NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:101k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 13

Di atas kasur lapuk milik Dito, Aabid masih juga terjaga.

Entah karena tak nyaman atau banyak pikiran, tapi yang pasti matanya tak bisa terpejam meski jarum jam sudah hampir menyentuh angka 12.

Sejak kejadian sore tadi, tak ada satu pun dari anak Harun yang sebelumnya merawatnya dengan begitu hati-hati datang menemuinya.

Sementara baju ganti Dito di lemari sebelah Aabid pun Harun yang mengambilnya sore tadi.

Berkali-kali Aabid menghela napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Penat oleh kesalahan yang berdampak begitu besar. Ia seolah lupa dengan kalimat terdakwa tidak bersalah.

Sementara ia dengan lugas menyalahkan yang bukan terdakwa bahkan penyelamat. Lalu bagaimana ia tidak diliputi rasa bersalah yang mendalam?

Malam terus merambat hingga udara dingin menusuk ke tulang.

Aabid terus mencoba memejamkan mata. Detik berselang, gemericik air dan bunyi keran kembali menyadarkan Aabid yang hampir terlena menjelajahi negeri mimpi.

Pompa air yang terdengar begitu keras karena rumah yang tidak dipasang plafon itu pun mengarahkan netra Aabid ke arah jam kecil serupa weker yang diletakkan di atas nakas sebelah tempat tidur.

"Jam tiga?! Apa maling?" gumam Aabid sedikit kesal dengan pikiran negatif yang lagi-lagi menghampiri.

Tak lama setelahnya, suara pintu dari arah belakang terdengar berderit, ia pun berusaha bangkit dan perlahan berjalan keluar untuk melihat siapa gerangan yang menggangu orang di jam seperti ini.

Tanpa penerangan, Aabid berjalan pelan, merambat dinding sebagai pegangan, ia tak mau menimbulkan suara sedangkan rumah dengan keadaan gelap itu belum diketahui medannya seperti apa.

Ya, ia bahkan menahan buang air kecil karena tak melihat kamar mandi di dalam kamar, pun masih sungkan dengan keluarga ini jika harus mengantar, hingga ia pun tak berani minum terlalu banyak.

Aabid menajamkan pendengaran dan penglihatan, memindai ke seluruh sudut ruang. Keadaan gelap ditambah anggota tubuh yang masih menyisakan perih membuatnya sedikit kesulitan.

Tapi, Aabid tak mau dengan mudah menyerah. Ia perwira, yang tidak akan dengan mudah tumbang hanya karena kecelakaan semata.

Suara pergerakan yang ia tangkap akhirnya bisa ia temukan berasal dari sebuah kamar di bagian belakang ruang tamu, tepatnya kamar yang kini dalam keadaan terbuka dan lampu yang terlihat remang-remang.

Aabid pun bergegas mendekati.

Khawatir jika ada pencuri atau kawanan begal mencelakai. Disambarnya sebuah botol dari atas meja yang kebetulan ada di dekatnya sebagai pegangan dan menghalau jikalau ada serangan.

Lalu ia kembali berjalan, meski sedikit tertatih, tapi tetap percaya diri.

Ia mengendap mendekati pintu yang terbuka setengah setelah beberapa saat hening menyapa dan suara hentakan langkah yang sempat ia dengar sebelumnya menghilang.

Aabid pun semakin curiga, tak sabar ia pun bersiap menyerang, mengangkat botol dan ....

Degh!

Tangannya mengambang di udara dengan botol yang masih ia pegang berada tepat di atas kepala.

Bukan maling, namun hanya seorang wanita yang sedang melakukan ibadah malam dan tengah bersujud tepat di hadapan di mana Aabid berdiri tegak sekarang.

Secepatnya Aabid menyadarkan diri dan kembali sebelum sujudnya selesai.

Ia bersandar di balik dinding, mengatur debaran jantung yang tiba-tiba menggila karena rasa kaget dan tercengang.

Lagi, ia sudah salah paham.

