NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Tiga minggu sejak pintu bunker tertutup rapat. Tiga minggu sejak dunia di atas sana berubah menjadi putih yang sunyi.

Di dalam bunker, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Tidak ada siang dan malam. Lampu LED menyala dua puluh empat jam dengan intensitas yang diatur agar menyerupai cahaya alami. Panel surya di atap hotel masih menghasilkan listrik meskipun hanya empat puluh persen dari kapasitas awal. Genset diputar dua jam setiap pagi untuk mengisi baterai cadangan.

Arka sudah membuat jadwal. Bangun pukul enam. Sarapan bersama. Kerja hingga pukul dua belas. Istirahat. Lanjut kerja hingga pukul enam. Makan malam. Waktu luang. Tidur pukul sepuluh.

Rutinitas yang membosankan. Tapi rutinitas yang menjaga mereka tetap waras.

Pagi itu, Arka berdiri di ruang tanam. Rina sedang memeriksa larutan nutrisi di bak-bak hidroponik. Daun bayam mulai muncul, hijau segar di bawah lampu grow.

“Minggu depan kita bisa panen pertama,” kata Rina tanpa menoleh.

“Berapa banyak?”

“Dua kilogram. Cukup untuk sayur seminggu. Tiga minggu lagi, produksi stabil lima kilogram per minggu.”

Arka mengangguk. Dua kilogram sayur untuk enam orang. Tidak banyak, tapi cukup untuk melengkapi stok kalengan yang mulai terasa membosankan.

“Ada kendala?”

Rina menggeleng. “Air bersih cukup. Nutrisi masih banyak. Tapi lampu grow ini butuh listrik besar. Kalau panel surya turun di bawah tiga puluh persen, kita harus kurangi jam nyala.”

“Saya akan bicara dengan Wawan.”

Arka keluar dari ruang tanam, melewati ruang utama. Dewi sedang membaca buku di meja panjang. Umar duduk di sudut, merangkai komponen elektronik bekas menjadi sesuatu yang hanya dia yang mengerti. Wawan ada di ruang genset, mencatat angka di buku.

Pratama berdiri di dekat pintu bunker, memeriksa monitor kamera. Arka mendekat.

“Ada apa?”

“Salju masih turun,” kata Pratama. “Tapi tidak setebal minggu pertama. Mungkin sudah berkurang.”

Arka menatap layar. Tampilan dari kamera di lobi hotel memperlihatkan tumpukan putih di depan pintu kaca. Jalan di luar sudah tidak terlihat. Mobil-mobil yang terparkir hanya berupa gundukan di bawah selimut tebal.

“Kamera di luar masih berfungsi?”

“Dua mati. Satu di pintu belakang masih hidup.”

“Terowongan?”

Pratama mengangguk. “Masih aman. Saya cek dua hari lalu.”

Arka tidak menjawab. Dia menatap pintu baja yang menutup rapat. Di balik pintu itu, ada terowongan sepanjang seratus meter yang menghubungkan mereka ke stasiun MRT. Terowongan yang belum pernah dia lewati sejak bunker ditutup.

“Saya mau lihat,” kata Arka.

Pratama menatapnya. “Sendirian?”

“Saya bukan anak kecil.”

“Saya tahu. Tapi kalau terjadi sesuatu di sana, tidak ada yang bisa bantu.”

Arka berpikir sebentar. “Kita berdua.”

Pratama tidak membantah.

Mereka berdiri di depan dinding palsu di ujung bunker. Dinding itu terbuat dari panel kayu tipis, dirancang agar terlihat seperti bagian dari struktur. Di belakangnya, terowongan gelap menunggu.

Arka membuka panel. Udara dingin langsung menyambut. Tidak sedingin di luar sana, tapi lebih dingin dari bunker yang dijaga suhu tetap lima belas derajat.

“Senter,” kata Pratama sambil menyerahkan satu.

Arka menyalakan senter. Cahaya putih menerangi lorong sempit dengan dinding tanah yang disangga kayu dan besi. Tingginya hanya cukup untuk berdiri tegak. Lebarnya hanya untuk satu orang.

Dia masuk.

Langkah pertama terasa aneh. Tanah di bawah kakinya padat, tapi ada sedikit getaran dari kereta bawah tanah yang mungkin masih beroperasi? Atau hanya suara mesin ventilasi dari bunker?

Pratama mengikuti di belakang. Diam. Waspada.

Mereka berjalan sekitar lima puluh meter. Terowongan ini tidak lurus sempurna. Belok sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Dindingnya masih kering, tidak ada tanda-tanda retak atau longsor.

