Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Suatu sore, Lucas melihat Diana sedang berlatih sendirian di tepi kolam kecil yang sama, tempat ia biasa melatih klon airnya. Gadis itu tampak murung, pedangnya diayunkan dengan gerakan berat, tidak seanggun biasanya. Lucas tahu ini adalah kesempatannya untuk mendekat. Ia menciptakan klon air yang sempurna, persis seperti dirinya, namun dengan ekspresi khawatir yang telah ia latih.
Klon air itu berjalan perlahan mendekati Diana, "Diana, kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya terdengar lembut, meniru nada bicara Lucas yang sebenarnya. Diana terkejut, berbalik cepat, dan menatap klon itu dengan mata memerah.
"Lu... Lucian?" Diana tergagap, sedikit terkejut melihat Lucas di sana. "Aku... aku tidak apa-apa," jawabnya, meskipun jelas terlihat ia sedang tidak baik. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya, tetapi gagal.
Klon air itu duduk di samping Diana, menatap pantulan wajah gadis itu di air kolam. "Jangan berbohong padaku. Aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu," kata klon itu, dengan nada yang penuh empati. "Kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku."
Diana menghela napas panjang. "Aku hanya... merasa aneh akhir-akhir ini," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Master Brian... dia sering memanggil Ellyza dan beberapa murid senior lainnya. Mereka terlihat aneh setelah pertemuan itu."
"Aneh bagaimana?" tanya klon air itu, mencoba memancing informasi lebih jauh. Lucas, yang bersembunyi di balik semak-semak, mendengarkan dengan saksama, mengendalikan setiap gerakan dan kata-kata klonnya.
"Aku tidak tahu," jawab Diana, menggelengkan kepalanya. "Mereka seperti... tidak memiliki semangat. Dan Ellyza... dia selalu menghindar jika aku bertanya tentang Master Brian. Dia seperti memiliki rahasia."
Klon air itu menatap Diana dengan tatatan prihatin. "Apakah kau curiga pada Master Brian?" tanyanya hati-hati. Diana terdiam sejenak, menimbang kata-katanya.
"Aku... aku tidak ingin curiga," kata Diana akhirnya, "tapi ada sesuatu yang tidak benar. Aku merasa sekte ini berubah. Dulu, kita semua seperti keluarga, tapi sekarang... aku tidak tahu."
"Mungkin ada sesuatu yang Master Brian sembunyikan," ucap klon air itu, mencoba menanamkan keraguan di benak Diana. "Kau harus berhati-hati, Diana. Tidak semua yang terlihat baik itu benar-benar baik."
Diana menatap klon air itu, matanya dipenuhi kebingungan. "Aku tidak mengerti, Lucian. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya, suaranya terdengar putus asa.
"Kau harus percaya pada instingmu," jawab klon itu. "Jika kau merasa ada yang salah, mungkin memang ada. Jangan biarkan dirimu dimanipulasi."
Lucas tahu ia harus bertindak cepat. Klon airnya tidak akan bertahan selamanya, dan ia butuh Diana untuk memahami bahaya yang mengancam. Ia harus menculik Diana, membawanya pergi dari sekte ini, dan menjelaskan semuanya.
"Diana, kau harus ikut denganku," kata klon air itu, nadanya lebih tegas sekarang. "Aku bisa membantumu mencari tahu kebenarannya. Tapi kita harus pergi dari sini."
Diana terkejut. "Pergi? Ke mana? Kenapa tiba-tiba?" Ia menatap klon itu dengan tatapan tidak percaya. "Aku tidak bisa meninggalkan sekte ini. Ini rumahku."
"Ini bukan rumah yang aman lagi," sahut klon itu, mencoba meyakinkan Diana. "Master Brian... dia memiliki rencana gelap. Rencana yang akan membahayakan semua orang di sini, termasuk kau."
"Apa yang kau bicarakan, Lucian?" Diana berdiri, pedang kembarnya digenggam erat. "Aku tidak mengerti. Aku tidak bisa mempercayai omonganmu begitu saja."
Saat itu, Lucas, yang bersembunyi, melihat patroli penjaga mendekat. Ia tahu waktunya sempit. Dengan gerakan cepat, ia membatalkan klon airnya, dan ia sendiri muncul di belakang Diana, membekap mulut gadis itu dengan tangan kanannya.
"Maafkan aku, Diana, tapi ini demi kebaikanmu," bisik Lucas di telinga Diana, suaranya penuh penyesalan. Diana meronta, mencoba melepaskan diri, tetapi cengkeraman Lucas terlalu kuat.
Lucas segera mengubah dirinya menjadi gumpalan air, membawa Diana bersamanya. Tubuh mereka menyatu dengan kolam, lalu mengalir cepat melalui saluran air yang tersembunyi, meninggalkan area pelatihan tepat sebelum patroli penjaga tiba.
Diana, yang terbungkus dalam elemen air Lucas, merasa ketakutan dan bingung. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak. Semua terjadi begitu cepat. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, mengapa Lucas menculiknya, dan ke mana mereka akan pergi.
