Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU SALAH MENILAIMU
Alya langsung mendekap Purbaya begitu pintu tertutup. Tubuhnya hangat, lengannya melingkar di leher Purbaya dengan gerakan yang sudah sangat dikenalnya.
Namun Purbaya hanya membalas seadanya.
Sentuhan itu terasa dingin, seperti seseorang yang sekadar membiarkan sesuatu terjadi.
Alya langsung merasakannya.
Ia mundur sedikit, menatap wajah Purbaya.
“Mas... kamu kenapa sih?”
Tidak ada jawaban.
Alya kembali mencoba, mencium pipinya, lalu mendekat lagi. Tapi reaksinya tetap sama. Tidak ada gairah yang biasanya ia lihat.
Alya mulai kesal.
“Kamu ini kenapa sih, Mas? Aku ke sini bukan buat diperlakukan begini.”
Purbaya menghela napas.
“Aku datang ke sini sebenarnya mau bilang sesuatu--”
“Aah, sudahlah,” potong Alya cepat sambil tertawa kecil. “Jangan mulai serius lagi. Aku tahu kamu juga menginginkan ini.”
Tanpa memberi kesempatan bicara, Alya mendorong dada Purbaya hingga pria itu jatuh terlentang di tempat tidur.
Dalam satu gerakan cepat, Alya sudah naik di atasnya.
“Mas, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini,” katanya dengan napas hangat di dekat wajahnya. “Kita nikmati saja waktu yang ada.”
Ia mulai mencium Purbaya dengan penuh semangat.
Namun Purbaya menahan bahunya.
“Alya... tunggu.”
Alya pura-pura tidak mendengar dan kembali mendekat.
“Alya... dengarkan dulu.”
Ketika perempuan itu tetap memaksakan diri, Purbaya akhirnya mendorongnya dengan lebih keras.
Alya terjatuh ke samping tempat tidur.
“Mas! Kamu--!”
“Maafkan aku, Al,” potong Purbaya cepat, napasnya masih berat. “Dengarkan aku dulu.”
Alya menatapnya dengan campuran marah dan tidak percaya.
Purbaya duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya sebelum akhirnya berkata pelan,
“Aku datang ke sini bukan untuk ini.”
Hening sejenak memenuhi kamar itu.
“Aku datang karena aku ingin menyelesaikan semuanya.”
Alya mengerutkan kening.
“Kemarin... apa yang kamu katakan tentang Noya...” lanjut Purbaya. “Itu membuatku berpikir banyak.”
Ia menatap Alya dengan serius.
“Cara kamu memandang anakku... itu membuatku sadar sesuatu.”
“Aku tidak bisa bersama seseorang yang tidak bisa menerima bagian terpenting dalam hidupku.”
Suasana kamar tiba-tiba terasa dingin.
“Alya... mungkin selama ini aku salah.”
“Aku salah menilaimu.”
Alya berdiri cepat dari lantai, wajahnya masih memerah oleh emosi yang bercampur antara marah dan tidak percaya.
“Mas, aku cuma menginginkan kamu,” katanya, suaranya berubah memohon. “Noya itu kan anak Eva. Aku... aku bisa memberikan kamu anak yang lucu nanti. Anak yang--”
“NOYA ITU JUGA ANAKKU!” potong Purbaya keras.
Suaranya menggema di kamar hotel yang sempit itu.
“Darah dagingku.”
Alya terdiam.
Purbaya berdiri dari tepi tempat tidur, menatapnya dengan sorot mata yang belum pernah Alya lihat sebelumnya.
“Jangan pernah bicara tentang dia seperti itu lagi.”
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Alya menggeleng kecil, mencoba menertawakan situasi itu.
“Kamu serius? Setelah semua yang sudah terjadi di antara kita?”
Purbaya menarik napas panjang, lalu berkata lebih pelan,
“Mungkin justru karena semua yang sudah terjadi... aku baru benar-benar melihat siapa kamu.”
“Aku ini datang jauh-jauh untukmu!” balas Alya, nadanya mulai meninggi. “Dan sekarang kamu mau menghakimi aku hanya karena satu kalimat?”
