NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13 — Jejak Marco

Kecurigaan adalah bayangan yang tidak bisa disentuh, tapi selalu mengikuti. Sejak malam ketika Aluna menyebut sayap hitam, nama Marco tak lagi sekadar nama keluarga—ia menjadi simpul gelap di setiap potongan ingatan yang Dimas susun. Namun kecurigaan saja tidak cukup. Tanpa bukti, kebenaran hanya akan menjadi racun yang melumpuhkan mereka bertiga.

Dan Dimas tidak ingin lumpuh.

Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya sendiri yang semakin kurus. Lingkar hitam di bawah mata menjadi saksi malam-malam tanpa tidur. Ia mengenakan jaket sederhana, topi ditarik rendah—penyamaran yang seadanya, tapi cukup. Ia akan mengawasi Marco. Diam-diam. Tanpa menarik perhatian.

Digo tahu rencana itu, meski tidak setuju. “Hati-hati, Mas,” katanya pelan saat Dimas mendorong kursi rodanya mendekat ke jendela. “Kalau benar dia pelakunya… dia bukan orang sembarangan.”

“Aku tahu,” jawab Dimas. “Makanya aku tidak akan gegabah.”

Ia berpamitan pada Aluna dengan alasan pekerjaan. Aluna menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Mas pulang sebelum gelap,” katanya. “Kupu-kupu susah terbang malam.”

Dimas tersenyum, menelan getir. “Iya.”

Marco tinggal di rumah dua lantai di pinggir kota—tidak mencolok, tapi terawat. Dimas memarkir motor sewaan beberapa rumah dari sana, lalu berjalan kaki, berpura-pura menunggu angkutan. Dari balik kacamata hitam, ia mengamati: jam berapa Marco keluar, siapa yang datang, siapa yang pergi.

Hari pertama, tak ada yang aneh. Marco berangkat pagi, pulang sore. Sesekali menerima tamu—lelaki paruh baya, berpakaian rapi, berbincang singkat di teras. Tidak ada suara ribut, tidak ada tanda-tanda mencurigakan.

Hari kedua, Dimas melihat Marco singgah di sebuah bengkel tua. Bengkel itu tidak memasang papan nama. Pintu besinya setengah tertutup. Marco masuk dan keluar dalam waktu sepuluh menit. Saat keluar, ia memasukkan sesuatu ke saku jaketnya. Kecil. Berat.

Hari ketiga, Marco berhenti di sebuah kedai kopi di sudut jalan, duduk di pojok, punggung menghadap jendela. Dimas duduk dua meja di belakangnya. Ia tidak bisa mendengar percakapan dengan jelas, hanya potongan kata—“aman,” “lama,” “bersih”—yang membuat tengkuknya menegang.

Namun semua itu masih belum cukup. Kecurigaan tanpa bukti adalah pasir—mudah lepas dari genggaman.

Hari keempat, Dimas mengubah taktik. Ia mengikuti Marco hingga malam.

Hujan gerimis turun ketika Marco meninggalkan rumahnya pukul sembilan. Ia mengemudi tanpa tujuan jelas, berputar-putar, lalu berhenti di sebuah gudang tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Lampu-lampu mati. Hanya satu bohlam kuning menyala di pintu samping.

Dimas mematikan mesin motornya jauh sebelum gudang, berjalan menyusuri bayangan. Dari balik tumpukan peti kayu, ia mengintip.

Marco tidak sendirian.

Ada belasan orang di dalam. Mereka berdiri melingkar, berbicara pelan tapi intens. Dimas menahan napas. Ia mengeluarkan ponsel, merekam—tangannya bergetar.

“…kita sudah aman selama ini,” suara Marco terdengar, rendah dan tegas. “Tapi anak-anak itu mulai bergerak.”

Dimas membeku.

“Yang satu lumpuh,” lanjut Marco. “Yang satu sok pahlawan. Dan yang perempuan… saksi.”

Saksi.

Dimas menelan ludah. Setiap kata kini seperti paku yang dipalu ke dadanya.

“Kalau dibiarkan,” Marco menambahkan, “mereka akan menggali. Kita tidak bisa ulangi kesalahan lama.”

Seorang lelaki lain tertawa pendek. “Jadi kita tutup semuanya?”

Marco mengangguk. “Malam ini kita rapi. Tidak ada sisa.”

Dimas merasa dunia menyempit. Malam ini. Kata itu berdengung di kepalanya seperti sirene. Ia mundur perlahan, menahan keinginan untuk lari. Rekaman harus utuh. Ia tidak boleh ceroboh.

Saat ia berbalik, kakinya menginjak pecahan kaca.

Krek.

Suara kecil. Tapi cukup.

Marco menoleh ke arah pintu. “Ada yang di luar.”

Dimas tidak menunggu. Ia berlari.

Hujan berubah deras, menutup jejak langkahnya. Ia melompat ke motor, mesin meraung. Jantungnya berpacu lebih kencang daripada roda yang membelah jalan basah. Ponselnya masih merekam—ia menghentikannya setelah beberapa blok, memastikan file tersimpan.

Tangannya gemetar hebat saat ia berhenti di bawah lampu jalan. Napasnya tersengal. Ia memutar ulang rekaman, memastikan suara Marco terdengar jelas. Ada. Jelas. Cukup.

Namun ketakutan belum usai. Jika Marco menyadari ia diawasi, mereka dalam bahaya.

Dimas pulang menjelang tengah malam. Rumah gelap. Ia mengunci pintu rapat-rapat, lalu menyalakan lampu ruang tengah. Digo terjaga, menunggunya. Wajahnya tegang.

“Ada apa?” tanya Digo.

Dimas menunjukkan ponsel tanpa berkata-kata. Digo mendengarkan rekaman itu, rahangnya mengeras. Saat selesai, ia menghela napas panjang—campuran lega dan ngeri.

“Ini… ini bukti,” bisik Digo.

“Belum cukup,” jawab Dimas. “Tapi ini awal.”

Dari lorong, Aluna muncul. Ia memeluk bros kupu-kupu, menatap Dimas dengan mata besar. “Mas bau hujan,” katanya. “Dan takut.”

Dimas berlutut, memeluknya erat. “Mas pulang,” katanya. “Dan Mas tidak akan pergi.”

Aluna menempelkan pipinya ke dada Dimas. “Sayap hitam marah,” gumamnya. “Hati-hati.”

Dimas menatap Digo di balik bahu Aluna. Kecurigaan kini berubah menjadi arah. Jejak Marco bukan lagi bayangan—ia mulai menampakkan wujud.

Dan waktu mereka semakin sempit.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!