Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Deretan mobil hitam berhenti tepat di halaman mansion mewah kediaman Doclan, para bodyguard menunduk hormat begitu Ravian keluar dari mobil bersama Bimo.
Pria itu menatap mansion yang sudah setahun tidak dia kunjungi, bukan karena dia sibuk tapi dia malas berdebat dengan kakeknya seperti terakhir kali.
"Kakek di rumah?" tanya Ravian pada salah satu bodyguard yang berjaga.
"Tuan besar ada di ruang keluarga, Tuan muda."
Ravian mengangguk, lalu menoleh pada Bimo. "Keluarkan hadiah di bagasi, dan bawa masuk."
"Baik, Tuan."
Setelah mendapat jawaban dari Bimo, Ravian melangkah menaiki anak tangga menuju pintu utama. Aroma bunga tulip yang di tanam di samping rumah semerbak terbawa angin, Ravian menoleh sejenak ke arah taman bunga itu.
Bunga kesayangan mendiang neneknya masih terawat dengan baik, Ravian sedikit terkejut karena kakeknya tidak memusnahkan tanaman itu. Padahal pria tua tersebut sangat benci pada bunga.
"Nenek pasti senang karena bunganya mekar dengan cantik," gumam Ravian tersenyum tipis.
Langkah Ravian kembali terhenti sejenak sebelum akhirnya dia mendorong pintu utama dan masuk ke dalam.
Suasana mansion itu masih sama seperti yang dia ingat tenang, rapi, dan terasa… dingin. Tak butuh waktu lama hingga langkahnya membawanya ke ruang keluarga.
Di sana seorang pria tua duduk di kursi besar, membaca dokumen dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya. Aura wibawa itu masih sama, bahkan terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Doclan.
Belum sempat Ravian membuka suara, pria tua itu sudah lebih dulu berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
"Rupanya… cucuku masih ingat jalan pulang."
Nada suaranya datar, tapi sindiran itu terasa jelas. Ravian mengembuskan napas pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan karena tersinggung, melainkan sudah terbiasa.
"Kalau tidak dipanggil berkali-kali, mungkin aku lupa kalau aku masih memiliki seorang Kakek," balasnya santai.
Doclan mendengus kecil, akhirnya menutup dokumen itu dan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Tak ada senyum.
Tak ada sapaan hangat. Namun, ada sesuatu yang tidak pernah berubah di antara keduanya.
"Kau terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu," ujar Doclan singkat, seolah itu hanya pengamatan biasa.
Ravian mengangkat alis sedikit. "Kakek juga terlihat lebih tua."
"Memang aku sudah tua."
"Setidaknya kau masih bisa mengeluh. Itu berarti Kakek masih sehat."
Hening sejenak. Percakapan mereka terdengar dingin, bahkan tajam namun tidak ada permusuhan di dalamnya. Hanya… cara mereka yang memang seperti itu.
Ravian melangkah mendekat, lalu duduk di kursi seberang.
"Bagaimana kabarmu, Kek?" tanya Ravian akhirnya.
Doclan tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Ravian beberapa detik, seolah menilai sesuatu.
"Seperti yang kau lihat, aku masih hidup," jawabnya singkat.
Ravian mengangguk kecil. "Bagus. Aku tidak ingin dipanggil pulang hanya untuk menghadiri pemakamanmu."
Doclan mendengus lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Bocah kurang ajar."
Namun, tidak ada kemarahan di sana. Ravian menyandarkan tubuhnya pad sandaran sofa di belakang punggungnya.
"Bagaimana kesehatan Oria?" lanjutnya, nadanya tetap santai, tapi ada perhatian yang terselip di baliknya.
Oria adalah anjing peliharaan kakeknya, belakangan ini dia mendapat kabar jika anjing itu sakit dan sudah di bawa ke dokter beberapa kali.
Doclan terdiam sejenak. Sorot matanya sedikit berubah, meski hanya sepersekian detik.
"Dia baik," jawabnya singkat. "Masih sering membangkang, seperti biasa."
Ravian mengangguk pelan. "Itu berarti dia sehat. Kakek tidak perlu merasa cemas."
Keduanya kembali terdiam. Namun kali ini, keheningan itu tidak terasa canggung. Justru… lebih seperti sesuatu yang nyaman.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar dari belakang. Bimo masuk sambil membawa kotak hadiah yang tadi diperintahkan Ravian.
Ravian melirik sekilas. "Itu untukmu, Kek," katanya pada Doclan.
Pria tua itu mengernyit heran. "Aku tidak butuh barang seperti itu."
"Aku tahu," sahut Ravian cepat. "Itu bukan untuk kebutuhan. Anggap saja… formalitas cucu yang jarang pulang menemui kakeknya sendiri."
Doclan menatap kotak itu, lalu kembali ke Ravian. "Kalau hanya formalitas, tidak perlu dibawa. Kau terlalu membuang-buang uang saja."
Ravian tersenyum tipis. "Kalau tidak kubawa, nanti kau bilang aku tidak punya sopan santun karena tidak membawa buah tangan. Dan uangku masih cukup banyak untuk membeli sepuluh mansion seperti punya Kakek."
Doclan terkekeh. "Dasar sombong."
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangan. "Taruh saja di sana," ucapnya pada Bimo.
Bimo langsung mengangguk dan menaruh kotak itu di meja samping. Setelah itu, dia mundur dengan tenang.
Ravian kembali menatap kakeknya. "Jadi," ucapnya, kini nada suaranya berubah lebih serius, "apa yang sebenarnya terjadi sampai aku harus dipanggil pulang secepat ini? Aku memang berniat kembali tapi itu masih satu minggu lagi."
Doclan tidak langsung menjawab. Dia menatap Ravian dalam diam, kali ini lebih dalam. Lalu...
"Dunia bawah Varexion mulai bergerak lagi."
Ravian menyipitkan mata. "Karena Obsidian Circle?"
Doclan mengangguk pelan. "Tapi bukan hanya masalah itu kau di panggil."
"Lantas, karena apa?"
"Pernikahan," Doclan menatap lekat cucunya. "Kau harus secepatnya menikah, Ravian."
"Me-menikah? Kenapa?"
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