Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 13 Sebuah Janji Dalam Mimpi
Kegelapan di kamar 027 mendadak terasa menghimpit. Di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, Bara terseret kembali ke masa sebelum pernikahannya terjadi. Dalam ruang tamu keluarga, memperlihatkan sebuah kertas di atas meja, dan suara papahnya tegas.
"Tanda tangan di sini, Bara!" ucap sang Papah sambil menunjuk sebuah dokumen tebal berlabel Perjanjian Pra-Nikah, berupa matrai.
Tatapan Baskoro saat itu begitu tajam, menguliti kepercayaan diri Bara. "Papa nggak mau main-main. Kalau kamu nggak segera menikah dengan Wanita yang Papah pilih, terus kamu nggak menuruti kemauan Papah, jangan harap jabatan Direktur Adiwangsa Group jatuh ke tanganmu. Bahkan semua aset yang ada, saham atas namamu, bahkan rumah yang kamu tempati sekarang, semuanya akan Papa tarik kembali!"
Dalam mimpi itu, Bara melihat dirinya sendiri yang terpojok, terpaksa menandatangain di atas matrai yang seolah-olah menjadi surat penyerahan dirinya. Ia melihat wajah Renata yang tersenyum tulus di sampingnya, sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang memasang jerat besi untuk menjaga kesetiaan putranya demi kelangsungan bisnis keluarga.
DEG!
Bara tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ancaman papahnya baru saja diucapkan tepat di depan wajahnya. Ia segera meraih ponsel di atas nakas dengan tangan gemetar.
01:23.
Angka itu bersinar terang di tengah gelapnya kamar, seolah sedang menghitung mundur waktu datangnya kehancuran. Sehingga kesunyian malam itu mendadak terasa mencekam. Ia menoleh ke samping, melihat Maya yang masih terlelap sangat pulas dengan napas teratur. Sebab sisa-sisa kemesraan mereka beberapa jam yang lalu masih membekas di sprei yang terlihat berantakan, namun rasa puas itu kini digantikan oleh ketakutan yang merayap di tulang punggung Bara.
Gue harus pulang. Kalau sampai Papa tahu Gue tidur sama Maya, semuanya bakal kacau, batinnya kalap.
Dengan gerakan sangat berhati-hati, Bara menggeser tubuhnya menjauh dari Maya. Ia tidak ingin wanita itu terbangun dan merusak rencananya untuk kabur dari tempat ini. Lalu ia turun dari ranjang, kakinya menginjak lantai yang terasa dingin. Di bawah remang lampu jalan yang masuk dari celah gorden, ia melihat kemeja dan celananya tergeletak tak keruan di lantai, merupakan saksi bisu dari pengkhianatannya.
Bara mengambil pakaian itu satu per satu. Ia memakainya dengan terburu-buru, jemarinya begitu gemetar hingga ia kesulitan memasukkan kancing kemejanya. Ia tidak peduli jika penampilannya kini tampak kusut dan berantakan. Tapi yang ia pedulikan pikirannya yaitu harus sampai rumah sebelum semuanya ketahuan.
Setelah memastikan dompet dan kunci mobilnya sudah ia masukan dalam saku, lalu melirik Maya untuk terakhir kalinya. Wanita itu sedikit menggeliat, namun tetap tidak terbangun. Bara segera memutar knop pintu dengan hati-hati, memastikan tidak ada bunyi sekecil apa pun yang terdengar.
Begitu pintu kamar 027 tertutup rapat di belakangnya, ketenangannya pecah. Bara tidak lagi berjalan tenang. Ia lari menyusuri koridor hotel yang sunyi, melewati lobi dengan cepat, dan terus mempercepat langkahnya menuju area parkiran.
Angin malam menyambut saat ia sampai di depan mobil. Ia segera masuk, menyalakan mesin, dan langsung menginjak gas, memacu kendaraannya membelah jalanan yang sepi. Di dalam pikiran kini adalah sebuah mimpi yang tiba-tiba datang dalam tidur malam, yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
Pukul 02:00, tiba di rumah.
