NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelayaran di Atas Awan

Udara pagi di atas kapal Bintang Pengembara terasa berbeda dari biasanya.

Bukan karena cuaca—langit tetap cerah, awan putih membentang seperti lautan kapas di bawah lambung kapal. Bukan karena angin—hembusannya masih sama lembutnya, membawa aroma kayu roh dan energi spiritual dari formasi kapal.

Tapi suasananya.

Di ruang makan kapal, meja panjang dari kayu ek gelap dipenuhi hidangan pagi: bubur beras spiritual, telur burung awan rebus, irisan daging panggang, buah-buahan dari kebun energi, dan teh herbal yang mengepulkan uap harum. Para penumpang duduk dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol pelan, menikmati sarapan sebelum memulai aktivitas harian.

Ketika Xiao Chen masuk, percakapan terhenti.

Rambut putihnya yang tergerai bebas menangkap cahaya matahari dari jendela-jendela besar, menciptakan pendar keperakan yang hampir menyilaukan. Matanya yang ungu keemasan menyapu ruangan dengan rasa ingin tahu yang tenang. Jubah putihnya yang sederhana entah kenapa terlihat lebih anggun dari jubah sutra termahal mana pun di ruangan ini.

Seorang pelayan perempuan yang sedang menuangkan teh langsung menuang terlalu penuh—cangkirnya meluber, dan dia bahkan tidak menyadarinya sampai teh mengalir ke mejanya. Pedagang perempuan yang sedang menawar harga di sudut ruangan kehilangan kata-katanya sama sekali. Dua kultivator perempuan dari sekte kecil di meja dekat jendela saling mencengkeram lengan satu sama lain, bisikan mereka terdengar jelas: "Lihat rambutnya..." "Matanya..." "Aku lupa cara bernapas."

Xiao Chen tidak memperhatikan semua itu—atau lebih tepatnya, dia sudah terbiasa. Dia berjalan ke meja tempat rombongan Sekte Awan Kelabu duduk.

Wei Ling sudah di sana. Begitu melihat Xiao Chen, wajahnya langsung memerah hingga ke telinga. Dia buru-buru menunduk, pura-pura sangat tertarik dengan buburnya. Gerakannya sedikit berbeda pagi ini—sedikit lebih hati-hati saat duduk, sedikit lebih lambat saat bergerak.

"Pagi," kata Xiao Chen, duduk di sampingnya. Dekat. Sangat dekat. Lutut mereka bersentuhan di bawah meja.

Wei Ling tersentak. "Pa-pagi."

"Kau tidur nyenyak?"

Pertanyaan itu polos. Tapi nada suaranya... tidak. Wei Ling bisa mendengar senyum dalam suaranya. "Aku... ya. Nyenyak."

"Bagus." Xiao Chen mengambil mangkuk bubur, gerakannya santai. "Aku juga. Meskipun aku hampir tidak tidur."

Wei Ling menunduk semakin dalam, wajahnya sekarang sewarna tomat matang.

Di seberang meja, Wei Zhen menyesap tehnya dengan ekspresi yang sangat hati-hati dikendalikan. Sebagai seorang ayah, dia tahu ada sesuatu yang berubah. Sebagai seorang kultivator berpengalaman, dia memilih untuk tidak membahasnya. Sebagai seorang pria yang sudah hidup lebih dari empat ratus tahun, dia berdoa pada leluhurnya agar percakapan ini tidak terjadi.

Feng Mo dan Zhang Yuan, untungnya, terlalu sibuk dengan daging panggang untuk memperhatikan nuansa apa pun.

"Kita masih empat minggu lagi ke pelabuhan pertama," kata Wei Zhen, mengalihkan topik dengan cekatan. "Aku dengar kita akan singgah di Kota Seratus Mata Air. Tempat yang bagus untuk mengisi perbekalan."

"Dan untuk mencari informasi," tambah Xiao Chen. "Tentang Lembah Seribu Bintang."

"Kau masih memikirkan itu?"

"Tentu saja." Xiao Chen menatap awan di luar jendela. "Semakin dekat kita ke Benua Selatan, semakin kuat resonansi kain itu. Aku bisa merasakannya."

Di meja sudut, Lin Yao sedang makan sendirian. Su Mei duduk di sampingnya, mengobrol tentang sesuatu yang tidak didengarkan Lin Yao. Mata hijaunya—seperti zamrud hidup—terpaku pada meja di mana Xiao Chen baru saja duduk.

