Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pertemuan
Cuaca sore itu cukup cerah dan indah. Suasana di kafe favorit Rey juga, kali ini tampak begitu ramai. Rey dan Alea baru saja selesai memesan minuman dari pelayan kafe.
"Ada apa?" tanya Alea memulai pembicaraan.
"Apa besok kamu ada acara?" tanya Rey, sebelum menyampaikan tujuannya. Alea menggelengkan kepalanya, menandakan tidak dari pertanyaan Rey.
"Kalau begitu, bantulah aku. Besok aku harus menemui perempuan yang akan dijodohkan oleh kakekku. Sejak awal aku sudah menolak perjodohan ini. Tapi kakek terus memaksaku. Jadi bisakah besok kau berpura-pura menjadi pasanganku, di hadapan kakek dan orang tua perempuan itu?" tanya Rey. Alea masih tertegun tak menjawab.
"Kenapa Anda menolak perjodohan itu?" tanya Alea penasaran.
"Kau sendiri, kenapa menolak perjodohan dari papamu itu?"
Alea mengerutkan bibirnya begitu imut. "Em... karena aku belum ingin menikah," jawabnya polos.
"Jadi?" Rey kembali menanyakan hal tadi.
"Baiklah, aku akan membantumu."
Rey pun tersenyum senang. "Baiklah kalau begitu, besok kau harus sudah bersiap dari jam 9 pagi karena acara pertemuannya jam 10. Jadi dua jam sebelum pertemuan dengan mereka, kita harus sudah bersiap dan melakukan geladi terlebih dahulu, agar rencana yang kita lakukan berjalan lancar," tutur Rey.
"Aduh, mentang-mentang bos, hal seperti ini saja harus geladi segala," gumam Alea dalam hati. Mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolannya mengenai rencana besok hari. Dan tentunya, Alea diberi kebebasan kerja selama satu hari.
***
"Terima kasih Pak Rey," ucap Alea sesaat setelah ia keluar dari mobil Rey. Rey yang ada di dalam mobil hanya mengangguk tersenyum, kemudian segera berlalu melajukan kembali mobilnya menjauhi halaman rumah Alea.
Dan ketika Alea hendak membuka pintu rumah, tiba-tiba seseorang dari dalam terlebih dahulu membukakan pintu itu untuk Alea.
"Papa," ucap Alea spontan.
"Diantar sama siapa?" tanya Deri penuh selidik.
"Diantar Pak ... eh, maksudku ... di antar sama Reyhan pacarku," jawabnya gugup sambil melebarkan senyum manisnya. Alea pun segera menyalami tangan Papanya itu, dan segera berlalu begitu saja naik tangga untuk menuju lantai dua kamarnya.
"Alea, jangan lupa besok!" teriak Deri dari bawah.
Alea menghentikan langkahnya, tepat di anak tangga paling atas, lalu ia pun balik berteriak. "Apa?"
"Besok siang kita akan melakukan pertemuan dengan cucunya kakek William."
Seketika Alea merengut kesal saat menyadari bahwa besok adalah hari di mana ia akan dikenalkan dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya nanti.
"Iya!" jawab Alea kesal, segera masuk ke kamarnya.
Alea melempar tas kerjanya ke atas kasur, lalu ikut menjatuhkan tubuhnya di tengah tempat tidur.
"Hm... pasti cucunya kakek William orangnya cupu. Hingga dia tidak bisa mendapatkan sendiri calon istri untuk dirinya sendiri. Atau ... mungkin dia kelamaan menjomblo kali ya. Haha... baiklah, lihatlah besok. Aku akan membuat dia tidak menyukaiku. Seperti biasa ... besok, jurus-jurus dalam diriku ini akan meronta dan membuat dia ilfiel melihatku ngoahahaha," gumam Alea sambil tertawa seperti mak Lampir.
***
Pagi pun tiba, sinar mentari sudah masuk terlebih dahulu sejak dua jam yang lalu. Dilihatnya jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Seketika Alea membulatkan matanya, begitu ia menyadari bahwa dirinya bangun kesiangan. "Oh My God!" ia langsung berlari menuju kamar mandi, dengan cepat Alea segera membersihkan dirinya. Mencuci wajah, menggosok gigi dan membasuh rambutnya. Setelah selesai dengan aktivitas mandinya Alea segera bersiap-siap, dan memilah-milah baju apa yang cocok untuk dipakainya hari ini.
