Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan, terlihat ada orang yang menyelamatkannya berwujud sesosok makhluk yang disebut 'Merman'.
"Si . . . siapa kamu? Umm! Umm!" tanya Vanya sambil menahan napasnya karena berada di dalam air.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku," balas Merman sambil memberikan napas buatan melalui mulut ke mulut kepada Vanya.
Merman tersebut pun membawa Vanya ke tepi pantai, lalu setelah itu ia kembali lagi ke lautan. Ketika Vanya hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal sekaligus idolanya yang bernama James Haolin.
Apakah benar orang yang telah menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika di dalam lautan?
~
PERHATIAN
Mohon kepada para pembaca terhormat JANGAN BOOMLIKE karya ini !
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyoChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Ajakan Makan Malam Bersama
Pelajaran di awal semester baru pun telah berakhir. Semua mahasiswa pulang ke rumahnya masing-masing. Pricilla berniat mengantarkan Vanya pulang ke rumahnya karena merasa kasihan melihat sahabatnya yang sedang terluka.
"Van, kamu aku anterin, ya, sampai rumah," ajak Pricilla pada sahabatnya.
"Hmm . . . ya udah boleh deh, ayo!" jawab Vanya setuju.
Namun, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang mengantarkan Vanya pagi hari tadi sudah terparkir di depan universitas. Semua mahasiswa yang lewat di sekitar pun memandangi mobil mewah tersebut dengan tatapan kagum. Vanya sangat terkejut melihat mobil mewah tersebut karena ia tahu bahwa itu adalah mobil milik James. Seorang pria menggunakan pakaian serba hitam, masker, dan kacamata hitam pun turun dari dalam mobil tersebut.
Pria berkacamata itu menghampiri Vanya yang sedang berdiri menatapnya dari kejauhan. "Apa kamu sengaja menungguku disini?" tanya James sambil berusaha membuka maskernya.
"Jangan dibuka!" teriak Vanya sambil memegang tangan James. Tongkat yang dipegangnya pun terjatuh karena tangannya tiba-tiba melepaskannya.
"Memangnya kenapa?" tanya James singkat.
"Sudahlah! Ayo Sil kita pulang!" ajak Vanya pada Pricilla sambil mengambil kembali tongkatnya dan mengajaknya berjalan.
"Eeehhh! Tunggu! Jangan marah gitu dong! Aku nggak lepasin kok nih," ucap James sambil memegang tangan Vanya.
"Ya sudah, bagus kalau begi .... " ucap Vanya sambil menengok ke arah James, tapi ucapannya terpotong karena Pricilla tiba-tiba pura-pura batuk.
"Ehmz! Ehmz! Kenapa tenggorokanku gatal begini ya? Rasanya seperti ingin meminta di traktir makanan yang sangat enak di restoran bintang lima," oceh Pricilla sambil menatap James.
"Baiklah, kapan-kapan saya akan mentraktir anda, Nona. Jangan lupa untuk mengajak Vanya juga," pinta James pada Pricilla.
"Itu bukanlah masalah besar, Tuan," jawab Pricilla sambil tersenyum.
"Sil, kamu apa-apaan sih? Jangan memanfaatkan temanmu sendiri semata-mata untuk keuntunganmu," bisik Vanya pada Pricilla.
"Lagi pula kalian kan akan segera berpacaran. Wajar dong aku minta pajak jadian. Bener nggak?" goda Pricilla pada Vanya.
"Hahhh? Nggak mungkinlah! Palingan dia hanya berbual saja so .... " tolak Vanya dengan keras, tiba-tiba James menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Sekarang mari kita pulang! Saya pinjam dulu sahabat anda, Nona. Jika kita tidak sempat makan bersama bertiga, saya akan memberikan tiket hiburan kelas vip ke Californa untuk anda," ucap James yang masih menutup mulut Vanya.
"Saya tidak akan sungkan kalau begitu, Tuan. Silahkan anda bawa pulang sahabat saya ini," jawab Pricilla sambil melambaikan tangannya.
***
James pun lalu membawa Vanya memasuki mobilnya. Kemudian, ia menancap gas mobilnya keluar dari gerbang universitas. Dari kejauhan Isabella menatap Vanya dengan iri karena diantar pulang menggunakan sebuah mobil mewah.
"Cih! Apakah itu James Haolin? Tapi mana mungkin dia bisa menyukai Vanya? Haha! Palingan Si Vanya jadi wanita simpanan orang kaya. Sungguh wanita murahan," gumam Isabella sambil tertawa kecil.
Di dalam mobil Vanya terus mengoceh kesal pada James. James hanya tersenyum manis melihat tingkah Vanya yang ia rasa lucu tersebut. Vanya semakin kesal karena James malah selalu tersenyum padanya.
"Apa dia benar-benar suka dengan wanita yang cerewed? Hah! Aku sungguh tidak percaya dia benar-benar punya kesabaran sebanyak itu," batin Vanya sambil menatap James dengan kesal.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti tambah naksir loh!" goda James pada Vanya.
"Aku nggak akan mungkin menyukaimu," jawab Vanya dengan ketus.
"Hah . . . apa kamu masih mengira aku berbohong soal aku yang menyukaimu pada pandangan pertama?" tanya James dengan lirih.