Tepatnya, terpaku pada Wei Ling yang duduk sangat dekat dengannya.

"Kau mendengarkanku?" tanya Su Mei, melambai di depan wajah Lin Yao.

"Apa? Oh. Tidak."

"Kau menatap mereka lagi."

"Aku tidak menatap siapa pun."

"Lin Yao, aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun. Kau tidak pernah menatap siapa pun seperti itu." Su Mei mencondongkan tubuhnya, berbisik. "Kau cemburu."

Pipi Lin Yao memerah tipis—hampir tidak terlihat, tapi ada. "Aku tidak cemburu. Aku hanya... mempelajari kompetisi."

"Kompetisi?" Su Mei mengangkat alis. "Jadi sekarang kau menganggap Wei Ling sebagai kompetisi?"

Lin Yao tidak menjawab. Dia hanya menyendok supnya dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya.

Xu Mei muncul di pintu ruang makan beberapa menit kemudian.

Jubah merah marunnya rapi seperti biasa, rambut hitamnya diikat sanggul tinggi dengan tusuk giok. Dia terlihat profesional, tenang, dan sepenuhnya mampu menjalankan tugasnya sebagai utusan Paviliun Harta Surgawi. Tapi saat matanya menemukan Xiao Chen, langkahnya sedikit tersendat.

Dia ingat ciuman itu. Di balkon. Sudut bibirnya. Sentuhan ringan yang entah kenapa tidak bisa dia lupakan.

Dia berdeham, memaksakan ekspresi netral, dan berjalan ke meja mereka. "Aku sudah menerima pesan dari markas Paviliun di Kota Seratus Mata Air. Mereka akan menyambut kita dan memberi informasi tentang Lembah Seribu Bintang."

"Efisien seperti biasa," kata Xiao Chen, menatapnya. "Kau selalu seefektif ini?"

"Tentu saja. Ini pekerjaanku." Xu Mei mengangkat dagunya. "Aku tidak membiarkan... gangguan pribadi memengaruhi kinerjaku."

"Gangguan pribadi?" Xiao Chen tersenyum. "Apa maksudmu?"

Wajah Xu Mei memerah. "Tidak ada. Lupakan."

Dia berbalik dan berjalan pergi—tapi tidak sebelum menabrak kursi yang jelas-jelas ada di depannya. Kursi itu bergeser dengan bunyi berisik, dan seluruh ruang makan menoleh.

"Aku baik-baik saja!" serunya, lalu menghilang ke koridor dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

Wei Ling menatap Xiao Chen dengan alis terangkat. "Apa yang kau lakukan padanya?"

"Aku?" Xiao Chen mengangkat bahu polos. "Hanya mengobrol."

"Kau melakukan sesuatu. Aku bisa melihatnya dari cara dia berjalan."

"Mungkin dia hanya... terpesona oleh ketampananku."

"Xiao Chen!"

"Itu bukan sombong kalau itu fakta."

Momen lucu lainnya terjadi siang harinya di dek observasi.

Xiao Chen berdiri di pagar, menatap lautan awan di bawah. Angin ketinggian mengibaskan rambut putihnya, dan beberapa penumpang perempuan sengaja berjalan-jalan di dek hanya untuk bisa melewatinya. Mereka pura-pura menikmati pemandangan, tapi setiap kali melintas, mata mereka melirik ke arah yang sama.

Seorang gadis muda—mungkin sekitar enam belas tahun, putri seorang pedagang—berhenti tepat di samping Xiao Chen. Dia menatapnya dengan mata berbinar, mulutnya terbuka sedikit.

"Kakak..." katanya, suaranya hampir berbisik.

Xiao Chen menoleh. "Ya?"

Gadis itu langsung membeku. Wajahnya berubah merah, dan dia tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Ibunya—seorang wanita berjubah mahal—buru-buru menariknya pergi sambil meminta maaf.

Tapi kemudian ibunya juga menoleh. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya dia menabrak tiang.

"Aduh!"

"Aku baik-baik saja!" serunya, hidungnya merah tapi dia tetap tersenyum.

Zhang Yuan, yang menyaksikan semua dari bangku terdekat, menatap Feng Mo. "Apakah ini akan terjadi setiap hari?"