“Bukan satu kalimat,” jawab Purbaya. “Tapi cara kamu memandang sesuatu yang paling penting dalam hidupku.”
Alya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca.
“Jadi... mau kamu kita selesai begitu saja?”
Purbaya tidak langsung menjawab.
Ia mengambil kunci mobil dari saku celananya.
“Iya, Al,” katanya akhirnya.
“Lebih baik kita berhenti di sini sebelum semuanya semakin salah.”
Purbaya berjalan menuju pintu.
Di belakangnya, Alya masih berdiri kaku di dekat tempat tidur.
Pintu kamar terbuka.
Sebelum keluar, Purbaya berhenti sebentar tanpa menoleh.
“Dan aku minta... jangan hubungi aku lagi.”
Lalu ia pergi.
Di dalam kamar, Alya berdiri terpaku beberapa detik setelah pintu tertutup.
Lalu emosinya pecah.
“Mas!” teriaknya, tapi suara itu hanya memantul kembali di dinding kamar.
Air matanya mengalir deras. Ia menyeka wajahnya dengan kasar, napasnya tersengal oleh campuran marah dan terluka.
Tangannya meraih botol minum yang ada di meja samping tempat tidur.
Dengan gerakan penuh emosi, botol itu ia lempar ke arah pintu.
Brak!
Botol itu membentur daun pintu sebelum jatuh berguling di lantai.
Alya terisak, tubuhnya gemetar oleh amarah yang belum juga reda.
Sementara itu, di parkiran hotel, Purbaya sudah duduk di dalam mobilnya.
Ia menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata beberapa saat.
Sejujurnya ia sendiri belum sepenuhnya sadar dengan keputusan yang baru saja ia buat.
Semuanya terasa begitu cepat.
Begitu berat.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Di layar muncul nama yang sudah ia kenal.
“Asisten Riset.”
Purbaya menatap layar itu beberapa detik.
Lalu tanpa ragu ia menekan tombol merah.
Panggilan itu terputus sepihak.
Ia menarik napas panjang, menyalakan mesin mobil, lalu perlahan menjalankan mobilnya meninggalkan halaman hotel.
Purbaya melirik jam tangannya.
Sepuluh menit lagi sesi terapi Noya seharusnya selesai.
Dadanya langsung terasa tidak nyaman. Berarti kemungkinan besar Noya sudah menunggunya.
Ia menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya.
Sepanjang jalan pikirannya hanya satu--jangan sampai Noya menunggu terlalu lama.
Benar saja.
Saat Purbaya sampai di tempat terapi, ia melihat Noya sendang berjongkok di ruang depan, ditemani oleh terapisnya. Anak itu memegang mainan bus kecilnya sambil memutar rodanya pelan di lantai.
Begitu melihat Purbaya masuk, Noya menoleh.
Purbaya berjalan cepat mendekat.
“Maaf ya, Bu,” katanya pada terapis itu. “Tadi ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan.”
Terapis itu tersenyum maklum.
“Tidak apa-apa, Pak.”
Purbaya lalu menoleh ke arah Noya yang kini berdiri di sampingnya.
“Bagaimana tadi terapinya?”
Terapis itu tampak senang menjawab.
“Perkembangannya bagus sekali, Pak. Noya sekarang sudah jauh lebih responsif. Dia juga mulai lebih fokus saat mengikuti instruksi.”
Purbaya mendengarkan dengan saksama.
“Kalau konsisten seperti ini,” lanjut terapis itu, “kemungkinan tahun depan Noya sudah bisa mulai masuk sekolah. Tentu dengan pendampingan khusus, tapi itu perkembangan yang sangat baik.”
Purbaya menatap anaknya sejenak.
Noya hanya berdiri di sampingnya, masih memainkan roda kecil bus di tangannya.
Entah kenapa, mendengar kabar itu membuat dada Purbaya terasa hangat.
kepeleset lagi kamu!!
makanya mikir itu pake otak.. bukan otot!!
mengaku paling benar..haus validasi 🙄🙄
hayyo mas irgi segera HALAL kan saja bu Eva..biar tambah gila itu pak dosen 🤣🤣