Saat memasuki halaman rumah yang sunyi senyap. Bara keluar dengan gerakan terburu-buru, sesekali melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan yang masih terasa lengket oleh keringat dingin. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, seperti orang yang tidak ke urus.
Di dalam rumah, tepatnya pada sofa ruang tamu yang temaram, Renata tersentak bangun. Bunyi bel yang ditekan berkali-kali memecah keheningan dini hari, membuat jantung ia berdegup kencang. Dengan langkah hati-hati dan napas yang tertahan, Renata berjalan menuju pintu. Jemarinya yang gemetar membuka sedikit gorden jendela, mengintip siapa tamu yang datang di jam yang rawan maling.
Matanya membelalak. Di sana, di bawah lampu teras, suaminya berdiri dengan tampak lelah.
Klik.
Suara kunci yang terbuka terdengar nyaring di tengah malam. Begitu pintu terbuka, Renata belum sempat mengucap satu patah kata pun, namun sebuah terjangan pelukan langsung mendekap tubuhnya dengan sangat erat. Renata membeku. Tubuhnya menegang karena kaget yang luar biasa.
"Maafin aku ya... Sayang," bisik Bara dengan suara yang serak, nyaris tenggelam di ceruk leher Renata.
Jantung Renata seolah berhenti berdetak sesaat. Perkataan itu pertama kalinya selama pernikahan mereka, Bara memanggilnya dengan sebutan 'Sayang', sebuah kata yang selama ini hanya ada dalam angan-angan Renata. Pelukan itu bukannya melonggar, justru semakin erat di ambang pintu, seolah Bara sedang mencari perlindungan dari badai yang baru saja ia lalui.
Kesedihan dan kecurigaan yang tadi sempat membakar dada Renata mendadak luluh begitu saja, tergantikan oleh rasa iba yang mendalam. Ia mengira suaminya benar-benar kelelahan karena urusan pekerjaan yang mempertaruhkan masa depan mereka.
Tanpa tahu bahwa pelukan itu adalah bentuk ketakutan Bara akan kehilangan hartanya, Renata perlahan mengangkat tangan untuk mengusap bahu suaminya dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan yang ia pikir sangat dibutuhkan oleh pria itu.
"Iya, Mas... nggak apa-apa. Kamu pasti capek banget," bisik Renata lirih, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan manipulatif yang terasa begitu nyata, padahal dibangun di atas tumpukan dusta yang baru saja ia tinggalkan di kamar 027.
Bara perlahan melonggarkan pelukannya, namun tidak membiarkan Renata menjauh. Kedua tangannya kini menggenggam erat jemari istrinya yang terasa dingin, seolah sedang mencari pegangan agar kebohongannya tidak runtuh. Ia menatap mata Renata dalam-dalam, memasang wajah melas.
"Tadi di jalan beneran kacau, Ren. Aku sempat menepi sebentar, ngantuk banget... terus hampir aja nabrak pembatas jalan," ucap Bara dengan suara yang sengaja dibuat bergetar.
Ia menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar seolah baru saja lolos dari maut. "HP aku juga mati, nggak ada batre sama sekali. Pas mau di cas, eh... kabelnya malah bermasalah. Aku panik deh, takut kamu nungguin, makanya aku paksain pulang, nggak istirahat di hotel."
Renata hanya diam, matanya yang sembab menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur melihat suaminya pulang dengan selamat, tapi di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada ganjalan yang tak bisa ia jelaskan.
"Kamu nggak apa-apa kan, Mas? Apa ada masalah?" tanya Renata lirih, suaranya terdengar sangat tulus meski ia sendiri baru saja melewati malam yang menyiksa.
Bara menggeleng cepat, lalu kembali menarik Renata ke dalam dekapannya, kali ini lebih lembut. "Nggak, aku cuma capek. Terus kangen kamu. Maafin aku ya udah bikin kamu khawatir seharian."
Ia memejamkan mata, menghirup aroma rambut Renata yang wangi, sangat jauh berbeda dengan aroma parfum yang ada di kamar 027. Di dalam hatinya, Bara merasa menang. Ia berhasil menutupi kebohongannya dengan satu sandiwara kecil yang membuat istrinya luluh gitu saja.
