Rindu di kala kita mencintai seseorang akan terasa indah jika berbalas, namun jika rindu di kala mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain Bagaikan pungguk merindukan bulan
kisah wanita yang ingin balas dendam pada ibu dan saudara tirinya yang telah membuat hidupnya menderita
suatu hari wanita itu bertemu dengan mantan kekasinya yang ternyata menjadi suami saudari tirinya
akankan dia mendapatkan jalan untuk balas dendamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Tetua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Rindu dan Kala menjalani hari harinya di kampus dengan penuh kebahagian, Kala memberikan warna dalam hidup Rindu yang selama ini biasa saja
"sayang bentar lagi kan liburan semester, liburan yuk" ajak Kala,
"kemana?" tanya Rindu
"kamu maunya kemana?"
"terserah" jawaban khas wanita yang membuat para pria pusing dan serba salah
"ke bali?" tanya Kala lagi
"aku harus minta ijin dulu sama ayah dan bunda"
"ok, kalo diijinin langsung kabari aku yah, biar aku siapin semuanya" Rindu hanya mengangguk
"kamu nggak sayang yah sama aku?" tanya Kala
Rindu yang sedang membaca buku pun mengalihkan pandanganya pada kala yang sedang tiduran berbantal kan paha Rindu, mereka berada di taman di tumbuhi rumput rumput hijau, cuacanya sedikit mendung
"coba sekarang panggil aku sayang" Kala mengambil posisi duduk bersila
Rindu masih diam belum berucap
"ayo coba"
bukanya tidak sayang tapi memang sifat Rindu yang susah untuk mengungkapkan rasa sayangnya
"susah, nggak biasa" ucapa Rindu
"makanya di biasain, ayo cepet kali enggak aku cium nih" Kala mengancam Rindu dengan memajukan wajahnya
"apaan sih" Rindu mendorong menjauhkan wajah Kala, menengok kanan kiri
"makanya cepetan, kalo kamu malu bisikin aja dulu deh nggak papa" Kala menyodorkan telinganya lebih dekat pada Rindu
namun bukanya membisikan "sayang" Rindu justru mencium pipi Kala,
Kala terperangah, tak menduga Rindu menciumnya pasalnya selama dekat hampir dua tahun baru kali ini Rindu melakukanya
"itu bukti" ucap Rindu enteng, ternyata Rindu tak tau malu juga mencium Kala di depan umum, untung saja tidak terlalu banyak orang disini
seakan mimpi Kala masih tak percaya mencubit lenganya sendiri
"aww... ternyata bukan mimpi"
Kala yang masih tertegun di buat lebih kaget lagi oleh Rindu yang kembali menciumnya bukan pipi tapi bibir, setelah mencium Kala Rindu langsung berdiri dan lari karna merasa malu, bisa bisanya dia melakukan itu
senyum bahagia terukir di wajah keduanya, Kala ikut berlari mengejar Rindu, rintik gerimis mulai turun mereka masih kejar kejaran, saat hujan mulai lebat bukanya mencari tempat berteduh Rindu malah berhenti berlari dan menengadahkan kepalanya ke atas menikmati setiap tetesan hujan yang menyentuh kulitnya, Kala yang berada di sampingnya tanpa aba aba menarik tangan Rindu dan mencium bibir Rindu dengan penuh cinta, Rindu membalasnya
Mereka berpelukan dan tersenyum bersama di bawah hujan, untung saja sudah tak ada orang
betap bahagianya Rindu saat itu, seakan semua beban pikiranya pergi bersama air hujan yang mengalir
.
.
.
" Ka, kamu lagi ada masalah sama istri kamu?" tanya Bima pada Kala, Kala sedang berada di rumah orang tuanya mereka duduk di taman samping rumahnya menikmati angin sore, setelah penat dengan pekerjaanya di kantor
"nggak ada kok pah" jawab Kala tanganya memainkan handphone
"istrimu nelpon papah katanya kamu beberapa hari ini tidak bisa di hubungi"
"papah kan tau Kala sibuk" Kala meletakan HP nya dimeja kemudian menyeruput kopi yang sudah tak terlalu panas
" iya papah tau, tapi kamu juga nggak boleh gitu dong Ka, dia itu istri kamu" ucap Bima menasehati
"iya nanti Kala telfon"
"ya sudah,"
"Kala ke kamar dulu pah" Kala pergi meninggalkan Bima, berjalan ke kamarnya untuk menelpon sang istri sebelum sang mama tau jika dia memgabaikan panggilan dari menantu kesayanganya,