Sejenak ia terpaku dalam kebisuan dan kegelapan, tercenung mengingat entah sudah berapa lama ia melupakan sembahyang dan sebagainya.

Rasa tak terima akan takdir membawanya membuatnya seolah marah pada Sang Pencipta.

Hingga segalanya ia lupakan termasuk kewajiban.

Jangankan membentangkan sajadah di sepertiga malam yang menjadi ibadah sunah, kewajiban lima waktu yang ia tak pernah abaikan sebelumnya pun ia tinggalkan sepenuhnya hanya karena patah hati berkepanjangan.

Memalukan.

"Jika dia yang terbaik maka lancarkanlah. Semua kuserahkan padaMu. Engkau Maha Tahu sedangkan hamba tidak tahu apa-apa. Jika boleh meminta, jadikan aku istri Sholeha dan mendapat ridho di setiap perjalananku bersamanya ...."

Aabid tersadar kembali kala lantunan do'a diiringi tangis lirih terdengar. Istri Sholeha. Masih adakah yang demikian?

Aabid mengiringkan senyuman miris, teringat akan istri seperti apa yang ia dapatkan sekalipun do'a yang tak jauh berbeda dari apa yang barusan ia dengar setiap hari ia lantunkan.

"Bodoh," gumam Aabid pada akhirnya, kemudian melangkah.

Do'a yang ia dengar menggambarkan sebuah kebodohan bagi dirinya. Ya, baginya hanya orang bodoh yang ingin menjadi baik untuk orang yang belum tentu bisa menghargai mereka.

Sekitar beberapa langkah, lampu menyala tiba-tiba.

"Haus?"

Langkah Aabid terhenti, ia tersentak kala mendengar pertanyaan bersamaan lampu yang dinyalakan secara bersamaan.

Ia pun reflek membalikkan badan ke arah belakang, setelah meletakkan botol yang ia pegang di tempat semula.

"Apa kau haus?" selina berdiri masih dengan mukena bagian atas dan bertanya untuk ke dua kalinya saat tak terdengar jawaban dari Aabid.

Sesekali ia menundukkan kepala, tak berani menatap Aabid sepenuhnya.

Aabid menggelengkan kepala. Lalu menatap ke arah botol di tangan yang sempat terlihat oleh selina sehingga ia mengira Aabid mencari air.

"Tidak."

"Lalu?!" tanya selina tanpa menatap ke arah Aabid.

"Sholat," celetuk Aabid begitu saja.

"Sholat?! Kenapa keluar? Lukamu belum kering, tayamum saja."

"Saya mau ke kamar mandi."

Selina tersentak rupanya ia sudah salah menduga. Ia pikir Aabid ingin mengambil wudhu, tapi nyatanya bukan.

"O... Oke, Bapak belum bangun, biar saya tunjukkan kamar mandinya. Mari."

Selina memutar badan, ia segera melangkah menuju ke arah belakang dan membuka pintu tengah.

Perlahan Aabid melangkah mengikuti selina dan tepat di depan kamar yang kini terbuka lebar itu kakinya tiba-tiba terkunci, ia menoleh ke arah di mana Dito terbaring nyenyak di kasur lantai berselimut sarung dan terlihat kedinginan, sementara Rara di atas ranjang yang tidak terlalu lebar namun tampak begitu nyenyak.

Ia lantas mengedarkan pandangan sembari menghitung banyaknya ruang. Satu masih tertutup rapat dan berhadapan dengan kamar selina, dua tempatnya beristirahat, dan tiga adalah ruangan yang ia pandangi saat ini.

Ya, kamar hanya ada tiga dan Aabid menempatinya satu. Ia pun menghela napas, lalu berpikir begitu menyusahkannya dirinya bagi keluarga ini.

Suara pompa air terdengar beberapa saat setelahnya, Aabid pun seketika tersadar dari lamunan dan bergegas mengikuti ke mana selina pergi dengan melangkah lebih cepat lagi meski harus meringis menahan sakit.

