Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah
Lama aku terdiam, tak mampu berkata apapun lagi. Takut akan ada kecewa, takut akan ada marah, bahkan benci. Tapi jika aku tak bilang yang sebenarnya sekarang, bukankah masalah tak akan jadi lebih baik juga?
"Kak?" kening Tania sudah semakin mengkerut, menunjukkan bahwa sudah banyak pertanyaan yang meminta jawaban.
"Jawab kak! Jangan bikin gue mikir macem-macem sama lo!" Tania menggertak, mulai greget.
Aku masih tetap diam, hingga akhirnya aku balik menanyakan maksud ucapan Tania.
"Macem-macem gimana?"
"Lu sama Sienna gak ada apa-apa kan?" Tania menaikkan satu alisnya ke atas.
"Maksudnya?"
"Jangan malah balik nanya kak! Dari tadi adek lo ini nanya sama lo, kenapa lo sekhawatir ini sama Sienna?" Tania semakin geram dengan tingkah kakaknya ini, dan mungkin aku semakin membuat ia curia.
"Hhhaaaaaaahhh..." aku menarik kemudian menghembuskan nafas berat, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadaku.
"Kok lu makin aneh aja sih kak? Lu kayak gini bikin gue makin curiga sama lu, tau gak?"
"Curiga kenapa?"
"Astagfirullah.. sabaar Tan, sabaaaarrr.."
Tania mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Lu aneh, gak biasanya lu kayak gini, kak. Lu gak ada apa-apa kan sama Sienna? Kenapa lu khawatir banget sama Sienna sampe lu mau ikut gue ke Jerman besok?"
"Gue cuma takut Sienna kenapa-kenapa... gue juga takut Sienna nyoba buat gugurin kandungannya.. hhhhmmmm" lagi-lagi aku menghembuskan nafas yang berat, tak terbayang bila hal itu benar-benar terjadi.
"Terus apa urusan lu kalau Sienna ternyata emang lakuin hal itu?"
"Gak boleh dek"
"Kenapa gak boleh? Itu kan haknya Sienna mau ngapain badannya"
Aku tahu Tania mengucapkan itu bukan karena kepolosannya, tapi dia mencoba menjebakku dengan pertanyaannya. Bagaimanapun Tania sangat menyayangi sahabatnya itu, Tania hanya ingin aku berbicara jujur, aku yakin sebenarnya dia pasti mengetahui sesuatu.
"Kewajibannya juga buat jaga badannya.. dan kandungannya"
"Kak, kita gak tahu siapa yang hamilin Sienna, Sienna juga belum pernah cerita sedikit pun tentang hal itu, jangankan ke kakak, ke aku aja yang jadi tukang denger curhatnya tiap saat, dia gak ada ngomong apa-apa. Terus gimana kalau ternyata si laki-laki brengs-k itu gak mau tanggungjawab? Gimana kalau ternyata laki-laki itu udah nikah bahkan udah punya anak juga?!" Tania langsung bergidik ngeri.
"Laki-laki itu pasti tanggungjawab dek"
"Sok tau lu, kak! Kita kan gak tau siapa orangnya!"
Ku dekati Tania dan ku ambil tangannya, lanjut ku letakkan ke genggamanku, lalu ku tatap Tania lekat-lekat. Ku bulatkan tekadku, aku harus berkata jujur pada Tania. Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya hancur, aku harus menunjukkan bahwa aku bukan lelaki brengs-k seperti yang Tania katakan.
"Dek, dengerin baik-baik yah.. kakak, Akshan Atharanu Albrecht, berjanji.. bersumpah.. bahwa kakak akan mencari Sienna, dan bertanggungjawab penuh atas apa yang telah kakak lakukan pada Sienna.. kakak akan memperlakukan Sienna dengan baik.. jug-" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Tania langsung memotongnya.
"Tunggu! Maksudnya bertanggungjawab atas apa yang telah kakak lakukan pada Sienna itu apa? Memang kakak udah ngapain Sienna?"
Baru akan membuka mulut, Tania kembali bertanya dengan nada sedikit berteriak.
"Jangan bilang lu yang hamilin Sienna!?!!" Tania langsung membulatkan matanya, menutup mulutnya yang menganga lebar karena terkejut. Kemudian air mata pun mengalir deras melewati pipinya yang selalu kemerahan. Aku hanya mampu menatapnya dengan sendu.
"Aaahhh... gila lu kak! Gila! Bangs-t! Aaarrrght.. gak ngerti lagi gue harus bilang apa sama lo!"
Tania terus menerus mengumpat, air matanya tak berhenti mengalir. Aku hanya diam melihat respon kecewa yang ditunjukkan adikku itu. Aku bingung harus melakukan apa. Pikiranku mulai beralih pada Sienna, melihat Tania yang begini saja aku sudah kalit, apalagi melihat Sienna?
Pasti gadis itu lebih kecewa dan frustasi dibanding Tania. Gadis malang itu, apa yang telah ku perbuat padanya!? Aku mengutukki apa yang pernah ku lakukan. Sienna, maafkan aku.