"Ya kalau tidak begitu, apa mungkin Kak James bisa menyukaiku? Aku yang berpenampilan biasa saja ini, laki-laki teman sekelasku pun tidak ada yang tertarik padaku," celoteh Vanya dengan kesal.
"Aku menilai orang bukan dari penampilannya, melainkan dari sifatnya. Kamu pun sangat cantik bagiku. Jadi, kamu jangan memandang rendah dirimu sendiri," tegas James sambil tersenyum lembut pada Vanya.
Vanya hanya terdiam sebagai jawaban dari ucapan pria tampan disampingnya ini. Beberapa menit setelah perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Vanya. Tidak lupa Vanya pun mengucapkan terima kasih walau dengan raut wajah yang masih kesal.
"Terima kasih, Kak James," ucap Vanya singkat.
"Apakah seperti itu cara orang mengucapkan terima kasih?" goda James pada Vanya.
"Te-ri-ma-ka-sih," ujar Vanya dengan terbata-bata.
"Pft! Ada-ada saja kelakuanmu yang suka membuatku tertawa. Sudah sana turun! Aku tidak bisa mampir karena masih ada pekerjaan di kantor." James tertawa kecil setelah melihat tingkah Vanya.
Vanya pun turun dari mobilnya. Ia lalu bergegas memasuki rumahnya. James masih memerhatikan Vanya dari kejauhan karena takut Vanya akan terjatuh sebab ia kini berjalan menggunakan sebuah tongkat. Tiba-tiba teleponnya James berbunyi.
"Bos, kita sudah melakukan perintah sesuai dengan instruksi anda. Dari rekaman CCTV yang kami retas, ternyata Nona Vanya terluka karena sebuah pecahan kaca yang ditebar di depan gerbang rumahnya. Identitas peneror itu tidak bisa diketahui karena dia menggunakan masker. Sebelum kejadian tersebut, orang itu terlebih dahulu menembak jendela kamar Nona Vanya dengan sebuah pistol agar memancingnya keluar dari rumah," jelas seorang Pria yang menelepon James.
"Awasi daerah sekitar rumah Vanya, lalu tangkap orang itu jika kalian melihatnya! Jangan biarkan dia lari! Lalu, jika sudah tertangkap segeralah bawa ke markas! Kalian pun jangan lupa untuk mengawasi setiap aktivitas yang Vanya lakukan di luar rumah," tegas James yang kemudian mematikan teleponnya.
"Sungguh sangat berani orang itu meneror rumah orangku. Apa dia benar-benar tidak mengetahui identitas asli dari seorang James Haolin. Hah! Dia berani mengantarkan nyawanya sendiri ke kandang singa," ucap James, lalu memacu mobilnya meninggalkan rumah Vanya.
***
Kini waktu di jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Vanya sedang kebingungan karena memikirkan makanan apa yang harus ia makan untuk malam nanti. Ia pun teringat dengan rumah makan yang tidak jauh dari rumahnya.
"Hmm . . . apa aku juga ajak James ya sebagai tanda terima kasih," pikir Vanya secara tiba-tiba.
"Eh? Kenapa aku berpikir seperti itu? Hmm . . . tapi bagus juga jika aku mengajak James ke rumah makan itu. Dia pasti akan merasa jijik melihat kebersihan yang tidak terlalu terawat dari rumah makan tersebut. Seorang mengidap myshopobia akut mana tahan hal seperti itu," pikir Vanya lagi sambil berimajimasi akan seperti apa reaksi James jika datang ke tempat tersebut bersamanya.
Kemudian, Vanya mengetik sebuah pesan ajakan makan malam bersama pada James. Di sisi lain, James tengah melakukan sebuah rapat penting dengan para pemegang saham dikantornya. James merasa teleponnya tiba-tiba bergetar. Meskipun berada di tengah-tengah rapat, ia pun segera mengambil telepon miliknya dari sakunya.
James tiba-tiba tersenyum setelah melihat isi pesan dari teleponnya. Semua karyawan dalam ruangan rapat pun syok melihat atasannya yang selalu bersikap dingin dan cuek tiba-tiba tersenyum manis sambil menatap teleponnya. James terlihat seperti seorang anak muda yang tengah di mabuk asmara.
"Apakah ini Pak CEO yang kita kenal?" bisik seorang karyawan pada karyawan lain yang berada disampingnya.
***
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL INI, BACALAH KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DIBACA !!!
Author : Santi Suki
Judul Karya : DUDA VS ANAK PERAWAN
Semangat yaa Thor
𝚂𝙴𝙼𝙰𝙽𝙶𝙰𝚃 𝚢𝚊𝚊...
𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊𝚖𝚞 𝚒𝚗𝚍𝚊𝚑, 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚒𝚋𝚞𝚛 𝚔𝚑𝚞𝚜𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚢𝚐 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚏𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜𝚒...
𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚞𝚙 𝚍𝚊𝚝𝚎 𝚋𝚊𝚋 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊²𝚖𝚞... 𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚛𝚎𝚊𝚍𝚎𝚛 𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚢𝚐 𝚗𝚢𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐...
𝙶𝚘𝚘𝚍 𝙻𝚞𝚌𝚔 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚞𝚙𝚞𝚗 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚊 𝚖𝚞
up thor
sepertinya saya tidak tahu kapan melanjutkan karya saya ini dikarenakan sedang mencari pekerjaan.