Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Malam di Mansion Lumiere selalu memiliki resonansi yang sama: sunyi, dingin, dan berbau lilin aromaterapi mahal yang menyesakkan. Salene duduk di tepi ranjangnya yang luas, terbungkus piyama sutra berwarna sampanye.
Di atas meja nakas, botol air lemonnya sudah kosong, menyisakan rasa asam yang getir di pangkal tenggorokannya.
Tiba-tiba, sebuah getaran halus muncul dari ponsel yang ia sembunyikan di balik bantal. Jantung Salene berdegup kencang. Ia tahu itu bukan notifikasi dari grup kelas atau surel dari guru Sejarah Seni.
Notifikasi: Nikolas Martinez mengunggah sebuah foto.
Dengan gerakan cepat, Salene membuka aplikasi tersebut. Jarinya sedikit gemetar saat layar menampilkan unggahan terbaru Nik. Itu adalah foto mereka di taman markas minggu lalu.
“Just Reflecting with my Favorite ,” tulis keterangan singkat di bawah foto itu.
Salene menyentuh layar ponselnya, tepat pada bagian wajahnya yang sedang tersenyum. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Dalam mode seperti ini—tanpa riasan tebal, tanpa tatapan angkuh, dan tanpa punggung yang kaku—ia merasa bebas. Bersama Nik, ia bebas melakukan apa pun yang ia inginkan; makan es krim yang meleleh di tangan, berteriak di atas motor, atau sekadar bicara tentang hal-hal bodoh.
Di markas The Vultures, di antara tawa konyol Dion dan celotehan ajaib Lauren, Salene menemukan rumah yang tidak pernah ia miliki di mansion megah ini. Di sana, ia bukan "Produk Lumiere", melainkan hanya Salene.
"Terima kasih, Nik," bisiknya pada keheningan kamar. "Terima kasih sudah membiarkanku menjadi manusia."
Sementara itu, beberapa kilometer dari Mayfair, suasana di kediaman Martinez jauh lebih hangat namun tak kalah intens. Kediaman mereka tidak semegah mansion Lumiere, namun penuh dengan karakter; dinding yang dihiasi foto-foto balap tua, aroma masakan rumahan yang gurih, dan suara musik jazz lembut dari pemutar piringan hitam.
Nikolas sedang duduk di meja makan, masih mengenakan kaos hitam polos yang menonjolkan otot lengannya, sambil menyesap kopi hitamnya. Sang Ibu, seorang wanita dengan mata dingin tapi sangat hangat yang mirip dengan Nik namun memiliki senyum yang jauh lebih ramah, berjalan menghampirinya sambil membawa ponsel di tangannya.
"Nikolas," panggil Sang Mommy lembut. Ia menggeser layar ponselnya, menunjukkan foto yang baru saja diunggah putra tunggalnya itu. "Foto yang kau unggah ini... apakah dia kekasihmu?"
Nik tersedak kopinya sedikit, lalu berdehem. Ia mencoba memasang wajah datarnya, namun telinganya sedikit memerah—ciri khas Martinez saat sedang terpojok.
"Bukan, Mom. Dia... teman sekolah."
Mommy Martinez tertawa kecil, menarik kursi dan duduk di hadapan putranya. "Teman sekolah tidak foto seperti itu, Sayang. Bahkan dalam siluet, Mommy bisa merasakan gravitasi di antara kalian. Kenapa? Apa kau merasa kurang tampan untuk menjadikannya kekasih?"
Nik terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, Mom. Dia bukan gadis biasa. Dunianya... sangat berbeda dari dunia kita. Dia seperti porselen mahal yang dikelilingi oleh tembok berduri. Salah langkah sedikit, aku bisa menghancurkannya atau membuatnya dalam masalah besar dengan keluarganya."
Mommy Martinez menyentuh tangan putranya yang besar dan kasar karena kerja bengkel. "Lalu, sampai kapan kau hanya akan menjadi 'teman' dalam siluet?"
Nikolas terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh menembus jendela dapur.
"Minggu depan, Mom. Minggu depan dia akan berusia delapan belas tahun. Dia akan menjadi dewasa di mata hukum, dan mungkin... dia akan punya sedikit lebih banyak keberanian untuk melawan dunianya."
Ia menarik napas panjang, suaranya berubah menjadi lebih serius dan lembut.
"Aku ingin mengatakan perasaanku nanti saat dia berusia delapan belas tahun, Mom. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai. Aku ingin membawanya keluar dari sangkar emas itu, kalau dia mengizinkanku."
Sang Mommy tersenyum bangga, matanya berkaca-kaca. "Gadis itu sangat beruntung memilikimu, Nik. Jangan biarkan dia merasa sendirian di dunianya yang dingin itu. Bawa dia ke sini kapan-kapan, Mommy akan memasakkan pasta terbaik agar dia lupa pada air lemonnya yang menyedihkan itu."
Nik tersenyum tulus, membayangkan Salene duduk di meja makan ini, tertawa bersama ibunya tanpa harus mengkhawatirkan timbangan digital atau instruksi Madame.
"Aku akan mencobanya, Mom. Segera."
Kembali ke Mansion Lumiere, Salene masih menatap foto itu hingga layar ponselnya meredup sendiri. Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, ada seorang pria yang sedang menghitung hari menuju ulang tahunnya, bukan untuk memberinya perhiasan mahal, melainkan untuk memberinya sebuah pengakuan yang bisa mengubah seluruh garis hidupnya.
Salene memejamkan mata, memeluk ponselnya di dada. Satu minggu lagi. Satu minggu menuju angka delapan belas. Satu minggu menuju kebebasan yang selama ini hanya ia rasakan di belakang punggung Nikolas Martinez.
Di luar, angin London berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon di taman mansion, seolah-olah ikut berbisik tentang rahasia yang sedang tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
🌷🌷🌷🌷