang termenung sedih di balik meja kasir. Di sudut ruangan, ada beberapa pria berwajah sangar yang sedang duduk sambil menatap sinis ke arah pemilik kedai.

​.. "Mbak Bos, lihat pojok sana. Sepertinya kedai ini sedang dalam masalah," bisik Genta tajam. Clarissa mengangguk pelan. Mereka memesan dua cangkir kopi dan duduk di meja yang agak tersembunyi.

​.. Tiba-tiba, salah satu pria sangar itu berdiri dan menggebrak meja kasir. "Heh, Pak Tua! Mana uang keamanannya? Sudah jatuh tempo! Jangan sampai kedai kopi ini jadi kedai kayu bakar besok pagi!" teriak pria itu dengan kasar.

​.. Pemilik kedai gemetar. "Maaf, Den... minggu ini sepi sekali. Belum ada cukup uang. Tolong beri waktu sedikit lagi."

​.. Clarissa sudah hampir berdiri karena merasa tidak tega, tapi tangan Genta menahannya. "Biar saya yang urus, Mbak Bos. Ini wilayah keahlian saya. Mbak Bos cukup duduk manis dan nikmati kopinya."

​.. Genta berdiri dan berjalan santai menuju meja kasir. "Permisi, Mas-mas yang ganteng tapi kurang kasih sayang. Lagi ada bagi-bagi sumbangan ya? Kok teriak-teriak sampai kuping saya yang sehat ini jadi gatal?"

​.. Pria sangar itu menoleh ke arah Genta dengan tatapan membunuh. "Siapa kamu?! Jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa!"

​.. "Nama saya Genta. Saya cuma pelanggan yang lagi pengen ngopi dengan tenang tanpa ada suara musik sumbang dari mulut Masnya. Gimana kalau kita selesaikan dengan cara damai? Masnya pulang, saya traktir kopi satu bungkus buat di jalan," jawab Genta sambil nyengir lebar.

​.. Tanpa aba-aba, pria itu melayangkan pukulan. Genta dengan cepat menangkap tangan pria itu dan memelintirnya dengan teknik yang dia pelajari dari pasar Sidoarjo. "Aduh, tangannya kok kaku banget Mas? Kurang senam pagi ya?" Genta sedikit menekan kunciannya sampai pria itu mengaduh kesakitan.

​.. Teman-temannya yang lain mencoba maju, tapi Genta hanya menatap mereka dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sangat dingin dan menakutkan. "Satu langkah lagi, dan Mas-mas ini nggak akan bisa pegang sendok kopi selama setahun. Mau coba?"

​.. Melihat karisma preman Genta yang keluar secara alami, mereka semua ciut nyali dan langsung lari terbirit-birit keluar kedai. Pemilik kedai langsung menangis haru dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.

​.. Clarissa berjalan mendekat, menatap Genta dengan rasa kagum yang makin dalam. "Genta... kamu memang luar biasa. Di mana pun kita berada, kamu selalu menemukan cara untuk jadi pahlawan."

​.. "Bukan pahlawan, Mbak Bos. Saya cuma menjalankan prinsip 'Sidoarjo Berani'. Lagian, saya nggak rela kalau kopi enak begini diganggu lalat-lalat pengganggu," jawab Genta santai. Clarissa tersenyum tulus, dan hari itu dia memutuskan untuk tidak hanya membeli saham kedai tersebut, tapi juga merenovasinya sebagai hadiah untuk Genta.

​.. Setelah para pengganggu itu lari kocar-kacir, suasana kedai kopi yang tadinya tegang mendadak jadi sangat hangat. Pemilik kedai, Pak Tua yang rambutnya sudah memutih semua, menghampiri kami dengan tangan gemetar karena haru. Dia menyodorkan dua potong kue lapis legit yang kelihatannya baru saja dibuat.

​.. "Terima kasih, Nak Genta... Terima kasih, Neng. Kalau tidak ada kalian, mungkin besok kedai ini sudah rata dengan tanah. Saya tidak tahu harus membalas dengan apa, ini hanya ada sedikit kue untuk menemani kopi kalian," ucap Pak Tua itu sambil mengusap air matanya.

​.. Aku menerima kue itu dengan senang hati. "Waduh Pak, nggak usah repot-repot. Saya ini aslinya memang hobi bantuin orang, apalagi kalau orangnya baik seperti Bapak. Anggap saja tadi itu senam pagi buat saya biar ototnya nggak kaku," jawabku sambil melahap kue lapis itu dalam satu gigitan. Enak sekali, rasanya manisnya pas, persis seperti senyum Mbak Bos yang ada di depanku.

​.. Clarissa hanya memperhatikan interaksi kami dengan tatapan yang sangat dalam. Dia tidak menyentuh kopinya, melainkan terus menatapku seolah sedang melihat sosok baru yang belum pernah dia temukan sebelumnya. "Genta... kamu tahu tidak? Di dunia bisnis saya, orang-orang biasanya saling menjatuhkan untuk dapat untung. Tapi kamu... kamu malah mempertaruhkan nyawa untuk orang yang bahkan tidak kamu kenal."

​.. "Ya itulah bedanya orang Sidoarjo sama orang kantoran, Mbak Bos. Kita diajarin kalau ada orang susah ya dibantu, bukan ditanya dulu untungnya apa. Lagipula, melihat orang bisa senyum lagi itu rasanya lebih puas daripada dapat bonus satu amplop tebal," kataku jujur.

​.. Clarissa tersenyum, kali ini senyumnya benar-benar tulus tanpa ada beban pekerjaan. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna emas. "Pak, besok pagi silakan datang ke alamat ini. Saya akan bantu Bapak merenovasi kedai ini dan memasang sistem keamanan yang paling canggih. Bapak tidak perlu takut lagi pada preman-preman itu."

​.. Pak Tua itu kembali menangis, kali ini tangis bahagia. Aku yang melihat adegan itu merasa sangat bangga pada bosku. Ternyata, kebaikan itu menular. Clarissa yang tadinya dingin seperti es batu di puncak Semeru, sekarang perlahan mulai mencair dan menunjukkan sisi malaikatnya.

​.. Kami pun meninggalkan kedai kopi itu saat matahari mulai turun di ufuk barat. Di dalam mobil, Clarissa menyandarkan kepalanya dan menoleh ke arahku. "Genta, hari ini saya belajar banyak dari kamu. Mungkin saya yang harus berterima kasih karena kamu sudah 'menculik' saya keluar dari zona nyaman saya yang membosankan."

​.. Aku hanya nyengir lebar sambil memutar radio yang memutar lagu dangdut favoritku. "Beres, Mbak Bos! Besok-besok saya ajak ke tempat yang lebih seru lagi. Siap-siap saja ya!" gumamku dalam hati. Ternyata menjadi bodyguard seorang CEO cantik bukan cuma soal menjaga badan, tapi juga soal menjaga hati agar tetap punya rasa kemanusiaan di tengah kerasnya Jakarta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!