"Ini untuk menyalakan keran, bukan pompa otomatis jadi tekan saklarnya kalau butuh," ujar selina sambil terus melangkah maju setelah menekan saklar keran, sementara Aabid terus memindai seluruh sudut ruang dan hanya menjawab 'Hem' saja.

Aabid terus menyisir keadaan rumah. Meski rumah jauh dari bagus namun terlihat tertata. Meski perabot terlihat usang, tapi mereka menatanya dengan rapi dan bersih.

Menggambarkan sebuah rumah yang di dalamnya dipenuhi oleh kebersyukuran.

Kini, tibalah Aabid di ruangan paling belakang, di mana cat tembok yang sudah usang dan sedikit mengelupas menyambut netranya.

"Ini kamar mandinya. Saya tunggu di ruang tengah. Panggil kalau membutuhkan, tapi jangan keras-keras karena semua biasanya akan bangun menjelang subuh. Permisi."

Belum juga Aabid bertanya di mana letak lampu yang terlihat belum menyala namun selina justru bergegas pergi, ia seolah menghindar dari Aabid.

Tak mau terlalu dekat, tapi tak mungkin juga ia menolak sementara Aabid berada di rumahnya dan membutuhkan bantuan.

Itulah yang dirasakan selina sekarang.

Dengan terpaksa Aabid mencari, saklar satu per satu ia coba menekan, saklar ke dua ia tekan dan akhirnya lampu kamar mandi menyala.

Ia bernapas lega kemudian masuk ke dalamnya.

"Es batu ini, sih," ujar Aabid begitu menyentuh air di bak mandi yang masih terbuat dari bahan semen yang diperhalus.

Jauh berbeda dari kamar mandinya di rumah yang hanya tinggal memilih air hangat atau tidak langsung keluar.

Sementara selina menunggu di ruang makan, beberapa kali ia menghela napas panjang. Mengatur detak jantung yang tak beraturan.

Bagiamana pun juga mereka berdua bukan mahram namun harus tinggal bersama. Sementara selina adalah wanita dewasa dan membutuhkan privasi dan kebebasan.

Detik berselang menit pun berganti.

"Kencing, BAB, apa pingsan?" gerutu selina pada akhirnya, lalu bangkit setelah melihat ke arah jam dinding, tak sabar.

Cukup lama Aabid berada di dalam kamar mandi, hingga berkali-kali selina harus melongok kan kepala melihat ke arah pintu yang masih saja tertutup rapat dengan sedikit rasa khawatir.

Ia tahu tangan itu belum bisa bekerja secara normal, tapi tak mungkin juga selina membantu untuk melepas celana bukan?

Semakin tak sabar dan semakin khawatir akhirnya selina memutuskan untuk melangkahkan kaki kembali ke arah kamar mandi setelah memikirkan berbagai kemungkinan.

Dengan ragu tangan selina terangkat hendak mengetuk pintu dan bersamaan dengan itu Aabid membukanya tanpa aba-aba.

"Ya salam," celetuk Aabid terkejut dengan keberadaan selina hingga tubuhnya tersentak mundur satu langkah ke belakang.

"Ma—maf, Om. selina teh kira terjadi sesuatu sama Om. Om sangat lama tadi menurut selina." Dengan cepat selina menundukkan kepala, kemudian berujar dengan nada terbata.

"Om? Lagi?" gumam Aabid dalam hatinya.

Ia berpikir keras apa ketampanan yang ia miliki sudah pudar hanya karena sedikit luka di keningnya?

Sehingga anak Pak Harun memanggilnya demikian?Sebelumnya Dito dan sekarang selina.

1
Reni Anggraeni
up LG atuh🤭
aliyya
makin rame aj nich,ayu udh dorong selina ampe kebentur dinding,jgn sampai Aabid melihat nanti makin g bisa d bebas in bpak lo ayu,tp gpp sich jd g ad yg berani bikin keluarga harun sakit hati lg,biar mereka kapok ,,,🤭❤️❤️❤️
bude gemoy
ayo....lanjut tambah greget.....
double up Thor 🙏
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!