NovelToon NovelToon
Pembalasan Wanita Mandul

Pembalasan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: WeGe

"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.

"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.

"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"

Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.

"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"

........

Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.

Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.

Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?

happy reading ya🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjuangan Dimulai

...🍂🍂🍂🍂Selamat membaca🤗🍂🍂🍂🍂...

Jalanan berkelok, sedikit menanjak lalu turun, naik lagi dan turunan terjal, Amira lalui sepanjang sisa malam itu. Suara klakson dan deru kendaraan yang tadinya hanya terdengar samar, kini mulai terdengar jelas bersamaan dengan matahari yang mulai menyapa.

Amira kembali melihat ke dalam peta kecil yang dibuatkan Bu Siti. "Sepertinya Bu Siti pun sedang diancam seseorang, garis-garis ini, dia membuatnya seolah tergesa-gesa."

Dibawah peta itu, ada catatan kecil yang tadinya tak terlihat karena tak ada cahaya, dan tulisan itu hanya samar ditulis dengan pencil. —Maaf kami terpaksa—

"Kami?" Amira mengulang mengucapkan apa yang tertulis disana. "Jadi, semua orang itu sengaja melakukannya padaku!"

Amira berdiri tepat di sebelah talud, diatasnya jalan raya tampak sudah ramai. Sekali lagi ia menatap titik terakhir peta. Tak ada petunjuk apapun, hanya tertulis —Bus—, Amira berpikir sejenak, sembari menahan haus yang menyerang tenggorokannya.

"Aku tidak tahu harus naik bus apa, jika aku ke terminal, mungkin saja orang itu akan mengejarku. Lalu aku harus kemana?"

Tepat di tengah kebingungannya, seorang petani tampak menuruni bukit dengan cangkulnya. Amira bergegas menghampiri untuk bertanya.

"Permisi, Pak. Jika mau ke kota S, saya harus naik bus apa ya?"

Petani itu tak pantas cepat menjawab, ia perhatikan penampilan Amira yang acak-acakan. "Mungkin bus Mitra trans, kenapa nggak ke terminal aja Mbak, tanya petugas di sana."

Amira tersenyum, ia sudah siap dengan pertanyaan itu. "Saya buru-buru, Pak."

Amira pun bergegas menapaki tangga talud, hingga mencapai tepi jalan raya, beruntung petani tadi tak banyak bertanya. Setelah menunggu beberapa saat, bus yang dimaksud pun muncul dari ujung jalan.

Amira bergegas naik bus, kota S—rumah suaminya adalah tujuannya pertama. "Aku harus kembali diam-diam untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Tepat saat ia mendapatkan kursi, ia melihat pria semalam tampak berlari di jalan setapak diantara sawah yang tadi dilalui Amira. Tidak sendirian, pria itu diikuti beberapa pria lain yang tak kalah kekar. namun yang membuat Amira bimbang dan merasa bersalah, karena Bu Siti dicekal, diseret-seret oleh beberapa pria itu.

"Siapa Bu Siti? Dan siapa mereka?" lirih Amira tertunduk menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasa tertekan kembali menyeruak dan menyesakkan.

🍂🍂🍂🍂🍂

Di kafe, Loretta mendapat kejutan dari pesan manis yang diantar seorang pelayan.

"Nolan Wijaya... Aku tak pernah mendengar nama itu." Loretta tersipu malu, sembari membaca kartu nama yang dibawakan pelayan, kemudian membaliknya, sebuah pesan manis tertulis di sana. —Nikmati coklat hangat, sehangat senyuman Anda, Nyonya—

"Widih, CV Mardiya trans, itu kan perusahaan transportasi terbesar di kota S! Kau di-notice langsung sama CEO-nya!" pekik Amellia seraya menepuk pundak Loretta,tanya membulat karena tak percaya.

"Wah, kau sangat hebat, Retta. Aku dengar dia masih muda dan sedang cari pasangan!"

"Uuh... deketin Ret, terima aja!"

Sorak senang, dari Amellia maupun Astrid terhenti saat mereka menyadari langkah kaki yang mendekat ke meja mereka.

"Dia datang, Retta!" seru Astrid setengah berbisik, seraya menyenggol siku bestinya itu.

"Badannya aduhai, kamu benar-benar beruntung, Retta!" sahut Amellia tak kalah senangnya.

Pria muda tampan itu berdiri, tepat di depan Loretta. Ia menyunggingkan senyum manis yang menggoda, membuat tiga janda itu ternganga dan terpesona. pria itu mengulurkan tangan kanannya, "Halo, Nyonya Loretta. Apa anda mengingat saya?"

Amellia dan Astrid sangat pengertian, mereka memilih pindah meja untuk melihat temannya dari jarak yang cukup untuk memberi mereka privasi.