"Ya sudah, yuk masuk. Kamu bersih-bersih dulu, habis itu istirahat," ajak Renata sambil menuntun suaminya masuk ke dalam rumah.
Bara melangkah masuk dengan perasaan lega yang luar biasa. Kemudian ia menuju kamar. Setibanya di dalam kamar melepaskan kemeja kusutnya dengan gerakan yang tampak terberu-buru. Meletakkan begitu saja di atas sprei putih, lalu melangkah ke depan cermin besar untuk merapikan rambutnya yang berantakan.
Di pantulan kaca, Bara melihat dirinya sendiri. Seorang pria yang baru saja menukar aroma dosa dengan pelukan palsu. Tangannya menyisir rambut ke belakang, mencoba merapikan rambutnya agar tidak terlihat jelek. Tepat saat itu juga, pintu kamar terbuka pelan. Renata melangkah masuk dengan tatapan yang masih menyimpan sisa-sisa kekhawatiran.
Mata Bara mendadak membelalak saat menyadari posisi kemejanya. Di bawah cahaya lampu kamar yang lebih terang, bara mulai teringat dengan aroma parfume wanita lain yang masih berbekas di kemeja. Seketika, Bara menyambar kemeja itu dari atas kasur dengan gerakan kasar.
"Eh, Mas? Kok langsung diambil? Sini biar aku yang taruh di keranjang cucian," ucap Renata, tangannya terulur hendak meraih pakaian suaminya.
"Nggak usah, Ren! Kemeja aku bau. Biar aku aja yang bawa ke dalam," sahut Bara cepat, suaranya sedikit meninggi hingga membuat Renata tersentak.
Bara tidak menoleh lagi. Ia setengah berlari menuju kamar mandi, mendekap kemeja itu erat-erat seolah-olah sedang menyembunyikan barang bukti kejahatan paling besar di dunia. Pada saat suara pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Renata mematung di tengah kamar. Alisnya bertaut, merasa heran dengan sikap suaminya yang mendadak protektif cuma karena kemeja aja. Ia hanya bisa menghela napas panjang, mencoba mengusir pikiran buruk yang kembali mencuat ke permukaan.
"Mungkin dia beneran capek banget sampai sensitif begitu," gumam Renata pelan.
Ia menggelengkan kepala, mencoba bersabar, lalu berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Renata mengambil sepasang pakaian tidur bersih untuk Bara, meletakkannya dengan rapi di atas kasur, tepat di tempat kemeja kotor tadi berada. Ia duduk di tepi ranjang, menunggu suaminya keluar, sambil terus menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat dengan perasaan yang mulai tidak tenang.
Suara gemericik air dari kamar mandi akhirnya berhenti, digantikan pintu yang terbuka perlahan. Bara melangkah keluar dengan lilitan handuk putih di pinggangnya, sementara jemarinya sibuk mengibas-ngibas rambut yang masih basah. Butiran air sisa mandi tampak berkilau di atas kulit dadanya yang bidang, mengalir turun melewati otot-otot perut yang mengeras.
Renata yang sedang duduk di tepi ranjang mendongak. Pandangannya terpaku pada sosok suaminya. Ada jeda beberapa detik di mana ia terpana, seolah lupa dengan segala kecurigaan yang tadi sempat menghantui. Tubuh suaminya yang sexy bisa membuat napasnya sedikit tertahan.
Sadar dirinya sedang diperhatikan dengan tatapan memuja, Bara sempat melirik ke arah cermin. Namun, sebelum ada sepatah kata pun terucap, Renata mendadak memalingkan wajah dan membelakangi suaminya. Ia menatap dinding kosong dengan pipi yang perlahan merona merah.
Bara hanya menaikkan satu alisnya, merasa sedikit heran dengan reaksi istrinya yang tiba-tiba malu-malu seperti itu. Tanpa bicara banyak, Bara melangkah mendekat ke arah kasur. Ia meraih pakaian tidur bersih yang sudah disiapkan Renata dengan rapi. Alih-alih bukannya pergi ke balik pintu lemari atau masuk kembali ke kamar mandi, Bara justru melepas handuknya tepat di belakang punggung Renata.