"Ya ampun Alea, kenapa bisa ceroboh begini sih! Mana belum dandan lagi," gerutunya merutuki diri sambil memakaikan gaun berwarna navy di tubuhnya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 08.35 Alea semakin mempercepat dirinya untuk segera berdandan dan mengeringkan rambut. Sungguh pagi ini ia terlihat sungguh sangat sibuk dan kerepotan.
Jam di dinding seakan bergerak cepat, karena kini jam sudah menunjukkan pukul 08.45.
"Ah ya ampun, 15 menit lagi Alea... cepat! Cepat! Cepat!" gumamnya sendiri merasa gusar. Dan tepat pukul 08.57 ia kini sudah selesai berdandan.
Sungguh penampilannya kali ini sangatlah jauh berbeda dari biasanya, ia terlihat lebih anggun dan cantik. Bahkan wajah imutnya yang seperti anak SMP, sekarang terlihat sedikit lebih dewasa. Alea pun menyambar tas selempang kecil berwarna silver. Ia mengaitkannya di bahu lengannya. Dan Alea pun segera keluar dari kamarnya.
"Wah... anak Mama hari ini makin terlihat cantik. Udah siap ya nemuin calon suaminya?" tanya Jeni, begitu Alea duduk di kursi meja makan..
"Iya, sebentar lagi calon suamiku akan kemari," tutur Alea sambil melahap sepotong roti tawar tanpa olesan apa pun.
Jeni mengernyit heran. "Bukannya jam pertemuannya nanti siang ya?" tanya Jeni.
Tiba-tiba bel rumah terdengar. Deri yang baru saja keluar dari kamarnya ia segera ke depan untuk membukakan pintu.
"Kamu!"
"Pagi Om," sapa Rey, yang sudah berdiri di hadapan Deri sambil melebarkan senyumannya.
"Ngapain pagi-pagi ke rumah saya?" tanyanya ketus.
"Mau jemput Alea Om, kemarin kami ada janji Om."
^
Alea dan Jeni yang ada di dapur segera berjalan ke depan. Alea terkejut karena tepat pukul 09.00 Rey benar-benar menjemputnya. Sedangkan Jeni, ia hanya heran kenapa lelaki itu sudah ada di sini sepagi ini.
"Pagi Tante," sapa Rey ketika melihat Jeni. Deri menoleh ke belakang, dan menatap Alea dengan tatapan tajam.
"Kalian tidak Papa izinkan untuk pergi! Alea, bukankah kamu sudah janji kalau hari ini akan ikut dengan Papa menemui calon suamimu itu," ucap Deri sambil menekankan kata 'calon suamimu' agar terdengar jelas oleh Rey.
"Benar, lagi pula acaranya nanti kan Pa?"
"Aku dan Rey ada keperluan di luar Pa, please Pa, izinin ya... nanti Lea janji, akan menemui Papa, bahkan Lea akan menunggu di tempat yang Papa janjikan semalam. Jadi nanti Papa tinggal datang saja menemui aku di sana ya," bujuk Alea. Deri pun kembali menatap ke arah Rey.
"Mau pergi ke mana kalian?" tanya Deri.
"Ke— ...."
"Ke suatu tempat lah Pa," timpal Alea mendahului.
"Daerah mana?" tanya Jeni penasaran.
"Dekat-dekat sini kok, iya kan Pak Rey?"
"Hah Pak Rey?" ulang Jeni heran, menatap ke arah Alea.
"Ah ya ampun Alea, ada apa dengan mulutmu ini!" rutuknya dalam hati.
"Ma-maksudku Bopak Rey, he he ... panggilan sayang, iya kan Bopak Rey?" tanya Alea penuh maksud.
Rey sebenarnya ia ingin tertawa ketika Alea menyebutnya dengan sebutan Bopak. Bahkan ia sedikit geli mendengar panggilan itu. Namun Rey mengangguk mengiyakan saja ucapan Alea.
Akhirnya setelah berbicara panjang bin lebar, mereka pun mendapat izin dari Deri. Dan dengan cepat Alea pun masuk ke dalam mobil Rey.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa bantu like, komen dan vote.
Follow juga ig aku @dela.delia25 di sana Dela suka update mengenai novel dan cerita baru yang Dela buat. Subscribe juga Youtube aku : Delia Septiani
Terima kasih.
ha ha ha
ha ha ha