Loretta tak bisa menyembunyikan ketertarikannya, "Hm, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya manis, tak bisa menyembunyikan senyum tersipu malu.

Nolan duduk tepat di sisi Loretta, lengannya bersinggungan dengan janda kesepian itu, membuat jantung Loretta semakin membuncah tak karuan salah tingkahnya. "Ya, kita pernah makan malam bersama, tepatnya di pesta pernikahan mantan pacar saya—"

Loretta seketika teringat, seorang pria yang duduk sendirian, menatap tajam ke arah mempelai wanita, tepatnya putri dari relasi bisnis suaminya dua tahun lalu. "Ya! Aku ingat sekarang, kau pria itu, yang terpaksa datang karena harus terlihat baik-baik saja di depan orang tuamu."

"Ah, Anda menyakiti hati saya, Nyonya. Jangan mengingatkan kenangan pahit yang sudah saya hapus itu, sekarang saatnya have fun, betul kan?"

"Maafkan aku, aku tak bermaksud begitu. Kau tampan, kau...." Loretta tak melanjutkan ucapannya, ada sesuatu yang sengaja ingin ia tarik ulur. 'Kenapa dia tiba-tiba mendekatiku ya, pria muda tampan, tak mungkin mendekati janda tanpa tujuan,' pikirnya rasional.

"Anda masih saja cantik, Nyonya!"

Loretta semakin salah tingkah, pujian tanpa basa-basi terdengar jelas dari mulut Nolan. "Ah, aku sudah tua, kau tahu kan?"

"Ya, jadi saya hanya ingin mengenal anda—"

Dzzzt dzzzzt!

Kalimat Nolan terhenti, ponselnya bergetar. "Maaf Nyonya, saya harus menerima panggilan dulu, silahkan nikmati minuman Anda," pamit Nolan sopan.

Diluar cafe, tepatnya di parkiran, Taya—asisten pribadinya sudah menunggu.

"Kau tepat waktu, rasanya sudah muak dekat-dekat dengan janda itu!"

"Kau sudah berhasil membuatnya terpesona, Lan. Dari sini kuperhatikan, dia tampak salah tingkah."

"Ya, setidaknya satu langkah," sahut Nolan kemudian menyalakan ujung rokok yang sudah terselip di mulutnya. "Jika bukan karena janjiku pada tuan Wibisono, aku tak Sudi dekat-dekat dengan perempuan tua itu!" serunya terdengar kesal. "Oh ya, apa belum ada kabar tentangnya?"

Taya menggeleng lemah, "Belum, orang-orangku masih berusaha mencari jejaknya. Tak ada petunjuk apapun."

"Baiklah, kita pikirkan juga bagaimana caranya kita bisa terhubung dengan Beni."

"Kurasa proyek ekowisata yang kamu usulkan, sedang dia baca, kita harus sedikit bersabar, posisi itu masih baru baginya, dia mungkin butuh waktu untuk beradaptasi."

"Baiklah, kirimkan pesan pada janda itu atas namaku, katakan aku harus pergi. Jangan lupa buatkan kalimat yang manis agar dia terpikat!"

"Sepertinya kau yang sudah jatuh cinta, Lan," Taya menggoda bos yang juga temannya sejak kuliah.

"Jaga mulutmu, atau kusobek nanti! Najis lah sama janda begitu! Tugas kita untuk membongkar kebusukannya!"

Taya tertawa keras meledek sahabat sekaligus bosnya itu. Meski mereka berteman baik, tapi keduanya bisa menempatkan diri pada situasi sesuai yang seharusnya. Saat berhubungan dengan pekerjaan, Taya akan bersikap tegas dan patuh layaknya seorang karyawan, saat sedang diluar dinas, mereka akan tetap kompak dan saling menghormati layaknya teman.

🍂🍂🍂🍂🍂

Amira turun di pertigaan terakhir sebelum masuk ke wilayah perumahan suaminya. Ia kemudian mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan.

"Pelan-pelan saja, ya Pak. Nanti saya beri ongkos lebih, tapi bantu saya melihat rumah orang beberapa saat," pintanya pada sopir taksi saat Amira meminta sopir taksi itu menepi.

"Baik, Bu."

...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...

Bersambung🤗

1
Luzi
semangat💪💪💪💪
WeGe: terimakasih 🙏
total 1 replies
@RearthaZ
lanjutin terus ya kak
@RearthaZ: iya, kak, terima kasih, selamat berkarya juga kak, aku minta maaf ya kesannya boom like, tapi beneran karya kakak bagus kok, meskipun saat ku baca sekilas bukan masuk ke genre ku, tapi karya kakak bagus kok
total 8 replies
@RearthaZ
aku mampir ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!