Suasana kamar yang sunyi itu kini hanya diisi oleh suara gesekan saat Bara mulai mengenakan pakaiannya. Renata bisa merasakan hawa hangat dari tubuh suaminya yang berada sangat dekat di belakangnya, membuat detak jantungnya kembali berpacu tidak beraturan.
"Mas... sudah?" tanya Renata pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan karena ia masih tidak berani menoleh.
"Udah, Ren," sahut Bara pendek. Ia menepuk pelan bahu Renata, seolah menandakan bahwa sandiwara malam ini telah berhasil ia lalui dengan selamat.
"Yuk, tidur. Aku ngantuk banget."
Bara merebahkan tubuhnya di sisi ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada, dan memejamkan mata rapat-rapat, Ia ingin segera menenggelamkan diri. Namun, bayangan surat perjanjian nikah dan wajah ketat papahnya masih mengahntui di balik kelopak matanya, menciptakan rasa cemas yang tak kunjung hilang.
Renata perlahan menyusul ke atas ranjang. Ia bergerak sangat hati-hati, tidak ingin mengganggu suaminya yang ia sangka sudah hanyut dalam mimpi. Saat punggungnya jatuh, Renata menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa kegelisahan yang tadi sempat menghimpit dadanya.
Tiba-tiba, Bara membuka mata. Dalam remang lampu tidur, ia membalikkan posisi tubuhnya menghadap Renata. Tanpa sepatah kata pun, ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menarik tubuh Renata agar mendekat ke dalam dekapannya.
"Selamat malam," bisik Bara pelan di dekat telinga Renata.
Renata terpaku. Tubuhnya mendadak kaku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ini benar-benar aneh. Ingatannya kembali ke awal pernikahan mereka, di mana Bara selalu bersikap dingin, menjaga jarak sejauh mungkin, bahkan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Renata. Tapi malam ini, pria itu sama sekali berbeda.
Apa ada yang dia sembunyikan? batin Renata bertanya-tanya. Perubahan drastis ini terasa terlalu tiba-tiba, terlalu manis untuk suaminya yang biasanya kasar.
Namun, rasa lelah yang luar biasa dan ucapan "Sayang" yang tadi sempat didengar perlahan mulai mengikis kecurigaan itu. Renata memilih untuk mengabaikan firasat buruknya. Ia menutup mata, membiarkan kehangatan tubuh Bara menyelimutinya, dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ini adalah awal dari perubahan baik yang selama ini ia ucap dalam doa.
Di tengah kesunyian kamar yang dingin, keduanya terlelap dalam posisi yang tampak sangat harmonis. Namun di balik pelukan erat itu, Bara hanya sedang menjalankan peran terbesarnya demi mengamankan apa yang selama ini ia sembunyikan.
Malam ini bisa berakhir... akan tetapi.
Tidur Bara yang seharusnya menjadi pelarian dari rasa takut justru berubah menjadi panggung bagi kegelisahan yang lebih dalam. Di tengah kegelapan mimpinya, ia melangkah turun anak tangga satu per-satu yang terasa sangat asing namun penglihatanya begitu akrab saat melihat meja makan yang biasanya ada orangtuanya, dan Renata saja. Namun kali ini berbeda, di sana Renata sedang tertawa, sebuah tawa lepas yang belum pernah ia berikan pada Bara sambil menyajikan sarapan untuk seorang laki-laki yang duduk di kursinya.
Dan yang bikin Bara makin terdiam, di samping pria itu, ada dua anak kecil. Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua dan seorang anak laki-laki yang sibuk dengan mainannya tampak memenuhi ruangan dengan keceriaan yang hangat.
Namun, saat laki-laki itu menoleh padanya, jantung Bara seolah berhenti berdetak karena sosok itu bukanlah dirinya: Seketia ia berdiri terpaku di anak tangga terakhir, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana posisinya sebagai suami sekaligus ayah telah digantikan sepenuhnya oleh orang asing yang kini telah mengambil perannya.
Pada detik itu juga ia terjatuh pingsan...