Setelah beberapa saat, Lucas muncul di sebuah gua kecil yang tersembunyi jauh di luar sekte, tempat persembunyiannya yang lama. Ia melepaskan Diana, yang langsung terbatuk-batuk, tubuhnya basah kuyup, dan napasnya terengah-engah.
"Apa-apaan ini, Lucian?!" teriak Diana, suaranya bergetar antara marah dan ketakutan. Ia langsung mengeluarkan pedang kembarnya, mengarahkannya ke Lucas. "Kenapa kau menculikku? Kau pengkhianat!" Lucas menatapnya, ada sorot kesedihan di matanya. "Aku bukan Lucian," katanya pelan, suaranya dalam dan penuh kelelahan, "Aku Lucas."
Diana membeku, pedangnya sedikit bergetar di tangannya. Nama itu, Lucas, adalah nama yang telah lama ia pikirkan sudah hilang, terkubur bersama reruntuhan Akademi Bayangan Utara. Ia menatap lekat-lekat pada wajah di depannya, mencari-cari jejak dari pemuda yang pernah menjadi rivalnya dalam latihan, pemuda yang ia kira sudah meninggal.
Perlahan, Lucas membiarkan elemen air yang membentuk wajah Lucian di wajahnya mulai meluruh. Fitur wajahnya berubah, hidungnya lebih tajam, garis rahangnya lebih tegas, dan matanya yang tadinya terlihat polos kini memancarkan ketegasan yang sangat Diana kenali. Ini adalah Lucas yang sebenarnya, bukan lagi penyamaran.
Melihat perubahan itu, pedang di tangan Diana terjatuh, menghasilkan bunyi berdebam yang bergema di keheningan gua. Kakinya lemas, lututnya bergetar, dan air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Lucas," bisiknya, suaranya pecah, tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Aku... aku tidak percaya," kata Diana lagi, suaranya tercekat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isak tangis yang mulai menyeruak dari dadanya. "Kau... kau masih hidup? Aku pikir... aku pikir kau sudah..."
Lucas melangkah maju, tangannya terulur. "Aku hidup, Diana," katanya, suaranya menenangkan. "Aku berhasil lolos dari kehancuran akademi. Aku tahu kau pasti mengira aku sudah tiada, tapi aku di sini."
Diana tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ia berlari memeluk Lucas, membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. Isak tangisnya pecah, tumpah ruah. Ia memukul-mukul dada Lucas pelan, meluapkan semua kesedihan, kemarahan, dan kelegaan yang selama ini ia pendam.
Lucas membalas pelukannya erat, membiarkan gadis itu menangis di bahunya. Ia bisa merasakan betapa Diana merindukannya, sama seperti ia merindukan Diana. Wangi rambut Diana dan kehangatan tubuhnya adalah pengingat akan masa lalu yang indah, sebelum semua kehancuran itu terjadi.
"Aku merindukanmu, Lucas," bisik Diana di sela-sela tangisnya. "Aku sangat merindukanmu. Setiap hari... aku selalu memikirkanmu. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan tanpamu."
Lucas mengelus lembut rambut Diana. "Aku juga merindukanmu, Diana. Setiap detik aku di sini, aku selalu memikirkanmu," katanya. "Aku berjanji akan menyusulmu, dan aku menepati janjiku."
Diana mendongak, matanya yang basah menatap Lucas. "Tapi kenapa... kenapa kau menyamar? Kenapa kau menculikku?" tanyanya, suaranya masih sedikit bergetar. Meskipun ada kelegaan, kebingungan masih menyelimutinya.
Lucas menangkup wajah Diana dengan kedua tangannya, ibu jarinya menghapus sisa air mata di pipi gadis itu. "Ada banyak hal yang harus aku ceritakan padamu, Diana," katanya dengan serius. "Tentang Master Brian, tentang kekuatan gelap, tentang semua yang terjadi di sekte ini."
"Aku akan memberitahumu semuanya, tapi kau harus percaya padaku," lanjut Lucas, menatap dalam-dalam ke mata Diana. "Sekte ini tidak seperti yang kau kira. Master Brian bukan orang baik. Dia adalah musuh kita."
Diana mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca, tetapi ada secercah harapan dan kepercayaan di sana. Ia tahu Lucas tidak akan pernah berbohong padanya. Rasa rindu yang selama ini membelenggunya kini bercampur dengan keinginan untuk memahami semua kebenaran.
Mereka berdua duduk di lantai gua, berdekatan, saling berpegangan tangan. Kehangatan tangan Lucas adalah pengingat bahwa ia nyata, bahwa ia benar-benar ada di sana. Untuk sejenak, semua kekacauan di luar sana terlupakan, hanya ada mereka berdua, saling berbagi kelegaan dan kerinduan yang mendalam.
"Aku... aku sangat senang kau masih hidup," kata Diana, menyandarkan kepalanya di bahu Lucas. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kau benar-benar pergi." Lucas hanya bisa memeluknya lebih erat, bersyukur bisa menemukan Diana lagi.