"Setiap hari," jawab Feng Mo datar. "Kau akan terbiasa."

"Aku tidak yakin bisa."

Sore harinya, Xiao Chen menemukan Lin Yao di dek belakang.

Dia berdiri sendirian, bersandar di pagar, menatap matahari yang mulai terbenam di cakrawala awan. Cahaya jingga mengenainya, menciptakan kontras indah dengan jubah hijaunya. Rambut hitamnya yang diikat setengah berkibar pelan.

"Kau menghindariku seharian," kata Xiao Chen, berhenti di sampingnya.

"Aku tidak menghindar."

"Kau makan sendirian. Kau latihan sendirian. Kau bahkan tidak menatapku saat aku lewat."

Lin Yao tidak menjawab.

Xiao Chen mencondongkan tubuhnya ke pagar, menatap pemandangan yang sama. "Kau masih marah karena aku membiarkanmu menang di turnamen?"

"Bukan itu."

"Lalu?"

Lin Yao akhirnya menoleh. Mata hijaunya menatap Xiao Chen dengan intensitas yang sekarang sudah sangat dikenalnya—tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih lunak, lebih rentan. "Kau dan Wei Ling. Kalian... semalam."

"Kau mendengarnya?"

"Kapal ini tidak setebal itu. Dan aku berada di kabin sebelah." Lin Yao memalingkan wajahnya lagi. "Aku tidak sengaja. Tapi aku mendengar."

Xiao Chen tidak merasa malu. Dia hanya menatap Lin Yao dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dan itu membuatmu marah?"

"Tidak marah. Hanya..." Lin Yao mengepalkan tangannya di pagar. "Aku tidak terbiasa dengan perasaan ini."

"Perasaan apa?"

"Cemburu." Kata itu keluar dengan paksa, seperti batu yang terlempar dari dalam sumur. "Aku tidak suka merasa seperti ini. Aku tidak suka bahwa seseorang bisa membuatku merasa seperti ini. Aku sudah sendiri selama bertahun-tahun, dan aku baik-baik saja. Lalu kau muncul, dengan rambut putihmu dan matamu dan caramu berbicara, dan tiba-tiba aku..."

Dia berhenti, napasnya tersengal.

Xiao Chen menunggu.

"Aku tidak ingin menjadi lemah," bisik Lin Yao akhirnya.

"Lin Yao." Xiao Chen meletakkan tangannya di atas tangan Lin Yao yang terkepal. Sentuhan itu hangat, menenangkan. "Merasa bukan berarti lemah. Dan menginginkan seseorang bukan berarti kau kehilangan dirimu sendiri."

Lin Yao menatapnya. "Kalau begitu apa?"

"Itu berarti kau manusia."

Mereka saling menatap dalam keheningan. Matahari terbenam sepenuhnya, meninggalkan langit ungu dan bintang-bintang pertama.

"Kau bilang kau akan menungguku," kata Lin Yao pelan.

"Aku masih menunggu."

"Bahkan setelah semalam dengan Wei Ling?"

"Aku bisa menunggu lebih dari satu orang sekaligus." Xiao Chen tersenyum—bukan senyum nakal, tapi senyum hangat. "Lagipula, kau berbeda dari Wei Ling. Apa yang kumiliki dengannya tidak mengurangi apa yang kurasakan padamu."

"Kau... merasakan sesuatu padaku?"

"Tentu saja. Sejak pertama kali kau mencoba menyerangku dengan pedang kayu dan gagal."

Lin Yao hampir tersenyum. "Aku hampir menyentuhmu."

"Hampir."

"Aku akan menyentuhmu lagi."

"Aku tahu." Xiao Chen mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lin Yao dengan lembut. "Dan saat kau siap—benar-benar siap—aku akan ada di sini."

Lin Yao menutup matanya, membiarkan sentuhan itu bertahan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dia tidak berusaha melawan. Dia hanya... merasakan.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Xiao Chen berdiri di dek depan sendirian. Bulan hampir purnama, cahayanya yang perak menciptakan jalan setapak di atas lautan awan.

Dia mengeluarkan kedua potong kain emas. Pola-pola formasi di atasnya berputar lebih cepat sekarang, lebih terang.

"Apa yang menungguku di Lembah Seribu Bintang?" bisiknya.

Kain itu tidak menjawab. Tapi denyutnya terasa seperti detak jantung.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!