Arka berhenti. “Dari sini masih berapa?”

“Lima puluh meter lagi. Tembus di ujung stasiun, dekat pintu darurat.”

Arka melanjutkan. Semakin jauh dari bunker, semakin dingin udaranya. Napasnya mulai terlihat. Uap putih tipis yang hilang dalam gelap.

Di ujung terowongan, ada dinding beton. Pintu darurat. Pratama sudah memasang gagang besi sederhana untuk membukanya dari sisi dalam.

Arka mendekat. Menempelkan telinga ke dinding.

Diam.

Tidak ada suara. Tidak ada kereta. Tidak ada orang. Hanya sunyi yang pekat.

“Pernah ada yang lewat?” tanya Arka.

“Tidak. Sejauh ini sepi.”

Arka menekan telapak tangan ke beton. Dingin. Dingin yang sama seperti di luar. Stasiun MRT itu mungkin sudah seperti lemari es raksasa.

“Kita akan keluar nanti,” kata Arka. “Belum sekarang.”

Pratama mengangguk.

Mereka berbalik, kembali ke bunker.

Siang itu, setelah makan siang dengan sarden dan nasi hangat, Arka memanggil semua orang ke ruang utama.

“Saya mau bicara soal beberapa hari ke depan,” katanya.

Mereka duduk di meja panjang. Wajah-wajah yang mulai terbiasa dengan kebersamaan. Umar masih terlihat gelisah, tapi tidak seperti minggu pertama. Dewi tenang. Wawan serius. Rina sibuk dengan catatannya. Pratama berdiri di belakang.

“Kita sudah tiga minggu di sini,” lanjut Arka. “Stok aman. Sayur mulai panen. Listrik stabil. Tapi kita tidak bisa bertahan di dalam selamanya.”

Umar mengangkat kepala. “Kita akan keluar?”

“Nanti. Ketika cuaca membaik.”

“Kapan?”

Arka menghela napas. “Saya tidak tahu. Tapi kita harus siap. Itu sebabnya saya mau mulai latihan.”

Dia menatap satu per satu.

“Pratama akan melatih kita. Dasar-dasar bertahan. Cara menggunakan senjata. Cara bergerak di luar. Cara mengenali ancaman.”

Umar mengerjap. “Senjata?”

“Pistol. Hanya untuk perlindungan. Bukan untuk menyerang.”

Umar terdiam. Wawan dan Rina saling berpandangan. Dewi tetap tenang.

“Ini bukan pilihan,” kata Arka. “Di luar sana, tidak ada polisi. Tidak ada tentara. Tidak ada hukum. Orang-orang akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup. Dan kita harus siap menghadapi itu.”

Diam. Lalu Dewi angkat suara. “Saya setuju.”

Semua menoleh.

Dewi menatap Arka. “Saya pernah kerja di IGD. Saya lihat apa yang orang lakukan saat panik. Saat takut. Saat kelaparan.” Suaranya datar. “Kita butuh perlindungan.”

Umar menghela napas panjang. “Baiklah. Saya ikut.”

Wawan dan Rina mengangguk.

Arka menoleh ke Pratama. “Mulai besok.”

Pratama mengangguk. “Saya siapkan peralatan.”

Malam itu, setelah semua tidur, Arka duduk di ruang kontrol. Monitor kamera masih menampilkan putih yang sunyi. Salju sudah berhenti, tapi tumpukan di depan hotel setinggi setengah meter.

Ponsel di laci meja. Dia tidak pernah membuangnya meskipun tidak ada sinyal. Kadang dia menyalakannya, melihat pesan-pesan lama. Foto Sari. Chat dengan Andre. Semua kenangan yang dulu manis, kini terasa seperti mimpi buruk.

Dia mematikan ponsel. Memasukkannya kembali ke laci.

Di monitor, ada gerakan.

Arka mencondongkan tubuh. Di kamera pintu belakang hotel, ada bayangan. Samar. Seperti seseorang berjalan di tengah salju.

Dia memperbesar. Bayangan itu menghilang.

Hanya angin, pikirnya. Atau hewan yang tersesat.

Tapi dia tidak bisa memastikan.

Arka menatap layar lama. Tidak ada gerakan lagi. Hanya putih. Sunyi.

Dia mematikan monitor, berjalan ke ranjang, dan berbaring.

Besok latihan dimulai. Besok mereka akan belajar bertahan. Bukan hanya dari dingin. Tapi dari manusia.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!