Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian De Javu
Braakkkk
Prangg
Terulang kembali, hiasan lampu meja itu dilempar ke sembarang arah. Amarah tak terkendali lagi-lagi muncul pada diri Gio, penyebabnya kali ini yang tak lain ibu tiri Gio, Belinda Sukmawati.
"Sudah Gio katakan berulang kali, jangan pernah mengusik kehidupan saya termasuk Y&G Dreams atau akan saya buat anda segan untuk hidup. Di sini saya masih menghormati anda sebagai istri ayah saya," tutur Gio sambil berusaha meredam amarahnya.
"Diihhh perusahaan sampah tak berguna seperti itu apa yang ingin di pertahankan. Sudah jelas ada perusahaan milik ayahmu mengapa tidak kamu lanjutkan saja, justru sibuk menghabiskan waktu untuk hal percuma," sindir Belinda, tak pernah bisa sepemikiran dengan anak tirinya itu.
"Jangan pernah menyepelekan apa yang saya kerjakan, that's not your bussines. Saya juga tidak lepas tangan mengurus perusahaan ayah saya, sekali lagı Anda melewati batasannya jangan harap posisi anda sebagai Nyonya Ghandika akan aman," ancam Gio tak main-main.
Darahnya mulai terasa panas, kepalanya kian terasa berat, dia harus mencari pelampiasan untuk mengeluarkan amarahnya yang semakin menjadi-jadi. Tetapi alam bawah sadarnya berusaha memutar memori saat Gio dan Yuri berciuman, muncul pemberontakan antara naluri dan jiwanya.
Tak ingin menghancurkan dan berubah menjadi monster di depan ibu tirinya, Gio memilih untuk menuju kamarnya. Rasanya saat ini juga dia harus merendam tubuhnya dalam air dingin. Namun Belinda yang mengetahui bagaimana watak Gio saat sedang kesal berusaha memancingnya agar Gio melakukan kesalahan, yang tak lain bermaksud agar rencananya berhasil.
"Jangan lupa tiga bulan lagı kamu harus menikah dengan Cantika, jangan sampai calon istrimu itu menunggu terlalu lama. Sudah waktunya kamu menikah Gio, ingat perjanjianmu dengan ayahmu. Jangan sampai ayahmu mencabut investasinya di perusahaan sampah milikmu," ucap Belinda berusaha memancing Gio semakin marah.
Tangannya terkepal kuat hingga tanpa sadar kuku-kukunya menancap pada kulit tangannya. Napasnya kian memburu, amarah kembali menguasai pikirannya. Kedua bola matanya berubah menjadi merah, dia berbalik arah mendekati Belinda yang tersenyum remeh. Rencananya berhasil.
Langkanya begitu cepat hingga jarak diantara keduanya hanya sisa satu jengkal. Terdengar dengan jelas oleh Baginda bagaimana seru napas Gio yang memburu karena emosi yang tak terkendali. Dia bersiap merekam matanya saat salah satu tangan Gio mulai terangkat, inilah yang dia tunggu sejak lama.
"Brengsek!! Kau saja yang menikah dengan wanita sundal itu!! Jangan bermimpi."
Rupanya Gio berhasil mengendalikan tangannya agar tidak menampar Belinda. Wanita itu mengumpat karena gagal dalam rencananya, jika Gio berbuat kasar padanya dia bisa lebih menelan Gio. Tapi sebuah kursi kayu menjadi sasarannya, Gio mengamuk dan menendang kursi itu hingga terbalik.
Brakkk
Dengan keras Gio membanting pintu kamarnya, di dalam sana Gio kembali mengamuk. Ranjang, bantal, kursi bahkan barang-barang diatas meja tak luput dari pelampiasan amarahnya. Gio memandang pantulan dirinya dari cermin, dia teringat sesuatu.
Jemarinya kembali menyentuh bibirnya di mana ada jejak bibir Yuri. Kejadian itu kembali terulang dan amarah Gio perlahan mulai mereda. Memejamkan mata sejenak sambil memutar kembali kilas balik saat ciuman pertamanya terjadi.
"Manis."
Menang hingga saat ini, rasa manisnya bibir Yuri masih tertinggal. Kedua mata Gio kembali membuka matanya dan mengingat apa yang baru terjadi pada dirinya.
"Hah ini sungguh gila. Seperti di guna-guna."
Gio berusaha memukul-mukul kepalanya berusaha menghilang bayangan Yuri dari otaknya.
"Seperti saya butuh dokter jiwa."
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Di siang hari yang cukup terik dan cerah, Yuri tengah merasakan surganya wanita, apalagi jika bukan berbelanja. Berbekal blackcard di tangannya, Yuri pergi ke sebuah pusat kain terbesar di kota itu. Mata Yuri dimanjakan dengan banyaknya pilihan kain mulai dari kain premium, sutra dan kain dengan motif khas, hanya dengan menyentuhnya saja Yuri sudah tahu berapa harga bahan kain tersebut.
Tapi kini Yuri bukan berbelanja untuk dirinya, namun untuk menjahit desain pakaian yang dia buat. Pilihan bahan kain yang premium namun harga terjangkau menjadi pilihan Yuri. Dia juga membeli beberapa kain yang bagus, sebagai stok untuk desain lainnya agar tidak bolak-balik membeli bahan kain.
Karena belanjaannya terlalu banyak dan berat, dia meminta diantarkan ke perusahaan. Karena ada satu jam lagi, Yuri memutuskan untuk makan siang di luar kebetulan juga dia tak membawa bekal makan.
Di salah satu toko gaun pengantin....
Dua jam sudah David menemani Arimbi memilih baju pengantin yang akan digunakannya pada acara resepsi nanti. Pada akhirnya David terpaksa menyetujui permintaan Arimbi atas paksaan ibunya untuk menikah setelah putusan cerai nanti. Sudah puluhan baju Arimbi coba, tetapi tidak ada yang cocok, alasannya mengeluh tidak nyaman di lagian perutnya.
"Mas, ayo kita makan dulu ya. Kita cari butik yang lain. Gaun -gaun di sini tidak ada yang bagus, kurang nyaman digunakan," ucap Arimbi menyampaikan keluh kesahnya.
David memutar kedua bola matanya dengan malas, sudah bosan rasanya mendengarkan segala ucapan dari mulutnya. Dia terkadang merindukan sikap mandiri Yuri yang tidak banyak menuntut, Arimbi sangat berbeda dengan Yuri.
"Sudah lima butik yang kita datangi dan kamu masih bilang belum ada gaun yang cocok??? Come on Arimbi, jangan membuang banyak waktu," kesal David sambil membuang muka.
Mengetahui David yang mulai bosan dan kesal, Arimbi mulai merayunya dengan bergelayut manja meraih lengannya.
"Mas, maafin Imbi ya. Ini juga demi kenyamanan calon anak kita, rasanya sangat sesak memakai gaun pengantin yang seperti itu. Apa kita bikin sendiri aja gaun pengantinnya mas, sepertinya dekat sini ada perusahaan fashion yang menerima pesanan eksklusif. Mas setuju tidak?" usul Arimbi, dia teringat mendapatkan sebuah brosur saat baru turun dari mobil.
"Ya...ya...ya.. terserah kamu saja!!"
"Oke kalau begitu. Sekarang kita makan dulu ya sebelum makan, Imbi lapar," rengek Arimbi manja.
Yuri menatap nanar ke arah sebuah restoran yang penuh dengan kenangannya bersama David. Semuanya sudah berubah semenjak tak ada lagi ikatan suami istri diantara mereka. Dilihatnya David dan Arimbi tengah makan siang di restoran yang selalu di datangi Yuri dan David setiap akhir pekan.
Hatinya bertambah pilu saat mereka nyatanya duduk di tempat di mana Yuri dan David biasa duduk. Entah apa maksud semuanya, atau memang David sudah melupakan segala hal tentang mereka berdua. Ya.. memang hanya perkara restoran dan tempat duduk, tapi bagi Yuri kenangan itu akan selalu ada meskipun begitu kuat usahanya untuk menghapusnya.
Tiiiinnnnnnn
"APA KAMU BOSAN HIDUP HAH!!!" bentak seorang pria, membuat Yuri mulai sadar dari lamunannya.
"Boss Gi-gio," ucap Yuri dengan segala keterkejutannya.
Gio yang baru saja selesai meeting, tak sengaja melihat Yuri dari kejauhan. Dipandanginya begitu lama, Yuri hanya diam di satu tempat begitu lama tanpa beranjak sedikitpun. Karena penasaran Gio pun menghampirinya sekalian mengajaknya kembali ke kantor bersamaan.
Namun tiba -tiba, Yuri berjalan dengan tatapan yang kosong. Sekuat tenaga Gio berlari menghampiri Yuri kala wanita itu justru berjalan menyebrang tak melihat kondisi jalanan yang ramai oleh mobil.
Nyaris Yuri menjadi korban tabrak lari jika Gio tak berhasil menarik dan mendekap tubuh Yuri saat itu. Keduanya tanpa sadar menjadi pusat perhatiannya orang yang lalu lalang karena tengah berpelukan di pinggir jalan.
"Bagaimana bisa kamu menyebrang tanpa lihat kiri kanan dulu. Hampir saja kamu tertabrak oleh mobil jika saya tidak menyelamatkan kamu. Sudah dua kali kamu seperti ini Yuri. Apa kamu pikir seperti seekor kucing yang memilki sembilan nyawa!!" gerutu Gio, dia berbicara panjang lebar menceramahi Yuri yang bertindak ceroboh.
Yuri terngaga, ekspresi khawatir jelas di wajah Gio. Sangat berbeda dengan pembawaannya di perusahaan yang tegas dan dingin. Dia masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadinya, bagaimana bisa ada Gio di sekitar sini. Dan kalimat yang baru saja Gio ucapkan membuat Yuri memikirkan sesuatu.
"Apa yang barusan anda bilang boss Gio? Bagaimana bisa boss Gio tahu saya pernah juga hampir tertabrak oleh mobil??"
kalau rumah tangga mertua ikut ngatur dan campur tangan ngurusin susah adanya pasti ribut terus